
"Ma lapar, Sakti Mau makan Ma," rengek Sakti meminta makan kepada ibunya.
"Iya sebentar Sayang, Mama pasti akan cari makanan untukmu!" Tiara berusaha menenangkan putranya yang sedang kelaparan.
"Sakti udah nggak kuat lagi Ma, perut Sakti sakit banget, " Sakti mulai menangis karena tidak tahan menahan rasa lapar
Sudah dua hari Tiara dan Sakti dikurung di dalam ruangan itu oleh Raisya, mereka sengaja dijadikan tawanan untuk memastikan keselamatan dirinya. Oleh karena itu Raisya membawa kabur Tiara dan Sakti lalu disembunyikan di salah satu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh sembarang orang.
Tiara berlari kesana kemari di dalam ruangan itu ia berusaha mencari celah untuk keluar dari tempat itu, Karena ia merasa tidak tega melihat putranya kesakitan karena menahan lapar.
Tiara menggedor-gedor pintu berkali-kali Seraya berteriak agar Raisya membukakan pintunya. Namun, Raisya tetap saja tidak peduli seolah tidak mendengar suara teriakan Tiara dari dalam ruangan itu. Sedangkan Sakti menangis bertambah keras saking karena laparnya.
"Kak Raisya! Tolong buka pintunya Kak! Sakti kelaparan tolong kak!" Teriak Tiara mengiba.
Kedua tangan Tiara masih tetap menggedor-gedor pintu dengan kuat hingga membuat kedua tangannya memerah.
"Tolonglah buka pintunya Kak atau setidaknya beri kami makanan, kasihan Sakti Dia sedang kelaparan saat ini jika tidak dia bisa sakit!" Tiara masih berteriak memohon kepada Raisya agar memberinya makanan untuk putranya.
"Hei! Jangan berisik bisa berhenti tidak!" Balas Raisya dari arah luar, rupanya ia merasa terganggu dengan suara teriakan Tiara yang tidak kunjung berhenti menggedor-gedor pintu serayak berteriak meminta makanan.
"Kak aku mohon berilah kami makanan kasihan Sakti Kak dia bisa sakit," mohon Tiara Seraya terus mengiba karena ia tidak tega melihat putranya sedang kelaparan saat ini.
"Aku tidak peduli Memangnya itu urusanku dia mau lapar, dia mau mati, aku tidak mau tahu. Lagi pula dia bukan keponakanku karena ayahnya hanyalah adik tiriku!" Sergah Raisya membentak Tiara.
"Apa yang terjadi pada dirimu Kak, mengapa tiba-tiba kau berubah? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Tiara merasa bingung dengan perubahan sikap Raisya yang tiba-tiba saja menjadi kejam.
"Semua karena Saga, karena dia telah berani menahan suamiku bahkan dia telah berani melukai suamiku. Walaupun dia adikku, adik kandungku sendiri aku juga tidak peduli." Ucap Raisya dengan geram masih terngiang di telinganya erangan suara Irwan ketika Saga sedang membidikkan peluru di kaki Irwan.
"Tapi itu kan Saga Kak, kami tidak ada hubungannya sama sekali bukan kakak sudah tahu kalau Sakti bukanlah putranya? lalu Mengapa Kakak menahan kami di sini? Kumohon Kak keluarkan kami Kumohon…" ucap Tiara
Sedangkan Sakti sedang berguling-guling di lantai Seraya menangis dengan keras, karena tidak tahan menahan rasa laparnya dan itu membuat Tiara semakin panik dan cemas ya takut terjadi sesuatu yang buruk kepada putranya.
Ya, anak sekecil itu harus ikut merasakan penderitaan akibat perbuatan Raisya yang sama sekali tidak memiliki hati nurani ataupun belas kasihan. Raisya hanya memikirkan dirinya sendiri dan juga suaminya, hatinya telah tertutup dengan nafsu dunia.
"Baiklah, karena aku masih berbaik hati kepada kalian, aku akan membiarkan dirimu keluar dari ruangan ini, tapi dengan satu syarat," sahut Raisya setelah menemukan sebuah ide untuk memanfaatkan Tiara.
"Katakanlah Kak Apa syaratnya? Akan kulakukan apapun itu demi Putraku! " jawab balas Tiara yang merasa memiliki harapan untuk keluar dari ruangan itu.
"Ya ya ya baiklah, akan ku katakan, bantu aku untuk menjebak Saga!"
"Baiklah akan kulakukan tapi bagaimana caranya Saga bukan orang sembarangan Dia sangat pintar dan juga cerdas, Bagaimana mungkin aku bisa menjebaknya dengan mudah?" Tanya Tiara yang masih belum mengerti dengan rencana Raisya.
Raisya masih mengingat betul bahwa Saga sangat mencintai Alexa, karena mereka bercerai itupun karena Raisya yang memfitnah Alexa telah membunuh Oma Hesti.
"Alexa dia sedang di Dubai Kak Bagaimana bisa aku melakukan hal itu?" Tiara merasa ragu sebab dirinya dan Alexa berada di dua tempat yang berbeda.
"Kau tenang saja, aku akan mengirimmu ke sana dengan alasan yang kau sendiri yang harus memikirkannya," ucap Raisya.
"Lalu bagaimana dengan Sakti? Siapa yang akan menjaganya jika tidak ada diriku?"
"Selagi kau bisa membantuku maka Sakti akan menjadi tanggung jawabku, Aku adalah yang akan menjaganya sampai kau benar-benar bisa menjebak Saga!" Raisya mulai bernegosiasi.
"Aku setuju Kak melakukan hal itu asal kau bisa menjaga anakku dengan baik" ucap Tiara.
"Tentu saja Sakti akan aman bersamaku selagi kau bisa melaksanakan tugasmu dengan baik maka Aku pastikan Sakti baik-baik saja" ujar Raisya meyakinkan Tiara.
"Baiklah Aku terima tugas dari kakak tapi Kumohon beri aku sedikit makanan untuk kami hari ini, Kasihan dia sedang kelaparan," ucap Tiara mengiba.
Mendengar permintaan Tiara yang mengiba Raisya segera pergi ke belakang untuk mengambil makanan itu. Tak lama kemudian Ia pun kembali dengan membawa sebuah piring berisi nasi dan lauk pauknya.
"Ini ambillah cukup untuk kalian berdua," ucap Raisya Seraya menyodorkan piring di tangannya kepada Tiara setelah ia membuka pintu itu.
Tiara segera mengambil piring itu lalu memberikannya kepada seperti yang telah menangis sedari tadi hingga membuat kedua matanya membengkak.
Kemudian terdengar suara pintu dibanting dengan keras oleh Raisya lalu menguncinya dari luar, karena Raisya tidak ingin Tiara kabur dari tempat itu dan membuat dirinya dalam bahaya. Karena Raisya tahu pasti Saga tidak akan berhenti mengejarnya hingga bisa meringkus dirinya.
"Sakti, Ayo Sayang makan ayo mama suapin ya," bujuk Tiara agar Sakti mau makan.
Mungkin karena telah terlalu lama ia kelaparan membuat Sakti enggan untuk duduk walaupun sekedar makan, tubuhnya kini telah lemas karena tidak ada asupan makanan ataupun minuman sejak dua hari yang lalu.
"Sayang ayo makan yuk! Kalau tidak makan nanti kamu sakit, Nanti mama yang dimarahin sama papa," Tiara masih membujuk Sakti dengan lembut.
Sakti mulai duduk dengan dibantu oleh ibunya sambil memegangi perutnya Sakti bertanya,"Mengapa kita tinggal di sini ma? Mengapa kita tidak tinggal di mention papa? Papa kapan balik ma, Sakti kangen banget"
"Iya nanti papa pulang kalau Sakti sudah makan, sekarang Sakti makan ya Biar Papa cepat pulang!" Tiara menyuapkan makanan ke dalam mulut Sakti dengan rasa malas Sakti terpaksa membuka mulutnya.
"Jadi kalau sakti nggak makan Papa nggak pulang, kalau Sakti makan Papa pulang?" Tanya Sakti sebelum suapan itu benar-benar masuk ke dalam mulutnya.
" Ya,"
Perlahan Sakti mulai mengunyah suapan pertama dari ibunya, sebenarnya rasa makanan itu sangat hambar. Namun, Karena rasa lapar yang mendera perutnya sejak dua hari yang lalu membuat Sakti makan dengan lahapnya. Terbukti hanya dalam beberapa menit saja makanan dalam piring itu telah habis tak tersisa.