
"Rianti… ! Rianti… !" panggil Hendra seraya berlari mengejar istrinya ketika ia telah selesai memakai celana, sedangkan kemeja ia pakai seraya berlari mengejar Rianti.
Namun, jejak Rianti telah menghilang dari pandangan matanya. Wanita itu telah lebih dulu menaiki mobilnya menuju ke arah mansion suaminya.
Sesampainya disana, Rianti segera berlari ke arah kamarnya, kemudian mengambil beberapa pakaian yang akan ia bawa pergi dari mansion itu.
Ya, Rianti dalam kemarahannya, kecemburuannya dan kekecewaannya memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari pria yang bernama 'Hendra'.
"Setega itukah dirimu padaku, apakah cinta yang kita jalin selama ini tidak berarti bagimu? Hingga kamu tega selingkuh dengan adikku sendiri, hiks… hiks… hiks… !" tangis Rianti meratapi nasibnya.
Seharusnya ia yang sedang hamil saat ini mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang begitu besar dari suaminya, ternyata hanya luka dan rasa sakit hati yang ia dapatkan. Membuat Rianti memutuskan meninggalkan Hendra untuk selamanya.
Rianti segera keluar dari mansion melalui pintu belakang, jika ia keluar dari arah depan, Rianti khawatir akan berpapasan dengan suaminya. Jangankan untuk memanggilnya sebagai suami, melihatnya saja, kini Rianti tidak sudi. Masih teringat jelas di benaknya betapa Hendra dan Lusi melakukan hubungan dengan sangat bernafsu.
Sejak saat itulah Rianti menghilang bagai ditelan bumi, walaupun Hendra telah mencarinya kemana-mana tetap saja sosok istri nya itu tidak pernah ia temukan.
Setelah diusir oleh orangtuanya, mau tidak mau Lusi pun tinggal di mansion Hendra, dan meminta pertanggung-jawaban dari perbuatan Hendra yang telah menidurinya. Walaupun mereka melakukannya secara suka sama suka.
Maka jadilah mereka menikah dan memiliki putri yang bernama Tiara. Mereka hidup bergelimangan harta, sedangkan Rianti hidup susah di sebuah desa yang bernama Ciganjur, yang melahirkan seorang putri bernama Alexa.
**********************************************
"Begitulah kisah cinta yang malang yang dialami oleh Ibu Rianti, jujur Aku merasa sangat bersalah atas semua peristiwa itu. Pesan ku kepada kalian semua, berpikirlah secara matang dan pastikan kalau pasangan yang kalian pilih benar-benar yang terbaik dan tulus mencintai kalian apa adanya, jika masih ada perasaan yang belum yakin lebih baik kalian urungkan saja dari pada menyesal akhirnya," ucap Pak Hendra seraya melirik ke arah Ricard.
Ya, memang Pak Hendra merasa kalau perasaan Ricard tidak sepenuhnya untuk Alexa, mungkin karena pernah merasakan dan mengalami hal yang sama, membuat Pak Hendra lebih peka, dan ia juga berjanji tidak akan membiarkan Alexa menderita lagi, cukup ia merasa bersalah karena telah membuat Alexa sebagai pembayaran hutang. Dan ia bertekad tidak akan membuat putrinya itu menderita lagi.
Mendapat lirikan mata penuh tanda tanya dari Pak Hendra membuat Ricard menundukkan kepala, ia berusaha berpikir untuk siapa perasaan yang ia miliki sesungguhnya.
Sementara Alexa, ia telah menangis tergugu membayangkan betapa berat penderitaan Ibunya selama ini, yang rela meninggalkan kedua orang tuanya demi mempertahankan cinta terhadap kekasihnya. Namun, ternyata dikhianati sehingga membuat Ibunya pergi meninggalkan semua orang-orang yang ia sayangi dan lebih memilih untuk tinggal di desa terpencil hingga akhir hidupnya.