
Nenek Rima merasa ketakutan jika sampai terjadi sesuatu yang bisa membahayakan keselamatan Alexa, tentu saja Eyang Netty tidak akan tinggal diam jika sampai hal yang buruk terjadi kepada cucu kesayangannya. Oleh karena itu, Nenek Rima memutuskan untuk mengabari Eyang Netty tentang apa yang terjadi sebenarnya, dan Nenek Rima berharap kalau Eyang Netty tidak akan menyalahkannya.
"Hallo, Netty," sapa Nenek Rimya. +
"Ya, hallo, ada apa Rima? Suara Eyang Netty terdengar ramah.
" Alexa, diaโฆ ," Nenek Rima tidak meneruskan kata-katanya, tenggorokannya seakan-akan tercekik.
"Semalam aku ngobrol dengan Alexa, dia baik-baik saja," ujar Eyang Netty.
"Maafkan aku Netty, aku tidak bisa menjaga Alexa dengan baik," tutur Nenek Rima dengan suara yang terdengar sedikit gemetar.
"Maaf? Kau meminta maaf padaku? Ada apa dengan cucuku?" Eyang Netty merasa cemas, karena tidak biasanya Nenek Rima berbicara seperti itu.
"A-Alexa diculik," Nenek Rima berterus-terang setelah berhasil mengumpulkan segenap keberanian.
"Apa? Bagaimana bisa Alexa diculik?" Eyang Netty sangat terkejut mendengar kabar berita itu.
"Aku juga tidak tahu, saat Ricard hendak menjemputnya, Alexa telah tidak ada di apartemen nya." Papar Nenek Rima.
Eyang Netty terdiam, samar-samar ia mendengar suara Saga yang sedang berdiskusi dengan keluarga Ricard.
"Sepertinya aku mendengar suara orang lain di keluarga mu? Apakah itu Saga Hawiranata Kusuma?"
"Iya, benar! Dia Saga sahabat dekat Ricard." jawab Nenek Rima.
'Ya Tuhan, apa sebenarnya yang engkau rencanakan untuk cucuku Alexa, mengapa kau hadir kan masa lalunya kembali," batin Eyang Netty, tanpa terasa ponselnya terjatuh dari tangannya.
Mendengar Nenek Rima menyebutkan namanya, Saga segera mengalihkan perhatiannya. Lalu dengan sopan ia berkata, "Nenek, nenek bicara dengan siapa?"
"Netty, dia sahabatku waktu nenek tinggal di indonesia,"
"Apakah Eyang Netty, pemilik Beauty corp?" tanya Saga ingin lebih jelas.
"Iya, apa kau mengenalnya?"
"Tentu saja Nenek, kami kan satu negara," jawab Saga dengan merahasiakan identitas yang sebenarnya, Nenek Rima pun terdiam.
'Ya Tuhan, apakah Alexa yang akan ditunangkan dengan Ricard adalah Alexa mantan istriku? Jika benar begitu, berarti
Alexaku yang diculik?' batin Saga.
Secercah harapan untuk bertemu kembali dengan kekasih hatinya terhampar di depan mata. Namun, harapan itu seketika menghilang saat ia teringat bahwa Ricard akan menjadi tunangan Alexa.
'Apapun keadaannya, bagaimana pun caranya aku akan tetap berusaha mencari mu, dan membawa dirimu kembali walau sebenarnya kau bukanlah untukku.'
Kata-kata itu, hanya Saga keluarkan melalui hatinya, tanpa bisa terucap dengan mulut nya. Saga memutuskan akan terus mencintai walaupun tidak bisa memiliki.
Jika saja ia mau, Saga bisa merebutnya kembali dari Ricard. Akan tetapi, persahabatan yang terjalin bagaikan saudara jauh lebih berharga baginya dari pada perasaannya sendiri.
"Baiklah, sekarang aku dan Ricard akan pergi menemui Thomas untuk berdiskusi, setelah itu baru kami akan memutuskan langkah apa yang harus kami ambil," ucap Saga, kini ia terlihat lebih semangat dan fokus dengan tujuannya.
"Baiklah nak, kalian hati-hati, kabari kami jika ada informasi apapun mengenai Alexa." pesan Robert kepada kedua anak muda yang akan berjuang menyelamatkan Alexa.
"Aku memohon restu kalian semua," ucap Ricard kemudian pergi meninggalkan mansionnya.
Saga mengemudikan mobil milik Ricard dengan sangat cepat, menuju sebuah hutan. Hutan yang tidak pernah dijamah oleh manusia,tetapi sangat aman untuk para mafia yang bersembunyi menyusun rencana mereka.
"Tempat apa ini?" Ricard yang tidak pernah tahu akan tempat itu merasa aneh.
"Tempat berkumpulnya para mafia sekaligus tempat persembunyian yang teraman." jawab Saga, lalu memarkirkan mobilnya didalam semak-semak.
Tak lama kemudian, sebuah helikopter terbang berputar-putar di atas mereka. Semakin lama semakin rendah, kemudian sebuah tangga yang terbuat dari tali yang kokoh di julurkan dari badan helikopter itu.
"Ayo Ricard, kau naik lebih dulu!" seru Saga saat tangga itu telah berada di depan mereka.
Ricard pun mengangguk, lalu mulai menaiki tangga itu dengan sangat hati-hati. Kemudian Saga menyusul di bawahnya, terlihatlah dua manusia sedang bergelantungan di udara.
Hanya lima menit, akhirnya mereka sampai di dalam helikopter. Setelah itu, helikopter tersebut mulai mempercepat landasannya.
Sebuah gedung dengan ukuran raksasa berdiri tegak menjulang langit. Di kelilingi oleh jutaan para anggota mafia yang mengisi setiap sudut bangunan itu. Ricard yang baru pertama kalinya melihat tempat itu, berdecak kagum tanpa henti.
"Apakah mereka semua anggota mafia?" bisik Ricard dengan menatap orang-orang itu yang juga menatapnya dengan tajam.
"Ya, mereka adalah anggota mafia." jawab Saga.
Sebenarnya tempat itu adalah tempat rahasia, jika saja Ricard datang tidak bersama Saga, maka dapat dipastikan kalau ia akan di habisi oleh para anggota mafia itu, karena disangka mata-mata dari kelompok musuh.
Saga mengangkat sebelah tangannya yang mengepal erat ke atas kepala, sebagai isyarat bahwa ia adalah anggota mafia juga. Membuat Pintu gerbang yang tadinya tertutup rapat, perlahan terbuka dengan lebar.
Saga pun berjalan memasuki area markas itu, menuju ka sebuah ruangan yang sangat luas. Seorang pria sedang duduk menikmati secangkir kopi hitam lalu meneguknya hingga habis.
"Selamat datang sobat, selamat bergabung kembali." lontar Thomas menyambut kedatangan Saga.
Ricard hanya menyaksikan semua itu dengan terdiam. Ricard juga merasa heran, bagaimana bisa seorang Saga mengenal dengan baik ketua pimpinan mafia, sedangkan selama ini Saga tidak pernah bercerita tentang apapun mengenai hal itu.
"Siapa dia?" Thomas menatap Ricard dengan tajam. Matanya menghunus bagaikan pedang yang siap menebas lawannya.
"Dia Ricard, sahabat Karib ku sekaligus calon tunangan dari Alexa." jawab Saga berterus-terang, tapi pada saat menyebutkan bahwa Ricard adalah calon tunangan nya Alexa, air mata Saga mulai mengambang di sudut matanya.
Thomas yang sangat teliti dengan hal apapun, mampu memahami perasaan Saga hanya dari tatapan matanya saja. Lama Thomas memandang Saga, membuat Saga segera menyadari apa yang telah terjadi kepada dirinya.
"Bagaimana cara kita bisa menemukan Alexa, sedangkan kita sama sekali !!mengetahui jejaknya." ucap Saga.
"Apakah dia memiliki atau memakai sesuatu di tubuh nya, semacam cincin atau apapun yang bisa dideteksi?" Thomas bertanya setelah sekian lama terdiam.
"Ada, Alexa memakai sebuah kalung liontin perak di lehernya." jawab Ricard.
"Baiklah, kita bisa mendeteksi nya dari tempat ini." ujar Thomas dengan sigap.
"Mari, ikut aku!" Thomas melangkah memasuki sebuah ruangan yang berada tepat di sebelah ruangan itu. Ricard yang dan Saga mengikuti nya dari belakang.
Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Thomas, apakah ia akan mampu mendeteksi kalung liontin milik Alexa, jika iya, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Thomas selanjutnya?