Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 111


"Ya, aku tahu itu, tapi tidak untuk saat ini, dia masih merasa sangat sakit hati karena kau meninggalkannya begitu saja disaat dia sedang membutuhkan dirimu,"ucap Alexa menjawab pertanyaan Tiara.


Dan perkataan Alexa ini membuat Tiara menundukkan kepala, dengan penuh derai air mata.


Kemudian tanpa diduga oleh Alexa sebelumnya, Tiara tiba-tiba saja bersimpuh di kakinya.


Dengan memegang erat kedua laki Alexa, Tiara pun berkata, "Maafkan aku kak, aku hanya tidak ingin Sakti merasakan apa yang aku rasakan saat ini, hiks… hiks… hiks…," tangis Tiara yang membuat Alexa bingung. Karena memang baru pertama kalinya ia melihat wanita itu menangis di hadapannya. .


"Bangunlah, ayo berdiri!" Alexa memegang kedua lengan Tiara dan memintanya untuk berdiri, terus terang saja Alexa merasa risih karena Tiara bersimpuh di kakinya.


Dengan masih menangis Tiara menurut, sambil terisak ia berdiri dengan tetap menundukkan kepalanya.


"Tatap mataku! Lihatlah aku," pinta Alexa seraya tangannya memegang dagu adiknya membuat wajah Tiara menghadap ke wajahnya.


"Apakah maksud dari ucapanmu?" tanya Alexa menatap kedua mata Tiara yang telah sembab karena air mata.


"Aku sudah tahu semuanya dari Eyang,"


"Jadi, kau sudah bertanya kepadanya?"


"Ya." Tiara langsung memeluk Alexa dan kembali menangis terisak di pelukannya.


"Sudahlah, mari kita lupakan semua itu, kita jalani hidup yang baru, yang penuh dengan kebahagiaan," ucap Alexa menenangkan saudaranya.


"Mengapa papa dan mama tidak pernah menceritakan semua ini kepadaku? Mengapa mereka menyembunyikannya dari ku?" tanya Tiara menyalahkan kedua orang tuanya.


"Hei, memangnya kau juga akan menceritakan kepada Sakti, bagaimana dia bisa terlahir ke dunia ini?" Alexa balas bertanya.


Tiara menggelengkan kepala.


"Tidak kak, aku malu," jawabnya.


"Maka sama seperti itu yang dirasakan oleh kedua orang tuamu, pastinya mereka akan merasa malu jika menceritakannya kepadamu,"


Tiara terdiam membenarkan semua ucapan Alexa. Kini Tiara telah mengetahui semuanya dan ia pun menyadari kalau semua sikap dan perbuatannya sangat salah selama ini. Membuat Tiara tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf.


"Mari, kita temui Sakti dibawah," ajak Alexa kemudian menuntun adiknya menuruni tangga.


Sesampainya di lantai bawah, Alexa dan Tiara tidak menemukan Eyang Netty dan Sakti, mereka pun mencari keberadaan keduanya di halaman mansion.


"Ternyata mereka disana." Alexa menunjuk ke arah samping mansion.


Tampaklah disana Eyang Netty yang telah dibuat pusing oleh Sakti karena berlari berputar-putar mengikuti bocah kecil itu.


"Wah, putra mama aktif sekali ya!" seru Alexa ketika telah berada di antara mereka, sedangkan Tiara masih berdiri agak jauh dari tempat itu.


"Ya, dong ma, aku kan yang akan menjaga mama jadi Sakti harus kuat!" Sakti membusungkan dadanya.


Membuat Alexa dan Eyang Netty tersenyum.


Alexa berjongkok di dekat Sakti dan membelai lembut kedua pipi chubby bocah itu.


"Sakti," panggil Alexa dengan suara pelan.


"Ya, ma," jawab Sakti seraya menatap wajah Alexa yang terlihat serius.


"Boleh ma, katakan saja!"


Alexa terdiam mencari kata-kata yang tepat agar Sakti tidak merasa tersinggung.


Karena bagi Alexa anak kecil juga harus dijaga perasaannya.


"Sakti tidak akan marah kan?"


"Gak ma," Sakti menggelengkan kepalanya, berusaha untuk ikut serius.


"Kamu tahukan, siapa yang melahirkan dirimu?"


"Mama Tiara," jawab Sakti singkat.


"Siapa yang telah merawatmu dari kecil?"


"Mama Tiara juga."


"Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan untuk mama Tiara, untuk membalas semua kasih sayangnya karena telah mengandung, melahirkan dan merawatmu hingga sebesar ini." dan kata-kata ini mampu membuat Sakti tampak berpikir sejenak.


"Tapi, mama Tiara jahat, mama Tiara tinggalin Sakti, mama hanya memikirkan dirinya sendiri," celoteh Sakti.


Walaupun masih kecil, Sakti tergolong anak yang cerdas. Sehingga ia dengan mudah mampu mengingat apapun hal yang telah ia alami. Serta menilai tindakan seseorang baik atau buruk.


"Sakti, kau tidak boleh berkata seperti itu sayang, siapa saja bisa melakukan kesalahan, bagaimana jika mama yang melakukannya? Apa kau akan menilai mama seperti itu juga?"


"Sakti, dengarkan mama, siapapun bisa melakukan kesalahan termasuk juga mama, Sakti dan yang lainnya." Alexa menghela nafas.


Sakti terdiam kemudian dengan perlahan menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulilah, terimakasih sayang, sekarang kita temui mama Tiara dulu ya," ajak Alexa membujuk Sakti.


Sakti mengangguk.


Belum sempat mereka melangkahkan kakinya, Tiara telah lebih dulu menghampiri mereka dengan berlari.


Tiara menatap tubuh kecil mungil yang telah lama tidak ia rasakan pelukannya, tubuh mungil yang dengan sengaja ia tinggalkan hanya karena sebuah kenyamanan hidup.


Dengan perasaan sangat bersalah Tiara menyentuh kedua pundak Sakti, meminta maaf serta memeluk bocah kecil itu.


Namun, apa jawaban yang keluar dari mulut Sakti, sungguh berbeda dengan ucapan yang sebelumnya. Dan itu membuat Tiara merasa kagum terhadap putranya itu.


"Mama tidak usah meminta maaf, orang tua tidak perlu meminta maaf pada anaknya, karena orang tua adalah tempat anaknya meminta restu," ucap Sakti dengan sok dewasanya.


Tak dapat dielakkan lagi Tiara langsung memeluk putranya dengan segala rasa syukur kepada yang maha kuasa.


Kemudian ia berterima kasih kepada Alexa, berkat wanita itu, Sakti memiliki pemikiran yang cukup baik. Tidak seperti dirinya yang selalu berpikir negatif tentang orang lain, khususnya Alexa.


"Terimakasih kakak, berkatmu putraku memiliki pemahaman yang baik, terima kasih telah mendidiknya dengan baik."


"Seperti yang aku ucapkan tadi, mari kita jalani hidup yang lebih bahagia dengan kebersamaan ini."


Kemudian ketiga nya saling berpelukan.