Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 7


“Ini….“


“Apa ini?“


Semua terkejut. Melhat ke angkasa. Banyak parasut turun.


Nampak seseorang dengan membawa koki di tangan kiri kanan nya.


Satu container datang berisi banyak makanan.


Tak disangka koki dan bahan makanan.


“Pasti tuan muda jiang takut kita tidak kenyang sampai menyuruh orang kemari untuk menambah makanan. Tuan muda Jiang! Anda mau menambahkan makanan untuk mereka bilang saja pada kita tidak perlu menghubungi mereka diam-diam.“


Jiang terkejut.


“Yang mau makanan kelas dunia segera antri kemari. Hari ini tuan muda Jiang membagikan rejeki pada kalian.“ ujar teman-teman Jiang Hao yang sangat bangga pada teman yang sekaligus menjadi bos itu. Sebab dengan dekat dia, membuat suka. Apa-apa terjamin pokoknya. Tinggal membantu hal-hal yang sangat menyenangkan hati tuannya sudah pasti kebahagiaan akan dating. Walau…


“Jangan-jangan nomor 2 yang diam-diam melakukannya? Bagus juga. Lain kali, aku akan menaikkan jabatannya menjadi kepala pesuruh,“ kata Jiang Hao bangga. Kayaknya untuk yang satu itu dia tak akan kecewa. Sebab untuk berikutnya, kalau ada urusan demikian, apalagi persaingan baru nya dengan si kemaki Lin Tian itu bakaln dengan mudah dia menguasai panggung. Sudah jelek, miskin, apa yang bisa dibanggakan dia. Dengan terkenal sebentar saja sudah mulai merajai, tidak bisa! Semua mesti kembali ke Jiang, itu pikirnya. Kalau sampai kalah bersaing, bukan hanya malu, namun akan membuat satu sekolah berpaling darinya. Sebagai orang terkaya dan paling popular, sebagai pemilik restoran bintang lima dan mungkin akan menjadi bintang tujuh, biar puyeng – puyeng dah.


“Benar aku jiang hao memang suka membuat semuanya senang. Uang bukan masalah. Selamat datang aku adalah….“


Plak !


si wanita menggampar Hao. Tak disangka-sangka. Kenapa dia berani-beraninya berlaku demikian. Tidak tahukan dirinya, tuannya ini, bakaln marah. Atau akan berakibat fatal jika sudah ada kata-kata pecat artinya. Main gampar saja dia.


“Kalian terlalu lambat! Bukankah uang bukan masalah, paling-paling hanya melipatgandakan saja kan? “


“Maaf sudah menunggu lama, saya adalah pelayan kali ini. Sicily. Anda bisa memanggil saja Sicily.“ Si Cantik itu langsung dengan hormatnya memperkenalkan diri. Nampak ada keraguan sedikit di hatinya, takut kalau-kalau sang tuan muda itu akan marah dengan satu keterlambatan yang sangat menentukan ini. Mungkin kalau dia dating lebih cepat tak akan begitu. Membuat si Tuan Muda Lin Tian, merasa diremehkan musuh nya juga teman-teman satu sekolah yang sudah terlanjur menganggap dirinya ini lelaki miskin tak berguna. Tidak. Semetinya beberapa waktu sebelumnya dia berbuat hal terbaik. Tidak kali ini. Sudah telat, sudah itu mengecewakan lagi.


“Itu Xiaoli. Tak perlu sungkan. Mulai saja memasak,“ ujar Lin Tian, yang sebenarnya tak terlampau bermasalah. Dia merasa dirinya sudah terlampau banyak mendengar kata-kata bernada miring. Dan segalanya akan baik-baik saja setelahnya. Namun untuk hal satu ini, dia kayaknya ingin menunjukkan kalau sudah sewajarnya jika Lin Tian miskin bisa berubah menjadi lebih baik dan terbaik dengan memenangkan kompetisi dadakan ini. Dimana dia bisa mempermalukan si orag tajir menjadi bebek bodoh yang hanya pantas kecipak - kecipak dalam comberan.


“Xiaoli?“ Si Wanita tersenyum kecut. Nampaknya dia bukan main-main. Tapi suatu kesalahan eja. Biasa orang-orang disini begitu. Lidah bukan menjadi patokan. Tapi sebuah kebiasaan. Maka akan sulit sekali mengucapkan kata yang buan menjadi kebiasaannya. Bahkan terkadang suatu suku kata tertentu tidak masuk dalam rangkaian huruf yang mesti dilakukan dalam sebuah urutan aksara baku. Yang biasanya disesuaikan dengan kata yang umum dipakai sehari-hari. Misalkan huruf Jawa, Do, tidak ada dalam aksara sunda. Karena kata itu umum di pakai dalam masyarakat suku jawa. Jadi ada Do dan Dho. Itu yang membedakan. Tapi di sunda hanya ada Dho. Membuat Do dalam kata sama dengan Do untuk mewakili Dho dan Do. Itulah yang terjadi dalam sebuah social bermasyarakat. Dimana huruf jarang dipergunakan tidak masuk pada urutan baku dari huruf tersebut. Padahal dua kelompok besar suku itu ada dalam sebuah wilayah satu pulau. Itu sudah berbeda. Apalagi lintas regional, benua bahkan dunia, tentu banyak hal-hal unik yang terjadi. Sehingga perbedaan itu menambah kekayaan dalam dunia pengetahuan tentunya yang layak untuk dipelajari, sehingga menambah ilmu bagi semua.


“Ternyata bukan koki yang dipanggil tuan muda Jiang.“


“Lin Tian ternyata adalah orang kaya tersembunyi ya? Tak disangka dia sampai menggunakan pesawat parasut untuk mendatangkan koki dan bahan makanan,“ kata teman satu kampusnya yang baru sadar ternyata ada intan dalam kolam beriak itu. Ada yang menonjol dari kampus sederhana mereka. Dan itu terletak di hati seorang Lin Tian saja. Anak sederhana yang biasa saja bahkan cenderung di olok-olok. Kini bak pahlawan bertopeng, yang terbuka kedoknya.


“Tuan muda Jiang kali ini benar benar ditandingi.“


“Bagaimana kalau kita mencoba makan di kantin?“


“Lin Tian!“


“Tak disangka sekali demi sekali melawanku. Parasut gampang sekali. Makan yang paling penting tetaplah koki. Koki kita semua adalah koki kelas dunia. Bahkan ada seorang koki besar bintang lima. Koki yang Lin Tian cari mana bisa menandingi kokiku,“ ujar Jiang Hao masih belum mengaku kalah sama si miskin Lin Tian.


“Guru….“


Tiba-tiba ada suara aneh.


Datang dari mulut Koki Bintang Lima. “Guru apa anda bersedia mengajariku beberapa jurus terakhir? Murid sekarang sudah lebih maju lagi.“


“Kamu sekarang juga sudah bintang lima, mungkin bisa belajar sedikit walaupun agak dipaksakan,“ kata koki bawaan Lin Tian.


“Kembali kamu! Percaya atau tidak aku bisa memecatmu!“ ujar Jiang Hao marah. Benar-benar orang tak tahu diuntung. Lagi senang-senangnya sesumbar, malahan mengiba. Apa-apaan ini!


“Asalkan aku bisa berguru dengan guru bunuh aku juga tidak apa-apa,“ ujar Koki Bintang Lima itu dengan santainya dan sudah tak perduli lagi. Kali ini dia benar-benar telah bertemu dengan seseorang yang bisa dibilang sebagai patokan dari segala yang dia lakukan. Sehingga dia menjadi seperti sekarang ini, karena ada pembimbing yang sebelumnya telah mencontohkan ilmunya yang sangat berguna itu. Dan selanjutnya ilmu tu yang dia kembangkan agar menjadi pegangan buat kehidupannya. Walau memang banyak diakui oleh semua orang, kalau kemampuan seseorang itu dbawa dia sendiri dan talenta besarnya mesti dia kembangkan sendiri. Namun bukan berarti sebuah teladan hidup bukan hal yang mesti dilewatkan. Karena hal itu juga yang mendorong dia untuk mencontoh atau meniru para pendahulu agar bisa setidaknya sama seerti senior nya itu. Dan wajar jika suatu saat kala bertemu, sang murid mesti menghargai pembimbingnya itu agar tidak kualat, atau melanggar tata etika dalam dunia bisnis itu. Juga ada kalanya manusia bisa jatuh, meski pada jalannya sendiri. Untuk itu ketika dia terjatuh, maka tak akan kepikiran, kalau jatuhnya itu akibat melanggar sebuah tradisi.


“Itu aku sudah lapar.“


“Saya akan segera memulai silahkan anda beristirahat sebentar segera selesai.“


Semua terdiam.