
Setibanya di mansion, Oma Hesti dan Raisya tampak gelisah. Mereka mondar-mandir di ruang tengah Mansion seraya sesekali melihat keatas. Ke arah kamar Saga dan Tiara.
Oma Hesti khawatir karena sejak tadi pagi Tiara tidak keluar dari dalam kamarnya. Bahkan ia tidak turun dari kamarnya walau hanya untuk sekedar makan.
Sementara di dalam kamar, Tiara sedang meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya. Karena Saga selalu mengikatnya dan hanya dilepaskan di saat waktu makan saja.
"Dasar laki-laki sialan! aku menikah denganmu untuk menikmati hidup, bukan untuk di sekap terus menerus seperti ini!" gerutu Tiara, beruntung Saga lupa untuk menyumbal mulutnya, sehingga penderitaan nya sedikit berkurang.
"Ah! Perutku lapar sekali, sepertinya Saga ingin membunuhku pelan-pelan."
Tiara tetap berusaha melepaskan dirinya, akan tetapi, ikatan itu terlalu kuat. Bukannya terlepas malah tangannya semakin terluka karena tergores tali pengikat nya.
"Baby, kuatlah, aku juga tersiksa sama seperti mu," Tiara teringat bayi yang berada di dalam kandungannya.
Tiara termasuk beruntung, walaupun tengah hamil muda, ia tidak merasakan mual ataupun pusing sedikitpun. Hingga tidak terlihat jika ia sedang mengandung saat ini.
"Sepertinya aku harus memberikan pelajaran kepada Saga, agar tidak semena-mena padaku." gumamnya lagi.
Walaupun sebenarnya Tiara sangat berisik di dalam kamar itu. Namun, suaranya tidak akan pernah terdengar keluar, karena pengaruh lapisan kedap suara yang dipasang di dinding kamar itu.
"Saga!" panggil Oma Hesti ketika melihat cucunya turun dari mobil.
Oma Hesti ingin mengatakan tentang Tiara, namun, diurungkan saat ia melihat seorang pria muda turun dari mobil mengikuti Saga.
"Oma, masih ingatkah dengan Dia?" Saga menunjuk kearah Rian.
Tampak Oma sedang berpikir, mungkin karena telah lanjut usia Oma kesulitan untuk mengingat siapa pria muda itu.
"Rian, Oma masih ingatkah dengan cucu Oma yang hilang?"
Walaupun sebenarnya Rian bukan hilang tetapi sengaja pergi dari mansion itu, dan untuk menjaga perasaan adiknya, Saga sengaja mengatakan kalau Rian hilang beberapa tahun yang lalu.
Sedangkan Raisya terkejut begitu melihat Rian telah kembali ke mansion mereka. Untuk menghilangkan rasa terkejutnya, Raisya berpura-pura bersikap manis kepada Rian.
"Rian! adikku! kakakmu ini selalu saja memikirkan mu…!" sikap Raisya penuh drama.
Apalagi ketika ia memeluk Rian, sangat terasa sekali itu tidaklah tulus.
"Rian? cucu Yaya?" barulah Oma mengingat tentang Rian. Kemudian, memeluk cucunya setelah Raisya melepaskan pelukannya.
Cucu Yaya adalah panggilan kesayangan untuk Rian sewaktu kecil.
"Mengapa tubuhmu kurus sekali? dimana selama ini kau tinggal? apa makanmu cukup?" Oma melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Pelukan Rian semakin erat memeluk Oma Hesti, seakan ingin mencurahkan semua rasa rindunya selama ini. Jujur, Rian memang sangat ingin pulang, akan tetapi ada satu hal yang membuat dirinya enggan untuk kembali ke mansion, ditambah lagi ibunya telah pergi meninggalkan mansion itu.
"Maafkan aku Oma, aku tidak bermaksud ingin membuat Oma sedih, tapi…," Raisya menatap Rian dengan kedua matanya yang melebar.
Oma yang sedang menangis didalam pelukan tubuh cucunya, segera bertanya.
"Tapi apa? Apa masalahnya?"
Rian membalas menatap Raisya. Kemudian dengan sedikit ragu, ia menjawab pertanyaan Oma Hesti.
"A-aku malu tinggal disini Oma, apalagi Mama sudah menghianati kalian semua!"
Rian menundukkan kepala, mengingat sebuah pengkhianatan yang telah dilakukan oleh ibunya. Walau saat itu, Rian masih duduk di bangku SMP kelas 2, tetapi, semua itu masih lekat di dalam ingatannya.
"Rian! kenapa dengan tanganmu?" Oma bertanya ketika ia mulai menyadari kalau saat itu tangan kanan Rian sedang terluka.
"I-ini…,"
"Apa?" Oma terperanjat.
"Dan karena itu juga aku menemukan adikku Oma," Saga menambahkan.
"Oh, sayang…, " ucap Oma seraya kembali memeluk tubuh kurus Rian.
"Oma! adikku Rian, pasti merasa sangat lelah, jadi mari ku antar kekamarmu!" ucap Raisya dengan sedikit penekanan di akhir katanya.
"Baiklah, cucu Yaya istirahatlah dengan nyaman," Oma melepas pelukannya kembali.
Barulah Rian mengekor di belakang kakaknya menuju ke arah kamar yang ia tempati sebelumnya.
Ketika Rian mulai memasuki kamar itu, tampaknya masih bersih dan rapi. Sama seperti yang ia tempati sebelumnya.
Raisya yang juga berada di dalam kamar itu, segera berkata.
"Bersikaplah dengan baik, maka itu akan menjadi keamanan untukmu." ucap Raisya seraya meninggalkan kamar itu.
Sedangkan Saga yang telah berada di dalam kamar, dikejutkan dengan Keadaan Tiara yang terkulai tak berdaya di kursi pengikat nya.
"Tiara!" panggil Saga mendekati gadis muda yang tampak lemah di kursi nya.
Namun, tidak ada jawaban dari Tiara.
"Tiara!" panggilnya sekali lagi seraya mengguncang-guncangkan tubuh Tiara.
Tidak ada respon, membuat Saga terlihat khawatir. Saga melepaskan tapi pengikat nya, lalu membawa tubuh Tiara kearah ranjang dan merebahkan nya disana.
Namun, ketika Saga hendak bangkit dari posisinya, Tiara terlebih dahulu menarik leher Saga dan mendaratkan satu kecupan keras disana.
Saga ingin menarik kembali tubuhnya, akan tetapi Tiara justru semakin erat mengalungkan kedua tangannya di leher Saga. Sehingga tampaklah sebuah adegan yang sangat mesra.
Dan, pada saat itulah Alexa yang hendak mengatakan sesuatu kepada Saga, menyaksikan pergulatan keduanya yang seolah ingin saling memuaskan.
Seketika itu, air mata Alexa mengalir sangat deras melewati kedua pipinya, tanpa disadarinya, Alexa yang berjalan mundur menyenggol sebuah gucci yang dipajang di pojok ruangan, diluar kamar Saga.
Gucci terjatuh dan membuat suara dentuman yang sangat keras, membuat Saga dan Tiara terkejut.
"Alexa…!" panggil Saga ketika melihat Alexa yang telah berlari menuruni anak tangga dengan penuh berurai air mata. Lagi-lagi ia harus menyaksikan pergulatan panas suaminya dengan wanita lain.
Saga segera menghempaskan tangan Tiara yang masih menggelayut di lehernya.
"Lepaskan! dasar wanita ******!"
Lalu berlari mengejar Alexa.
Tiara yang merasa puas juga ikut mengejar keduanya, ia ingin menyaksikan bagaimana respon Alexa setelah melihat semua itu. Apalagi ia telah berhasil menciptakan bekas merah kebiruan di leher Saga.
Namun, siapa sangka, di saat ia sedang mengejar Saga dan Alexa, Tiara justru berpapasan dengan Rian yang baru saja keluar dari kamarnya, membuat Tiara menghentikan langkahnya.
"Tiara!" panggil Saga dengan sebuah senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Rian," suara Tiara hampir tak terdengar, ia syok melihat pria muda di depannya.
"Tiara, kau ada disini?" sontak membuat Rian memeluk tubuh Tiara, gadis yang sangat ia rindukan selama ini.
Tiara yang masih syok, hanya bisa membiarkan tubuhnya di peluk dengan erat oleh Rian. Jujur, ia pun juga merindukan pria itu, pria pemilik benih yang sedang ia kandung saat ini.