Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 97


Disarankan untuk membacanya ketika telah berbuka puasa, adegan mengandung bulan.


Singkat Cerita;


Hendra dan Rianti yang telah selesai melaksanakan acara ijab kabul di sebuah KUA, segera pulang kerumah Hendra bersama Bu Titin, Ibu dari Hendra.


Hanya dua tahun mereka hidup bahagia, dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang. Karena pada saat Rianti tengah hamil Tujuh bulan, ia mendapatkan suatu musibah dengan meninggalnya Ibu mertuanya.


Bu Titin menghembuskan nafas terakhirnya pada saat Hendra sedang tidak berada dirumah, melainkan ia sedang pergi berbisnis dengan Lusi.


Ya, Lusilah yang telah turun tangan membantu Hendra untuk bergelut di dalam bidang bisnis. Lusi memperkenalkan Hendra dengan salah satu pengusaha terkaya di Asia.


Maka berkat kerja keras serta kejujurannya, akhirnya Hendra diangkat menjadi orang kepercayaan dari pengusaha itu. Sehingga ia mampu membeli mansion sendiri dan memiliki sebuah perusahaan hadiah dari pengusaha itu.


Akan tetapi, di tengah indahnya hidup bergelimangan harta, serta ia yang sebentar lagi akan memiliki momongan, Hendra kembali diuji dengan meninggalnya sang Ibu.


"Mas, angkat dong mas," ucap Rianti seraya mengelus perutnya yang telah membesar.


Saat itu, Rianti baru saja tiba di rumah duka, yaitu di mansion yang ia tempati bersama dengan suaminya.


Karena tidak mendapat jawaban dari suaminya, Rianti kembali duduk di samping jenazah Ibu mertuanya. Ia berusaha menguatkan hati dengan membaca Ayat suci Al-Quran, sebagai hadiah untuk Ibu mertuanya.


Hampir setengah hari tetapi Hendra tidak kunjung datang juga, akhirnya karena merasa kasihan terhadap jenazah Bu Titin, para kerabat memutuskan untuk segera menguburkan Bu Titin secepatnya.


Selesai acara pemakaman, Hendra masih belum bisa dihubungi. Akhirnya Rianti memutuskan untuk diam saja, karena jika dipaksakan bisa-bisa ia sendiri yang stress.


Bahkan, sampai malam hari Hendra juga tidak kunjung pulang. Membuat pikiran Rianti semakin gelisah. Akhirnya ia menghubungi salah satu rekan bisnis Hendra.


"Halo Pak, boleh Saya bertanya, apakah suami Saya, Mas Hendra belum pulang?" tanya Rianti dengan penuh kekhawatiran.


"Oh, Pak Hendra, sebenarnya tadi siang kami meeting di sebuah hotel bintang lima, Saya pulang lebih dulu karena ada kepentingan lain, coba anda susul kesana, siapa tahu suami Anda masih disana."


Seketika wajah Rianti merona, mendengarkan kabar dari orang itu, Rianti yang memang telah merasa sangat merindukan suaminya, segera meminta sopir untuk mengantarkannya ke hotel bintang lima.


**********************************************


Sesampainya di hotel bintang lima, Rianti segera menuju ke arah resepsionis hotel. Disana ia bertanya tentang nama Hendra Setiawan apakah benar membooking salah satu kamar di hotel itu.


"Benar nyonya, tuan Hendra Setiawan berada di kamar nomor 110." jawab si resepsionis dengan sopan.


"Tapi… anda siapa nyonya?" lanjut orang itu bertanya.


"Istrinya," jawan Rianti dengan cepat.


"Apakah Anda istri pertamanya?"


"Ya, istri pertama dan satu-satunya."


"Saya kira tadi Tuan Hendra memiliki dua istri." ucap si resepsionis keceplosan.


"Maksud Anda?!" Rianti dengan kedua mata yang membelalak.


"Tadi… Tuan Hendra datang bersama Seorang wanita cantik hampir mirip dengan nyonya!" jawab si resepsionis dengan jujur.


"Kalau begitu berikan Saya kuncinya,"


Si resepsionis pun menurut memberikan sebuah kartu akses kepada Rianti.


Dengan hati panas dan penuh penasaran, Rianti menyusuri koridor hotel mencari nomor yang sesuai dengan kartu akses itu.


Begitu sampai di depan pintu kamar dengan nomor yang sama, tanpa menunggu apapun lagi, Rianti langsung mengakses kartu itu, dan pintu pun terbuka.


DWAARRR.


Bagai petir di siang bolong, Rianti hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya,


Sesaat Rianti tertegun menyaksikan pemandangan menyesakkan dada di depannya.


Bagaimana tidak, jika saat itu Hendra sedang bermain panas dengan Lusi, Hendra yang mengukung sedangkan Lusi yang menikmati segalanya. Saat itu mereka sedang sama-sama tidak memakai apapun, sehelai kain pun raib dari tubuh masing-masing.


"Mas… . Hen… ," Kata-kata itu terucap lirih di bibir Rianti yang gemetar, bukan karena kedinginan, melainkan karena rasa kecewa, cemburu dan sakit hati merasa dirinya dikhianati oleh keluarga sendiri.


Suara lirih Lusi bagaikan sebuah sentakan keras di telinga Hendra, sontak membuatnya berhenti menghentakkan pinggulnya.


"Mengapa berhenti? cepat lanjutkan, nanggung!" bisik Lusi diantara ******* mautnya yang menghanyutkan.


Karena merasa tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, karena pada saat itu Hendra telah benar-benar menghentikan hentakan nya yang menghujam bagian bawah tubuh Lusi, segera menoleh ke arah datangnya suara lirih tersebut.


"Rianti!" pekik Hendra diantara rasa terkejut sekaligus rasa malu.


Melihat suaminya menyadari akan keberadaan nya membuat Rianti segera berlari keluar dengan membanting pintu cukup keras.


"Oh, tidak! Kak Rianti bagaimana ini?" Lusi kebingungan.


Sedangkan Hendra yang tidak bisa langsung mengejar istrinya dikarenakan ia harus memakai terlebih dahulu pakaiannya. Membuatnya kehilangan jejak Rianti.