
Di tengah semua orang sedang berdiri mematung, karena terperangah dengan adanya kabar tersebut. Alexa berjalan mendekati Tiara, walau dapat dipastikan kondisi hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Selamat adikku, selamat untukmu!" ucap Alexa dengan kebesaran hatinya, ia memeluk tubuh Tiara.
Dan, itu membuat Raisya yang bermaksud ingin mengopori Alexa agar merasa cemburu terhadap Tiara gagal total.
Kemudian Raisya berkata.
"Tiara memang pantas dipuji, sebagai istri dia telah memberikan apa yang seharusnya ia berikan!" Raisya menekan pada ucapan kalimat terakhir.
Alexa tetap tersenyum, walaupun hatinya merasa getir dengan perkataan kakak iparnya. Ya, memang ia akui bahwa sampai detik ini, Alexa belum melakukan sepenuhnya tugas seorang istri.
'Tidak apa-apa Alexa, memangnya kenapa jika Tiara hamil lebih dulu? Mungkin dia lebih siap dari dirimu!' batin Alexa, berusaha mengusir kecemburuan yang mulai mengusik hatinya.
"Tiara, Oma tidak menyangka, kaulah menantu kedua yang memberikan pewaris pertama pada keluarga ini." ucap Oma Hesti dengan penuh kebahagiaan.
"Saga, Selamat! Akhirnya kau akan menjadi seorang Ayah!" Oma Hesti berseru dengan rasa bahagia.
"Saga! Kau tidak ingin mengucapkan selamat atau memeluk istrimu?" Oma bertanya, karena Saga hanya diam mematung di tempatnya.
Bukannya menghampiri Tiara sesuai yang diminta Oma, justru Saga pergi melenggang kan langkahnya melewati Tiara, lalu menaiki tangga menuju ke arah kamar Alexa.
Sedangkan Rian mengepalkan satu tangannya dengan geram, ia menggertakkan rahangnya hingga menimbulkan suara yang mengerutup.
"Apa kalian ada masalah? Apa kalian bertengkar?" tanya Oma kepada Tiara yang semakin bingung dengan posisinya saat itu.
"Tidak Oma, tidak pernah ada pertengkaran di antara kami, bertegur sapa pun kami jarang!" jawab Tiara. Dan, jawaban itu membuat semua orang terlihat bingung.
'Jarang bertegur sapa tapi hamil? Atau Jangan-jangan bayi itu…hasil hubungan mereka?' Raisya membatin seraya melirik ke arah Rian yang sedang berusaha menahan amarahnya.
"Mulai sekarang, kau harus banyak istirahat, makan yang bernutrisi dan teratur!" perintah Oma dengan sangat perhatian.
"Ya, Oma!" jawabnya.
Membuat Tiara merasa tersanjung. Apalagi ketika Oma mengatakan bayinya adalah pewaris pertama di keluarga itu, ia teringat pesan Mamanya, yang menyuruh dirinya untuk tetap merahasiakan tentang siapa Ayah yang sebenarnya dari bayi yang sedang ia kandung.
Apalagi, Bu Lusi telah mengancam Pak Hendra akan bercerai dengannya. Jika sampai suaminya itu membocorkan semua rahasia kehamilan Tiara kepada siapapun. Dan, itu membuat Pak Hendra tidak bisa berkutik.
"Alexa, mulai sekarang kau harus lebih memperhatikan kesehatan adikmu dan juga janinnya, bayi yang berada di dalam kandungannya adalah anak Saga, dan itu berarti dia anakmu juga!" perintah Oma dengan tegas.
"Baik, Oma!" jawab Alexa.
Semenjak saat itu, jadilah Alexa yang bertugas mengurusi Tiara dari sarapan pagi, siang bahkan sampai makan malam. Alexa lah yang menyiapkannya.
Rian berlalu dari tempat nya tanpa menyapa Tiara, ia berlalu begitu saja meninggalkan Tiara yang menatap nya dalam kebimbangan. Tiara bingung haruskah ia melepas Rian, yang notabenenya adalah Ayah kandung dari bayinya, demi mengejar harta dan kedudukan yang bisa ia peroleh dari Saga.
Karena Tiara baru mengetahui akhir-akhir ini, bahwa Rian bukanlah Saudara kandung dari Saga, dan ia juga bukan keturunan asli Hawiranata Kusuma. Dikarenakan Rian adalah anak bawaan dari istri Ayahnya yang menikah kembali, ketika istri pertamanya meninggal.
Sedangkan Saga, Hanya bisa mengumpat didalam kamarnya, lebih tepatnya kamar tamu yang di tempati oleh Alexa.
"Saga! Apa yang kau lakukan?" tanya Alexa ketika melihat Saga menghantamkan tangannya ke arah dinding.
Alexa bergegas menghampiri Saga, lalu menahannya dengan segera ketika tangan Saga kembali hendak menghantam dinding.
Baru pertama kalinya Alexa menyentak Saga. Ini membuat Saga cukup terkejut dengan perubahan pada sikap istrinya.
"Aku hanya marah pada diriku sendiri, aku masih sangat mengingat malam itu aku tidak melakukan apapun dan aku yakin itu!" sergah Saga kepada dirinya sendiri.
"Lihat aku! Tatap aku! Kau percaya bahwa keadilan itu ada? Kau juga percaya yang benar akan selalu menang?" ucap Alexa, dengan nada suara yang lebih lembut.
Saga terdiam, kemarahan dan kekecewaan di dalam dirinya, membuatnya tidak bisa berpikir secara jernih.
"Ingatlah dibalik setiap masalah, pasti akan ada penyelesaian nya, dibalik kelicikan, kebenaran akan selalu menang, dan untuk mempertahankan kebenaran, ada kalanya kita juga harus mengikuti alur masalahnya hingga benar-benar akhir!" Alexa berusaha mengingatkan Saga.
"Ya, kau benar! Tapi yang menjadi masalahku saat ini, aku hanya takut kehilangan kepercayaan darimu," tutur Saga mengungkapkan kemelut di dalam hatinya.
"Aku akan berusaha untuk selalu mempercayai dirimu, karena hanya dirimu yang kumiliki saat ini." Alexa berusaha menepis segala kecemburuan dan kekecewaan yang tengah ia rasakan saat ini. Demi satu kata, mempertahankan cinta.
Sontak membuat Saga memeluknya, merasa bersyukur karena telah memiliki penghuni hati yang sabar dan mengerti akan dirinya.
"Terimakasih, telah memberiku kepercayaan yang begitu besar, aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu!" ucap Saga dengan memeluk istrinya dengan sangat erat.
"Kau percayakan, aku tidak pernah melakukan hal itu?" tanya Saga, yang kemudian di angguki oleh Alexa.
Saga mengecup kening Alexa, gadis itu juga membalas pelukan suaminya.
Memang berat bagi Alexa berpura-pura kuat dan teguh, padahal yang sebenanya ia sangatlah rapuh.
Sementara di kamar Rian, tampak pria muda itu, sedang melempar-lemparkan barang apa saja yang ditemuinya. Dalam sekejap kamar itu telah berubah berantakan bagaikan sebuah kapal pecah.
"Brengsek, kau kak Saga! Tiara itu milikku! aku yang pertama menyentuhnya! Mengapa kau yang memiliki anak darinya?" teriak Rian di iringi dengan bunyi hantaman benda keras.
Rian tidak terima, kekasih yang sangat ia cintai, kini tengah hamil dengan orang lain yaitu, kakak nya sendiri.
"Aku menyesal kembali kerumah ini, aku menyesal!" teriak Rian dengan geramnya.
"Aaakhh!!" Rian yang sedang memegang sebuah gucci hendak membanting gucci itu. Namun, sebuah suara menghentikannya.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini Rian! Percuma kau mengamuk, meskipun kau akan merobohkan rumah ini sekalipun, itu tidak ada gunanya!" Raisya, ya suara itu adalah suara Raisya.
Rian mengurungkan niatnya, ia mengembalikan gucci itu ke tempatnya.
"Apa kau yakin jika bayi yang sedang di kandung oleh Tiara itu adalah anak dari Saga? Sedangkan mereka tidak pernah berhubungan sedikitpun!" ucap Raisya dan berhasil menyita perhatian Rian.
"Maksud kakak?" Rian mulai penasaran
Akhirnya, Raisya yang sebelumnya sempat mengikuti Alexa ke kamar nya, dan mendengarkan semua percakapan antara Alexa dan Saga. Segera menceritakan semuanya kepada Rian.
"Itu berarti, bayi yang berada didalam kandungan Tiara adalah milikku, dia bayiku!" sebuah senyum terlukis di bibir Rian.
Kemarahan Rian mulai mereda, ia menuruti rencana Raisya agar tetap tenang demi tercapainya sebuah tujuan mereka. Dan Rian harus berusaha merelakan darah dagingnya untuk sementara waktu diakui oleh Saga, sampai tiba waktunya ia merebut kembali apa yang telah menjadi hak miliknya.
Tentunya itu akan memakan waktu yang begitu lama, hingga ia benar-benar menjadi orang yang sukses seperti Saga.