
"Sebenarnya apa isi di dalam otakmu itu Tiara? Bisa-bisanya kau meninggalkan Sakti bersama Saga? Dia bukanlah Ayah kandung dari Sakti, bagaimana jika dia tahu kalau Sakti itu bukanlah darah dagingnya?" dalam kemarahan Pak Hendra bertanya kepada Tiara yang baru saja selesai membersihkan dirinya.
"Saga memang sudah tahu semuanya Pa, ya…mungkin karena Sakti adalah darah daging dari Adik tirinya, makanya dia tidak bermasalah membawa Sakti bersamanya." jawab Tiara yang terlihat santai dengan menyeka rambutnya yang basah.
"Siapa yang akan mengurusnya disana nanti? Sakti masih terlalu kecil untuk mengurus dirinya sendiri," sambung Bu Lusi yang merasa khawatir dengan keadaan cucunya.
"Mama tidak perlu khawatir, disana ada Bu Lalika yang akan menjaga dan mengurus Sakti." sahut Tiara.
"Bu Lalika? Siapa dia?" tanya Bu Lusi merasa heran karena baru pertama kalinya ia mendengar nama itu di keluarga Saga.
Tiara menghela nafas panjang lalu menjelaskan tentang siapa sebenarnya Bu Lalika.
"Oh, jadi Bu Lalika itu Ibu kandung Rian dan Ibu tiri Saga?" Bu Lusi mengulang penjelasan Tiara.
"Ya, Ma,"
Akhirnya Bu Lusi bernafas dengan lega mendengar kalau Sakti ada yang menjaganya disana. Dan itu membuat Bu Lusi tidak begitu khawatir lagi.
"Kalau begitu besok kita akan pergi kesana, untuk menjemput Sakti dan Saga, lebih baik mereka tinggal disini bukan?" ucap Pak Hendra setelah mendengar cerita Tiara tentang Saga dan Raisya.
"Apa? Untuk apa Pa?" Tiara terkejut mendengar ucapan Ayahnya.
"Apanya untuk Apa? Mereka itu Suami dan Anakmu bukan, jadi Papa rasa mereka lebih baik tinggal disini."
"Tidak Pa, itu hanya akan menambah beban hidupku saja, karena sebentar lagi kami akan bercerai, asal Papa tahu Saga telah menjatuhkan talak kepadaku tadi sebelum kami berpisah." Tiara berkata dengan ketus.
"Kenapa harus bercerai? Sebagai istri yang baik seharusnya kau bisa mempertahankan pernikahan mu, bukannya malah bersikap tak acuh seperti ini," Pak Hendra berusaha menasehati putrinya.
"Untuk apa mempertahankan pernikahan kami, Saga telah jatuh miskin dan tidak ada lagi yang bisa aku harapkan darinya, selama pernikahan kami tidak sekalipun Saga menyentuh ku Pa, aku hanya dianggap angin lalu saja sama dia, selama ini aku bertahan hanya karena kekayaannya, tidak lebih."
PLAAAKK.
Sebuah tamparan keras mendarat di sebelah pipi Tiara, dan ini pertama kalinya Pak Hendra menampar Tiara semenjak ia menjadi Ayah dari perempuan tidak tahu diri itu.
Dikarenakan kesabaran Pak Hendra telah habis, menghadapi sikap dan sifat keras kepalanya Tiara yang tidak pernah berubah, justru semakin menjadi-jadi.
"Cukup Pa, mulai sekarang Papa tidak akan pernah bisa lagi menamparku, aku bukan Tiara yang dulu lagi, Aku akan menjalani hidupku seperti apa yang aku inginkan!" kemudian Tiara bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Ayah dan ibunya yang hanya bisa memandangi kepergian putri mereka dengan gelengan kepala.
"Lihatlah! Itu hasil didikan mu, jika tidak bisa mempertahankan rumah tangga nya setidaknya dia bisa mengasihi anaknya sendiri." Pak Hendra menyalahkan istrinya.
"Bukankah Sakti telah di asuh oleh Neneknya, menurut Mama tidak ada yang perlu dibahas lagi, biarlah Tiara menikmati kebebasannya sekarang, karena mama yakin selama ini hidupnya sangat terkekang karena Saga." sahut Bu Lusi dengan acuh.
Dan semua sikap istri maupun putrinya semakin membuat Pak Hendra merasa pusing memikirkan tingkah laku mereka yang tidak pernah mau berubah.
Dari arah dapur Bi Sarinah yang sedang mempersiapkan menu makan malam, mendengar semua obrolan Pak Hendra dan anak-istrinya, Bi Sarinah mengusap dada seraya berkata dengan lirih, "Ya Gusti, berilah hamba kesabaran yang lebih banyak untuk stok setiap hari menghadapi Non Tiara,"
"Bi Sarinah! Apa yang kau katakan? Kau tidak suka Tiara kembali kemansion ini?" suara Bu Lusi dengan keras bertanya kepada Bi Sarinah yang langsung membuat Bi Sarinah terkejut setengah mati.
"Tidak Nyonya, Saya senang kok Non Tiara kembali tinggal di mansion ini, Saya juga berdoa agar Non Tiara segera dipertemukan dengan jodohnya yang kaya raya." Bi Sarinah beralasan.
Ia sengaja berbohong hanya untuk sekedar menyenangkan hati majikannya itu. Karena jika tidak, maka tidak bisa dielakkan lagi ia akan menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Bu Lusi yang sebenarnya telah dibuat kesal oleh suaminya.
Benar saja, mendengar perkataan Pembantunya itu, Bu Lusi tersenyum-senyum merasa senang, bahkan ia mulai membayangkan Putrinya akan dinikahi oleh seorang pria yang kaya raya, sungguh sifat materialistis yang bersarang didalam dirinya belum bisa dihilangkan.
Dan melihat itu semua membuat Bi Sarinah bergidik, sungguh ia tidak habis pikir Pak Hendra yang orang baik, bisa memiliki istri seperti Bu Lusi.
"Aku jadi teringat Non Alexa, apa kabarnya dia ya?" ucap Bi Sarinah lirih hampir tak terdengar. Namun, masih bisa di dengar samar-samar oleh Bu Lusi yang langsung membulatkan kedua matanya.
"Apa kau bilang? Jangan sekali-kali kau menyebut nama itu di mansion ini, aku tidak sudi mendengarnya!" sentak Bu Lusi kepada Bi Sarinah yang langsung membuat Bi Sarinah diam tak berkutik.
Bi Sarinah hanya bisa diam membungkam mulutnya tanpa berusaha membela diri, karena sudah tidak memungkinkan lagi baginya untuk mencari alasan.
Bi Sarinah tetap melanjutkan pekerjaannya walaupun ia saat ini sedang diperhatikan oleh majikannya yang sangat garang. Pada akhirnya Bu Lusi meninggalkan dapur, membuat Bi Sarinah bernafas lega.
"Untunglah aku terbebas dari Mak Lampir itu," bisik Bi Sarinah sangat pelan, karena ia tidak ingin Bu Lusi atau siapapun mendengarnya lagi.
Setengah jam mereka menunggu akan tetapi Tiara tidak muncul juga hingga membuat kedua orang tuanya merasa jenuh.
Sekali Tiara keluar dari kamarnya, sontak membuat Pak Hendra dan Bu Lusi merasa keheranan, melihat putri mereka yang berdandan sangat feminim.
"Mau kemana Tiara?" tanya Pak Hendra ketika putrinya itu berjalan melewati dirinya dan juga Bu Lusi.
Mendengar pertanyaan dari Ayahnya membuat Tiara menghentikan langkah lalu berbalik badan menghampiri kedua orang tuanya.
"Kenapa lagi Pa? Please, biarkan aku menikmati kebebasanku saat ini," ucap Tiara tanpa menjawab pertanyaan dari Ayahnya.
"Mau kemana Kau?" Pak Hendra mengulang pertanyaannya lagi.
"Dugem Pa, sudah lama juga aku tidak nongkrong dengan teman-temanku," jawab Tiara dengan santai.
"Tiara! Kau telah dewasa, Kurangilah sifat kekanak-kanakan mu, sudah saatnya kau berubah menjadi lebih baik!" suara Pak Hendra kali ini lebih tinggi dari pada sebelumnya.
"Justru itu Pa, selama beberapa tahun belakangan ini aku telah menjadi dewasa, dan dipaksa berpikiran dewasa. Jadi, sekarang biarkan aku menikmati masa bebas ku!"
"Setidaknya makan dulu Tiara, sejak sore tadi kau tidak makan apapun, kau pasti kelaparan Nak," Bu Lusi menimpali.
"Ah, nanti disana juga ku isi perutku ini, sudahlah aku pergi dulu, oh iya jangan tunggu aku pulang karena pastinya aku akan menghabiskan malamku ini setelah sekian lama tidak bersama dengan mereka." ucap Tiara lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya tanpa mempedulikan lagi Ayahnya yang berteriak memanggil dirinya.
Tiara melenggang meninggalkan mansion orang tuanya, lalu menaiki mobil yang diparkir di depan garasi.
"Selamat malam dunia! Selamat datang kebebasan! Huhu…!!" teriak Tiara seraya menjalankan mobil nya.
Malam itu Tiara sangat menikmati kebebasannya tanpa adanya seorang anak yang menangis dan merengek-rengek kepadanya.
Sementara itu, Pak Hendra hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Melihat tingkah laku putrinya yang semakin kurang ajar.
Dan disaat itulah terdengar bunyi bel pintu ditekan dari luar, segera Bi Sarinah berlari tergopoh-gopoh membuka pintu. Dan betapa ia sangat merasa terkejut ketika melihat Alexa sedang berdiri di depan pintu mansion.
"Non, Alexa!!" pekik Bi Sarinah saking senangnya, sampai-sampai ia lupa diri dan langsung memeluk Alexa dengan erat.
"Benarkah ini Non Alexa? Bibi tidak bermimpi kan?" Bi Sarinah bertanya seraya melepas pelukannya dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Apa tadi Bibi sedang tidur?" tanya Alexa yang tidak kalah gembira.
"Tidak Non, tadi Bibi sedang bersih-bersih di dapur." jawab Bi Sarinah.
"Kalau begitu Bibi tidak sedang bermimpi, ini nyata," ucap Alexa seraya mencubit perlahan lengan Bi Sarinah, membuat wanita paruh baya itu memekik kesakitan. Namun, kemudian mereka sama-sama tersenyum.
Mendengar suara ramai di luar membuat Pak Hendra mengalihkan perhatiannya, Pak Hendra meninggalkan meja makan dan langsung menuju ke arah pintu utama.
"Pa, mau kemana? Makannya tidak dihabiskan dulu?" tanya Bu Lusi ketika melihat suaminya beranjak dari kursinya.
"Papa ingin lihat apa yang terjadi di luar, kedengarannya ramai sekali." jawab Pak Hendra yang telah pergi meninggalkan Bu Lusi.
Begitupun yang terjadi dengan Pak Hendra sama seperti apa yang terjadi dengan Bi Sarinah. Melihat putrinya ada di depan mata, sontak membuat Pak Hendra berteriak karena girangnya. Pak Hendra memeluk Alexa dengan penuh kasih sayang.
"Papa sangat merindukanmu sayang," ucap Pak Hendra dengan air mata yang mulai mengambang di pelupuk matanya, perlahan air mata itu jatuh membasahi pipinya yang berkerut karena keriput.
"Ayah, bukan Papa, karena aku lebih nyaman memanggil Ayah," Alexa menyela perkataan Ayahnya.
"Terserah kau ingin memanggil Ayah atau Papa, yang penting sekarang aku bisa memelukmu," ucap Pak Hendra lalu memeluk kembali Alexa.
Setelah puas acara peluk-memeluk Pak Hendra mengajak Alexa memasuki mansion itu. Walaupun jauh di sana, Bu Lusi sedang menatap Alexa dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa kabar Bi?" tanya Alexa yang langsung mendapat respon tidak menyenangkan dari Bu Lusi.
"Bibi?" Bu Lusi mengulang perkataan Alexa, jelas terlihat kalau ia sedang marah. Membuat pipi dan kedua matanya memerah.