Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 228


Pada suatu gedung yang tinggi dan sangat megah.


Kendaraan ayah Ma Keji berhenti.


“Ini tempat nya, hahaha,“ ujar ayah sembari membetulkan letak dasi yang sedikit tak rapi agar Nampak sangat necis.


“Ayah, bisa tidak jangan terlalu mencolok begitu,“ ujar si anak yang merasa menjadi karyawan dan tak tega dengan majikan nya tersebut.


“Ketika manusia senang, dia akan jadi bersemangat, sudah biasa,“ jelas ayah.


“Ayah, Direktur Lin kelihatan sangat bersahabat. Tapi dalam hatinya sudah membuat keputusan untuk berbagai proyek, nanti saat berdiskusi…“ ujar Ma Keji menyusun skenario.


Ayah memotong, “Aku lebih paham dari mu, kamu pelajari saja dari samping.”


#


Pada suatu ruangan, di meja tempat pertemuan.


“Huh, tak disangka dia mau membicarakan kerja sama proyek ruang rahasia denganku. Aku sudah memiliki persiapan,“ batin Lin Tian.


“Kalau kalian mau berdiskusi, ya diskusi saja, kenapa harus mengajakku, bisnisku hanya bergerak di bidang makanan saja kan,“ ujar Xueqing.


“Nanti kamu akan paham,“ jelas Lin Tian.


Tak berapa lama pintu ruangan terbuka.


Ayah masuk.


“Direktur Lin, Aku sudah lama mendengar namamu,“ ujar ayah dengan ramah dan sangat sok tahu.


“Sebaiknya aku juga begitu,“ ujar Lin Tian penuh dengan rasa bersahabat sembari mengulurkan tangannya untuk jabat tangan.


“Kerjasama kali ini adalah dengan membangun sebuah proyek ruang rahasia yang spesial. Kalian akan bertanggungjawab dengan desainnya,“ kata ayah Ma. Dia langsung paham akan arti semua ini. Memang semua perusahaan mesti punya rahasia. Jadi apa yang bisa di tunjukkan keluar itu yang berakibat menguntungkan usaha. Namun apa yang membuat nya bisa berhasil, itu yang mesti menjadi rahasia, serta kamar ini, ruangan rahasia, akan menyimpan rahasia perusahaan supaya semakin tertutup dan tak bocor ke dunia luar sampai sesuatu yang lebih baik bisa membuat usaha mereka semakin berkembang serta semakin maju saja dengan banyak untung yang masuk.


“Aku juga berpikir demikian, karena ini kerja sama dua perusahaan, maka kita harus membuat yang besar,“ jawab Lin Tian.


“Aku mau membicarakan sesuatu, mohon semuanya mendengarkan,“ kata Direktur Lin. “Uang, biar grup Tianlin yang mengeluarkan. Desain juga dari grup Tianlin. Karyawan juga dari grup Tianlin.“


“Oh, kalau begitu, bukankah perusahaan kami tidak memiliki kerjaan. Maksud Direktur Lin adalah ingin menendang kami dan menguasai keuntungan sendiri,“ ujar ayah curiga. Tak menyangka kalau demikian kejam bisnis itu. Sehingga membuat mereka tak punya pekerjaan serta bakalan menjadi untuk apa nanti mereka dalam industry kerjasama yang besar tapi tak di libatkan ini. Benar-benar kerjasama yang berat sebelah.


“Menguasai keuntungan, mendapat laba, benar-benar meremehkan aku, Lin Tian,“ gumam Lin Tian dengan geram. “Ah bukan, kalian yang akan bertanggungjawab mendapatkan laba. Pekerjaan kotor dan melelahkan lainnya, biarkan kami saja.“


Saling pandang.


“Tunggu dulu, aku tidak mengerti maksudmu. Maksudmu adalah kamu menanggung kerugian dari proyek ini dan membiarkan kami mendapat keuntungan. Tidak masuk akal,“ kata ayah semakin tak paham. Bagaimana bisa kalau semua pekerjaan akan di bagi secara tak adil. Ada yang hanya dapat kotor, serta hanya mendapat enaknya saja. Dan itu secara sepihak justru di lakukan oleh Direktur Lin, yang seakan membuat supaya kerjasama tersebut berjalan dengan cepat untuk segera di capai kesepakatan. Makanya hal itu dianggap sesuatu yang tak wajar. Makanya mesti hati-hati terhadap manusia licin seperti itu. Jangan sampai terjebak dalam pekerjaan yang seenak nya sendiri.


“Era apa ini, sekarang adalah era komunikasi, dengan menguasai jumlah, maka kita akan menguasai bisnis, begitu, juga dengan ruang rahasia. Direktur Ma, kalau begini apa kamu sudah paham?“ tanya Direktur Lin. ‘Semakin banyak orang, semakin besar ruang rahasia yang dibuat dan kerugian juga akan semakin besar, ini mudah sekali.’


“Direktur Lin ini aneh sekali, Dia terlihat seperti menjalankan bisnis ruang rahasia untuk merugi, tapi sebenarnya dia menggunakan pelanggan A Li Ma Ma untuk meramaikan bisnis dia yang lain,“ pikir Ma semakin curiga saja dengan otak udang pemuda ini. Sehingga terpikirkan sesuatu yang lain tentang bisnis yang ada di luar itu, serta bagaimana mungkin kalau semua hanya untuk meramaikan bisnis lain nya tersebut. Itu yang terpikirkan ayah Ma.


“Ruang rahasia A Lin, senang bekerja sama dengan anda,“ ujar keduanya sembari salaman dan saling menyetujui kerjasama yang saling menguntungkan itu.


“Kalau begitu, bagaimana desain dari ruang rahasia kita?“ tanya Direktur Ma. Dia ingin sekali melihat ruang rahasia yang begitu memabukkan. Sampai demikian tersimpan supaya bisa dengan rapat tak ada orang yang mengetahuinya.


“Soal ini kamu akan segera mengetahuinya,“ ujar Direktur Lin. Dia sudah mendesain nya sedemikian rupa, sehingga ruang rahasia tersebut demikian menarik untuk tak perlu di percakapan lagi serta benar-benar menjadi rahasia bersama.


“Aih pusing sekali,“ ujar Direktur Ma yang nampaknya kebanyakan minum. Padahal dia lagi banyak-banyaknya uang serta hutang juga taka da. Kenapa pusing. Ini aneh sekali. Dan minuman mencurigakan itu biang keladi dari semuanya. Sehingga orang yang kaya serta banyak harta tapi masih juga bisa dibuat pusing. Ini keterlaluan.


Bruk!


Semua terkapar.


Antara ayah Ma dengan Ma Keji yang mabuk. Minuman itu benar-benar dahsyat. Padahal baru beberapa teguk saja sudah berasa demikian.


“Kenapa mereka?“ tanya si cewek Xueqing. Dia ngeri kalau-kalau keduanya sampai tewas akibat meminum sesuatu yang membahayakan lambung serta jantung. Bisa-bisa mereka akan terseret ke jalur hukum yang bakalan membuat mereka sengsara sendiri. Ini yang tak dia pahami dari rencana Bos Lin yang membuat mereka seakan tertidur dalam tak sadar atau tak sadar dalam mabuk nya. Yang memusingkan itu.


“Jangan khawatir, selanjutnya aku akan membuatmu menyaksikan desain ruang rahasia baruku,“ ujar Lin tian. Lalu ucapnya dalam Walkie talkie. “Perhatian semuanya, live action, ruang rahasia pertama A Lin, resmi di mulai.“