Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 62


"Mama kenapa?" Tanya Sakti ketika melihat ibunya ngos-ngosan dengan wajah yang memerah serta seluruh badannya gemetar.


"Tidak sayang mama tidak apa-apa" jawab Tiara berbohong karena ia tidak ingin putranya mengetahui apa yang telah terjadi kepadanya, ia khawatir Itu akan membuat Sakti merasa ketakutan.


"Oh sayang, keponakan aunty sudah bangun? Ayo ikut aunty kita main-main di luar!" Raisya bersikap manis kepada Sakti karena ia ingin bocah itu menurut kepadanya, dan itu akan membuat dirinya semakin mudah memperdaya Tiara.


Mendapat ajakan dari aunty-nya membuat Sakti merasa senang ia tersenyum lebar dengan mengganggukan kepala menyetujui ajakan aunty-nya yang mengajaknya bermain-main.


Dan hal itu membuat Tiara terbelalak sesungguhnya ia khawatir Raisya akan melakukan sesuatu hal yang buruk kepada putranya.


"Sakti! Sakti dengarkan mama kita bisa bermain di sini sayang!" Teriak Tiara ketika melihat putranya telah bergandengan tangan dengan aunty-nya.


Melihat kekhawatiran di wajah Tiara membuat Raisya tersenyum, ia tahu Tiara pasti tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada putranya itu, dengan senyum sinis Ia berkata,"Adik ipar, keponakanku ini ingin bermain dengan aunty-nya jadi Jangan hentikan dia aku janji akan menjaganya dengan sebaik-baiknya, " Raisya pun berlalu dengan membawa Sakti bersamanya, bocah itu terlihat sangat senang karena akan bermain bersama aunty-nya.


" Ya Tuhan, Lindungilah Putraku jangan sampai wanita gila itu menyakiti Sakti," Tiara berdoa dengan air mata berlinang. Kini baru ia rasakan Betapa sedihnya dipisahkan dengan orang yang ia sayangi.


"Kuharap ini bukan Karma karena dulu aku pernah memisahkan Kak Alexa dengan Saga, Kak Alexa Maafkan Aku aku telah banyak salah kepadamu Sekali lagi maafkan aku," ucap Tiara penuh penyesalan.


Kini baru ia menyadari betapa sengsaranya di dalam sebuah kehidupan yang terpisahkan dengan orang yang sangat ia cintai, Tiara pun mulai memikirkan Bagaimana perasaan Alexa Saat itu, saat ia menikahi suami dari Alexa.


"Apakah rasanya sakit seperti ini kak? Apakah sama seperti sedih yang aku rasakan? Maafkan aku Kak sebagai adik aku hanya memberikan penderitaan di dalam hidupmu!" Sesal Tiara mengingat kembali perbuatannya beberapa tahun yang lalu.


Tiara benar-benar menyadari betapa kejam dirinya di kala itu, di saat memfitnah Saga, padahal pria itu sama sekali tidak bersalah. Dan Alexa yang polos malah mendukungnya untuk segera menikahi Saga.


Di ruang tamu tampak Raisya sedang bermain mobil-mobilan bersama dengan Sakti yang merasa senang mendapatkan mainan yang begitu banyak dari aunty-nya.


"Bagaimana Sakti Seru kan mainnya?" Tanya Raisya kepada keponakannya yang sedang sibuk menuntun mobil- mobilannya mengelilingi ruang tamu itu.


"Seru aunty! Sakti suka Makasih ya udah beliin Sakti mainan baru!" Teriak Sakti dengan senangnya sambil terus menuntun mobil-mobilan itu.


Terlihat sangat jelas di wajahnya suatu keceriaan karena mendapatkan mainan baru dari aunty-nya, senyumannya yang tulus terpancar di wajahnya yang polos suci tak ternoda.


Anak sekecil itu masih belum bisa memahami mana sifat ketulusan dan mana sifat kelicikan, sebagai seorang anak kecil Sakti menganggap Raisya adalah aunty-nya yang sangat baik.


"Sakti saya nggak sama Aunty?" Tanya Raisya tiba-tiba kepada Sakti yang masih asyik bermain.


Sontak pertanyaan Raisya membuat Sakti menghentikan permainannya, kemudian Ia berlari menghampiri aunty-nya lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Tentu saja aunty, Tentu saja aku sayang sama aunty! Aunty kan orang baik! " jawab Sakti dengan polosnya.


"Ya,tentu saja!" Jawab Sakti dengan yakin.


"Kalau begitu, mulai sekarang Sakti tinggal sama aunty saja di sini karena Mama Tiara ada pekerjaan di luar sana." Ucap Raisya berusaha mempengaruhi pikiran Sakti.


"Memangnya Mama mau ke mana, aunty?" Tanya Sakti lagi ia merasa penasaran Mengapa mamanya harus pergi.


Raisya tersenyum mendengar pertanyaan dari keponakannya itu, kemudian ia menjawab dengan menggendong Sakti," Mama Tiara kan harus kerja, Nanti uangnya untuk Sakti juga, "


Mendengar jawaban aunty-nya membuat Sakti terdiam, ia berusaha untuk mengerti. Namun, daya pikirnya yang masih kekanak-kanakan tidak mampu memahami jawaban dari Aunty-nya.


Yang ada didalam pikiran nya saat ini adalah Ibunya akan pergi bekerja dan menghasilkan uang yang akan diberikan kepadanya untuk jajan. Bukan main senangnya Sakti, ia telah membayangkan apa saja yang akan ia beli nanti. Sakti senyum-senyum sendiri di dalam pangkuan Aunty-nya.


Ya, memang begitulah bocah, ia akan merasa senang jika membayangkan hal-hal yang diinginkan. Walaupun belum membelinya sekalipun.


"Sakti mau main lagi? Ayo main lagi!" Suruh Raisya seraya menurunkan Sakti dari gendongannya.


"Iya aunty, Sakti mau main lagi, abis seru sih!" sahut Sakti kembali meraih mainannya.


"Ternyata kamu berat juga ya" ucap Raisya menggoda keponakannya yang menggemaskan.


"Iya dong kan udah besar nanti mau jadi polisi!" Sakti tersenyum ketika ia mengatakan 'mau jadi polisi'.


"Harus dong, keponakan aunty yang ganteng, " ucap Raisya dengan senyum hambar di bibirnya.


Sedikit terasa Getir di dalam hatinya ketika ia mendengar bahwa keponakannya itu ingin menjadi seorang polisi.


Anak ini tidak boleh dibiarkan, jika telah dewasa Sakti akan membahayakan keberadaannya.


"Ayo aunty! Ayo kejar aku!" Teriak Sakti kepada aunty-nya. Bocah itu terlihat begitu senang.


"Boleh," sahut Raisya kemudian berlari-lari kecil menyusul Sakti semakin yang mempercepat langkahnya.


Maka terjadilah saling kejar mengejar di antara Raisya dan Sakti yang terlihat begitu asyik bermain.


Sementara Tiara hanya bisa mendengarkan suara putranya dari dalam ruangan itu, ia berdoa semoga tidak terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan kepada putranya.