
Setelah dari tempat pelelangan, Saga berniat menjenguk kakaknya yaitu, Raisya yang kini sedang dirawat dirumah sakit.
Tentunya dengan penjagaan ketat oleh anggota mafia yang berjumlah lima puluh orang. Karena mereka khawatir masih ada salah satu dari anak buah Irwan yang masih selamat dan kembali membawa Raisya.
"Saga!" panggil Alexa ketika Saga telah pergi menjauh darinya.
Saat itu mereka baru saja sampai di depan gedung kantor milik Alexa.
"Ada apa?" tanya Saga setelah berbalik badan.
"Aku ikut! Aku ingin menjenguk Kak Raisya," jawab Alexa.
"Sudahlah, jauhi dia jangan libatkan dirimu lagi dengan semua hal yang berhubungan dengannya." larang Saga.
"Tidak, aku hanya ingin melihat keadaannya saja, tapi–kalau kau keberatan ya sudahlah," ucap Alexa dengan wajah sedih karena tidak diizinkan oleh Saga.
Alexa menundukkan kepalanya lalu melangkah dengan gontai memasuki area kantor. Namun, ketika Alexa tiba di depan pintu, Saga segera memanggilnya.
"Alexa!"
"Apalagi?" Jawab Alexa dengan malas.
Saga tersenyum kemudian melambaikan tangannya seraya berseru, "Ayo!"
Alexa tersenyum mendapat ajakan dari Saga yang telah mengizinkannya untuk ikut kerumah sakit, menjenguk Raisya.
Alexa segera berlari menghampiri Saga yang masih berdiri menunggunya.
"Ayo!" Alexa segera menarik lengan Saga dan mengajaknya pergi.
"Sabar,"
Alexa dan Saga sama-sama saling memandang satu sama lain, kemudian tersenyum lalu pergi meninggalkan pelataran kantor. Mereka pergi dengan mengendarai mobil milik Alexa.
Selama di perjalanan menuju ke rumah sakit, Saga berusaha untuk mencari tahu alasan Alexa membeli mahal Mansion dan aset perusahaan yang pernah menjadi miliknya.
"Alexa,"
"Hm,"
"Sebenarnya aku bingung mengapa kau sampai rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menebus mansion dan aset perusahaan?" tanya Saga dengan terus menyetir.
"Bukankah uang itu bisa kau gunakan untuk keperluan yang lain?" lanjut Saga.
Alexa terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Saga, ia berusaha mencari jawaban yang tepat. Tak lama kemudian ia tersenyum.
"Ini juga keperluanku, aku akan menggunakan aset ini dengan sebaik-baiknya untuk masa depanku nanti." jawab Alexa dengan santai.
Dan jawaban itu membuat Saga tersenyum senang, ternyata wanita yang ia cintai kini bisa mempertimbangkan tentang masa depannya dengan baik.
'Syukurlah ya Tuhan, sekarang Alexa telah mulai memikirkan masa depannya, dia sekarang lebih maju dari sebelumnya, bahkan sangat maju, semoga dia akan terus melupakan kekonyolan nya yang dulu, yang selalu bertindak absurd.' pikir Saga dengan senyum yang makin mengembang di bibirnya..
Begitu pula dengan Alexa,ia juga
tersenyum setelah menjawab pertanyaan Saga. Sebenarnya itu bukanlah jawaban yang sesungguhnya, Alexa sengaja berbohong karena ia ingin alasan itu menjadi rahasianya.
Di rumah sakit INC hospital.
Di kamar HCU seorang wanita sedang terbaring lemah, seluruh tubuhnya mulai kaku karena telan lama tidak digerakkan. Sudah hampir satu bulan, Raisya tidak sadarkan diri. Hingga sekarang pun belum ada tanda-tanda ia akan sadar.
Ketika membuka pintu, Saga tidak bisa menahan air mata yang akan jatuh. Hatinya begitu sakit saat mengingat tentang apa yang telah dilakukan oleh wanita itu kepadanya. Begitu pula dengan Alexa, ia juga merasakan hal yang sama. Air matanya telah membanjiri kedua pipinya.
"Kakak!" seru Saga dengan suaranya yang parau. Ia segera berlari menghampiri Raisya yang sedang terbaring tak berdaya.
"Kakak… hiks… hiks… hiks… ," tak dapat ditahan lagi, Saga yang berusaha untuk tetap tegar akhirnya air mata jatuh juga.
"Kak Raisya… ," ucap Alexa dengan suara lirih. Ia pun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menangis.
Ya, sejahat apapun Raisya ketika dulu, tetap saja rasa sedih dan penyesalan berkecamuk dihati Saga. Ia bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi kepada kakaknya itu.
"Ini semua salahku, ini semua karenaku, andai saja aku tidak melakukan semua itu Kakak pasti masih sehat seperti sebelumnya.
Alexa yang melihat Saga menyalahkan dirinya sendiri, berusaha untuk menenangkan.
"Saga, sudahlah ini semua bukan salahmu, ini semua adalah garis takdir yang telah ditetapkan oleh yang maha Kuasa," Alexa berusaha menenangkan Saga yang telah menangis seraya memeluk Kakaknya.
"Seharusnya kau bersyukur, karena dirimu kejahatan di dunia ini bisa ditumpas, coba bayangkan, bagaimana jika kau membiarkan Kak Raisya dan suaminya tetap berbuat kejahatan maka akan semakin banyak korban karena perbuatan mereka." ucap Alexa dengan hati-hati karena ia tidak ingin menyinggung perasaan Saga.
"Ya, kau benar tapi karena itu Kak Raisya menjadi begini," sahut Saga dengan memeluk tubuh Raisya.
GUHAK.
GUHAK.
Cairan merah kental menyembur dari dalam mulut Raisya, membuat seluruh tubuhnya gemetar seperti menggelepar-gelepar. Sedangkan darah kental terus menyembur dari dalam mulutnya.
"Ya Tuhan, apa ini? Kakak kau kenapa?" Saga panik melihat Kakaknya tercinta dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Bau amis darah memenuhi ruangan itu.
Alexa yang juga ikut panik, menekan tombol emergency yang terletak di dinding. Tak hanya sekali bahkan berkali-kali ia menekankan tombol itu saking karena paniknya.
Tak lama kemudian seorang Dokter pun datang dengan ditemani oleh dua orang perawat yang mengikutinya dari belakang.
"Dok, apa yang terjadi kepada Kakak ku? Mengapa tiba-tiba dia seperti itu Dokter?" tanya Saga ketika dokter itu memasuki ruangan di mana Raisya sedang dirawat.
"Maaf, sebaiknya kalian berdua keluar dulu, biar kami yang tangani," ucap dokter itu.
Saga berjalan mondar-mandir di luar ruangan itu, hatinya begitu gelisah memikirkan kondisi kakaknya.
"Ya Tuhan apa sebenarnya yang terjadi kepada Kak Raisya? selamatkanlah dia jangan biarkan sesuatu yang buruk kembali menimpanya," Ucap Saga dengan lirih. ,
Tak henti-hentinya Saga dan Alexa berdoa memohon pertolongan kepada yang maha kuasa. Untuk keselamatan Raisya.
Salah seorang dari anggota mafia yang bertugas menjaga Raisya bertanya ketika melihat Saga dan Alexa begitu khawatir. Tentunya mereka dalam penyamaran.
"Tuan Saga, apa yang terjadi?" tanya Mix.
"Mix, kondisi Kak Raisya sangat mengkhawatirkan, aku tidak tega melihatnya." jawab Saga.
"Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang buruk kepadanya," Mix mendoakan.
"Ya, Mix terimakasih,"
"Saya pergi dulu tuan, takutnya nanti ada yang curiga," ujar Mix lalu pergi meninggalkan Saga dan Alexa secepatnya.
Jika tidak maka akan dapat dipastikan kalau sampai orang-orang yang berada di rumah sakit itu sampai mengetahuinya bahwa diantara mereka ada anggota mafia, maka keadaan akan menjadi semakin kacau.
DERRET…
DERRET…
DERRET…
Ponsel Saga bergetar.
"Hallo! Ya Kek, ada apa?" tanya Saga menjawab panggilan di ponselnya.
"Saga, apakah kau sudah tiba dirumah sakit?" tanya suara dari seberang, rupanya Kakek Syarifuddin.
"Ya Kek," jawab Saga singkat.
"Bagaimana keadaan Kakakmu?"
"Sedang di periksa sama Dokter,"
"Baiklah, nanti kalau ada perkembangan aku hubungi Kakek," ucap Saga seraya memutuskan panggilan di ponselnya.
Buka tanpa alasan Saga melakukan hal itu, dikarenakan ia tidak ingin Kakek Syarifudin mengetahui kondisi Raisya, karena akan mengkhawatirkan Kakeknya.
Alexa selalu memandangi pintu itu, ja berharap dokter bisa menangani hal itu.
KREEEK..
Terdengar bunyi pintu di buka.
Benar saja seorang Dokter yang bernama Dokter Andra keluar dari kamar itu dengan
Wajah yang menunjukkan kesedihan. Melihat hal itu Saga segera menghampiri Dokter Andra.
"Mari ikut keruangan Saya!" ajak Dokter Andra kepada Saga.
"Baik Dok," jawab Saga seraya mengikuti Dokter Andra dari belakang yang juga disusul oleh Alexa.
"Bagaimana keadaan Kakakku Dok, apa yang terjadi padanya?" tanya Saga dengan sangat khawatir.
Saat itu mereka telah tiba didalam ruangan Dokter Andra, Saga dan Alexa duduk bersebelahan dengan Dokter Andra.
"Kondisi pasien semakin memburuk, peluru yang mengenai punggungnya telah melukai bagian jantung nya, oleh karena itu darah selalu saja keluar dari dalam mulutnya." jelas Dokter Andra.
"Mengapa tidak dioperasi saja Dok?" tanya Alexa yang sejak tadi hanya menyimak.
"Melakukan tindakan operasi untuk saat ini sangat berbahaya, kondisi pasien menurun drastis, apalagi pasien telah dua kali di operasi dan itu tidak membuahkan hasil sama sekali." papar Dokter Andra.
Memang benar, selama masuk kerumah sakit itu, Raisya telah dua kali menjalani operasi yaitu, pertama operasi pengangkatan peluru, dan yang kedua operasi penyumbatan lubang di bagian sisi jantung nya yang tergores peluru. Namun, kondisi Raisya masih saja tetap seperti sebelumnya, tidak ada perkembangan sama sekali.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Saga, ia berharap ada jalan lain untuk menyembuhkan Kakaknya.
"Sebaiknya kita berdoa memohon keajaiban dari yang maha kuasa, hanya Tuhan-lah yang mampu mengangkat penyakit dan menyembuhkannya," ucap Dokter Andra.
Alexa terdiam begitupun dengan Saga. Perasaan cemas, takut dan khawatir berkecamuk menjadi satu.
"Kalau begitu Kami permisi Dok," ucap Saga mohon diri.
"Silahkan,"
Dengan langkah gontai bagaikan tak bertenaga Saga meninggalkan ruangan Dokter Andra, perasaan takut akan kehilangan orang yang ia sayang mulai menghantui pikirannya.
Kemudian Saga duduk di sebuah kursi panjang dengan menundukkan kepalanya, lalu membenamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Saga merasa sangat frustasi.
Alexa yang menyaksikan semua itu, merasa iba kepada Saga. Ia berusaha untuk menghiburnya agar Saga menjadi tenang kembali.
"Saga, sabarlah tenangkan dirimu, aku yakin dibalik semua cobaan ini pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya." Alexa berusaha menghibur.
Sebenarnya Alexa juga tidak tega melihat semua itu, namun apa boleh buat tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa dan berdoa.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku telah kehilangan Papa, Mama dan Oma, haruskah aku juga kehilangan Kak Raisya juga?" lirih Saga ketika ia teringat satu persatu anggota keluarganya meninggalkan dirinya.
Alexa hanya bisa terdiam berusaha memahami perasaan Saga saat itu.
"Oh Tuhan, mengapa engkau berikan cobaan seberat ini padaku, mengapa engkau ambil satu persatu keluarga ku? Aku memohon kepadamu Tuhan, selamatkan Kakakku, berikan dia kesembuhan," suara Saga mengiba, membuat Alexa tidak tega melihatnya, dan pada akhirnya air matanya pun kembali terjatuh.