Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 95


Malam ini adalah malam yang sangat mendebarkan bagi Rianti, karena pada malam ini Hendra akan datang. Namun, kedatangannya kali ini sungguh berbeda dengan kedatangan yang sebelumnya, jika dulu ia sering datang untuk menemui dan membujuk Lusi, tetapi kali ini tidak. Maksud kedatangannya kali ini sebagai seorang Kekasih dari salah satu putri kesayangan di mansion itu.


TING TONG…


TING TONG…


TING TONG…


Bunyi bel pintu setelah ditekan beberapa kali, dengan hati yang ber -debar Hendra menunggu di depan pintu Mansion mewah itu. Keringat dingin mulai mengucur di seluruh tubuhnya.


"Mas Hendra! Silahkan masuk!" Bi inah mempersilahkan Hendra memasuki mansion itu.


"Terimakasih Bi," sahut Hendra kemudian mengikuti langkah Bi inah menuju ke arah ruang tamu.


"Silahkan duduk Mas!"


"Iya Bi terimakasih,"


"Tumben rapi banget Mas, mau jalan-jalan ya," Bi Inah menggoda Hendra karena memang baru kali ini ia terlihat sangat rapi.


Dengan mengenakan kemeja abu-abu yang dipadukan dengan celana jeans hitam. Serta rambutnya yang disisir rapi terlihat licin sekali, seperti habis disetrika.


Hendra hanya tersenyum mendengar seloroh Bi Inah.


"Wah, Nak Hendra, sudah lama?" tanya Pak Wijaya yang baru saja pulang dari kantor.


"Baru saja Pak," jawab Hendra dengan sopan.


"Sebentar ya, Bi tolong panggilkan Lusi, bilang padanya, ada Nak Hendra!" ucap Pak Wijaya tanpa bertanya kepada Hendra, siapa yang akan ia temui malam itu.


"Maaf, Pak b-bukan Lu–," belum sempat Hendra meneruskan kata-katanya, Bi inah dan Pak Wijaya telah pergi meninggalkan Hendra di ruang tamu.


"Non…non, Lusi… ada Mas Hendra di luar, katanya mau bertemu Non!" panggi Bi Inah seraya mengetuk pintu beberapa kali.


"Itu, Mas Hendra, katanya mau bertemu Non Lusi, rapi banget Non, Mas Hendra Nya." ucap Bi Inah sembari tertawa cekikikan.


Mendengar ucapan Bi Inah, Lusi merasa penasaran. 'Seperti apa penampilannya kalo rapi, acak-acakan aja ganteng,' pikir Lusi seraya berjalan memasuki ruang tamu.


DEGH.


Jantung Lusi terasa berhenti berdetak, hatinya berdebar-debar ketika ia melihat wajan tampan serta postur tubuh yang tegap berisi. Membuat air liurnya meleleh seketika.


Baru saja Lusi hendak melangkah menghampiri Hendra, tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya dari belakang.


"Kakak–,"


"Terimakasih ya, berkat dirimu sekarang Kakak bisa Malmingan," ucap Rianti dengan senyum bahagia di bibirnya.


"Ya, Kak, sama-sama," Lusi tersenyum dengan senyum yang dipaksakan.


Setelah itu, Rianti melangkah menuju ke ruang tamu untuk menemui Hendra, karena ia tahu kekasihnya itu saat ini sedang berjuang keras menghadapi rasa nervous nya.


Wajah Lusi berubah muram sama seperti sebelumnya, saat ia uring-uringan. Dan, pada saat itulah Bu Netty yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat semua itu. Ia melihat betapa kecewanya Lusi ketika Rianti meninggalkan dirinya dan melangkah menemui Hendra.


'Ya, Tuhan! Apakah mereka terlibat cinta segitiga?' pikir Ibu Netty. Kemudian ia berniat untuk menyapa Lusi. Namun, Lusi telah lebih dulu berlari menuju ke kamarnya, lalu mengunci pintunya.


Tak lama kemudian Pak Wijaya yang telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, menemui Hendra yang masih duduk di ruang tamu dengan ditemani oleh Rianti.


"Selamat Malam Om, Tante!" sapa Hebdra dengan gugup.


"Om, tante?" Ibu Netty merasa heran, ketika Hendra memanggil dirinya dan suaminya dengan sebutan Om dan Tante.


"Sejak kapan kamu mengubah panggilan untuk kami, biasanya kamu memanggil kami dengan sebutan Bapak dan Ibu kan?" Pak Wijaya pun juga ikut merasa heran. Kenapa tiba-tiba Hendra merubah nama panggilan nya.