
Pucuk dicinta pulang pun tiba, Hendra yang mereka tunggu akhirnya datang setelah Jam menunjukkan angka 7 lewat 15 menit malam. Seperti biasanya dia disambut dengan ramah oleh keluarga Pak Wijaya dan ibu Neti. Dan seperti biasanya pula ia harus membujuk Lusi yang kembali merajuk di dalam kamarnya.
Setelah meminta izin kepada Pak Wijaya dan juga Ibu Netty akhirnya Hendra bergegas menuju ke kamar Lusi. Hendra melangkah ke arah pintu kamar Lusi. Begitu sampai di depan pintu kamar itu, dengan perlahan Hendra mengetuk dan memberitahu kalau dia yang datang dan sebagaimana biasanya, tanpa mengalami kesulitan penolakan, pintu kamar itu terbuka.
"Dari mana saja kamu?" sambut Lusi dengan Ketus.
"Dengan Rianti sampai 3 jam. Lalu aku harus membantu bapak dan ibu di rumah Ada apa sih sebenarnya sama kamu?" jawab Hendra yang merasa semakin aneh dengan sikap Lusi.
"Tidak ada apa-apa." jawab Lusi masih berbohong.
"Tidak mungkin, tidak ada apa-apa kalau begini, sebaiknya kita saling terbuka seperti dulu Lusi. Ceritakan, Kenapa kamu begini? Dan aku perhatikan kamu begini setelah aku berhubungan dengan Rianti. Kamu tidak suka aku berhubungan dengan Rianti? atau, kamu cemburu?"
Sepasang Mata Lusi membelalak, Memandang lekat ke arah wajah Hendra yang tampan rupawan. Membuat hatinya semakin berdebar namun sekaligus merasa sakit saat ia mengingat bahwa cowok tampan di depannya adalah kekasih kakaknya.
"Kamu mencintaiku?" Tanya Hendra lagi. Lusi terdiam tidak menyahut, hanya kepalanya yang menunduk.
"Kita bukan anak kecil lagi, Lusi. Kalau kamu mau mencintai aku kenapa dari dulu kamu tidak mengatakannya? Kenapa baru sekarang, setelah aku terlanjur mencintai Rianti?" Lusi tetap terdiam.
"Lusi, selama ini kamu dan Bapak serta ibu telah banyak berbuat jasa padaku dan kedua orang tuaku. Aku hormati bapak dan ibu kamu sebagaimana Bapak dan ibuku sendiri. Aku cintai dan aku sayangi
kamu sebagai adikku sendiri, namun kalau memang kamu menghendaki Aku harus berpisah dengan Rianti, baiklah tapi tolong katakan sejujurnya apa kamu benar mencintaiku?"
"Ya!"
"Kamu cemburu?"
"Ya!"
"Kamu ingin aku tetap bersama kamu dan meninggalkan Rianti?"
"Tidak!"
"Kenapa?" Hendra merasa heran dengan jawaban Lusi.
"Aku tidak mau menyakiti perasaannya."
"Tetapi, perasaanmu yang sakit jika aku bersamanya, bukan?"
"Tidak!"
"Aku akan mutusin hubungan ku dengan Rianti." dengan berat hati Hendra terpaksa mengambil keputusan ini demi menjaga perasaan Lusi karena walau bagaimanapun lusilah orang pertama yang selalu bersamanya sebelum ia bertemu dengan Rianti.
"Jangan! Jangan kamu lakukan itu!" larang Lusi dengan air mata yang telah berderai.
"Lalu, aku harus bagaimana? Apa aku harus membagi tubuhku menjadi dua. Separuh buatmu dan separuh lagi untuk Rianti?" jujur Hendra sendiri merasa sangat bingung saat ini ia merasa kewalahan menghadapi sikap Lusi.
Lusi kembali terdiam.
"Katakan, Lusi. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin bisa bahagia walaupun aku bersama Rianti, Kalau aku melihat kamu bersedih." tegas Hendra.
Lusi tetap diam membisu dengan perasaan yang tidak menentu. satu sisi, dia memang ingin bisa mendapatkan cinta dari Hendra. Namun di sisi lain dia pun tidak mau membuat Rianti, kakaknya kecewa.
"Bagaimana, Lusi?" Tanya Hendra meminta jawaban.
"Kenapa aku tidak mati saja? Sehingga aku tidak lagi menjadi penghalang cinta kalian?" keluh Lusi diantara isak tangisnya.
"Kenapa kamu berkata begitu, kalau kamu mati. Apa Kamu kira aku dan Rianti akan senang? Tidak Lusi. Kami akan sangat sedih, karena harus kehilangan sahabat sekaligus saudara yang baik sepertimu. Janganlah kau merasa bahwa dirimu Ia adalah penghalang bagi hubungan aku dan Rianti. Justru kamu yang telah menyatukan kami. Namun kalau kamu menghendaki kami berpisah, aku yakin Rianti pasti akan mengerti dan mau menerima perpisahan itu. Sebab dia sudah tahu kalau kamu sebenarnya menyukaiku, dan Rianti pun sangat sayang padamu, sehingga Jika kamu menghendaki kami harus berpisah maka dia pasti akan menerimanya," ucap Hendra panjang lebar.
"Tidak! Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau kalian berpisah. Kalian saling mencintai, kalian saling menyayangi. Sedangkan denganku kau mencintai dan menyayangiku sebatas cinta dan kasih sayang seorang saudara. Biarlah hal itu terus berjalan, toh Cinta tidak selamanya harus memiliki, bukan?" tolak Lusi.
"Kamu yakin kalau kamu akan bisa menerima kenyataan itu?"
"Aku akan berusaha untuk menerima kenyataan yang ada bahwa cintamu hanyalah untuk Kak Rianti, bukan milikku. "
"Lalu, kenapa kamu bersikap seperti ini?"
"Maafkan Aku. Beri aku waktu untuk membiasakan diri dari kenyataan yang ada. Aku akan berusaha untuk menerima surat dan takdir. Jika memang kamu adalah jodohku pasti kita akan bersatu. sebaliknya, jika memang kamu bukan jodohku, kalau aku memaksa, tidak mungkin kita bisa bersama."
"Syukurlah kamu mengerti." Hendra menarik nafas lega mendengar pernyataan dari Lusi.
"Ya, aku memang harus mengerti dan menyadari."
"Kalau begitu ayo kita keluar, kamu harus makan dan harus menunjukkan sikap sebagaimana biasanya, percayalah aku akan tetap mencintai dan menyayangimu sebagaimana dulu." janji Hendra kepada Lusi yang dianggap sebagai Adiknya sendiri.
Lusi pun menurut. dia pun mengikuti Hendra keluar dari kamarnya. Bahkan dia akhirnya mau makan tanpa harus disuapi oleh Hendra, hanya cukup menemaninya dan ikut makan bersamanya.
Clear sudah persoalannya. Namun, Benarkah Lusi akan bisa menerima kenyataan, bahwa cinta Hendra padanya Hanyalah Cinta Seorang Kakak pada adiknya? tidak ada seorangpun termasuk Hendra yang tahu. Hanya lusilah yang tahu.