
"Sah!" ucap Pak Hendra ketika Saga telah selesai mengucapkan ikrar ijab kabul nya.
Bu Lusi tersenyum senang menyaksikan putrinya kini telah resmi menjadi istri dari seorang pengusaha terkaya di kota itu.
Tidak ada cincin sebagai bukti ikatan di antara Saga dan Tiara, karena semuanya terjadi sangatlah tiba-tiba. Namun, bagi Bu Lusi itu semua tidak menjadi masalah karena yang terpenting baginya adalah gelar yang akan didapatkan putrinya nanti.
Saga mengeluarkan sebuah ATM card dari dalam dompetnya.
"Ini sebagai maharnya," ucap Saga dengan malas, lalu menyodorkan benda pipih itu ke arah Tiara yang sontak diterima dengan senyum yang merekah.
Bu Lusi memandangnya dengan kedua mata terbelalak.
'Berapa kira-kira jumlah nominal yang didapat Tiara?' bisik hati Bu Lusi tidak sabar ingin mengetahui jumlah nominal dari ATM card tersebut.
"Selamat ya sayang, akhirnya kau menikah." ucapan selamat dari Bu Lusi untuk putrinya tercinta.
Alexa yang terpaksa mengikuti pernikahan suaminya dengan adiknya sendiri, memalingkan wajahnya karena tidak bisa menahan tangis yang seakan tidak ingin berhenti.
Setelah semua selesai serta buku nikah telah di tangan masing-masing, Pak Penghulu pun pamit undur diri.
Saga pun tidak ingin berlama-lama berada di dalam mansion itu, secepatnya ia ingin meninggalkan tempat yang ia anggap telah menipu dirinya.
'Berbahagialah kalian sekarang, jika sampai benar-benar terbukti mereka yang telah merekayasa semua ini, maka akan kupastikan kalian akan menerima akibatnya!' geram Saga didalam hatinya.
Tak lama kemudian, Saga pulang dengan membawa dua orang istri saat itu.
"Jaga dirimu baik-baik ya sayang!" Bu Lusi memeluk putrinya sebelum melepasnya untuk ikut dengan suaminya.
"Alexa ku mohon, jaga Tiara baik-baik ya," Bu Lusi berkata dengan lembut karena ingin Alexa menjaga Tiara dengan baik.
Kini dua kakak beradik telah bersuamikan orang yang sama.
*********************************************
Raffi pagi itu sedang mondar-mandir di dalam ruangan CEO. ia terlihat begitu gelisah, akan tetapi, ia tidak tahu harus melakukan apa.
"Nomornya tidak bisa dihubungi, tuan Saga ada dimana sekarang?" berkali-kali Raffi menghubungi Saga. Namun, tetap saja tidak bisa tersambung.
"Apakah tuan Saga lupa, hari ini adalah hari penting? ataukah tuan Saga sakit?" Raffi menduga-duga.
"Lebih baik, aku susul ke rumahnya!"
Kemudian Raffi meninggalkan kantor menuju ke mansion bosnya.
Betapa terkejutnya Raffi ketika telah tiba di mansion bosnya. Ia melihat beberapa orang juga sedang terkejut sama seperti dirinya.
Melihat Saga pulang dengan membawa dua orang gadis sekaligus, membuat Oma Hesti, Raisya serta para pelayan syok.
"Saga,Tiara ikut denganmu?" tanya Oma Hesti ketika ia melihat Tiara membawa koper di tangannya.
"Ya!" jawab Saga dengan singkat dan jelas.
"Oma! Kakak ipar!" sapa Tiara dengan berpura-pura ramah.
"Mulai sekarang aku akan tinggal bersama kalian, karena kami telah menikah, jadi mulai sekarang aku adalah menantu di mansion ini!" dengan penuh rasa percaya diri, Tiara mengakui dirinya sendiri sebagai seorang menantu.
"M-menantu? Menikah? Bagaimana bisa?" tanya Oma Hesti dan Raisya bersamaan.
"Sekarang Oma telah memiliki dua orang menantu, Alexa dan Tiara! Paham?" kemudian Saga pergi ke kamar nya dengan kemarahan yang tak bisa dibendung lagi.
Sementara Alexa segera berlari menemui Mbok Mirah yang saat ini sedang berada di taman belakang mansion. Disanalah Alexa menumpahkan segala kekecewaan di dalam hatinya.
Sedangkan Tiara lebih memilih untuk mengejar Saga, apapun yang terjadi Tiara bertekad akan mendapatkan cinta dan perhatian Saga, demi bayi yang berada didalam kandungan nya.
Namun, Saga tidak selembut dan seramah yang dipikirkan oleh Tiara. Begitu ia sampai di kamar tersebut, Saga langsung menyambutnya, bukan dengan kata-kata romantis seperti kebanyakan pasangan pengantin baru pada umumnya, melainkan sebuah bentakan keras yang baru pertama kalinya ia dapatkan.
Karena seumur hidupnya, selama bersama kedua orang tuanya, Tiara diperlakukan layaknya seorang putri.
"Saga! apa ini? mengapa kau malah membentakku?" Tiara tidak ingin mengalah, ia pun membalas membentak Saga.
"Bukan hanya itu saja, aku masih ada kejutan yang lain untuk mu!" tegas Saga.
Kemudian, mengambil tali yang berada di dalam laci mejanya. Dan mengikatkannya kepada Tiara. Kini gadis ****** ini tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya berteriak-teriak minta dilepaskan.
"Itu kejutan untukmu, dan ku pastikan setiap hari kau akan mendapatkan nya!" sentak Saga, lalu pergi setelah meraih sebuah tas berwarna hitam.
"Saga! brengsek, lepaskan aku!!" teriak Tiara dengan meronta-ronta.
Saga yang hampir keluar dari ruang kamarnya, membalikkan badan menghampiri Tiara. Kemudian, menyumbal mulut Tiara dengan sapu tangan miliknya.
"Hm…! Hm… ! Hm… !" hanya suara itu yang terdengar dari mulut Tiara setelah sapu tangan berhasil menyumbal mulutnya.
"Rasakan! Itu akibatnya jika berani bermain-main denganku!" Saga berlalu dengan begitu saja meninggalkan Tiara yang sedang meronta-ronta.
"Ayo, kita selesaikan urusan pabrik kita!" seru Saga berlalu di depan Raffi, tanpa berpamitan kepada Oma Hesti dan juga kakaknya.
Raffi mengikuti bosnya dari belakang. Melihat raut wajah Saga yang terkesan sangar karena memerah, membuat Raffi mengerti kalau Bosnya itu sedang berada dalam masalah besar. Dan Raffi memutuskan lebih baik diam saja, dari pada bertanya dan mendapatkan kemarahan.
Ya, sebenarnya jadwal hari ini memang telah ditentukan beberapa hari yang lalu oleh Saga sendiri, dan ia juga yang telah memutuskan hari ini akan pergi ke desa ciganjur untuk mengawasi pembangunan pabrik dan perbaikan jalur transportasi.
Dapat dipastikan setelah pembangunan pabrik selesai, perusahaan Saga akan maju pesat. Namun, Saga tidak akan pernah puas, dengan pencapaian yang telah ia dapatkan selama ini.
Saga masih ingin menguasai perusahaan milik Pak Hendra. Apalagi sebagian besar, sahamnya adalah milik Saga. Di tambah lagi dengan kedua putrinya yang kini telah resmi menjadi istrinya. Semakin mempermudah bagi Saga untuk mengepakkan sayapnya.
Benar saja, setelah sampai di desa ciganjur, pembangunan pabrik telah hampir selesai. Para pekerja ditarget dalam waktu dua minggu, pabrik itu harus selesai dan siap beroperasi.
Pekerja yang jumlahnya hampir seratus orang, bekerja dengan giat, bahkan rela bekerja lembur hingga tengah malam, demi mengejar target. Dan gaji mereka pun dibayar dengan sangat mahal.
"Tuan, usaha jenis apa yang akan kita kelola disini?" tanya Raffi setelah selesai meninjau pembangunan proyek pabriknya.
"Industri! Pembuatan pupuk cair dan sejenisnya." jawab Saga dengan yakin.
Saga telah mempertimbangkan segala konsekuensinya, tempat yang agak jauh dari pemukiman penduduk, membuat pabrik lebih bebas beroperasi serta limbahnya tidak dikhawatirkan akan mengganggu ketenangan masyarakat.
Dan itu semua adalah poin utama bagi Saga, karena menurutnya, keselamatan penduduk itu juga penting adanya.