
Coffee.
Di suatu kafe sembari meminum kopi.
“Kondisi sekarang sangat gawat,“ ujar Ma Keji yang merasa telah di sia-siakan oleh Direktur Lin. Ibarat kata habis manis sepah di buang. Kali ini dia merasa telah dijadikan musuh oleh tuannya itu. Dan apa yang sudah pernah dia lakukan menjadi sia-sia. Pengorbanannya bagai angin lalu saja. Ini tidak benar, harus ada sesuatu demi mengembalikan segala sesuatu tersebut.
Pergi bikin game. Ini yang sebenarnya tengah diusahakan. Sebab kepiawaiannya memang di posisi demikian. Kalau bagus dan banyak penggemar, maka game itu akan popular. Dan jika tidak, maka hanya seperti angin lalu juga. Dia membayangkan, banyak game yang sukses, dimana semuanya akhirnya menghasilkan banyak cuan yang memenuhi pundi-pundi kas-nya.
“Aku mendapat dana usaha impian sebesar 200 ribu yuan.“ Sebenarnya itu lumayan. Tapi kalau untuk membuat aplikasi game, apakah akan cukup berikut dana promosi ke berbagai media yang mampu membuatnya lebih popular, serta bisa menjadikannya semakin dikenal banyak orang. Itu yang akhirnya menjadi pemikiran dan masih perlu banyak pertimbangan.
“Direktur Lin, apa yang harus aku lakukan kalau tidak ada kamu?“ ujar Ma Keji masih berusaha mengiba di kaki direkturnya yang seakan sudah tak ingin mengingatnya lagi. Bahkan menatapnya juga enggan. Seakan tatapannya selalu di arahkan pada posisi lain.
“Aku pikir setelah menyingkirkan momok ini tetapi sekarang aku malah dibombardir oleh panggilan telepon,“ Lin Tian mengeluh seraya menyeruput kopi café yang nikmat tersebut.
“Aku sangat berterima kasih atas pemberianmu. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya, aku pasti akan cepat gagal,“ ujar Ma Keji seraya menunjukkan buku pemberian Lin Tian dengan judul Pergi Bikin Game, tapi dia masih penuh kekhawatiran.
“Benar juga. Kalau kamu gagal, maka bukan saingan lagi namanya,“ gumam Lin Tian seraya mengangguk-angguk dan tengah memikirkan bagaimana cara membantu orang tersingkir ini. “Buat game, pikirkan tentang peran sebenarnya dari game. Lanjutkan saja dengan gaya dan pengalamanmu sebelumnya,“ ujar Lin Tian seraya memberi spirit bagi Ma Keji yang tengah di rundung kegalauan akan keberhasilan game yang bakalan dia bikin itu.
“Gaya dan pengalaman yang dulu yang berhubungan dengan game ada rumah hantu. Game MR. Ada lagi pria maco. Hal-hal ini adalah cara bermain lama dari game lama ditambah hal-hal baru. Menjadi karya baru.“ Teringat akan permainan lama itu. Tentang bagaimana melayang bebas seperti burung yang tangannya terentang. Dan hantu menyeramkan diantara mesin-mesin permainan itu. Semua kemudian ada dalam ingatannya.
“Direktur Lin, mendengarkan kata-katamu lebih baik daripada membaca buku sepuluh tahun. Aku mengerti sekarang,“ ujar Ma Keji langsung paham. Dia telah mampu mengambil sari dari semua aplikasi yang pernah di kerjakan, untuk kemudian bakalan di kembangkan sendiri, hanya dengan menambah sedikit perubahan yang menjadikan game jadul itu semakin modern saja. Dia langsung menyalami direkturnya dan menjadikan apa yang dikatakan tersebut merupakan motifasi sangat berharga dan sebuah solusi buat kebuntuan daya pikirnya. Semua bakalan dia mulai dari awal. Tentang hal tersebut.
“Eh, kenapa paham? Apa yang dia pahami? Kenapa aku tidak tahu?“ ujar Lin Tian yang justru terkejut akan kata-kata apa yang dia ucapkan barusan, sehingga mampu membuat anak itu berubah drastis, dan sekarang sekan tengah menemukan secercah cahaya dalam gulita.
“Tapi dilihat dari ekspresi dan nada bicaranya, seharusnya dia sudah mengerti tahap kunci untuk mendapatkan untung,“ ujar Lin Tian yang juga ikut memahami. “Sebal aku ingin tahu.“
“Tiba-tiba menyuruh kami membuka usaha sendiri. Aku sama sekali tidak ada persiapan. Kami kakak beradik sama sekali belum pernah membuat game,“ ujar kakak beradik yang juga mesti mendapat tugas membikin game baru. Maklum jaman sekarang permainan-permainan demikian lagi ramai-ramainya. Sehingga banyak jenis permainan tersebut yang mendatangkan untung. Yang berikutnya membuat game tersebut menjadikan pemiliknya mempunyai penghasilan yang bahkan lebih dari pada besar, serta menjadi sebuah pekerjaan tetap oleh kepiawaian seseorang dalam membuat game serta penyaluran pada hal yang tepat. “Spesialisasi kami adalah mengurus berbagai hal dalam grup.“
“Dengar, aku tidak bisa kehilangan uang hanya karena kalian mengurus semuanya dengan baik,“ ujar Lin Tian. “Kalian bisa menggunakan keunikan kalian dan mengembangkannya. Jangan buru-buru tidak akan ada masalah.“
Lalu gumamnya, “Aku juga tidak tahu jawabannya. Pokoknya aku eliminasi mereka dulu, kemudian pelan-pelan baru memikirkan caranya.“
“Apa lagi? Apa inti dari game yang akan kita buat?“ ujar si kembar Qian yang masih kebingungan.
“Ini game kan, seharusnya hanya untuk satu tujuan saja. Hehe… Aiya, aku masih ada urusan. Aku pergi dulu,“ ujar Lin Tian serta cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut untuk menghindari pertanyaan mereka yang masih kebingungan dan dia sendiri pusing untuk menjelaskan banyak solusi yang harus dia berikan tersebut.
“Tuan Lin benar-benar lelah dan sibuk,“ ujar Ma Keji dengan kecewanya setelah melihat yang mestinya memberi mereka petuah justru kabur. Makanya dalam kebingungan itu mereka masih terbengong, tak mampu berbuat apa-apa lagi. Dengan diiringi oleh semuanya yang juga masih serba bingung. “Dia mengeluarkan uang untuk modal kerja usaha kita dan memilih kita, tiga orang paling penting, untuk meninggalkan perusahaan dan membuka usaha sendiri.“
“Benar, dia tidak takut untuk menanggung beban seberat itu benar-benar salut,“ ujar Qian masih sedikit terharu dengan direktur mereka yang penuh beban tadi.
“Xiao Ma, apa yang kamu pahami? Apa kamu punya ide?“ tanya Qian Duomei yang belum ada ide demi mengembangkan usaha, sebagaimana beban berat yang dilakukan direkturnya, sampai-sampai demikian cepat dalam melarikan diri meninggalkan mereka yang dalam posisi serba bingung tadi.
“Pemahaman? Jujur sebenarnya tidak perlu pemahaman,“ ujar Ma Keji yang sudah paham akan pemahaman apa yang di ajarkan direktur Lin tadi dan cukup di bikin logis saja, sehingga semua sudah terbayang di pikirannya serta harus membentuk model apa game yang akan di buat nanti.
“Direktur Lin bahkan memberitahu aku harus membuat game apa,“ ujar Ma Keji sembari teringat jikalau Lin Tian memberi petuah padanya yang seakan sama seperti para dewa yang memberikan naungan kasihnya akan hamba yang penuh kekurangan itu.
Hal ini membuat duo bersaudara itu semakin puyeng.
“Melanjutkan gaya dan pengalaman yang dulu itu artinya cara bermain klasik ditambah dengan inovasi baru. Apa lagi yang lebih klasik dari pada legenda. Kalau kamu saudara dating dan bantai aku,“ ujar Ma Keji yang sudah siap dengan perubahan game klasik dengan format barunya.