
Kedatangan Hendra disambut dengan senang serta penuh kekeluargaan oleh keluarga Pak Wijaya dan ibu Netty sebagaimana biasanya. Sebab Pak Wijaya dan Ibu Netty pun selama ini menganggap Hendra sudah seperti anak mereka sendiri. Dan itu pula yang membuat semua pekerja di rumah itu sangat menghormati Hendra.
Karena selain Hendra sudah seperti keluarga majikan mereka, pemuda itu juga ramah dan sopan, sehingga semua orang suka dan senang padanya.
"Assalamualaikum!" sapa Hendra memberi salam.
"Waalaikumsalam!" balas Pak Wijaya dan istrinya.
"Pak, Bu.." Hendra dengan sopan dan santun menyalami serta mencium punggung telapak tangan Pak Wijaya dan istrinya yang menerimanya dengan penuh keharuan dan rasa bangga.
"Semoga Allah senantiasa memberimu rahmat dan kesejahteraan,"kata Pak Wijaya.
"Terima kasih Pak."
"Duduklah Hendra."
Hendra menurut duduk di sofa.
"Bapak dan Ibu memanggil saya?" tanya Hendra.
"Ya."
"Ada apa Pak Bu?"
"Adikmu seharian mengurung diri di kamar. Pulang sekolah uring-uringan. Tidak ada seseorang pun yang boleh masuk ke kamarnya. Bahkan ibu sendiri dilarang,"tutur Ibu Netty mengadu.
"Cobalah kamu bujuk adikmu, Hendra," pinta Pak Wijaya.
"Siapa tahu padamu Lusi Mau mengatakan permasalahannya. Kalau dia begitu terus, bagaimana kami tahu persoalannya?" lanjut Pak Wijaya.
"Baiklah, Pak, Bu, Hendra akan berusaha. " ucap Hendra yakin.
"Kami sangat mengandalkanmu, Hendra."
"Insya Allah pak, Permisi Pak, Bu."
"Silahkan."
Hendra pun meninggalkan ruang keluarga di mana Pak Wijaya dan ibu Netty berada, melangkah ke kamar Lusi. Begitu sampai di depan pintu kamar gadis itu, dengan perlahan diketuknya pintu kamar itu.
"Siapa? " terdengar sahutan menyentak dari dalam kamar.
"Aku, Lusi boleh aku masuk? Pinta Hendra.
Benar apa yang diduga oleh Pak Wijaya dan ibu Netty. Jika pada orang lain termasuk mereka berdua, ia tidak mau membukakan pintu, tetapi begitu tahu yang mengetuk pintu kamarnya adalah Hendra, Lusi langsung mau membukakan pintu kamarnya.
"Benarkan, Ma? "Kata Pak Wijaya.
"Iya, coba dari siang kita Panggil Hendra, ya Pah?" sahut istrinya.
"Iya." Pak Wijaya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Semoga saja Hendra bisa mengorek keterangan dari Lusi dan mau memberitahu pada kita, apa yang sedang menjadi masalah Lusi."Harap Ibu Netty.
Sedangkan di sudut ruangan itu Rianti sedang berdiri menyaksikan semuanya, di dalam hati ia bertanya-tanya Mengapa Lusi lebih terbuka kepada Hendra, Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka, dan mengapa Lusi tidak pernah bercerita kepadanya?.
Hendra masuk ke dalam menemui Lusi yang kata ayah dan ibunya Sejak pulang sekolah mengurung dirinya di dalam kamar.
"Ada apa sih sama kamu heh? Aku dengar dari bapak dan ibumu, kamu itu uring-uringan dan mengurung diri sejak pulang dari sekolah. Bahkan, kata mang Ucup kamu pakai acara mogok bicara dan mogok makan segala. Kayak anak kecil saja." Hendra menegur Lusi.
Lusi tidak menyahut. Wajahnya masih cemberut.
"Katakan, apa yang membuatmu begitu? Apa ada orang yang telah membuatmu kesal? Jika memang ada, katakan siapa Biar Aku nasehati dia agar jangan lagi mengganggumu," kata Hendra.
Namun Lusi tidak mengatakannya, dia hanya dia membisu dengan kepala menunduk.
"Tidak kasihan kah kamu pada bapak dan ibu? Juga sama orang-orang yang mencemaskanmu?" tanya Hendra.
"Aku tidak apa-apa."
"Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa kamu mengurung diri di kamar? Kenapa kamu tidak mau makan? Kalau memang kamu tidak sayang pada Papa dan Mama serta yang lain, setidaknya kamu harus sayang pada dirimu sendiri. Jika sampai terjadi sesuatu sama kamu aku pun akan turut sedih karena aku sangat menyayangimu."
"Aku tidak apa-apa." jawab Lusi.
"Kalau begitu, kamu harus makan." tegas Hendra.
"Aku tidak lapar."
"Oh ya? Bagaimana mungkin kamu tidak lapar, Kalau seharian kamu tidak makan? Kamu harus makan. Akan aku suapin kamu makan," kata Hendra. Lalu tanpa menunggu jawaban dari Lusi, dia pun keluar dari kamar itu. Menemui Papa dan Mama Lusi.
"Bagaimana, Hendra?"
"Akan saya suapi dia agar makan, Bu." jawab Hendra dan itu membuat Rianti sempat meneteskan air mata Entah mengapa walaupun Lusi adalah Adiknya sendiri ia merasa begitu sakit hati ketika mendengar Hendra kekasihnya tercinta, ingin menyuapi gadis itu.
Pak Wijaya dan Bu Netty Saling pandang, kemudian tersenyum sambil menggerakkan kepala. Yang kemudian ibu Netty menyuruh Bi Inah mengambilkan nasi dan lauk serta minuman. Setelah itu, Hendra membawa makanan dan minuman itu ke dalam kamar Lusi.
"Ayo, biar aku suapin,"kata Hendra dengan lembut.
Mulanya Lusi menolak. Namun akhirnya, dia pun menurut makan dengan disuapi oleh Hendra, ia merasa begitu sangat bahagia sesungging senyum menghiasi bibirnya.
"Dasar anak manja,"sungut Hendra sambil mengulum senyum.
"Biarin!" sahut Lusi.
"Kalau kamu tidak mau menyuapi, ya sudah." Lusi kembali merajuk.
"Iya, iya, aku mau kok menyuapi kamu. Ayo makan! setelah makan, kita keluar. Kita ngobrol bersama Bapak dan Ibu."
Dengan disuapi oleh Hendra, Lusi yang memang sebenarnya lapar karena belum makan seharian, jadi sangat lahap. Sehingga nasi dan lauk sepiring pun habis disantapnya.
"Mau nambah?" tanya Hendra.
Lusi menggeleng dengan mata melotot, Kemudian dari bibirnya yang mungil, keluar suara bersungut, "Memangnya perut aku ini perut karet, apa?"
Damar tersenyum.
"Kau ingin aku disini terus menyuapimu?"
"Tidak." Lusi masih sangat mengingat kalau pemuda yang ada di depannya ini adalah kekasih kakaknya. Dan ingatan Itu membuatnya semakin sakit hati.
"Kalau begitu, Jangan lagi pakai acara mogok makan. Kau boleh kesal dan marah tetapi kau harus tetap makan, ngerti?!"
"Ya, Pak guru!"Jawab Lusi dengan tersenyum.
"Dasar anak nakal. ayo kita keluar!" ajak Hendra.
Lusi mulanya menolak. Namun, ketika Hendra merangkul pundaknya dan kemudian membimbingnya keluar, gadis itu pun menurut keluar. Sehingga Pak Wijaya dan ibu Netty pun tersenyum senang karena akhirnya putri mereka mau makan dan keluar dari dalam kamarnya. Namun, mereka tetap tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi mereka tidak berani menanyakannya mereka cukup senang karena Putri mereka akhirnya mau makan dan mau keluar dari kamarnya bahkan kini ngobrol dan bercanda gurau dengan Hendra.
"Riyanti, sini sayang!" panggil Ibu Netty ketika melihat Rianti yang berdiri mematung di sudut ruangan.
"Iya Ma," jawab Rianti Seraya berjalan mendekati ibunya.
Mendengar nama Rianti dipanggil, membuat Hendra menoleh ke arah suara itu. Kemudian ia tersenyum kepada Rianti yang juga dibalas dengan senyuman. Namun, mereka tidak menampakkan bahwa mereka saling mencintai dan baru saja menjalin hubungan, dikarenakan mereka tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui tentang hubungan ini.
Namun, Rianti merasa ada sesuatu yang terasa perih di dalam hatinya ketika ia melihat Lusi yang bermanja-manja kepada Hendra, di depan matanya. Tapi apalah daya Ia hanya bisa diam seolah tidak merasakan apapun di depan orang tuanya, sedangkan Ayah dan Ibunya merasa senang melihat kedekatan Hendra dan Lusi.