
Arena 1.
Ada pertarungan tua.
Tengah saling berhadapan, antara…..
Si tua berpakaian merah yang sangat garang bagaikan kera sakti,
Melawan…
Baju putih yang seakan memiliki DAN lima saja, berkat usia yang sudah sangat banyak.
Banyak makan asam garamnya kehidupan. Dimana segala petualangan hidup telah mereka jalani dengan penuh rasa percaya diri juga rasa keberanian yang tiada tara di dunia persilatan yang demikian melegenda. Ibaratnya tujuh samudera dan tujuh benua telah mereka lalui dengan semangat kesatria yang penuh kejantanan. Kini juga saat nya menunjukkan pada dunia, siapa dia, siapa kita….
“Aku si kakek kera sakti aku menjadi raja bela diri,“ ujar si kakek rambut putih dengan pakaian oranye dan logo almamater perguruan silat yang sangat ternama tersemat di dada nya.
Dia kemudian ancang-ancang…
“Jurus serangan gelombang delapan raja!” ujar nya seraya memasang kuda-kuda. Tangan nya langsung di tekuk di depan dada, dalam posisi yang siap serang dengan pancaran sinar menyala di telapak tangan nya yang saling bertaut. Bahkan rambutnya yang telah memutih berpadu dengan kepala ikut berdiri saja karena begitu besar nya energi kekuatan yang bakalan dia lepaskan pada lawan yang sama-sama memiliki kemampuan hebat. Seakan dia merupakan inkarnasi dari si pahlawan kera sakti yang begitu melegenda dan terkenal sampai ke delapan penjuru mata angin.
“Benar-benar gelombang,“ ujar si kakek pakaian putih yang terkejut tak menyangka lawan benar-benar akan mengeluarkan jurus pamungkas demi mendapatkan satu kemenangan yang menentukan ini.
Sedetik berikutnya sungguh terjadi satu tragedy memilukan.
Si kakek sampai menutup mata. Menjerit tertahan. Seakan tengah menerima hempasan kekuatan dahsyat yang di lesakkan oleh kakek dengan kemampuan maha dahsyat itu.
“Curang!“ teriak si kakek putih sembari terus menutup muka nya yang Nampak kesakitan teramat hebat. “Lapor wasit, dia curang!“
“Huh, tidak bisa melawan jurus serangan gelombang delapan rajaku, malah memfitnahku.“
Si kakek berteriak kegirangan. Lawan sudah berhasil dia taklukan dengan kemampuan hebat nya.
Namun,
“Keberatan, keberatan…“ ujar si kakek mengeluh. Dua orang dengan teganya menarik dia keluar arena. “Aku tidak melanggar peraturan, senter tidak termasuk senjata.“
Namun semua seakan tak perduli. Tetap menyeret nya keluar arena pertarungan yang sangat menghibur itu.
#
Di Arena 2.
Juga tengah terjadi suatu pertarungan hidup mati.
Antara dua orang yang sangat melegenda.
Si kakek baju putih dan lawan nya si baju hitam kepala botak.
Dengan langkah tertahan, keduanya saling mendekat.
Benar-benar tengah mengeluarkan tenaga dalam yang terakhir.
Begitu beratnya perjalanan mereka yang seakan penuh rintangan dan halangan. Walau itu hanya untuk beberapa meter saja. Namun dengan semangat membara, meeka terus berusaha menjangkau lawan. Ingin rasanya mereka mengulang kejayaan di masa lampau dimana berbagai ilmu kanuragan telah mereka kuasai sekaligus mereka amalkan pada dunia. Demi kemenangan golongan putih atas golongan hitam yang mengotori dunia dengan sepak terjang mereka yang penuh angkara murka itu.
“Ini sudah berlangsung setengah jam. Dua orang ini ditambahkan tidak ada 1 meter jalan nya,“ ujar panitia dengan penuh kesabaran. Maklum yang dihadapi adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di dunia nya. Banyak makan asam garam kehidupan. Serta penuh dengan perjuangan di tiap tetes keringat yang mengalir. Bahkan kini tengah banyak makan asam garam yang kebanyakan garam, Nampak nya.
Dua orang membantu. Mereka mengangkat dua kakek-kakek yang tengah berseteru itu. Di dekatkan.
Supaya bisa saling meraih.
Si kakek baju putih segera mendorong lawan nya dengan kekuatan sunyi yang sangat hebat. Sehingga lawan jatuh terpental dengan sekali sentuhan itu.
Untung ada panitia yang langsung menangkap tubuh si kakek botak. Kalau tidak bakalan cedera parah akibat bertumbukan antara bumi dengan tubuh berpengalaman nya.
Melihat lawan sudah tak berdaya, si kakek putih dengan topi khas nya langsung membuat gerakan khusus sebagai yel-yel kemenangan nya. Sangat bahagia dia. Disaat tengah puluhan tahun menanti, akhirnya kini saat nya mengalahkan lawan yang begitu di takuti lawan maupun kawan.
#
Bendera kepala lin tian terus berkibar. Balon it uterus melayang sampai gas pengisinya habis kekuatan. Untuk kemudian lemah dan terpuruk.
“Pertandingan ini aku tidak mengerti,“ ujar si cewek sembari menutup muka. Kebingungan. Rekan-rekannya ikut juga gerakan yang sama. “Lin Tian yang rela menghabiskan uang demi pertandingan seperti ini, benar-benar tidak normal.“
Lalu datang panitia dengan bayaran mahal mendorong si kakek yang habis melakukan pertandingan kelas berat. “Dia tidak terluka, tolong pijit saja dia, agar ototnya santai,“ ujarnya menyuruh si cewek baju ijo agar memberi P3K pada atlet seni bela diri senior yang melegenda itu.
“Benar-benar merepotkan,“ keluh si cewek yang langsung memijit si kakek.
“Nannan…“ Panggil si kakek dengan suara lirih. “Nannan bagaimana kabarmu? Kakek - nenek baik - baik saja, tidak perlu khawatir.“ Sembari mengelus kepala si cewek perawat.
Katanya lagi. “Mau permen tidak?“
Mendengar itu si cewek bergetar juga. Tak disangka si kakek benar-benar tengah rindu pada gadis mungil nya.
“Jangan bilang - bilang nenek ya kakek sengaja menyisakan nya untukmu. Waktu kecil, Nannan paling suka makan permen ini.“ Kakek membuka tangan nya. Da;lam genggaman tangan itu terbuka dua permen yang entah di buat kapan. Namun dengan setia nya dia menyimpan demi si Nannan yang dahulu sangat menyukai makanan manis itu.
“Aku, aku bukan… aku,“ si cewek ijo hanya bisa berucap. Namun tak sanggup melanjutkan kata-kata nya.
“Nannan, kalau tidak punya uang, bilang pada kakek ya, kakek punya uang. Ini ambilah,“ ujar kakek yang kali ini sudah sangat kaya dan punya uang banyak. Makanya dia segera memberikan uang kepada Nannan, tiga perak uang.
Hiwa….
Si cewek menangis. Terenyuh menyaksikan itu semua. Lalu dia menjerit. “Kakek, aku merindukanmu…“
“Kakek. Apa sebenarnya yang sudah aku lakukan. Apa yang sudah aku kejar selama ini. Aku mau pergi mencari Lin Tian. Aku ingin melakukan kegiatan yang berguna bagi masyarakat sepertinya. Tanpa memperdulikan uang dan nama baik.“ Si cewek segera berlari. Meninggalkan segala kenangan yang selama ini dia buat hanya demi mengejar sesuatu yang kurang dimengerti. Meninggalkan apapun yang berhubungan dengan uang. Sepatu mahal, serta tas diskon besar nya itu.
#
“Sekarang ada apa lagi?“
“Direktur Lin. Terima kasih,“ ujar para cewek yang berkerumun untuk sekedar mengungkapkan rasa terima kasih nya yang sudah dengan rela membuka mata batin nya demi semua yang mereka perbuat ternyata seakan menjadi satu hal yang kurang bermakna dimana rasa kasih saying seorang lansia lebih bermakna dari pada kemewahan duniawi yang selama ini mereka gadang-gadang. Bahkan sampai rela mengejar barang mewah itu dengan melupakan orang-orang terkasih di belakang mereka yang tengah dengan rela menanti kedatangan nya.
Di luar gedung, Nampak reporter tengah melaporkan jalan nya suatu pertandingan yang melegenda.
“Para hadirin sekalian, dapat melihat sebuah pertandingan yang terlihat seperti permainan anak-anak. Tak disangka telah menimbulkan pergolakan besar.“