
Mendapatkan pertanyaan dari Alexa membuat Ricard merasa salting, ia terlihat gugup ketika Alexa memandang wajahnya.
Memang benar semalam secara tidak sengaja ia bertemu dengan Septi yang juga akan menemui Alexa, namun karena orang yang dicarinya tidak ada, Ricard maupun Septi kembali pergi dari mansion Alexa.
Namun, ditengah perjalanan pulang, Septi dikejutkan oleh Ricard yang menghentikan mobil di depannya.
Ricard mengajak Septi pergi bersama menemui Alexa di mansion Ayahnya, dan Eyang Netty lah yang mengatakan bahwa Alexa sedang berada di mansion Pak Hendra.
"Septi, langsung pulang?" tanya Ricard seraya turun dari dalam mobilnya.
"Ya, mau kemana lagi?" Septi menjawab kemudian bertanya membuat Ricard tertawa terkekeh.
"Kok tertawa, ada yang lucu?" raut wajah Septi berubah masam ketika melihat Ricard, pria yang tidak begitu dikenali nya.
"Kau lucu, ditanya malah jawab nanya lagi," Ricard masih terkekeh.
Septi hanya memandang Ricard tanpa berkata. Raut wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Aku mau menemui Alexa di pondok pesantren, mau ikut?" Ricard menawarkan.
"Pondok pesantren? Memangnya dia sedang apa disana?" Septi merasa heran.
"Kata Bu Lusi Alexa pergi ke pesantren bersama Pak Hendra." jelas Ricard to the point.
"Ada acara?"
"Entahlah, Bu Lusi juga tidak mengatakan apa-apa,"
"Kalo gak mau ikut, aku tinggal," ucap Ricard seraya melangkahkan kakinya kembali memasuki mobil.
"Hei! Tunggu!!" teriak Septi seraya berlari memasuki mobil dan duduk di samping Ricard.
Ini pertama kalinya Septi duduk berdua dengan seorang pria, walaupun belum mengenal cukup jauh, Septi merasakan jantungnya berdebar-debar. Begitupun yang tengah di rasakan Ricard, saat Septi duduk di sampingnya ia merasakan detak jantungnya berdegub dengan kencang.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju pondok pesantren disertai beberapa kali gurauan oleh mereka berdua.
Dan saat tiba di pesantren Ricard di buat kecewa oleh kenyataan saat ia melihat dari jendela kalau Alexa sedang berpelukan dengan Saga. Suatu pelukan yang belum pernah diberikan Alexa kepadanya sama sekali. Dan itulah yang membuat Ricard cemburu.
Kemudian ia pulang kembali tanpa memberi tahu kepada siapapun kalau dirinya berasal disana. Dan konyolnya, Septi juga ikut pulang bersama dengan Ricard.
"Sejak kapan kalian pergi berdua?" tanya Alexa, mengarahkan pandangannya ke pada Ricard dan Septi.
"Alexa, ini hanya pertama kalinya, dan aku janji tidak akan pernah lagi ikut satu mobil dengannya." Septi merasa tidak enak hati.
"Lalu mengapa Mbak tidak menemuiku dulu, kalau Ricard, ok dia cemburu melihat aku bersama Saga, tapi… kalau Mbak Septi? Bukankah kita bisa pulang bersama jika Mbak menemuiku dulu," Alexa membuat Septi menjadi semakin salting.
"Alexa, kamu marah? Maafkan aku, aku janji tidak akan ikut dengannya lagi." Septi benar-benar salting.
Alexa tertawa melihat ekspresi wajah Septi, yang seolah-olah akan di telan begitu saja oleh Alexa.
"Tidak apa-apa Mbak, santai saja." sahut Alexa dengan sebuah senyum di wajahnya.
'Semoga saja mereka berdua saling cocok dan jatuh cinta' pikir Alexa.
Karena Alexa tahu, Septi bukanlah tipe wanita yang suka di gaet pria manapun. Dia termasuk dalam kategori wanita dingin, tetapi jika Septi mulai bisa ikut bersama Ricard, itu tandanya ia mulai merasa nyaman dengannya.
Alexa berdoa semoga saja Ricard perlahan akan memiliki perasaan kepada Septi hingga ia akan memiliki alasan untuk membatalkan pertunangan itu.
Alexa melirik jam tangannya sekilas lalu berkata, "Sudah jam 12.05 waktunya makan siang, ayo Mbak, kita makan bersama!"
Mendengar ajakan Alexa, lagsung saja Septi menyetujui nya, dikarenakan ia memang merasa lapar sejak tadi.
"Ayo!"
Beberapa langkah mereka berjalan dan sebelum mereka keluar dari dalam ruangan itu, Septi menoleh kebelakang.
"Kamu tidak ingin ikut kami makan bersama?" Septi bertanya kepada Ricard yang sedang berdiri mematung. Ia merasa kesal kepada Alexa yang semakin mengacuhkannya.
"Tidak, lain kali saja," tolak Ricard seraya melirik kearah Alexa.
Namun, Alexa sesedikit pun tidak menoleh kepadanya.
"Ayolah, biar kita makan rame-rame," Septi tetap membujuk Ricard.
"Baiklah," dan pada akhirnya Ricard menyetujui ajakan Septi, kemudian mereka makan siang bersama.
**********************************************
Sementara itu di ruang kerjanya, Saga terlihat begitu marah. Berkali-kali ia menggebrak meja dengan kedua tangannya demi menyalurkan rasa kesal sekaligus menyesal yang menyelimuti hatinya.
Ia merasa sangat menyesal karena telah melakukan hal yang mungkin bisa membahayakan hubungan persahabatan mereka.
"Tapi, aku masih sangat mencintai Alexa, apa aku salah jika mengekspresikan rasa ini padanya, lagi pula dia juga masih sama mencintaiku." Saga berseteru dengan dirinya sendiri.
TOK
TOK
TOK
Bunyi pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" teriak Saga tanpa berdiri dari kursinya.
Pintu di buka dan tampaklah seorang wanita cantik dan seksi sedang berdiri di depan pintu, menatap Saga dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan.
"Keluar!" teriak wanita itu dengan beringas.
Tiara, ya wanita itu adalah Tiara yang sedang marah kepada Saga karena telah berani mengambil alih kekuasaan atas perusahaan milik Ayahnya.
"Tiara, atas dasar apa kau berani menyuruhku keluar dari perusahaan ku sendiri?" Saga yang memang sejak tadi merasakan emosi pada dirinya, kini seakan memiliki pelampiasan untuk kemarahannya.
"Ini perusahaan Papaku, harusnya aku yang berada di tempat itu, bukan dirimu!" sentak Tiara.
"Tiara! Asal kau tahu, saham ku disini lebih banyak dari pada saham Papamu, jika sampai aku menarik kembali saham itu maka akan dapat dipastikan perusahaan ini akan bangkrut! Kau ingin semua itu terjadi?!" tidak tanggung-tanggung Saga juga membalas membentak Tiara.
Mendengar suara saga yang menggelegar mau tidak mau Tiara diam juga, rupanya ia merasa takut juga jika di balas dibentak.
"Pergilah! Kau hanya menggangguku saja, sekarang aku tidak mood lagi melanjutkan pekerjaanku," lanjut Saga dengan nada suara yang lebih rendah.
"Bagaimana kabarnya Sakti?" Tiara mengalihkan topik pembicaraannya.
Mendengar pertanyaan dari Tiara, membuat Saga mengernyitkan dahi.
"Sejak kapan kau perduli dengannya?" Saga bertanya dengan sinis.
"Hei! Kau lupa? Dia itu kan anakku, darah daging ku," ucap Tiara sekedar mengingatkan Saga hubungan antara dirinya dan bocah itu.
"Ya, mungkin aku lupa, karena aku hanya ingat kau seorang ibu yang rela meninggalkan anakmu hanya karena ingin mencari kesenangan semata." sahut Saga kembali menyindir Tiara.
"Oh ya, Rian sudah pulang dari Dubai, silahkan di jenguk karena saat ini dia sedang sakit dan tinggal di pesantren juga." ucap Saga sekedar menginfokan kepada Tiara.
Mendengar Rian sakit tidak ada ekspresi terkejut ataupun sedih, dari Tiara. Ia terlihat sangat santai mendengarnya.
Melihat hal itu membuat Saga merasa penasaran, apa sebenarnya yang sedang dirasakan oleh Tiara? Apakah ia benar mencintai Rian? Hingga rela mengandung anaknya. Ataukah justru sebaliknya?
"Oh," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Tiara karena setelahnya ia pergi begitu saja tanpa pamit.
Setelah Tiara pergi, datanglah Alexa. Wanita ini datang dengan membawa sebuah rantang makanan di tangannya.
Saga mengucek kedua matanya dengan menggunakan kedua tangannya.
"Apakah aku mimpi? Ataukah ini hanya halusinasi ku saja?" gumam Saga pada dirinya sendiri.
Melihat ekspresi Saga membuat Alexa tertawa dengan geli.
"Kau tidak bermimpi tuan Saga yang terhormat, ini benar nyata." ucap Alexa lalu meletakkan rantang makanan itu di atas meja kerja pria itu.
Melihat Saga yang hanya mematung menatapnya, Alexa segera mencubit pipi Saga yang kemudian mengaduh kesakitan.
"Aw!" pekik Saga karena merasa sakit pada pipinya yang dicubit oleh Alexa.
"Jadi ini nyata?" bisik Saga dengan senyum manis yang mulai terbit dibibirnya.
Alexa tidak menjawab melainkan hanya tersenyum dengan senyuman yang paling manis dan mempesona. Seraya memainkan kedua alisnya naik turun beberapa kali.
Dan itu membuat Saga yang tadinya sangat kesal dan marah, kini berubah menjadi lebih rilax dan tenang.
"Buat siapa rantang ini?" tanya Saga sambil menunjuk ke arah rantang yang diletakkan oleh Alexa di atas mejanya.
"Buat Pak RT, ya buat tuan Saga yang terhormat inilah," jawab Alexa menggoda Saga.
Hingga membuat Saga benar-benar ingin memiliki Alexa kembali,jika saja ia tidak teringat tentang Ricard sebagai tunangannya Alexa, maka dapat dipastikan Saga akan kembali melamar Alexa.
Alexa merasakan hari ini sangatlah indah untuk mereka berdua, dimana ia mendapatkan kesempatan untuk bersama dengan pria yang dicintainya.