
"Papa!" teriak Tiara yang baru saja pulang dari kantor Alexa.
Seperti biasa suaranya kembali menggelegar seakan meruntuhkan mansion. Siapapun yang mendengarnya pasti akan bisa mengenali kalau itu adalah suara Tiara, suara cempreng dan nyaring tajam.
Pak Hendra yang saat itu sedang berolahraga melatih tubuhnya, terkejut ketika mendengar suara putrinya memanggil dirinya.
Namun, Pak Hendra lebih memilih untuk tidak menyahut karena ia tahu pasti Tiara hanya akan meributkan tentang perusahaan yang secara diam-diam telah ia serahkan kepada Saga. Bukan tanpa alasan Pak Hendra melakukan hal itu, dikarenakan Pak Hendra tahu mengenai kualitas visi dan misi yang diterapkan oleh Saga, selain cerdas dan penuh semangat kini Saga juga berusaha menjadi pribadi yang jujur, dan sopan. Untuk pembagian hasil pendapatan Pak Hendra akan membaginya dengan adil yaitu, lima puluh per lima puluh persen.
Pak Hendra tidak bisa menyerahkan aset perusahaan miliknya kepada Tiara, dikarenakan putrinya itu tidak bisa ditangguhkan. Setiap hari kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang saja.
Setiap kali dinasehati Tiara selalu saja membangkang. Ia lebih suka menuruti egonya sendiri. Apa yang telah menjadi keinginannya harus segera dilakukan.
"Papa ini bagaimana sih, mengapa harus Saga, Pa, mengapa bukan Tiara saja yang menjadi pemimpin di perusahaan kita!" Tiara kembali berteriak di depan Pak Hendra.
Akan tetapi seolah tidak mendengar Pak Hendra terus saja melanjutkan aktivitas nya berolahraga, dengan sesekali menghela nafas.
"Papa! Dengar Tiara?" karena tidak mendapat respon dari Pak Hendra, membuat Tiara bertambah kesal. Hingga membuat ia merajuk dan memutuskan untuk menunggu Ayahnya hingga selesai Berolahraga.
Sebenarnya hari telah sore, tetapi Pak Hendra selalu memanfaatkan setiap waktu senggangnya untuk berolahraga agar kesehatan jantungnya semakin membaik.
"Maumu apa Tiara?" tanya Pak Hendra saat ia telah selesai dan menatap putrinya dengan pandangan yang tajam.
"Aku hanya ingin hak aku di berikan kepada ku, seluruhnya!" jawab Tiara dengan nada suara yang tinggi.
"Hak? Kau meminta hak?" Pak Hendra tersenyum sinis.
"Apa kau sudah memenuhi kewajiban sebagai seorang anak? Hingga kau berani meminta hak itu!" sentak Pak Hendra yang mulai kesal kepada Tiara.
"Aku anak Papa, apa salah jika aku meminta hakku sebagai seorang anak?"
"Hak seorang anak hanya akan diberikan kepada anak yang memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak, bukan kepada anak yang suka membangkang dan selalu menghambur-hamburkan uang!" Pak Hendra menarik nafas lalu menghembuskan nya.
"Setidaknya kau contohlah Kakakmu, Alexa. Dia yang dibesarkan hanya di desa menjalani hidup pas-pasan, dan sekarang kau lihat sendiri kan, dia telah menjadi wanita karir bahkan sebagai CEO di perusahaan Eyang nya." lanjut Pak Hendra.
"Papa tidak usah membanding-bandingkan Aku dan Alexa, karena sesungguhnya level kami berbeda!"
"Ya, memang beda sekali, level Alexa putri pertamaku sangat jauh di atasmu!!" Pak Hendra yang sangat kesal berkata dengan penuh penekanan.
TRING.
TRING.
TRING.
Sebuah notifikasi message masuk di layar ponsel Pak Hendra.
"Astaga!" Pak Hendra menepuk jidatnya.
"Mengapa aku sampai lupa?" seraya bergegas masuk kedalam mansion meninggalkan Tiara yang sedang mendongkol.
Pak Hendra melupakan hari ini ia ada janji dengan Kakek Syarifuddin, yang mengundangnya untuk menghadiri acara tasyakuran aqiqah untuk Sakti. Yang akan dilaksanakan malam ini di pesantren.
Tanpa menunggu apapun lagi, Pak Hendra segera bersiap-siap lalu berangkat ke pesantren sebelum istrinya pulang dari acara sosialita.
*********************************************
Setibanya di pesantren ternyata di sana telah ada Alexa dan Septi dan juga Ricard yang sedang mengawasi Alexa agar tidak terlalu dekat dengan Saga.
Setelah kedatangan Pak Hendra acara pun segera dimulai, semua yang hadir mengikuti acara dengan penuh khidmat. Sakti pun merasa sangat bahagia, tidak henti-hentinya ia tersenyum.
"Mama!" panggil Sakti.
Namun tidak ada seorangpun yang menjawabnya, karena semua orang mengira Sakti hanya teringat kepada Tiara yang telah lama meninggalkannya.
Alexa yang saat itu duduk di samping Sakti, dengan lembut mengelus kepala bocah itu.
"Mama!" panggil Sakti sekali lagi dan kali ini ia menatap wajah Alexa dengan tersenyum.
Degh!
'Mengapa bocah ini memanggilku Mama?' pikir Alexa.
Alexa tidak berani berbicara, karena saat itu Kakek Syarifudin sebagai pemimpin acara sedang berdoa yang diaminkan oleh semua orang yang hadir terutama para santri.
Setelah pembacaan doa selesai Alexa dan Septi ikut serta membantu para santriwati yang bertugas membagikan kotak makanan kepada semua orang dan para santri yang lain, agar mereka bisa memakannya di tempat masing-masing.
Setelah acara selesai seluruh keluarga berkumpul diruang tamu, mereka saling bersenda gurau dengan penuh kehangatan.
Tiba-tiba saja Alexa meraih sesuatu yang disimpan di dalam tas kecil miliknya. Diary.
Ya, itu adalah buku diary milik Bu Rianti yang ditemukan oleh Alexa di mansion Eyangnya. Karena saat itu Alexa sedang menempati kamar Ibunya. Ia menemukan buku diary itu di dalam laci di sebelah ranjangnya.
"Ayah, maukah Ayah bercerita kepada ku?" tanya Alexa kepada Pak Hendra yang langsung mendapat tatapan intensitas dari Ayahnya.
"Bercerita tentang apa?" Pak Hendra balik bertanya.
"Kisah cinta Ayah dan Ibu," jawab Alexa penuh semangat. Seraya menyerahkan buku diary itu kepada Ayahnya.
"Hah? Kisah cinta?"
"Iya, Alexa yakin Ayah dan Ibu pasti memiliki kisah yang unik seputar perjalanan cinta kalian," ucap Alexa.
"Iya Om, ceritakanlah," Septi juga ikut memohon.
Akhirnya mau tidak mau Pak Hendra pun bercerita, beruntung saat itu Kakek Syarifudin telah pergi sejak tadi karena ingin memberikan wejangan kepada para santrinya. Dan, Saga pun ikut bersama dengan Kakek Syarifudin untuk sekalian belajar tentang ilmu agama agar menjadi orang yang lebih baik lagi.
Di ruangan itu hanya tinggallah Pak Hendra, Alexa, Septi dan Ricard. Mereka bertiga sedang menunggu Pak Hendra untuk bercerita.
"Dengarkan baik-baik," ucap Pak Hendra, memulai ceritanya. Ketiga anak muda itu mendengarkannya dengan seksama.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Malam ini langit kota jakarta tampak cerah bertabur bintang, dan semakin indah dengan hiasan cahaya rembulan yang temaram.
Tak segumpal pun mendung menghias di atas sana. Angin Malam pun terasa sejuk bertiup lembut penuh rasa. Seakan, alam pun ingin turut memberikan partisipasinya pada seseorang yang malam ini merayakan ulang tahun kelahirannya yang ke tujuh belas.
Malam ini adalah malam ulang tahun ke tujuh belas seorang gadis cantik putri bungsu seorang pejabat tinggi di wilayah DKI Jakarta yang bernama Lusi Wijaya.
Sebagai putri tunggal seorang pejabat dan Ibunya seorang pengusaha yang memiliki perusahaan bernama Beauty glow tentu saja di usianya yang ke tujuh belas, Lusi ingin hari kelahirannya dirayakan dengan meriah, karena usia tujuh belas bagi seorang gadis merupakan usia yang sedang ranum-ranumnya.
Sebab di usia itu seorang gadis tengah menuju kedewasaan dan kematangan dalam berpikir, itu sebabnya bagi seorang gadis usia tujuh belas merupakan momentum yang tidak boleh disia-siakan, dan karena itu pula, meski dari kecil tidak pernah berulang tahun, tetapi di usia tujuh belas orang gadis akan merayakannya.
Mansion Lusi yang terletak di kompleks perumahan elit tampak dihiasi oleh lampu-lampu hias yang indah yang berkelap-kelip.
Di teras rumah terpasang gabus berukuran setengah kali 2 meter, bertuliskan ucapan 'HAPPY BIRTHDAY 17' yang dibingkai dengan lampu-lampu kecil beraneka warna, yang menyala secara bergantian. Sehingga tampak depan itu bergerak memutari tulisan.
Begitu juga di ruang tamu dan ruang keluarga yang dibuka luas, telah terhias oleh dekorasi yang indah sebagai Putri Bungsu pejabat kaya yang terpandang, maka ulang tahunnya yang ke tujuh belas pun dibuat sangat meriah.
Semua teman sma-nya diundang bahkan beberapa orang teman smp-nya juga diundang salah seorang mantan teman smp-nya yang lelaki sendiri diundang ke pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas adalah Hendra Setiawan.
Hendra merupakan teman baik Lusi semasa SMP, Hendra bahkan sampai kini pun mereka masih berteman dengan baik, itu sebabnya walau sudah tidak satu sekolah lagi oleh Lusi, Hendra tetap diundang di pesta ulang tahun yang ke tujuh belasa itu.
Begitu banyaknya tamu yang datang sampai-sampai Lusi dan kedua orang tuanya sangat sibuk menyambut kedatangan dan menerima ucapan selamat dari mereka.
Sehingga Hendra pun bagai terabaikan. Maka agar supaya tidak tampak seperti orang udik yang bodoh, Hendra pun berusaha untuk menikmati suasana meriahnya pesta malam itu.
Namun, akhirnya dia jenuh juga, sehingga lelaki tampan berambut pendek itu pun mencari tempat yang agak sepi untuk kemudian berdiam menyendiri
Hendra tengah berdiri mematung sembari menikmati minuman yang baru saja diambil, ketika seorang gadis cantik melangkah dengan pandangan agak melayang menuju ke arahnya.
Hendra yang tengah termenung, juga tak menyadari dari arah berlawanan seorang gadis menuju ke arahnya. Sehingga tabrakan di antara keduanya pun terjadi. Minuman yang ada di dalam gelas yang dipegang oleh Hendra, seketika tumpah membasahi dada sebelah kiri baju pemuda itu.
"Aw! M-maaf aku tidak sengaja, " ucap gadis Jelita itu dengan wajah menunjukkan rasa penyesalan.
Matanya memandangi Hendra dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. pemuda tampan itu pun membalas memandang sehingga untuk beberapa saat lamanya, keduanya saling berpandangan saat itu,
Hendra merasakan ada sebuah getaran aneh di hatinya begitu juga halnya dengan gadis cantik itu. Dia pun merasakan debaran aneh yang tiba-tiba menyentuh jantung hatinya, begitu matanya berkepala dengan mata Hendra sehingga untuk beberapa saat lamanya, keduanya sama-sama terdiam dengan mata saling
tatap satu sama lain.
"M-Maafkan Aku, " ucap Gadis itu lagi dengan suara agak terbata.
" Tidak apa-apa,"
"Pakaianmu Jadi kotor gara-gara aku, " ucap gadis Jelita itu dengan wajah masih tetap menunjukkan rasa penyesalan dan bersalah.
Bahkan sebagai wujud nyata rasa penyesalannya, gadis itu mengeluarkan sapu tangannya dan mengusapkan sapu tangan itu ke dada cowok tampan itu, di mana pakainya basah tersiram oleh air minuman
"Sudahlah, tidak usah repot-repot, " kata pemuda itu berusaha melarang.
Namun, gadis itu tetap saja melakukannya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa aku telah berlaku salah, maka sudah sepantasnya aku melakukannya," ucap kau di situ dengan bibir tersenyum menawan, yang semakin membuatnya tampak bertambah mempesona.
Sambil mengelap baju di bagian dada, Hendra yang basah dengan sapu tangannya, mata Gadis itu memandang wajah tampan Hendra yang juga memandang ke arahnya. Sehingga keduanya pun Saling pandang untuk kemudian sama-sama tersenyum.
"Maaf, boleh aku tahu siapa namamu? "tanya Hendra.
"Riyanti Wijaya, namamu siapa?" balas Hendra memperkenalkan namanya.
Keduanya kemudian bersalaman.
"Oh ya, tentunya kamu teman semasa smp-nya Lusi," terka Riyanti.
"Begitulah, lebih tepatnya aku adalah Kakak kelasnya,"
"Dan tentunya teman istimewa."
"Kenapa kamu beranggapan begitu? " tanya Hendra dengan kening mengerut dan mata memandang dekat ke wajah Rianti.
"Ya, karena teman semasa SMP Lusi yang diundang di pesta ulang tahunnya tidak banyak. Dan satu-satunya teman lelaki semasa smp-nya adalah kamu."
"Tidak juga. Aku dan Lusi hanya sahabat biasa. Tidak ada yang istimewa di antara kami,"jawab Hendra simbol tersenyum, berusaha meyakinkan Rianti kalau apa yang dikatakannya itu benar dan sesungguhnya.