
Bu Lalika benar-benar marah, mendengar putra satu-satunya telah dicampakkan oleh Raisya. Beruntung Rian bertemu Alexa dan Saga jika tidak, maka dapat dipastikan kalau seumur hidup Rian akan berakhir di jalanan. Dengan hidup susah penuh hutang.
'Bu Lalika, apakah kau akan semarah ini jika mengetahui kalau putramu lah yang telah menculikku dan menyerahkan diriku kepada mereka. Putramu, Rian. Dia tidak sebaik yang kau kira.' Batin Alexa.
Terdengar suara langkah kaki dari atas, lebih tepatnya beberapa langkah kaki karena memang terdengar banyak langkah kaki disana. Suara langkah yang menggema disertai debu yang beterbangan membuat Alexa dan Bu Lalika terbatuk-batuk.
"UHUKK.. UHUKK… UHUKK… ."
"UHUKK… UHUKK… UHUKK… "
Suara batuk Alexa dan Bu Lalika saling bersahutan, kedua mata mereka melotot hingga memerah disertai air mata yang mulai menggenang. Lama mereka terbatuk hingga terasa sakit di kerongkongan.
"Rupanya kedua tawanan kita telah bertemu dan saling berkenalan," ucap salah satu dari orang itu.
Bu Lalika cepat-cepat mematikan senternya, suasana menjadi gelap kembali.
"Siapa mereka Bu?" tanya Alexa dengan berbisik.
"Mereka penjaga yang bertugas mengawasi tempat Ini," jawab Bu Lalika berbisik pula.
"Mengapa mereka kesini?" tanya Alexa lagi.
"Ingin memberikan makanan atau membawa salah satu dari kita," jawab Bu Lalika kembali.
Dan benar saja, salah satu dari penjaga itu melemparkan sesuatu ke arah Alexa dan Bu Lalika, hampir mengenai tubuh Alexa membuatnya berteriak karena kaget. Sedangkan Bu Lalika yang telah terbiasa dengan keadaan itu hanya diam saja seraya tangan nya memegang tangan Alexa agar ia tenang kembali.
"Hahaha…hahaha… mulai saat ini kau harus terbiasa dengan kondisi seperti ini, manis!" Ujar penjaga itu dengan tawanya yang keras, suaranya menggema memekakkan telinga.
Alexa dan Bu Lalika diam.
"Bukankah dia wanita yang sangat cerdas? Bahkan dia bisa menyelesaikan masa kuliahnya di Dubai hanya dalam separuh periode saja," sahut yang satunya lagi.
Jangan tanya dari mana mereka tahu, jawabannya tentu saja dari Rian. Ya, Rian telah bercerita banyak tentang Alexa. Bahkan, Rian juga bercerita kalau Alexa adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan terkenal yaitu, Beauty Glow.
"Ya, tapi sayangnya kecerdasan itu tidak berguna disini."
"Tentu saja karena ini bukan Dubai, jadi dia tidak bisa menggunakan kecerdasaan nya disini."
"Apa? Disini bukan Dubai? Lalu dimana ini, mengapa kalian membawaku kemari?" Alexa memberanikan diri bertanya, meskipun di dalam hatinya ia merasakan ketakutan.
"Tentu saja Nona manis, jika ini adalah Dubai, maka mereka akan dengan mudah menemukanmu disini." Jawab mereka.
Alexa tidak bisa melihat sosok mereka, karena suasana yang terlalu gelap.
"Dan, kau tahu, karena kau terlalu mengetahui segalanya, maka dengan sangat terpaksa kau harus tetap disini."
"Tidak! Lepaskan aku, aku tidak mengetahui soal apapun dan tentang apapun!" Teriak Alexa, ia tidak ingin selamanya berada di tempat itu. Tempat yang kotor penuh debu.
Kemudian terdengar penjaga itu menyebut nama Rian dan Tiara, yang sampai sekarang masih tetap menjalin hubungan gelap di belakang Saga, bahkan mereka juga menyinggung tentang Sakti kalau anak itu adalah darah daging dari Rian.
Alexa yang mendengar semua itu, merasa terkejut, karena ia tidak pernah mengira kalau Rian akan tega melakukan hal itu. Kemudian terdengar suara langkah mereka semakin menjauh dari tempat itu.
"Apa? Jadi Ayah kandung dari Anak itu adalah Rian, jadi Bu Lusi dan Tiara telah berbohong, kasihan sekali Saga,"! gumam Alexa.
"Apa maksud mereka? Siapa Tiara?"
Alexa pun menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir.
"Kasihan sekali Saga,dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya." Ucap Bu Lalika. Alexa yang memang sangat kelaparan meminta Bu Lalika untuk menyalakan kembali senternya.
Alexa meraih kotak makanan itu, kemudian membukanya. Bu Lalika pun melakukan hal yang sama. Dan, pada detik berikutnya mereka telah memakan nasi kotak itu dengan lahapnya,
*******************************************
Ricard dan keluarganya merasa khawatir dengan keselamatan Alexa. Mereka bermusyawarah di ruang tamu. Tampak Ricard sedang mondar-mandir karena hatinya begitu gelisah.
"Tidak bisa dibiarkan lagi, aku harus segera melaporkannya ke kantor polisi." Ucap Ricard.
"Jangan! Aku mohon jangan!" cegah Saga.
"Mengapa kau selalu mencegah ku, Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Alexa." Ricard menatap Saga dengan intens.
"Baiklah, jika kau tidak keberatan Aku ada teman, dia anggota Mafia, kita bisa meminta bantuan dari nya." Usul Saga.
"Lakukan saja jika memang itu yang terbaik!" Sahut Ricard menyetujui usul Saga, begitu pun dengan seluruh keluarga nya, mereka pun setuju.
"Baiklah, Aku akan segera menghubungi mereka." Jawab Saga.
Kemudian Saga meraih ponselnya dan mulai mengirim pesan dengan menggunakan simbol-simbol yang hanya ia dan para anggota Mafia yang dapat mengetahuinya.
Saga sengaja tidak memberitahukan bahwa dirinya adalah mantan anggota mafia itu. Hanya karena ia tidak ingin seluruh anggota keluarga Ricard mengetahuinya.
PESAN TERKIRIM.
Seorang pria dengan penampilan yang gagah berani menerima pesan yang hanya bertuliskan simbol-simbol yang saling berkaitan. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya yang sedikit berjambang.
"Akhirnya setelah sekian lama, kau membutuhkan ku juga Saga," pria itu bergumam.
Thomas, nama pria itu. Ia adalah ketua kelompok geng Mafia yang dijuluki THE RED ROOSTERS. Beberapa tahun yang lalu Sagalah pimpinan geng the red roosters, is terpaksa berhenti dan mengundurkan diri karena memenuhi permintaan dari Omanya.
Oleh karena itu, Saga meminta bantuan Thomas untuk menggantikan dirinya sebagai ketua pimpinan geng tersebut.
Thomas mengirim kembali pesan balasan kepada Saga, sebagai tanda permohonan Saga disetujui.
Dengan satu syarat Saga harus mengambil alih kembali pimpinan geng The red roosters itu. Saga mulai berpikir, "Bukankah Oma telah tiada, jadi sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangiku untuk kembali menjadi seorang Mafia."
Saga pun mengirim pesan kembali kepada Thomas bahwa ia bersedia untuk kembali menjadi geng Mafia. Saga juga berpikir mungkin ini adalah caranya untuk mencari kesibukan di luar jam kerja agar dirinya tidak selalu memikirkan Alexa, yang sampai sekarang mereka belum pernah bertemu.
'Aku akan menjadikan cinta ini sebagai senjataku, dan kasih sayangmu sebagai jaket anti peluru, dengan keduanya aku akan menjadi seorang Mafia yang kuat.' batin Saga
Thomas mengirim pesan kembali, yang berisikan kalau mereka harus bertemu untuk mendiskusikan waktu dan tempat mereka akan mulai beroperasi. Saga sendiri yang memilih tempat untuk mereka bertemu.
Sementara itu, Ricard dan keluarga nya menunggu keputusan dari Saga dengan hati yang gelisah.