
Banyak orang yang terkapar. Pada kelelahan. Perjuangan ini begitu berat. Bahkan yang berbaju coklat sampai kejat-kejat mengambil nafas banyak-banyak. Sungguh sangat berat.
“Selanjutnya ujian kedua. Apa semuanya sudah siap?“ ujar Lin Tian. Dengan santainya. Dan menganggap kalau semua yang sampai itu sudah lulus seleksi tahap perdana. Dan selanjutnya dengan melihat kualitas yang benar-benar sertifikasi dari masing-masing para pelamar benar-benar telah sesuai dengan kualifikasi pendidikan. Makanya itu menjadi awal dari tahap selanjutnya yang mesti langsung di jalani. Sehingga yang gagal sudah jadi seleksi tersendiri yang sangat bagus.
“Aku siap!“ ujar para peserta sangat bersemangat walau tangan sampai bergetar saat mengacungkannya ke atas. Tidak mengapa yang penting semangat dulu.
“Kami ju….“ ujar yang lain sembari di papah. Sebab sungguh sangat berat untuk kali itu saja. Seleksinya sangat ketat, dan sedikit peri kemanusiaan.
“Hua….“
Pada muntah.
Benar-benar sangat siap.
“Bagaimana caramu menjadi manusia? Semuanya masih belum pulih. Istirahat, kami mau istirahat,“ ujar Ningning yang masih butuh istirahat sementara waktu. Memang benar-benar asik main game daripada mengikuti seleksi yang super ketat ini.
“Bagaimana dengan kalian? Apa juga mau beristirahat?“ tanya Lin Tian yang melihat semua peserta pada istirahat di tempat.
“Ini, bagaimana kalau istirahat sebentar?“ ujar peserta jamet.
“Benar. Benar-benar sangat lelah,“ ujar peserta lain yang seakan tak kuat lagi mengambil nafas. Jangankan untuk lari, untuk jalan kaki saja, mendingan duduk dulu.
“Tidak istirahat juga tidak apa-apa. Sejak kecil aku tidak takut susah. Kalau kalian tidak bisa, aku saja. Aku pasti bisa melakukannya dengan sekuat tenaga,” ujar peserta yang sangat tangguh serta tak berasa apa-apa dengan ujian yang sangat sepele begitu.
“Hmm… semangatmu bagus sekali. Selamat kamu….” Lin Tian mengambil nafas panjang. Seakan berat sekali untuk mengambil keputusan yang sangat berarti bagi orang yang sangat bersemangat ini. “Kamu tereliminasi!”
“Ha…”
Semua pada terkejut melihat itu semua. Ternyata semangat saja tak cukup untuk membuatnya di terima. Malahan langsung hangus.
“Selamat kalian yang meminta istirahat, telah lulus ujian,“ ujar Lin Tian menyalami peserta yang masih kebingungan akan ulah bos perusahaan tersebut yang terkesan lumayan aneh.
“Pura-pura bekerja. Tidak pulang saat sudah jam pulang kerja, pura-pura lembur saat jam istirahat, kapitalis menekan karyawan setiap hari memeriksa nilai-nilai semuanya,“ ujar Lin Tian.
Jam 19:00 malam pada asik bekerja dengan riang dan penuh semangat. Ada yang menatap layar monitor, ada juga yang asik meneguk minuman.
“Bekerja yang sesungguhnya. Pulang kerja tepat waktu, beristirahat pada waktu istirahat, tidak ada kapitalis. Setiap hari menikmati hidup.“
Jam 17:00 pada bubar. Ruangan kosong melompong.
Para peserta kembali terkejut menyaksikan semua itu.
“Jadi, karyawan perusahaan Tianlin harus pulang kerja tepat waktu. Kalian harus memaksa untuk istirahat ketika letih, jangan memaksa diri untuk bekerja,“ pesan direktur Lin. “Mari bersama-sama menikmati bahagianya berbaring.“
Semua Nampak berbaring sembari menikmati taman rumput luas, hijau dan hangat.
“Berjuang juga tidak ada salahnya, tapi berjuang untuk kapitalis itu yang salah,” ujar Lin Tian.
Lalu dia berteriak, “Semuanya, ini adalah ujian kedua, selamat!“
“Yeah…“
Semuanya pada bersorak.
“Sampai jumpa besok pagi di kantor pusat grup Tianlin, untuk wawancara terakhir,“ pesan Lin Tian.
Semua pada senang.
“Bukan apa kalian tidak menyadari sebuah masalah besar?“ ujar si gadis sembari menatap bus besar milik perusahaan yang mengangkut merek ternyata pelan-pelan beranjak menjauh. Meninggalkan mereka di daerah tak jelas yang nampaknya jauh dari mana-mana. Sehingga masalah besar nampaknya masih menghadang di depan mereka yang sungguh-sungguh sulit untuk di lewati jika hanya berdiam diri saja di suatu daerah yang sangat nyaman tersebut, tapi kelihatannya begitu jauh dari mana-mana itu.
“Kami juga menyadari masalah ini, Grup Tianlin tidak sama dengan perusahaan lainnya,“ ujar peserta pencari kerja yang lain namun masih bersemangat, mengetahui mereka sudah berhasil melewati berbagai babak yang mencengangkan dan sejauh ini tak menyangka kalau bakalan lolos, melihat rekan mereka tadi yang masih sangat bersemangat serta tidak harus berlari dalam bus, ternyata juga tak mampu menembus seleksi ketat dari apa yang dikenakan perusahaan super hebat tadi dalam menjalani perekrutan tenaga kerja yang sangat banyak dibutuhkan oleh perusahaan lain yang juga sangat keren itu.
“Tidak, masalah yang aku maksud jauh lebih besar dari ini,“ ujar sang gadis yang meyakini tengah ada sesuatu yang bakal di uji-kan untuk mereka di daerah yang sangat sunyi tersebut.
“Bagaimana cara kami kembali?“ ujar mereka bingung. Kalau dekat pasar, sudah pasti banyak tukang ojek. Atau jika berada di tepi jalan propinsi, pasti akan langsung mencegat angkutan umum guna mengantar mereka menuju ke kampong halaman, dimana ayah dan bunda sudah menunggu keberhasilan mereka.
“Bagaimana cara pulang?“
“Pulang!“
“Pulang!“
Pada kebingungan bagaimana menuju rumah. Jika berada dalam suatu lokasi yang jauh dari mana-mana. Yang ada hanya semacam sabana luas dengan rumput menghijau yang begitu menakutkan kalau di pikirkan secara luas. Seluas tanah lapang kosong tersebut yang jauh drai mana-mana.
#
Di kantor perusahaan Tianlin. Nampak gedung tinggi menjulang itu tengah membisu. Tak memperhatikan kalau di dalamnya tengah ada batin yang berkecamuk dengan berbagai keperluan yang hendak dilancarkannya.
Para peserta masih mencari kepastian. Mereka juga bingung akan perlakuan para pimpinan perusahaan itu yang tega meninggalkan para pencari kerja tersebut untuk kesulitan pulang. Malahan kali ini di depan perusahaan mewah tadi mesti menunggu suatu ketidak pastian kembali.
“Ini, aku lupa memanggilkan mobil untuk kalian. Sebentar ya, benar-benar mudah melakukan kesalahan kecil seperti ini, kalau tidak ada asisten hehe…“ Lin Tian mengekeh. Sembari menggaruk-garuk kepala, dia berusaha untuk membuat suasana tetap cair.
“Jangan banyak omong kosong, cepat mulai wawancaranya!“ tantang si gadis yang sudah tak sabaran.
“Lin Tian, aku hari ini akan membuka topeng kapitalismu,“ ujar sang gadis yang sudah siap sedia melakukan pembongkaran isi hati tak bagus dari direktur perusahaan Tianlin grup itu yang benar-benar sudah kentara di depan mata akan kelakuannya yang kurang menyenangkan ini.
“Sombong sekali, ini adalah orang berbakat. Aku suka sekali,“ ujar Lin Tian sangat senang dengan Ningning ini yang sangat terbakar amarah, hingga meluap-luap api di sekujur badannya, pertanda suatu kemarahan yang hebat dan seakan hendak menyingkir dari nasib yang sudah di tentukan untuknya lewat seleksi yang aneh itu.
#