Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 47


Terdengar Rian menyebut-nyebut nama Raisya dan juga Irwan, membuat Alexa bertanya-tanya ada apa sebenarnya di balik semua itu. Alexa semakin mempertajam pendengarannya karena ia ingin tahu semua info itu.


"Jadi, ini semua rencana kakak ipar! Tapi kenapa? Apa masalahku dengannya?" bisik Alexa Bertanya-tanya.


Walaupun telah lama bercerai dengan Saga, Alexa tetap saja menghargai keluarga itu. Dengan tetap menyebut Raisya dengan sebutan kakak ipar. Alexa bukan lagi gadis polos seperti beberapa tahun yang lalu, seiring berjalannya waktu, kini ia telah berubah menjadi wanita mandiri dan idealis. Daya pikir Alexa yang semakin maju, membuat ia curiga dengan semua yang terjadi.


"Jika mereka menculikku, pasti ada suatu hal yang menjadi penyebabnya, pasti ini karena kematian Oma, karena sebelum dan sesudah itu aku tidak pernah melakukan kesalahan. Pantas kakak Ipar langsung menuduhku tanpa adanya bukti dan tanpa mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu, atau jangan-jangan kakak ipar pelaku yang sebenarnya?" pikir Alexa, kini pikirannya mulai diliputi rasa curiga.


Beberapa menit kemudian, Rian kembali dengan sebuah senyuman di bibirnya. Sepertinya ada suatu rencana yang sudah membuatnya berbunga-bunga.


"Kau beruntung manis, karena kau tidak akan berlama-lama disini. Sebentar lagi akan ada beberapa orang yang akan menjemput mu," ucap Rian dengan seringai menakutkan.


"Dasar brengsek! Berani-beraninya kau menyekap ku disini, aku bukan Alexa yang dulu yang bisa kalian perlakukan semau kalian!" Teriak Alexa, ia sengaja bersikap seperti itu agar Rian tidak curiga kepada dirinya yang telah mendengarkan semua obrolan Rian dengan Raisya.


Rian tertawa.


"Aku lupa kau itu kan wanita pujaan si Rektor Ricard, bagaimana reaksinya jika dia tahu kalau wanita pujaannya di culik mahasiswanya sendiri. Ha… . Ha… ha…!"


"Bajingan kau Rian! Aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita!" Teriak Alexa dan itu semakin membuat Rian tertawa terbahak-bahak.


"Aku ini bukan bajingan, Aku menculikmu karena Aku berbaik hati kepadamu. Coba kau pikir, bagaimana jadinya jika Ricard bertemu dengan Saga dan memperkenalkan dirimu dengan mantan suamimu itu. Bukannya mereka akan saling berseteru? Jadi untuk menghindari iti semua, makanya aku menculikmu dan membawa dirimu kesini."


"Apa? Saga?"


"Ya, dia sahabat dekatnya Ricard."


Memang benar kemarin Raisya sengaja menghubungi Rian untuk menginformasikan tentang keberangkatan Saga ke Dubai, dan untuk menghindari bertemunya Saga dengan Alexa, maka Raisya meminta Rian untuk menculik Alexa dengan alasan Alexa telah mengetahui kalau Sakti bukanlah anak Saga melainkan anak dari Rian. Oleh karena itu, Rian berusaha mati-matian menculik Alexa, demi rahasianya tetap aman.


"Memangnya kenapa? Itu bukan urusanku!" Sahut Alexa.


"Yakin bukan urusanmu? Sudahlah lebih baik kau diam saja, sebentar lagi akan ada yang menjemputmu!" Sentak Rian. Lalu berkata kembali dengan nada suara yang lebih rendah.


"Tidak mungkin aku terus menjagamu disini, besok aku harus kuliah."


"Aku juga harus kuliah kan? Jadi lepaskan aku!" Alexa meronta-ronta. Namun, hanyalah sebatas rontaan belaka, karena pada akhirnya ia harus bisa menerima kenyataan kalau dirinya tidak bisa lepas dari ikatan tali itu.


***********************************************


Keesokan harinya, seperti biasa Ricard melakukan tanggung jawabnya sebagai calon tunangan Alexa, antar jemput Alexa kekampus dan memastikan keselamatan wanita impiannya itu.


Saat ini Ricard sedang bersama dengan Saga, selain mereka akan berangkat ke kantor bersama-sama, Ricard juga ingin memperkenalkan Alexa kepada Saga. Menurut Ricard sebagai sahabat baiknya, Saga juga berhak mengenal Alexa sebelum hari pertunangan mereka diumumkan.


Ricard melangkah memasuki area apartemen, hatinya benar-benar bahagia hari ini. Selain akan memiliki calon tunangan yang cantik dan baik sesuai kriterianya, Ricard juga merasakan kebahagiaan karena Saga telah bersamanya saat ini dan akan membantunya mengurus acara pertunangannya nanti. Entah itu kapan, Ricard sampai sekarang belum bisa memastikan karena Alexa tidak pernah memberikannya kepastian.


"Alexa!" Panggil Ricard dengan lembut dan itu membuat Saga menatap Ricard, kedua matanya membelalak. Saga terkejut mendengar nama Alexa yang dipanggil oleh Ricard.


"Alexa–." Panggil Ricard lagi. Namun, tidak terdengar jawaban sama sekali dari rumah itu.


"Lex– Alexa– !!" sekali lagi Ricard memanggilnya lebih keras. Namun, tetap saja sama seperti sebelumnya tidak ada jawaban sama sekali.


Karena tidak ada jawaban sama sekali, Ricard mendorong pintu apartemen, dan ia mendapatkan pintu itu tidak sedang di kunci.


"Aneh, kenapa pintunya tidak di kunci?" Gumam Ricard yang kemudian masuk kedalam Apartemen.


Akan tetapi, apa yang didapat olehnya? Hanya sebuah ruangan kosong dengan beberapa benda yang berantakan tak beraturan.


"Dimana Alexa? Kemana dia? Ini tidak seperti biasanya!" Decak Ricard mulai khawatir.


Kemudian tanpa menungu apapun lagi, Ricard segera mencari kontak Alexa di ponselnya, ia berniat menghubungi wanita itu.


DREETTT.


DREETTT.


DREETTT.


Saga merasakan ada sesuatu yang bergetar di samping nya, kebetulan saat itu ia sedang berdiri disebelah sofa yang diduduki Alexa semalam.


"Ricard, sepertinya dia tidak membawa ponsel," ujar Saga yang langsung meraih ponsel itu di sofa.


Ricard meraih ponsel Alexa dari tangan Saga, kemudian menyimpannya di dalam saku jas hitamnya.


"Ricard, menurutku calon tunanganmu itu bukan sedang bepergian, tapi di culik!"


Saga merasa curiga, menurut pengamatannya jejak yang ditinggalkan oleh Alexa adalah murni kasus penculikan. Karena dulu ia sering ikut dalam suatu organisasi mavia, jadi, Saga mampu memprediksi semua itu hanya dalam beberapa detik saja. Dan, akhirnya berhenti karena Almarhumah Oma Hesti melarangnya untuk ikut serta dalam kegiatan itu.


"Apa? Bagaimana mungkin! Alexa tidak memiliki musuh di sini, dia wanita yang sangat baik, mana mungkin dia diculik." Suara Ricard bernada tinggi, mungkin karena merasa terkejut dengan dugaan Saga.


"Lebih baik kita lapor polisi, jika memang benar dia diculik." Lanjut Ricard.


"Jangan! Jangan lapor dulu kepolisi, biasanya para penculik itu akan menghubungi orang terdekatnya untuk meminta uang tebusan atau apapun yang mereka inginkan." Saga mencoba mencegah Ricard, karena itu akan membahayakan keselamatan Alexa.


Didalam ruangan itu, sama sekali tidak ada foto yang bisa membuat Saga mengenali kalau Alexa yang dimaksud adalah mantan istrinya, Rian telah melakukan semuanya dengan sempurna.


"Baiklah," Ricard menyetujui saran Saga, karena untuk saat ini ia benar-benar tidak bisa berpikir secara jernih.


Hatinya mulai merasa gelisah, pikirannya berkecamuk. Semua dugaan tentang ancaman keselamatan Alexa mulai menghantui perasaannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah nomor tak dikenal tertera dilayar ponselnya. Ricard segera mengangkat panggilan itu. Namun, tidak ada suara orang di seberang hanya ada satu bunyi samar-samar entah itu suara apa.