
'Gadis ini memang cantik, tapi tidak berpendidikan, sungguh dia tidak pantas untuk Saga, karena gadis seperti dia hanya akan memberikan rasa malu di keluarga ini.' batin Raisya.
Ia melirik ke arah Alexa dengan tatapan meremehkan.
"Pelayan!" seru Oma Hesti memanggil salah satu pelayannya.
Tak lama kemudian, seorang wanita berseragam pelayan berjalan tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Pelayan, tolong kau antarkan Mbok Mirah ke kamarnya, mulai sekarang dia anggota keluarga di mansion ini" perintah Oma Hesti dengan tegas.
"Baik Nyonya, mari Mbok!" ajak Pelayan itu dengan sopan, menuntun Mbok Mirah menuju ke arah kamar yang dimaksud oleh majikannya.
Sebuah kamar yang tidak begitu luas, tetapi enak dipandang karena semua fasilitas di kamar itu tertata rapi di tempatnya.
Mbok Mirah merasa sangat bersyukur telah diterima dengan baik di keluarga itu, walau ia hanya mantan seorang pelayan disana. Oleh karena itu, Mbok Mirah semakin mantap untuk menyerahkan tanahnya kepada Saga, karena menurutnya diberikan kepada Saga sama saja dengan diberikan kepada Alexa.
Setelah mengantarkan Mbok Mirah, pelayan itu pun undur diri. Dikarenakan masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan di belakang.
Alexa menyusul Mbok Mirah ke kamarnya, yang langsung disambut dengan sebuah senyuman oleh Mbok Mirah.
"Terimakasih Lexa, berkatmu Mbok juga kecipratan hidup enak dengan tinggal di mansion ini." ucap Mbok Mirah seraya mengelus kepala Alexa.
Alexa yang memang haus akan kasih sayang, langsung menghambur pelukan Mbok Mirah. Lalu, Alexa pun berkata,
"Mbok, bukankah Mbok telah menganggapku sebagai putramu sendiri? lalu mengapa Mbok masih mempermasalahkan hal itu," sahut Alexa yang lalu melepas pelukannya.
"Mbok adalah ibu yang baik bagiku," lanjut Alexa kembali.
Dan sungguh ucapan Alexa membuat Mbok Mirah merasa benar-benar memiliki seorang putri.
Seharian itu, Alexa menghabiskan waktunya bersama Mbok Mirah di kamarnya, hingga ia lupa akan tugas sebagai istri.
Dan, itu membuat Saga marah ketika ia pulang mendapati kamarnya seperti kapal pecah. Bahkan saat itu, Alexa belum juga kembali dari kamar Mbok Mirah.
"Sudah sore, lebih baik kamu kembali ke kamarmu, mungkin suamimu sudah pulang dari kantor." ucap Mbok Mirah mengingatkan Alexa yang belum ada tanda-tanda akan beranjak dari tempat itu.
"Astaga! Mbok, aku melupakan sesuatu," kejut Alexa seraya beranjak dengan terburu-buru.
Saking terburu-buru, hingga Alexa tidak menghiraukan Mbok Mirah yang berseru menyuruhnya untuk berhati-hati, Mbok Mirah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Alexa.
Dan kekhawatiran Alexa ternyata benar-benar terjadi, di sudut kamar tampak seorang pria sedang berdiri dengan tatapan mata yang menghunus kearahnya.
Saga, ia terlihat begitu kesal dan marah karena Alexa mengabaikan semua tugas-tugasnya. Ketika Alexa mulai memasuki kamarnya terdengar suara menggelegar. Namun, suara itu tidak akan pernah terdengar keluar, karena dinding kamar Saga telah dilapisi dengan lapisan kedap udara. Membuat suaranya hanya menggelegar di dalam kamar itu saja.
"Apa saja yang kau lakukan seharian?" teriak Saga mengejutkan Alexa.
Alexa hanya diam saja dengan tubuh yang gemetar.
"Ayo, jawab!" sentak Saga sekali lagi.
"Setengah hari ikut denganmu tuan, dan setelahnya aku menemani Mbok Mirah dikamar nya." jawab Alexa dengan suara gemetar karena takut.
"Apakah dia anak kecil? hingga harus ditemani?" suara Saga masih tetap keras dan lantang.
Alexa diam tidak tahu harus menjawab apa.
"Lihat ini! apakah harus aku memarahimu dulu, baru kau akan melakukan tugasmu?" Saga benar-benar kesal, tangannya mulai melayang di udara.
BRUUKK.
Terdengar suara hantaman keras terdengar jelas di telinganya. Namun, bukan suara dari tubuhnya yang di hendak di pukul oleh Saga, melainkan suara hantaman yang berasal dari dinding kamar itu.
Ya, Saga menonjok dinding kamarnya, karena ia tiba-tiba tidak ingin menyakiti Alexa. Entah mengapa suasana hatinya kini sering berubah-ubah.
Alexa memberanikan diri membuka kedua matanya, dan apa yang dilihatnya benar-benar membuat ia terkejut.
"Tanganmu tuan!" seru Alexa ketika mendapati tangan Saga berdarah, bekas hantamannya tadi.
Tanpa menunggu apapun lagi, Alexa segera mengambil kotak p3k untuk mengobati tangan suaminya, dengan cekatan dan penuh kelembutan, Alexa mulai membersihkan bekas darah di tangan Saga.
"Mengapa kau lakukan ini?" tanya Saga, kini suaranya lebih rendah.
"Sedangkan aku selalu saja kasar padamu." Saga melanjutkan kata-kata nya yang sempat terpotong.
"Bukankah sudah menjadi kewajibanku tuan, untuk selalu ada untukmu, kau suamiku dan aku harus mematuhi semua perintahmu," jawab Alexa. Seraya terus membersihkan luka di tangan Saga, kemudian membalut nya.
"Dari mana kau mendapatkan kata-kata bijak itu?" Saga merasa aneh, kenapa tiba-tiba Alexa yang konyol dapat mengeluarkan kata-kata bijak.
"Dari Mbok Mirah, dia yang menasehatiku tadi, tapi maaf, karena terlalu serius mendengarkan nasehatnya, aku melupakan tugasku." sahut Alexa dengan kepolosannya.
Apapun yang dikatakan oleh Mbok Mirah, maka kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.
GRREEPP.
Saga tiba-tiba meraih tubuh kecil Alexa, dan membawanya ke dalam pelukan dirinya. Alexa yang baru pertama kalinya mendapat perlakuan seperti itu dari seorang pria, sontak membuat tangannya menahan dada bidang Saga yang hendak menyentuh tubuhnya.
"Kenapa?" Saga bertanya, karena baginya berpelukan adalah hal yang lumrah bagi pasangan suami istri.
"Maaf tuan, aku belum terbiasa saja bersentuhan dengan pria lain." Jawab Alexa sejujurnya.
"Pria lain?" Saga menautkan kedua alisnya, merasa heran dengan perkataan Alexa yang telah sah menjadi istrinya.
"Ya, selain Ayah, bagiku siapapun itu adalah pria lain." dan jawaban itu membuat Saga tertawa.
"Jawaban absurd!" seru Saga diantara tawanya. Seraya jari tangannya menyentil dahi istrinya.
"Aw! Sakit tuan!" Alexa mengusap dahinya dengan memanyunkan bibirnya. Sehingga membentuk kerucut yang lentik.
Sontak membuat Saga merasa gemas lalu hendak menyentil bibirnya juga. Namun, Alexa terlebih dahulu berlari menjauhi Saga yang ikut mengejar dibelakangnya.
Sebuah pemandangan yang indah dipandang mata, kedua pengantin baru yang terpaksa menikah tanpa adanya cinta. Perseteruan yang seringkali terjadi, terkadang berakhir dengan sebuah kenangan manis.
Kehadiran Alexa di dalam hidup Saga, perlahan membawa kedamaian di hati Saga. Perlahan Saga mulai menyadari bahwa Alexa sangatlah berarti. Dan ia bertekad untuk memberikan keadilan bagi Alexa.
Keadilan yang dimaksud adalah tentang masa lalu Alexa yang tidak mendapatkan sedikitpun harta dari Ayahnya, tetapi justru Alexa dijadikan korban pelunasan hutang oleh Ayahnya sendiri.
"Apa yang kau pikirkan tuan?" tanya Alexa ketika melihat suaminya sedang termenung.
"Ah, tidak, aku hanya mengingat perbuatanku yang selama ini sering berbuat kasar kepadamu." jawab Saga seraya menatap wajah cantik istrinya.
Perlahan Saga mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Alexa, tapi Alexa tiba-tiba saja berkata,
"Aku harus mencuci sprei, tuan. Jadi, biarkan aku pergi." pinta Alexa, baru saja ia teringat akan big cover yang basah akibat perbuatan Saga tadi pagi.