
Awas! Adegan mengandung bulan.
Malam itu Alexa duduk di balkon kamarnya, menikmati keindahan malam diiringi desir angin malam yang berhembus sepoi menerpa kulit.
Rambutnya yang tergerai panjang dibiarkan nya menari-nari, melambai-lambai dengan anggunnya semakin menambah poin kecantikannya.
Disaat sedang termenung, ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya yang ramping. Menyentuhnya dengan penuh kelembutan.
"Saga…," Alexa yang terkejut langsung menyebut nama itu.
"Hmmm… sedang apa istriku, mengapa kau disini?" tanya pria itu dengan masih memeluk istrinya dari belakang.
"Aku hanya tidak percaya saja, malam ini adalah malam pengantin kita. Malam yang akan menjadi sejarah seumur hidup kita," jawab Alexa seraya berbalik badan membuat wajahnya menatap wajah Saga dengan jarak demikian dekatnya.
"Apakah kau siap?" mendapat pertanyaan itu dari suaminya membuat Alexa menundukkan kepala, ia tidak lagi menatap wajah suaminya melainkan menatap ke bawah seakan ada yang menarik disana.
"Tidak apa-apa, jika belum siap, Aku akan sabar menunggu hingga kau sendiri yang mengatakannya," ucap Saga dengan penuh kasih seraya mencium kening Alexa dengan penuh cinta.
"Saga," desah Alexa setelah ia terdiam cukup lama.
Memandang wajah tampan suaminya, yang seakan-akan ia tidak pernah puas menatap wajah itu.
"Ya,"
"Lakukanlah, Aku akan menurut padamu," desah Alexa lagi yang terdengar merdu di telinga Saga.
Mendengar ucapan istrinya, membuat Saga merasa senang bukan main, akhirnya setelah sekian lama ia akan dapat merasakan juga yang namanya belah duren.
Begitupun dengan Alexa yang selama ini hanya mendengar dari ucapan orang lain. Kalau malam pertama itu adalah malam yang indah bagaikan di surga. Karena telah dua kali malam pertamanya yang berlalu begitu saja tanpa ia menikmati legenda di malam itu.
"Alexa, I love you," bisik Saga menerpa telinga istrinya membuat Alexa sedikit tergamang.
"I love you too, Saga." balas Alexa yang juga berbisik di telinga Saga, membuat pria itu semakin bergairah.
Alexa yang merasa sangat bahagia tubuhnya berada di dalam dekapan suami tercinta hanya tersenyum menggoda, bahkan disaat dirinya di tidurkan di atas ranjang, Alexa hanya diam saja membiarkan Saga menyentuh setiap inci dari tubuhnya.
Yang terdengar hanyalah ******* manja yang keluar dari bibir manis Alexa mengiringi setiap sentuhan yang diberikan oleh Saga. Namun, sebelumnya Saga telah membaca doa terlebih dahulu, doa yang diajarkan oleh Kakeknya.
Entah bagaimana awalnya yang jelas saat ini mereka telah sama-sama polos, tanpa sehelai benang pun yang menghalangi kedua tubuh itu untuk saling bersentuhan.
"Apa kau benar-benar siap? Ini akan terasa menyakitkan," bisik Saga sebelum memulai.
"Ya, lakukan apa yang perlu dilakukan, Aku pasrahkan padamu," jawab Alexa yang memang penasaran seperti apa rasanya.
Mendengar jawaban dari istrinya, membuat Saga tersenyum puas, keinginannya tidak akan terhalang malam ini. Dengan segera ia melakukan apa yang perlu dilakukan.
"Ahh! Sakit," desah Alexa sedikit keras karena tidak tahan saat Saga telah memasuki goa sempitnya.
Mendengar istrinya merasa kesakitan, Saga lebih lembut berperilaku di sana. Bahkan ia membungkam bibir Alexa dengan bibirnya, agar tidak lagi mendesah karena takut akan terdengar ke arah luar kamarnya.
Kini tidak ada lagi suara ******* Alexa, yang ada hanyalah hembusan dua nafas manusia yang saling memburu, suara nafas Saga yang telah memburu karena naik turun, dan suara nafas Alexa yang menahan rasa sakit dibawah sana yang seakan telah diporak-porandakan oleh pria perkasa itu. Hanya air matanya yang perlahan menetes membuktikan bahwa ia benar-benar merasakan sakit.
Namun, itu hanya untuk beberapa saat saja. Karena pada detik berikutnya, Alexa tidak lagi merasakan sakit, melainkan ia mulai membalas setiap sentuhan Saga dengan sentuhan yang lebih agresif, sehingga membuat Saga semakin bertambah bergairah.
Lama mereka berhubungan saling memuaskan, belum ada tanda-tanda semua kemesraan itu akan berakhir. Malah Saga semakin gencar bermain di area itu. Suasana semakin sunyi yang terdengar hanyalah suara nafas keduanya yang diiringi dengan derit ranjang berirama.
"Ah… Alhamdulillah," desah Saga setelah mengakhiri semua permainannya. Tubuhnya pun tumbang di samping tubuh Alexa yang lebih memilih memejamkan kedua matanya, membiarkan tubuhnya yang telah dibajak oleh Saga terekspos dengan jelas.
Saga segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Alexa dan juga tubuhnya. Ia pun mulai memejamkan matanya setelah terlebih dahulu mengecup kening istrinya sebagai tanda terimakasih.
"Terimakasih, telah menjaganya untukku," bisik Saga yang merasa kagum walaupun telah bertahun-tahun hidup menjanda, tetapi Alexa sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang janda.
Pada detik berikutnya mereka telah terbuai ke alam mimpi membawa kemesraan yang baru saja mereka alami.