
"Saga, kau benar baik-baik saja?" Alexa masih bertanya, karena suaminya itu belum menjawab pertanyaannya.
Alexa menangis terharu melihat keadaan suaminya baik-baik saja.
Tiba-tiba Alexa memeluk tubuh Saga, tubuh yang selama ini selalu ia dorong jika mendekati dirinya. Tubuh yang selalu ia jauhi. Namun, kali ini berbeda Alexa semakin mempererat pelukannya.
"Saga, aku takut!" Alexa semakin membenamkan kepalanya ke dalam dada bidang milik Saga, dada yang sangat menggoda bagi siapa saja yang melihatnya.
"Aku takut kehilangan dirimu." lanjut Alexa mengutarakan kegelisahan di dalam hatinya.
DEG.
Entah mengapa mendengar Alexa takut kehilangan dirinya, membuat jantung Saga berdetak lebih kencang. Telah lama mereka bersama, namun, baru kali ini Saga merasakan debaran aneh pada dirinya.
"Sudah, sudah! Hentikan tangismu, lihatlah aku baik-baik saja bukan?" Saga mengusap air mata Alexa, berusaha menenangkan istrinya.
Kemudian Pak Supir pun datang bersama dengan beberapa orang warga untuk membantu Saga dan Alexa.
"Tuan, nyonya! Kalian tidak apa-apa?" tanya Pak Supir telah sampai didekat majikannya.
Pak Supir dan beberapa warga yang lain bergidik ngeri memandang ke arah mobil Saga yang telah hangus terbakar.
"Tidak, kami baik-baik saja!" Saga menjawab, sedangkan Alexa masih bersandar didadanya.
"Sekarang kita kerumah sakit, tangan istriku harus segera di obati." ucap Saga lagi, dengan menatap tangan istrinya yang penuh darah.
Tangan yang telah menyelamatkan nyawanya, tangan yang telah rela terluka demi dirinya. Jika bukan karena tangan itu, dapat dipastikan kalau Saga tidak akan selamat.
Tak lama kemudian, mereka bertiga pergi menuju ke arah rumah sakit.
"Tanganmu jangan terlalu banyak bergerak nyonya, atau tanganmu bisa infeksi." ucap Dokter setelah selesai membalut luka di tangan Alexa.
"Baik, Dok! Terimakasih!" jawab Alexa lalu melemparkan pandangannya ke arah Saga yang sedang di perban dibagian kepalanya.
"Tolong diperiksa lebih detail lagi dok, aku tidak ingin istriku merasa kesakitan!" ucap Saga sambil memperhatikan Alexa yang sedang ditangani oleh Dokter.
"Rasa sakit pasti ada tuan, karena saat ini tangan istri tuan sedang mengalami luka yang sangat serius." jawab Dokter
Setelah keduanya selesai di tangani, Dokter itu pun pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Terimakasih karena telah perduli padaku," ucap Saga mendekati Alexa.
Alexa menunduk dengan senyum yang ia sembunyikan. Kemudian dengan malu-malu is berkata.
"Mengapa kau mengejarku?" Alexa yang mulai merasa nyaman tanpa memanggil tuan kepada Saga.
"Bukankah kau pernah bilang, tidak ingin memiliki diriku selamanya, dan kau juga tidak ingin ingin menyentuhku! Lalu mengapa kau menghentikan ku?" tanya Alexa bertubi-tubi.
"Ya, aku akui, dulu aku memang pernah mengatakannya, tapi…sekarang aku sadar, aku… tidak bisa jauh darimu." jawab Saga, dan jawaban ini semakin membuat Alexa tersipu malu.
"Ku mohon, tetaplah disisiku," pinta Saga seraya mendekap tubuh kecil Alexa.
Saga benar-benar merasakan kedamaian ketika tubuh mereka saling berdekatan.
"Aku ingin kita menikah kembali, aku ingin mengucapkan ijab kabul dengan sepenuh hati dan hanya untukmu!" ucap Saga bersungguh-sungguh.
"Benarkah?" Alexa masih belum percaya dengan pernyataan yang diberikan oleh Saga.
Saga mengangguk membuat Alexa membalas pekukannya. Namun, baru saja ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Saga, Alexa mengaduh kesakitan.
"Aww!!" pekik Alexa menarik kembali tangannya.
"Kenapa?" Saga terkejut.
"Makanya lain kali hati-hati, janganlah terlalu terburu-buru." goda Saga yang semakin membuat Alexa tersipu malu.
**********************************************
Sesuai janji, malam ini Pak Hendra menemani istrinya pergi ke mansion Saga untuk menjenguk Tiara. Dikarenakan Bu Lusi telah terlalu rindu kepada putrinya.
Tepat di depan pintu utama, Pak Hendra dan Bu Lusi berdiri menunggu pintu dibuka dari dalam. Benar saja, tidak sampai satu menit pun pintu telah terbuka.
Setelah dipersilahkan masuk dan duduk diruang tamu, Bu Lusi melemparkan pandangannya ke semua sudut ruangan seraya menunggu kehadiran Tiara.
"Lihatlah Pa, mansion nya sepuluh kali lebih indah dari mansion kita Pa!" ucap Bu Lusi tidak henti-hentinya mengagumi kemewahan mansion itu.
"Namanya juga orang terkaya di kota ini Ma, pastilah mereka memiliki segalanya." sahut Pak Hendra, yang diam-diam juga mengagumimu kemewahan mansion itu.
"Papa, Mama!" panggil Tiara yang baru saja menuruni tangga.
"Tiara, sayang, apa kabarmu selama tinggal di mansion ini?" tanya Bu Lusi kepada putri satu-satunya.
"Baik, Ma!" jawab Tiara singkat dengan raut wajahnya yang ditekuk.
"Kenapa Sayang? Ada apa? Hm?" Pak Hendra memahami dengan melihat raut wajah putrinya, pasti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.
"Tidak apa-apa Pa!" sahut Tiara menjawab pertanyaan Pak Hendra.
"Oh, ada tamu rupanya," Oma menyapa Pak Hendra dan Bu Lusi.
"Bagaimana kabar Anda nyonya?" Pak Hendra bertanya kepada Oma Hesti.
"Baik, Pak Hendra, kabar kami semua baik-baik saja," jawab Oma Hesti dengan senyum ramahnya.
"Ini ada bingkisan untuk Anda nyonya! Terimalah!" ucap Bu Lusi seraya menyodorkan sebuah bingkisan kecil di tangannya.
Sebelumnya, ditengah perjalanan menuju ke mansion besannya, Bu Lusi mampir sebentar di sebuah toko accessories terbaik di kota itu, kemudian ia membeli sebuah jam tangan mewah untuk diserahkan kepada Oma Hesti, sebagai oleh-oleh.
"Terimakasih, seharusnya Anda tidak perlu repot-repot," ucap Oma Hesti seraya menerima bingkisan itu dengan senang hati.
"Tidak repot kok Nyonya, ini adalah bentuk kasih sayang kami untukmu," Bu Lusi menyahuti ucapan Oma Hesti.
Kemudian, Tiara tampak berbisik di telinga ibunya. Lalu, mereka berdua pamit pergi sebentar.
Oma Hesti mengangguk, lalu pergi ke kamar nya untuk menaruh bingkisan yang diterimanya.
Pak Hendra mengikuti dengan ekor matanya, memandangi istri dan juga putrinya yang berjalan ke arah halaman mansion.
"Ma, kita harus mengubah rencana kita!" seru Tiara secara tiba-tiba dan itu membuat Bu Lusi mengerutkan keningnya.
"Apa maksud mu? Mengapa harus dirubah?" tanya Bu Lusi dengan heran.
"Ternyata Rian, adiknya Saga Ma! dan dia tinggal disini sekarang." jawaban Tiara mengejutkan Bu Lusi.
"Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu Ma, aku bingung harus berbuat apa sekarang, apalagi Saga selalu menyekap ku dalam kamar!" Tiara mengadu kepada ibunya sikap Saga kepada dirinya sehari-hari.
"Apa? Kau disekap? Kurang ajar!" geram Bi Lusi mendengar putri kesayangannya diperlakukan seperti tawanan.
"Jika memang Rian adiknya Saga, itu berarti kau sedang mengandung keturunan darah biru!" gumam Bu Lusi senang.
"Mama benar, jika saja aku tahu lebih awal tentang kebenaran ini, maka kita tidak perlu menjebak Saga malam itu." gerutu Tiara, karena semua usaha dan upaya nyangka telah ia lakukan ternyata sia-sia.
"Oh, jadi peristiwa memalukan itu adalah rekayasa kalian berdua!" sentak Pak Hendra, entah sejak kapan ia berada disana.