Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 128


Lin Tian siap menendang bola. Nomor sepuluh merah benar-benar membuat dia bangga. Seakan mempunyai kekuatan tambahan dengan mengenakan nomor hebat itu. Makanya dia memilihnya. Sejenak dia menghentikan bola. Bola jatuhnya melambung. Pemain hanya bisa menatap dengan pasrah. Kalau perlu bakalan mereka sundul sembari memperhatikan posisi teman. Kira-kira ke arah mana nantinya bola akan di arah kan,


Di gawang Kipper kribo hanya tertegun menatap bola itu terus saja melambung di atas kepalanya. Sampai dia tak bisa berkata apa-apa.


Pemain yang lain pada penuh tanda tanya. Seakan menatap heran pada pemain kaos merah itu.


“Aduh, sepertinya sepak bola tak semudah yang aku pikirkan,“ ujar Lin Tian yang kaos nya saja memilih nomor 10, nomor yang banyak disukai pemain kelas atas dunia. Sudah itu warna pink.


“Omong kosong, kita sudah berlatih selama lebih dari 10 tahun baru bisa menguasai teknik,“ kata pemain kaos biru, dari universitas. Memang main bola gampang-gampang susah. Buktinya anak-anak bisa main bola. Tanpa lapangan tanpa seragam. Asik saja mereka main di sekolahan sembari berteriak-teriak mengganggu orang lain. Karena fasilitas dan tempat yang layak hanya di situ. Namun ruangan bisa kotor, serta penuh dengan sampah berserakan. Makanya saat setengah main pada keliling untuk memunguti serpihan sampah. Baik itu botol plastik maupun kantung plastik. Sembarangan saja para penonton yang suka rusuh itu meminum isinya untuk kemudian melemparkan plastik yang tak bisa di urai dalam waktu singkat, sehingga mengotori dunia. Tapi bagi pemain lainnya tentu saja tak semudah itu. Sampai usia kepala empat kalau tak punya skill tetap saja tak bisa main dengan bagus. Hanya main nendang bola, menangkap sama menyundul itupun kepalanya pusing tujuh keliling melebihi tanggal tua. Sedangkan yang hebat langsung saja pandai mengotak atik bola bahkan dengan santainya mempermainkan bola tersebut untuk kemudian di tendang kuat-kuat sampai melewati jalanan yang penuh kendaraan melintas.


“Ah dia kenapa dia datang?“


“Aku dengar, dialah yang menjadi sponsor pertandingan liga ini.“


“Kenapa kamu dating?“ tanya Lin Tian pada cewek semok si sponsor liga sepak bola yang bergengsi itu.


“Aku tidak boleh melihat tim yang aku sponsori?“ kata cewek itu. Heran dia. Sudah bayar mahal-mahal, mengeluarkan uang banyak, membelikan kaos, sepatu, bola, bahkan rekomendasi jika hendak berlatih ke mana saja sesuai dengan rasa nyamannya sebagai persiapan bakalan bertanding di suatu lokasi yang suhunya disesuaikan dengan lokasi tempat dimana akan bertanding tersebut. Misalkan di lokasi dingin, maka tempat latihan juga akan dibawa ke daerah yang suhunya kurang lebih sama. Sehingga para pemain tak akan kebingungan kalau menghadapi perbedaan suhu nantinya. Karena bagaimanapun berada di lokasi lain dengan perbedaan suhu yang mencolok akan berpengaruh pada kondisi tubuh yang bisa jadi membuat sakit-sakit juga di akhirnya. Lalu ingin pijat, kemudian minum jamu, bahkan rempah-rempah yang menyehatkan, serta air penambah energi. Itu tentu akan sedikit merepotkan. Hal inilah yang membuat dia heran kenapa mau menonton saja demi kesenangan diri juga, mesti dilarang hanya melihat itu.


“Apa kamu tidak bisa membiarkanku ikut ke luar negeri dengan tim universitas?“


“Lin Tian lagi-lagi kamu membuatku marah. Kamu memiliki begitu banyak uang. Apa kamu tidak bisa beli tiket sendiri ke luar negeri?“ ujar cewek itu yang keheranan menyaksikan si pemuda kaya itu sangat berharap ikut ke tempat keinginan nya dengan bermodal kemenangan yang memerlukan keringat dan air mata. Bukankah sudah santai saja duduk dengan tenang, lalu memesan tiket paling VIP untuk mendapat tempat yang paling nyaman, untuk kemudian menikmati sepanjang perjalanan, dan sampai lokasi dengan badan nyaman pula. Tentunya tanpa perlu bersusah payah. Walaupun dengan uang saku sendiri, pastinya tak akan membuat nya jebol. Karena untuk bulan berikutnya sudah pasti ada pemasukan walau hanya dua digit saja.


“Walaupun perusahaan ku kaya raya dan sembarangan merugi, tapi aku sangat miskin,“ jelas Lin Tian akibat sistem menahan dananya untuk main-main.


“Coba dengarkan, apa kamu sedang bicara bahasa manusia?“ ujar cewek sponsor itu yang tentu saja tak percaya mulut manis penuh bisa buat seorang kaya raya, pemilik perusahaan yang tak mau mengeluarkan dana demi perjalanan panjang ke tempat yang dituju itu.


“Institut olahraga, kalau menang, aku akan memberi hadiah uang,“ ujar sponsor tim biru yang sangat ingin kemenangan. Dia menghendaki jika Lin Tian kalah. Bagaimana muka imut nya itu nanti. Pemain nomor sembilan bahkan memandang seakan berbinar pada sponsor yang dengan mudahnya mengeluarkan dana jika merasa senang kalau tim yang dia dukung memperoleh kemenangan walau hanya satu poin saja.


“Lin Tian, bukankah kamu ingin bertanding melawanku? Ayo!“ kata sponsor liga itu. Yang ingin menyaksikan kehebatan lawan yang tentunya tak bakalan sebanding dengan tim yang dia sponsori. Karena kalau tak menang maka bakalan malu jika mesti dipermalukan yang memberi dana. Lalu bagaimana dia akan membelikan kaos, bola sepatu dan lain-lainnya kalau terus dikalahkan oleh pihak lawan.


“Lakukan perlindungan pertarungan kita. Kita akhiri pertandingan ini dengan cepat,“ ujar kapten tim universitas.


“Baik,“ kata lainnya. Walaupun tak ada imbalan kalau hanya sekedar bermain demikian sudah sangat membuat mereka bersemangat. Apalagi ini ada hadiahnya tentu lebih memotivasi lagi.


“Kamu sidah kita kepung mati-matian,“ ujar lawan yang tak mau menanggung resiko pada anak yang main bola hanya memakai sandal jepit. Padahal berkendaraan juga tak boleh memakai sandal jepit, ini malahan main sepak menyepak menggunakan benda tak aman itu. Ini yang pantas di perhatikan. Jangan-jangan memang sandal itu bertuah. Atau kalau tidak sudah di bawa ke dukun yang dengan santai nya memberi sesaji bunga tujuh rupa berikut darah ayam cemani supaya bisa terbang saat bermain, dan bisa menendang bola secara akurat ke gawang lawan. Sehingga membuahkan hasil yang maksimal.


“Akhirnya datang juga,“ ujar Lin Tian senang. Meskipun berada pada kepungan tiga lawan, tapi dia sudah siap menyongsong dating nya bola.


Pundak lawan dipijak. Lin tian terus memandang bola yang melambung. Kakinya sampai menjejak punggung lawan.


Bola ditendang dengan kuat kearah gawang.


Masuk. Bola tepat menabrak sisi dalam dari jaring pelindung. Dan bola tak bisa keluar. Yang membuat pada senang karena dengan demikian ikut memastikan jika bola benar-benar masuk.


Ooo…..


Penonton pada bersorak kegirangan. memberi applaus, penyemangat, yang demikian hebat. Bahkan kalau perlu melempar botol, masuk ke area lapangan atau meniup peluit. Tak perduli jika mesti kena tilang 15 ribu.