
setelah mengatakan nya Chaterine meninggalkan mereka semua, dia berjalan menuju ke arah keluarga nya kembali dan di sana sudah ada Samuel.
"kamu dari mana saja Chaterine?."tanya Samuel saat melihat Chaterine yang tengah menatapnya.
"dari toilet kak," jawab Chaterine dengan menunjuk arah toilet yang tadi ia datangi.
"ya sudah, ayo pulang."seru Samuel dengan memegang tangan Chaterine dan berjalan terlebih dahulu, dan di ikuti oleh yang lain nya.
"memangnya di bolehkan oleh dokter kak?"tanya Chaterine dengan mengimbangi langkah kaki sang kakak,
"apa kamu masih ingin di rumah sakit Chaterine?"bukan nya menjawab justru Samuel melayangkan pertanyaan kepada sang adik.
"tidak mau,"seru Chaterine dengan cepat dan memeluk tubuh Samuel dari belakang, walau kakak nya tidak memberitahu nya, dia tahu jika sang kakak sangat mengkhawatirkan keadaan nya.
"kakak marah dengan Chaterine,"tanya Chaterine saat sang kakak tidak membalas pelukan nya,
"bagaimana menurutmu hmm? bukan kah sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh menyetir mobil sendiri Chaterine tapi apa yang kamu lakukan tadi sayang, kamu membahayakan keselamatan kamu sendiri."jawab Samuel dengan dingin, ia ingin marah kepada sang adik tapi tidak tega saat mendengar perkataan dari dokter,ia merasa gagal untuk kedua kalinya untuk menjaga adiknya.
"maaf kak, Chaterine tidak akan mengulangi nya lagi, tolong jangan marah kepada Chaterine kak,"ujar Chaterine dengan memegang kedua telinga nya,
"apa kamu yakin sayang tidak akan mengulangi nya lagi?"tanya Samuel dengan tatapan lembut, ia juga mengusap kepala Chaterine dengan kasih sayang.
"iya Chaterine janji tidak akan melakukan nya lagi."janji Chaterine dengan jari kelingkingnya. ia tahu jika terjadi sesuatu kepada nya, kakak nya akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada dirinya.
Samuel hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku adiknya yang masih sama seperti waktu kecil, walau Chaterine dari kecil tinggal bersama dengan sang kakek namun itu tidak membuat nya melupakan keberadaan sang adik.
justru ia sangat sedih saat meninggalkan sang adik tinggal berdua dengan sang kakek, sedangkan kedua orang tua nya sibuk bekerja dan dia bersama ketiga adik nya sibuk belajar sampai mereka benar-benar tidak mempunyai waktu luang untuk adik kecil mereka dulu.
Samuel tersenyum kecil saat membayangkan Chaterine kecil saat pertama kali mereka bertemu kembali, di saat umur sang adik sembilan tahun dan itu pun di saat dirinya yang akan menikah. gadis kecil yang selalu tersenyum lebar saat melihat nya dan selalu mengganggunya di pagi hari, kenakalan Chaterine waktu kecil tidak pernah membuat nya marah sama sekali.
bahkan mereka sampai lupa waktu, disaat umur lima tahun mereka menghubungi sang kakek untuk menanyakan kabar sang adik tapi adik selalu sibuk dengan dunia nya sendiri,sehingga tidak bisa mengobrol dengan mereka.
bahkan di saat suruh pulang pun dia menolak nya, dia mengatakan ingin tinggal bersama dengan sang kakek untuk menemaninya dan itulah pertama kali Samuel mendengar suara sang adik.
Chaterine memanggil nama sang kakak tapi tidak di hiraukan oleh sang kakak, entah apa yang sedang di pikirkan oleh kakak nya saat ini dan itu membuatnya cukup kesal karena tidak di hiraukan sama sekali perkataan nya.
"sayang kenapa kamu menginjak kaki kakak?" ya Chaterine menginjak kaki Samuel saking kesalnya diri nya dengan sang kakak. Samuel bingung dengan apa yang terjadi oleh sang adik yang tiba-tiba marah kepada nya.
"huh, salah sendiri. kenapa Chaterine panggil dari tadi hanya diam saja?"ujar Chaterine dengan cemberut dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan sang kakak di belakangnya, Chaterine menghentakkan kakinya karena saking kesalnya dan justru itu membuat sang kakak tertawa terbahak-bahak.
Samuel segera menghampiri Chaterine yang marah kepada nya,ia memeluk tubuh sang adik dan mengusap kepala Chaterine dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"kenapa sekarang jadi kamu yang marah dengan kakak?"tanya Samuel dengan nada pelan, orang-orang yang melihat mereka tersenyum sendiri, mereka berpikir jika mereka sepasang kekasih yang sedang marahan, sedangkan yang pria sedang membujuk wanita yang sedang marah kepada nya.
"tidak tahu, kakak nyebelin."jawab Chaterine dengan melepaskan pelukannya dan segera masuk kedalam mobil, ia bersedekap tangan saat duduk bahkan ia memalingkan wajahnya dari sang kakak yang sedang duduk di samping nya.
Samuel menghela nafas dalam-dalam, adiknya yang satu ini kalau sudah marah sangat susah di bujuk nya. sampai satu bulan pun adik nya akan betah mendiamkan kakak-kakaknya,
Samuel mencari cara untuk membuat adik nya tidak marah lagi kepada nya, tapi justru pikiran nya saat ini tidak sedang fokus. awalnya di yang marah justru sekarang kebalikan nya
Samuel terus memandangi wajah Chaterine dari samping, walau adiknya sedang marah kepada dan entah apa yang membuat sang adik marah kepada nya dan justru itu terlihat lucu di matanya.
mereka menunggu kedatangan yang lainnya sebelum mereka pulan, Julio terkekeh geli melihat tingkah adik nya yang tidak berubah sama sekali. ia yakin jika sang adik sedang marah saat ini, Julio menatap wajah sang kakak tapi Samuel hanya mengedikkan bahu nya tanda tidak tahu apa yang membuat adik nya marah.
"hais seperti nya kami akan terkena imbas kemarahan Chaterine hari ini, harus segera di bujuk kalau begini. bisa bahaya jika sampai Chaterine terus menerus marah kepada mereka semua,"batin Julio dengan berpikir keras untuk mencari cara agar adiknya tidak marah lagi, Samuel dan Julio sedang memberikan kode satu sama lainnya dan hanya mereka berdua yang mengerti maksud kode yang mereka berikan.