
“Aku sudah bekerja selama dua puluh tahun, di lembaga kursus Lao Dongfang. Namaku Zhou Caoren. Seorang guru bahasa yang berusia empat puluh tahun lebih di lembaga kursus ini. Aku sangat suka lembaga kursus Lao Dongfang,“ ujar Zhou bangga.
“Ada dua pohon di depan sekolah, satu pohon apel, dan satunya juga pohon apel. Sangat disayangkan sekali… Sekarang dua pohon ini akan ditumbangkan!“ ujar Zhou lagi yang kali ini sangat sedih menyaksikan hal demikian.
“Pak tua, minggir! Jangan mengganggu kerja kami!“ ujar para pekerja berusaha untuk menjauhkan orang tua Zhou Caoren itu supaya mereka lekas pergi menjauh dari tempat di mana dia bersimpuh dan berharap supaya pohon kesayangan itu tidak di apa-apakan.
Bug!
Dengan kerasnya, alat berat sejenis traktor ekskavator mulai melentingkan bandul bulat besar yang sanggup meremukkan bangunan beserta pepohonan yang mengganggu tumbuhnya secara menghalangi jalan serta keindahan dalam lapangan di bangunan tersebut.
“Bukan hanya itu saja, bahkan lembaga kursus Lao Dongfang juga akan ditutup!“
“Demi mengurangi beban murid, pekerjaan yang sudah aku kerjakan selama dua puluh tahun pun hilang,“
“DEMI MENGURANGI BEBAN BELAJAR SISWA,PEMERINTAH MENCABUT IZIN MENGAJAR LEMBAGA KURSUS LAO DONGFANG.“
“Tapi aku tidak akan tumbang begitu saja! Aku tidak akan tunduk dengan mudah, aku akan berusaha terus mengorbankan diri demi umat manusia,“ ujar Zhou Caoren bertekad. Sembari membiarkan kertas-kertas beterbangan dia bertekad akan melawan ketidak adilan ini.
“Menurutku, asalkan ada usaha pasti akan ada jalan!” ujarnya mulai berusaha dengan melakukan gerakan sembari menutup diri di balik topi bundarnya. “Aku akan membuka kursus secara diam-diam.“
“Satu lembaga kursus Lao Dongfang tumbang, maka akan muncul lebih banyak guru baru!“
“AKU ADALAH PAK LU MAN, GURU KALIAN! “
“Plak!!! “
“AYO MULAI BELAJAR! “
“Pemeriksaan mendadak! “
“Lepaskan bukumu dan jangan bergerak!“
“ZHOU CAOREN!“ ujar polwan wanita dengan ganasnya. Sembari menunjukkan kartu identitas dan surat penangkapan, maka semua berjalan dengan cepat proses itu. “Kamu ditangkap karena telah membuka kursus secara ilegal!“
“Kalian menangkap Zhou Caoren, ada hubungan apa dengan aku, lu man?!“
“KRAKK!! ….. ….“
“Kamu baru pertama kali melakukan kesalahan ini, jadi kami tidak akan menghukum terlalu berat. Ke depannya, jangan melanggar peraturan lagi!“ ujar polwan itu mengutarakan larangannya.
“Baiklah!“ ujar Zhou dengan patuh.
#
Seseorang secara diam-diam mengikuti dari jarak yang lumayan jauh.
“Pak guru, ayo mengajar di lembaga kursusku!“ seseorang yang diam-diam mengikuti itu mencoba menjangkau punggungnya untuk kembali mengajar di lokasi kursus paling hebat yang pernah ada.
“Sekarang lembaga pendidikan Tianlin memerlukan banyak guru,“ ujar Lin Tian berusaha mengajak Zhou itu supaya bisa mengajar di lembaga pendidikan Tianlin dan akan di beri jam yang sangat banyak.
“Kamu sedang menertawai ku?“ ujarnya mencoba menepis tangan Lin Tian.
Plak!
Bahkan menamparnya.
“Mana ada lembaga pendidikan lagi sekarang? Bukannya semua lembaga sudah ditutup?“ ujarnya lagi secara tidak yakin.
“Tidak, sekarang masih ada satu lembaga pendidikan yang resmi,“ ujar Lin Tian berusaha membuka lembaga itu supaya orang yang sudah sangat berniat mengajar tersebut bisa menyalurkan bakatnya lewat lembaga yang baru berdiri ini. Sehingga walaupun merugi, nanti akan tetap ada pengembalian dari sistem dan semua bisa berjalan dengan lancar, layaknya instansi negara yang walau tidak menarik dana, namun sudah ada anggaran untuk membiayai kebutuhan para pegawainya.
#
Sementara di Pendidikan Tianlin, Nampak Cao Biluo tengah mendidik anak-anak dengan penuh keceriaan.
Perusahaan baru yang bernaung di bawah pendidikan usia dini Tianlin….
Pendidikan Tianlin.
“Perusahaan baru? Mustahil! Siapa yang akan membuka lembaga kursus di masa seperti ini? Bukanya 100% akan rugi?“ ujar Zhou bersikeras bahwa semua itu sangat sulit di lakukan.
“Betul! Rugi! Aku mau rugi!“ ujar Lin Tian.
“Hah?“ Zou keheranan.
“Oh, maaf. Aku lupa diri! Maksudku, aku bersedia berkorban rugi besar demi masa depan anak-anak,“ kata Lin Tian merubah ucapannya serta berusaha merangkul siapa saja yang mampu bekerja dengan giat demi anak-anak yang punya masa depan, dan mau berusaha merubah hidupnya.
“Baik! Aku sangat terharu dengan perkataanmu ini. Aku juga akan membantumu meski tidak diberikan gaji…“ ujar Zhou sangat terkesan akan lembaga pendidikan di bawah perusahaan Tianlin itu, yang mau berkarya walau mendapat rugi. Bagaimanapun segalanya dia lakukan karena suatu kegiatan yang dianggapnya mulia. Makanya walau tidak di bayar, tapi tetap akan dilakoninya.
“Tunggu! Kamu harus ada gaji. Aku akan memberikan gaji tiga kali lipat dari gajimu sebelumnya pada guru profesional seperti anda,” kata Lin Tian yang menolak dengan keras keinginan menjadi guru yang tak berbayar. Sebab ada perhitungan tersendiri nantinya. Walau ada kalanya semua itu berkaitan dengan usaha kepengurusan yayasan, jika tak membayar guru, akan tetapi ini bisa berbahaya kalau sistem sampai tahu andai semua itu dilakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri dengan mengabaikan tenaga kerja yang sangat potensial itu. Sehingga berikutnya akan membuat sesama guru yang bekerja menjadi kecemburuan sosial, sehingga tidak enak jika akan menerima gaji, sedangkan yang lainnya bahkan tidak di bayar karena dedikasi yang sangat tinggi serta keinginan memberikan ilmu tanpa pamrih.
“Kamu datang kerja besok. Aku tidak akan merugikan setiap guru,” ujar Lin Tian seraya menyerahkan kartu nama serta undangan supaya bisa masuk ke perusahaan dengan meminta bayaran yang cuma tiga kali lipat itu. Semua ini demi berjalannya sistem belajar mengajar yang sangat di butuhkan oleh anak-anak sebagai penerus dari generasi sebelumnya yang sudah mulai cemerlang dan akan menjadi lebih mapan lagi kalau semua itu dilakukan demi mereka semua yang membutuhkan masa depan cerah.
“Dengan demikian aku bisa merekrut puluhan ribu guru,” ujar perusahaan Tianlin yang sudah siap menampung banyak guru dengan dedikasi tinggi dan beragam. Baik yang rambut merah, kutu buku kacamata tebal, juga yang rambutnya jamet. Semua bakalan mendapat tempat di perusahaan Tianlin untuk mengisi kekurangan guru di lembaga pendidikannya.
“Bisnis yang merugikan akhirnya berkembang.” Lin Tian juga senang, usahanya dalam merekrut tenaga lumayan banyak, akhirnya lambat laun mulai bisa terisi dan kemudian tinggal membayar para guru itu yang hanya tiga kali lipat saja.
“Aku akan langsung melapor diri ke lembaga pendidikan Tianlin besok pagi,” ujar Zhou Caoren dengan mata berkaca-kaca. Semangat mengajarnya bakalan tersalurkan dengan kemudahan penerimaan tenaga di perusahaan Tianlin. Sehingga besok bisa langsung mulai masuk untuk mulai pekerjaannya.