
Rianti terdiam berbagai prasangka di dalam pikirannya hatinya tetap saja masih diliputi rasa khawatir kalau kalau karena sikap dan tingkah Lusi, akan menjadi penghalang bagi cintanya dengan Hendra.
"Nah kini aku harap kau mau mengerti, kenapa aku tidak bisa mengabaikan Lusi begitu saja. Selain karena kebaikan kedua orang tuamu aku juga sudah menganggap Lusi sebagai adikku sendiri. Cintaku pada Lusi sangat berbeda dengan cintaku kepadamu, sayang, " ucap Hendra berusaha meyakinkan Rianti yang masih saja dilanda kecemasan.
"Sayang?" Kening Rianti mengerut.
"Kau memanggilku dengan panggilan sayang?" lanjut Rianti.
"Ya, kenapa? Kau keberatan?"
"Tidak. Justru aku merasa tersanjung mendengarnya."
"Baiklah, mulai sekarang Aku akan memanggilmu sayang atau yang," sambil berkata begitu, Hendra hendak kembali memeluk Rianti, namun dengan segera Gadis itu menolak.
"Ih, malu ah tidak enak dilihat orang, dasar genit!"
"Apa kau bilang? Aku genit?" Sungut Hendra dengan menunjukkan wajah garang bagai hendak menerkam.
Rianti bukannya takut, tapi dia malah tertawa. Hal itu membuat Hendra semakin bertambah gemas.
"Kalau melotot seperti itu, lah jadi mirip…"
"Mirip apa?"
"Macan yang siap menerkam mangsanya. "
"Eh! , ngeledek! Awas kau ya?!"
Dengan masih tertawa, Rianti berlari, berusaha menghindar dari gelitikan yang akan dilakukan oleh Hendra. Hendra pun mengejarnya. Mentari yang terik pun , jadi terasa hangat apabila cinta telah bersemi di hati. Kebahagiaan yang mereka rasakan sangatlah indah, benih-benih cinta yang mulai bersemi di dalam hati masing-masing memberikan sebuah rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
**********************************************
Walaupun Hendra sudah berpesan agar dia tidak ngambek, dan cowok itu juga sudah memberitahu padanya kalau dia pergi sendirian karena ada urusan, namun Lusi tetap tidak percaya. Gadis itu merasa yakin kalau Hendra pastilah pergi dengan Rianti.
"Bohong!!" teriak Lusi tiba-tiba dari dalam kamarnya, mengejutkan semua pembantu dan pegawai di rumah itu. Sehingga mereka pun saling pandang dan saling bertanya satu sama lain, apalagi yang terjadi pada Nona majikan mereka. Namun kemudian mereka yang sudah tahu, cuma bisa menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Paling karena mas Hendra tidak bisa kemari," gumam Bi Inah.
"Tadi mas Hendra telepon, aku yang menerima. Kurasa mas Hendra ngomong sama Non Lusi Kalau hari ini dia tidak bisa datang Karena ada urusan, sehingga non Lusi marah," tutur Bi Inah.
"Kasihan mas Hendra ya?" gumam pembantu yang lainnya.
Ada empat orang pembantu di Mansion mewah itu. Bi Inah, yang bertugas khusus meladeni Lusi sementara tiga orang lainnya, bertugas memasak mencuci dan seorang lagi membersihkan dan merawat mention. Selain empat orang pembantu, dimension itu juga empat orang sopir. Satu untuk pak Wijaya, satu untuk Ibu Netty. Mang Ucup khusus untuk mengantar jemput Lusi ke sekolah dan mengantar kemanapun Lusi pergi, sedangkan yang satunya lagi untuk mengantar Rianti kemanapun ia ingin pergi.
Semula, mereka semua selama ini tenang dan nyaman-nyaman saja. Namun beberapa hari belakangan ini mereka dibuat heran dan tidak mengerti dengan sikap Nona majikan mereka. Mana majikan mereka yang semula ramah, dan senantiasa memberikan senyum manis pada mereka, beberapa hari belakangan ini, sering uring-uringan tentu saja hal itu membuat mereka terus sedih dan bingung.
Tetapi mereka tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk menghibur hati Nona majikannya. Ya Jangankan mereka, Kedua majikan mereka saja tidak bisa berbuat apa-apa jika Nona majikan mereka kumat uring-uringannya. Hanya Hendra saja yang bisa membujuk dan menghibur Nona majikan mereka.
Berbeda sekali dengan Nona majikan mereka yang satunya lagi yaitu Rianti, Ia yang selalu menebar senyum dan bersikap ramah tamah kepada siapapun. Tidak peduli walaupun perasaannya sedang dilanda kecemasan dan kekhawatirawalaupn iai tetap menampakkan Senyum manisnya di bibirnya yang seksi.
"Tidak seperti non Rianti ya?" ucap salah satu pembantunya.
"Ya,walaupun mereka saudara kandung tetapi Perangai dan sikap mereka sangat berbeda,jika Non Rianti orang yang sangat lemah lembut dan murah senyum kepada siapapun tidak dengan non Lusi yang lebih mementingkan egonya daripada perasaan orang lain, buktinya mas Hendra dia dibuat layaknya seorang Bodyguard saja, kapanpun dibutuhkan dia harus ada jika tidak maka non Lusi akan mengamuk." Sahut bi Inah.
Sementara itu di dalam kamar Tidurnya yang mewah. Setelah meletakkan gagang telepon ke tempatnya dengan hentakan keras Lusi langsung melemparkan tubuhnya ke ranjang. Wajahnya tampak kesal sedangkan dari kedua sudut matanya mengalir dua butir air bening.
"Bohong!" teriaknya kembali dengan suara agak Parau. Namun kemudian suaranya melemah ketika dia kembali berkata,
"Kau berbohong, Hendra aku yakin kau tidak sendirian. Aku yakin kau pergi dengan Kak Rianti,"
Lusi menangis. Namun kemudian hatinya bergejolak dengan dua sisi yang berlainan. Satu sisi menuruti keegoisannya, sedangkan di sisi lain berusaha menyadarkannya.
'Mengapa? Mengapa aku harus marah dan kecewa? Jika benar Hendra pergi dengan Kak Rianti, Itu haknya. Tidak seharusnya aku marah. Apalagi mereka adalah sepasang kekasih. Sedangkan aku? Aku bukanlah siapa-siapanya Hendra sebagaimana Kak Rianti. Hendra hanya menganggapku teman kenapa aku harus cemburu apalagi marah? Dan Kak Rianti adalah kakak terbaikku tidak semestinya aku menghalangi cinta mereka.' Lusi menghela nafas panjang, kemudian ia tertegun sejenak.
'Semestinya aku turut senang dan mendukung cinta mereka. Tapi, kenapa? Kenapa aku harus selalu kalah oleh Kak Rianti dalam segala hal? Bahkan dalam mendapatkan cinta Hendra pun aku kembali harus kalah olehnya? Padahal akulah yang lebih dulu dan lebih lama mengenal dan berhubungan dengan Hendra Kenapa justru Kak Rianti yang baru kenal, yang malah mendapatkan cinta Hendra? Kenapa Tuhan sepertinya selalu mengalahkan aku daripada Kak Rianti? Dimana kekuranganku dibanding Kak Rianti?' Tanya Lusi dalam hati sambil termenung, berusaha memikirkan kekurangannya dibanding dengan Rianti.
Sedangkan di sisi lain egonya pun berkata, 'Kau harus memperjuangkan cintamu Lusi, kau tidak boleh kalah apalagi hanya dengan Rianti yang hanya baru mengenal Hendra tidak seharusnya kau dikalahkan, yakinlah bahwa sesungguhnya Hendra memiliki cinta untukmu dan kau harus perjuangkan itu, buktikan kalau kau lebih baik dari Rianti'
Lusi semakin bingung, haruskah ia menuruti kata egonya? Ataukah justru ia mendengarkan bisikan hati nuraninya? Sungguh Lusi benar-benar bingung. Apalagi saat ia membuka pintu kamarnya, dan melihat kamar Rianti yang masih tertutup rapat, menandakan tidak ada orang di dalamnya.
'Tuh, kan. Benar! Kak Rianti juga tidak ada, pasti mereka lagi jalan berdua, sungguh kau benar-benar pembohong Hendra Aku benci kamu, Aku benci Kak Rianti, Aku benci kalian berdua!' rintih batin Lusi.