Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 116


Irwan yang saat ini merasakan kemarahan yang sangat memuncak, diam-diam merencanakan sesuatu dengan Sammy. Ya, orang yang telah membantu irwan adalah Sammy, adik kandung Irwan sendiri.


Selama ini Sammy tinggal di sebuah kota besar di daerah dubai, mendengar kabar bahwa kakaknya, Irwan, telah berhasil diringkus oleh Anggota geng mafia The Red Rooster. Sammy segera turun tangan. Selain membebaskan kakaknya dari penjara mafia, Sammy juga berhasil menculik Raisya, karena mereka masih membutuhkan stempel sidik jari wanita itu untuk mencairkan seluruh dana di BANK.


Tentunya dengan melakukan penyamaran.


Raisya memang menyimpan semua uang dari hasil penjualan Perusahaan dan mansion nya di sebuah BANK, dan mereka berhasil mengetahui itu semua setelah melacak seluruh data yang berhubungan dengan Raisya.


"Kita sangat beruntung, mereka datang setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan," kata Irwan dengan tertawa lebar.


"Tapi, mengapa kau meninggalkan istrimu sendirian di paviliun itu, bagaimana jika mereka menemukannya?" Sammy menjawab dengan bertanya kepada kakaknya.


"Untuk apa kita membawanya? Dia sudah tidak berguna lagi untukku." Irwan membuang puntung rokoknya yang hampir habis.


"Apa kakak sudah tidak mencintainya?" Sammy bertanya karena ia merasa heran, bagaimana mungkin kakaknya yang dulu rela meninggalkan keluarganya hanya karena ingin menikahi seorang Raisya, dan kini justru tidak peduli dengan wanita itu.


Terdengar suara Irwan tertawa terbahak-bahak.


"Kau pikir aku menikahinya karena cinta?" Irwan tersenyum kecut, "tidak, tidak ada cinta untuknya."


"Jadi, kakak menikahinya hanya karena–"


"Harta." Irwan menyambung kata-kata adiknya.


Kemudian mereka tertawa bersama-sama.


Karena merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan saat ini. Harta yang sangat berlimpah.


"Sekarang kita harus segera pergi dari kota ini kak, aku khawatir mereka akan kembali mencari kita." Sammy tampak gelisah.


"Tenanglah adikku, aku akan pergi ke dokter spesialis tulang dan syaraf, setelah kedua kakiku sembuh, kita akan melakukan operasi plastik di wajah kita," ucap Irwan dengan yakin.


"Oh, baiklah kakak kalau begitu aku merasa lega," sahut Sammy lalu memeluk kakaknya dengan penuh kepuasan.


Ia merasa puas karena tidak perlu khawatir lagi kalau dirinya akan di curigai.


Dengan melakukan operasi plastik tentunya itu akan membuat dirinya dan juga Irwan akan bebas bergerak.


***********************************************


TRING


TRING


TRING


Bunyi notifikasi di ponsel Saga tiba-tiba berbunyi, ini pertama kalinya ia mendapatkan pesan setelah sekian lama tidak ada sinyal di ponselnya.


Setiap hari Alexa tidak pernah absen mengirim pesan ke nomor suaminya, entah dibalas atau tidak Alexa tetap mengirim pesan itu setiap hari dan berulang kali.


"Jadi, sekarang dia tinggal di pesantren," gumam Saga ketika membaca chat selanjutnya.


"Apa ini? Mengapa dia mengirim sticker emoji bersyukur dan sedih? Ada apa ini?" tanya Saga seorang diri.


Kemudian Saga memerintahkan kepada pilot yang bertugas mengawaki helikopter itu untuk menurunkan dirinya di sebuah pondok pesantren. Pilot itu pun menyetujui.


Hanya memakan waktu dua jam, akhirnya mereka pun tiba. Helikopter terbang berputar-putar diatas pesantren, mengejutkan semua santri dan santriwati di pesantren itu.


Helikopter semakin merendah dan akhirnya mendarat di sebuah tanah lapang di samping pesantren.


Para Santri berbondong-bondong berlari ke arah helikopter ketika mereka mengetahui bahwa Saga yang berada di dalam helikopter tersebut.


Saga meminta bantuan mereka untuk menggotong tubuh Raisya dari dalam helikopter.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian kembali dengan selamat," ucap kakek Syarifuddin dengan penuh rasa syukur.


Para Santri membawa Raisya kedalam rumah ndalem. Sedangkan helikopter itu kembali terbang lepas landas membumbung tinggi di udara.


Saga melihat sekeliling rumah berusaha mencari apa yang ia cari. Namun, Saga tidak menemukannya di antara banyaknya orang-orang yang sedang berkerumun disana.


Orang-orang itu ingin melihat kondisi Raisya yang semakin melemah.


"Saga, kita harus secepatnya membawa kakakmu ke rumah sakit, kakek khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya jika dibiarkan seperti ini terus." Kakek Syarifuddin mengelus kepala cucunya dengan lembut, tanpa terasa menitiklah air mata dari pelupuknya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh kakeknya, Saga mengurungkan niatnya untuk bertanya dimana Alexa berada.


"Tidak Kek, aku akan memanggil Dokter private kita, kak Raisya akan tetap dirawat disini." Saga mulai menghubungi Dokter kepercayaan keluarganya.


"Sebentar lagi Dokter Doni akan datang bersama dengan seorang perawat yang akan bertugas menjaga Kak Raisya," ucap Saga kemudian.


"Baiklah," sahut Kakek Syarifuddin masih tetap menunggu cucunya.


"Ustadz Fikri, tolong pimpin anak-anak santri untuk mendoakan cucu saya agar cepat sembuh," pinta Kakek Syarifuddin kepada salah satu ustadz yang mengajar di pesantren itu.


"Nggeh, Pak Kyai," jawab Ustadz Fikri dengan penuh hormat. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu diikuti oleh para santri yang masih berada di situ.


"Maaf, istriku dimana? Sejak tadi aku tidak melihatnya?" akhirnya Saga mulai bertanya.


Mendengar pertanyaan dari Saga, sontak membuat Eyang Netty dan Ibu Lalika terdiam, mereka tampak sedang gelisah.


"Ada apa? Mama, apa yang sebenarnya terjadi, Eyang?" Saga menatap kedua orang itu dengan penuh tanda tanya.


Karena merasa tidak akan mendapatkan jawaban dari Ibu dan Eyangnya, Saga memutuskan untuk pergi saja menemui Alexa di kamarnya, barangkali saja istrinya itu berada disana.