Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 46


"Eyang, apa benar Eyang dan nenek Rima ingin menjodohkan aku sama Ricard?" tanya Alexa, saat itu ia sedang menelpon Eyang Netty di Indonesia.


Karena ingin memastikan perkataan Ricard yang telah mengatakan kepadanya bahwa mereka memang dijodohkan.


"Iya, memangnya kenapa? Kapan kau akan menyelesaikan skripsimu?" suara Eyang di seberang sana.


"Secepatnya Eyang, tapi kenapa Eyang tidak mengatakannya kepada Alexa dulu. Eyang, Alexa telah menikah dan menjadi janda, sedangkan Ricard dia masih perjaka," ucap Alexa berniat untuk menolak perjodohan itu dengan halus.


"Eyang sudah katakan kepada mereka, dan mereka tidak bermasalah dengan status sosialmu. Jadi… lebih baik terima saja perjodohan ini, mungkin ini cara Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk mu." saran Eyang dengan penuh harapan bahwa cucunya akan menuruti keinginannya.


"Tapi, Eyang–,"


Tut… tut… tut…


Sambungan ponsel terputus.


"Eyang hanya ingin kau itu bahagia Alexa, mungkin menikah dengan Ricard adalah jalanmu menuju kebahagiaan." gumam Eyang Netty seraya memandangi layar ponselnya yang terdapat foto Alexa sedang memeluk dirinya.


"Bagaimana kabar Alexa, nyonya?"


Mbok Mirah yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa segelas teh hangat. Duduk di samping Eyang Netty.


"Alexa baik-baik saja Mbok, baru saja dia telpon menanyakan tentang rencana perjodohannya dengan Ricard," jawab Eyang Netty setelah menyeruput teh hangat buatan Mbok Mirah.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau Alexa baik-baik saja. Aku setuju jika Alexa di jodohkan dengan cucu dari teman nyonya, mungkin ini yang terbaik untuk nya."


Eyang Netty mengangguk kemudian berkata, "Dari suaranya dia ingin menolak, tapi langsung saja aku tutup telponnya." ucap Eyang Netty sambil tertawa.


Mbok Mirah tersenyum, ia sudah tidak sabar ingin segera melihat Alexa hidup bahagia. Maklumlah, selama ini yang dilihat olehnya hanyalah penderitaan dan penderitaan yang dialami oleh Alexa.


Sedangkan Alexa di kota Dubai, sedang kebingungan. Sebenarnya ia ingin menolak perjodohan itu, akan tetapi diurungkan karena Eyang telah menutup panggilan ponselnya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan Eyang telah yakin dengan keputusan nya," gumam Alexa lirih.


Terpaksa ia harus menuruti keinginan Eyang Netty, walaupun sebenarnya jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam, Alexa memberontak.


Alexa yang sedang duduk sendiri di dalam apartemen, hanya bisa pasrah dengan keputusan Eyang Netty yang telah bulat.


Alexa menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya dengan sedikit kasar. Sambil memandangi bintang-bintang yang gemerlapan di langit.


"Andai aku bisa terbang ke langit, menikmati indahnya malam yang tenang bersama dengan bintang-bintang. Andai semua keputusan ada di dalam genggamanku, pasti aku tidak akan pernah merasakan kegalauan ini,"


Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat berjalan dengan sangat cepat dibelakang Alexa.


"Siapa itu?" Alexa segera bangkit dari duduknya dan membalikkan badan mencari-cari bayangan hitam tadi.


"Siapa disana?!" suara Alexa terdengar lebih keras.


Kedua matanya awas memperhatikan sekitar, keringat dingin mulai mengalir di seluruh tubuhnya. Suasana tiba-tiba terasa mencekam, Alexa berada diambang ketakutan.


Nafasnya turun naik, detak jantung nya terasa sangat cepat. Tangan dan kakinya kini mulai terasa dingin. Tubuhnya mulai gemetar.


Alexa berniat hendak meraih Ponselnya di atas meja.


BLEPP.


"Aaaaaaaa!"


"Mmmm… . Mmmm… .Mmmm… .!" suara Alexa tertahan karena seseorang telah membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius terlebih dahulu.


{ 1 2 3 }


Dalam hitungan ketiga Alexa telah tak sadarkan diri. Tubuhnya terkulai lemas di dekapan Rian.


Ya, sosok hitam berkelebat itu adalah Rian, sepertinya ia memiliki rencana yang telah disusun secara matang.


"Cantik juga wanita ini, tapi sayang dia sangat sok jadi perempuan!" geram Rian dengan tersenyum sinis membuat salah satu sudut bibir atasnya terangkat.


Dengan cepat Rian segera membopong tubuh Alexa keluar dari apartemennya. Keadaan yang begitu sepi, membuat Rian dengan leluasa membawa Alexa keluar dari area apartemen itu.


Rian sengaja memarkir mobilnya agak terpisah dari mobil yang lain, agar memudahkan dirinya memasukkan Alexa ke dalam mobil itu.


"Uh, berat juga ternyata, meskipun postur tubuhnya mungil." keluh Rian setelah menidurkan Alexa di kursi belakang.


Dengan kecepatan tinggi Rian membawa mobilnya. Dia tersenyum senang, akhirnya ia bisa mewujudkan keinginannya membalas dendam kepada Alexa.


Dikatakan dendam, Rian memang sangat dendam kepada Alexa, karena ia merasa Alexa telah merebut semua haknya di Universitas OUW. Selain dipilih menjadi Sipen, Alexa juga sangat dekat dengan Ricard, rektor universitas itu. Dan membuat Rian yang telah lama mengincar kedudukan itu, semakin geram.


Mobil yang sedang dalam kecepatan tinggi, menembus gelapnya malam membawa Alexa ke suatu tempat yang sangat jauh dari keramaian kota.


"Sekarang disini tempatmu, sampai semua menjadi aman." ucap Rian seraya mengikat tangan dan kaki Alexa pada sebuah kursi.


Alexa yang masih tak sadarkan diri hanya diam ketika tangan dan kakinya diikat dengan keras oleh Rian. Mulutnya pun di sumpal dengan menggunakan sapu tangan.


Selesai mengikat tangan dan kaki Alexa, dengan tanpa rasa kasihan Rian menyiram tubuh Alexa dengan sebotol air minum. Membuat Alexa terkejut dan tersadar.


"Mmmm… Mmmm… Mmmm… !" Alexa berusaha berteriak. Namun, tidak bisa karena mulutnya saat ini sedang disumpal dengan sapu tangan.


"Ckckckck…! Kasihan juga melihatmu seperti ini, baiklah… aku yang baik hati akan melepaskan saputangan itu dari mulutmu yang seksi," ujar Rian, lalu dengan satu kali hentakan Rian menarik saputangan penyumpal mulut Alexa. membuat Alexa memekik kesakitan.


Setelah rasa sakitnya sedikit mereda, tetapi masih meninggalkan jejak di bibirnya, Alexa berteriak. "Rian! Kau? Lepaskan aku!" Alexa meronta-ronta ingin melepaskan tangan dan kakinya.


Namun, tali itu sangat kuat mengikat tangan dan kaki Alexa. Bukannya terlepas malah tangan dan kakinya semakin sakit karena tergores pinggiran tali yang cukup kasar.


"Hahaha… . Hahaha… hahaha…!!" Rian tertawa terbahak-bahak, memenuhi ruangan itu.


Sebuah ruangan kotor dan berdebu, di seluruh sudut ruangan tampak begitu banyak barang-barang yang bertumpuk-tumpuk tidak beraturan.


"Sudah lama aku ingin berdua denganmu disini, menikmati indahnya malam hanya ada kita berdua. Ha… ha… !"


"Apa masalah kita Rian? Sebenarnya apa maumu?!" Alexa menatap tajam ke arah Rian.


Tangan Rian yang telah terbiasa nakal, mulai meraba-raba pipi dan dan bibir Alexa. Membuat Alexa muak dengan perlakuannya, hingga dengan sangat geram Alexa menggigit jari Rian, membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Aduh…! Sial! Udah diikat masih liar juga!" bentak Rian dengan geram.


Rian mengangkat sebelah tangannya hendak menampar wajah Alexa. Namun, terhenti ketika ponselnya berdering.


Terdengar suara seorang wanita di seberang, Alexa juga ikut menyimak percakapan mereka. Walaupun Rian telah keluar dari ruangan itu terlebih dahulu, Alexa masih bisa mendengarnya karena kesunyian ditempat itu.