
"Alexa, ini tidak seperti yang kau lihat!" Saga yang hanya sempat memakai celananya, berusaha menjelaskan kepada Alexa tentang apa sebenarnya yang terjadi. Namun, Saga juga terlihat bingung karena ia sendiri tidak mengingat apapun tentang semalam.
"Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, pria macam apa kau ini!" Kini tidak ada lagi panggilan tuan untuk Saga seperti biasanya dan dengan penuh rasa hormat.
"Dasar pria mesum!" teriak Alexa seraya memukul-mukul dada Saga, yang terus mendekati nya berusaha untuk menjelaskan.
Pak Hendra dan Bu Lusi yang mendengar suara Alexa berteriak histeris, segera berlari menemui Alexa.
"Ada apa? apa yang terjadi?" suara Pak Hendra menghentikan kedua nya.
"Tuan Saga, mengapa Anda disini?" Pak Hendra merasa heran ketika melihat Saga berada disana dengan bertelanjang dada.
"Putriku… !!" Bu Lusi berteriak histeris ketika mendapati Tiara pingsan di atas ranjangnya.
"Apa yang telah kau lakukan kepada putriku?" suara Pak Hendra terdengar tegas dan menggelegar.
Kedua matanya memerah serta rahangnya mengeras membuat urat-urat wajahnya terlihat dengan jelas.
Tidak dapat dihindari lagi sebuah pukulan dan tendangan bersarang di tubuh Saga yang tidak sempat menghindar.
Sedangkan Bu Lusi hanya menangisi Tiara dengan airmata buayanya. Karena ia tahu kondisi Tiara baik-baik saja, ia pingsan hanya karena efek dari obat tidur yang ia minum semalam. Dan itu semua atas petunjuk Bu Lusi.
"Hentikan Pa, tidak ada gunanya melakukan kekerasan saat ini, semua telah terjadi, jadi kita harus mengambil keputusan untuk kebaikan putri kita." teriak Bu Lusi, seketika menghentikan pergulatan mereka.
"Saga harus bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepada putri kita, Saga harus menikahi Tiara hari ini juga." tegas Bu Lusi mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pertimbangan dari suaminya.
Pak Hendra terdiam, ia tidak tahu harus setuju atau tidak, yang jelas saat ini ia hanya memandang wajah Alexa dengan penuh kebimbangan.
Sedangkan Alexa hanya terdiam, dengan berurai air mata. Entah mengapa hatinya begitu sakit menerima kenyataan bahwa suaminya telah meniduri wanita lain, rasa sakit ini melebihi dari rasa sakit yang telah biasa ia terima dari sikap Saga yang semena-mena kepadanya.
Alexa yang polos langsung percaya begitu saja dengan kenyataan yang ia lihat, walaupun itu semua hanyalah sebuah rekayasa.
"Tidak, aku tidak mungkin menikahinya, aku tidak melakukan apapun kepadanya!" Saga berusaha membela diri.
"Apa kau bilang? tidak melakukan apapun? kalau begitu lihatlah! apa yang telah kau perbuat kepada putriku!!" tanpa rasa malu, Bu Lusi menyingkap selimut yang menutupi tubuh Tiara, menampilkan tubuh putih mulus terekspos nyata tanpa terhalang sehelai benang pun.
Alexa memalingkan wajahnya, ia tidak kuasa melihat adiknya di aniaya seperti itu. Di antara isak tangisnya ia berkata,
"Ayah, panggilkan Pak Penghulu sekarang!"
"Alexa," hanya kata itu yang keluar dari mulut Saga, ketika ia mendengar istrinya itu meminta Pak Hendra untuk mendatangkan Pak Penghulu.
Senyum Bu Lusi tertarik di sudut bibirnya, hatinya senang bukan main mendengar keputusan Alexa. Ia pun kembali menutupi tubuh Tiara.
"Alexa benar Pa, tunggu apa lagi, biar Tiara mama yang urus." ucap Bu Lusi tidak ingin kehilangan kesempatan itu.
"Tetap disini, dan jangan coba-coba untuk kabur, atau aku akan panggilkan polisi untuk menangkap mu!" tegas Pak Hendra.
Saga hanya bisa menundukkan kepala, keadaannya benar-benar terpojokkan, tidak ada gunanya terus membela diri karena tidak ada yang percaya lagi kepadanya. Termasuk Alexa sekalipun yang menatapnya dengan penuh kebencian.
Saga hanya berdiri mematung di sudut ruangan, dalam kebingungan ia berusaha mengingat-ingat. Namun, tetap saja ia tidak dapat mengingatnya.
Alexa melangkahkan kakinya, keluar dari kamar Tiara. Alexa berlari sekencang-kencangnya mengikuti kemana arah langkah kaki membawanya, sementara Saga mengejarnya dari belakang.
"Alexa, aku yakin ini hanyalah sebuah rekayasa! percayalah kepadaku, aku tidak bersalah!" Saga mengatakan itu saat langkah Alexa terhenti di halaman mansion.
"Alexa," suara Saga terdengar bergetar, hatinya bingung harus meyakinkan istrinya dengan cara apalagi.
"Jangan sentuh aku!" sergah Alexa menghempaskan tangan Saga yang hendak menyentuh tangannya.
"Aku jijik!" lanjut Alexa berusaha menghindar, ia menatap wajah Saga dengan tatapan kekecewaan.
Kemudian Alexa berkata dengan suara yang lebih rendah.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan mu, ini juga salahku, aku yang selalu menolak mu," Alexa tertunduk. Antara rasa kecewa dan menyesal.
Jauh didalam hati kecilnya, sebagai seorang istri ia menginginkan satu-satunya sebagai wanita yang berada di dalam hati suaminya.
"Tidak, ini bukan karena dirimu, sebelum kau menolakku, aku telah berjanji untuk tidak menyentuh mu," Saga keceplosan.
Dan, itu membuat Alexa membelalakkan kedua matanya.
"Apa? mengapa kau tidak ingin menyentuh ku? Apa sebenarnya yang kau inginkan?" Alexa bertanya-tanya.
Kini ia berdiri tegap menghadap ke arah Saga. Menatap intens ke dalam bola mata Saga.
'Apa yang aku katakan, mengapa aku mengatakan ini padanya, apa yang harus aku katakan sekarang?' Saga merasa terjebak dengan kata-katanya sendiri.
Melihat Saga diam saja, Alexa kembali bertanya memaksa pria itu untuk memberikan penjelasan dari perkataannya.
"Ayo! Cepat jawab! mengapa kau tidak ingin menyentuhku? Apakah itu Sebabnya kau selalu berhenti sebelum mengakhiri?" dari perkataan Alexa terlihat sekali kalau sebenarnya ia menginginkan hal itu.
Dengan berat hati Saga terpaksa menjawabnya.
"Ya, aku memang tidak ingin menyentuhmu, tapi bukan berarti…," sebelum Saga menyelesaikan ucapannya, Alexa terlebih dahulu menyergahnya.
"Kau jahat, kau menyebalkan, aku benci!" Alexa kembali memukul dada Saga dengan kedua tangannya.
Dan membuat Saga terpaksa meringkus kedua tangan Alexa, kemudian memeluk nya. Kali ini Alexa terdiam, ingin rasanya ia membalas pelukan hangat pria itu. Namun, ingatan insiden tadi, membuatnya kembali menghempaskan sentuhan Saga.
Memang, rumah tangga yang mereka jalani tanpa adanya rasa cinta, ataupun kasih sayang. Namun, cukup menguras energi dan airmata.
Kemudian terdengar suara deru mobil memasuki halaman mansion itu.
"Cepatlah pergi! Penghulu sudah datang!" Alexa mendorong tubuh Saga agar menjauh darinya.
Kemudian Alexa membelakangi Saga dengan air mata berderai.
"Ibu, seperti inikah rasa sakit yang ibu rasakan dulu, seperti inikah airmata ibu yang mengalir deras, kami menikah tanpa adanya rasa cinta, tapi mengapa rasanya masih tetap sakit, hiks… hiks… hiks…," Alexa meratapi nasib pernikahannya. Sekilas ia teringat kisah ibunya yang diceritakan oleh Mbok Mirah, Satu-satunya orang yang menjadi saksi kisah perjalanan Bu Rianti.
Tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari arah Belakang.
"Putriku, maafkan Ayahmu! Ayah tidak bisa melakukan apapun untukmu," lirih Pak Hendra.
Ia juga merasa bimbang, karena mereka berdua sama-sama putri kandungnya.
Sedangkan Alexa diam didalam pelukan Ayahnya.
"Aku ikhlas Yah, jika ini semua memang garis takdirku." ucap Alexa pasrah.