Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 48


"Mmmm… Mmmm.. Mmmm!" Sebuah suara seperti orang yang ingin berteriak, tetapi tertahan.


Richard mengerutkan keningnya mencoba mengenali suara apa itu. Kemudian ia memberikan ponselnya kepada Saga agar bisa memprediksi suara apakah itu. Dikarenakan Richard tidak begitu jelly jika harus mengenali suara yang menurutnya aneh.


Saga meraih ponsel yang diberikan Richard kepadanya, ia menempelkan ponsel itu di telinganya. Saga mengerutkan dahi tiba-tiba saja ia merasakan jantungnya berdegup kencang.


'Ada apa ini? Mengapa aku seperti mengenal suara itu, suara siapakah itu?' Batin Saga.


Jantungnya terasa berdebar-debar, suatu debaran yang telah lama tidak ia rasakan. Tiba-tiba Saga mengingat sesuatu, membuat Saga tanpa sadar mengucapkan sebuah nama, "Alexa,"


Sontak membuat Ricard menatapnya dengan kedua mata terbelalak.


"Apa kau bilang? Alexa, itu suara Alexa? Ya Tuhan, dimana dia sekarang?" Richard panik.


Sebenarnya Saga ingin mengatakan kalau itu adalah suara Alexa mantan istrinya, tetapi ia urungkan, menurutnya bisa saja itu suara orang lain dan Alexa yang ia kenal mana mungkin bisa sampai ke Dubai. Mungkin benar itu suara Alexa calon tunangannya Ricard.


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria tertawa terbahak-bahak, pria itu menutup ponselnya dengan menggunakan sapu tangan, membuat suaranya tersamarkan. Saga pun tidak mengenali suara itu.


"Hallo! Siapa disana?" Saga terlihat cemas, karena tidak lagi mendengar suara wanita tadi yang ia kenal dengan suara Alexa.


"Hahaha… . Hahaha… . Hahaha…!" Suara pria di seberang terdengar sangat keras.


Kemudian, pria itu berkata setelah puas tertawa.


"Kalian ingin wanita bernama Alexa ini selamat?" Suaranya terdengar berat.


"Anda siapa?" tanya Ricard setelah mengambil alih kembali ponselnya. Ternyata benar, Alexa di culik.


"Kalian tidak perlu tahu aku siapa, jawab iya atau tidak!" Suara itu terdengar membentak.


"Tentu saja, kami menginginkan dia selamat dan tidak terluka sedikitpun.!" Ricard menjawabnya dengan tegas.


"Kalau begitu jangan pernah lapor polisi, atau kalau tidak nyawa wanita ini akan terpisah dari jasadnya, hahahaha… .. hahahaha… !"


"Jangan! Jangan lakukan apapun kepadanya, baik, kami tidak akan pernah melapor kepada polisi, asal dia tetap selamat," Ricard memohon.


"Bagus! Kalau begitu tunggu Instruksi selanjutnya!"


TUUT. TUUT. TUUT.


Panggilan ditutup.


"Hallo… Hallo… !" Ricard masih ingin bicara, tetapi pria itu telah memutuskan sambungannya.


"Sekarang kita harus apa?" Ricard meminta pendapat Saga sebagai sahabatnya.


"Kita tunggu dulu instruksi selanjutnya," jawab Saga. Ia juga merasa sangat gelisah, suatu perasaan yang ia sendiri tidak bisa mengartikannya.


**********************************************


Alexa sedang meronta-ronta di sebuah ruangan yang cukup gelap, tidak ada udara segar yang bisa dihirup untuk bernapas, yang ada hanyalah udara pengap yang tidak nyaman sama sekali untuk bernafas.


Di sekelilingnya sunyi dan sepi.


SREET. SREET. SREET.


Terdengar suara langkah kaki yang diseret, kemudian suara nafas yang memburu seperti sedang ngos-ngosan. Membuat Alexa sedikit merinding.


"Kasihan, ada teman baru, mengapa kau sampai disini?" Sepertinya suara seorang wanita yang sudah tua.


"A-aku diculik, bisa tolong lepaskan tangan dan kakiku? Sakit sekali."


Suara langkah wanita itu terdengar mendekat, kemudian ia menyalakan sebuah senter untuk meneranginya. Terlihat lah sesosok tubuh seorang wanita tua yang sangat kurus, urat-urat di tangannya terlihat menonjol karena tidak ada daging yang melapisinya. Sepertinya wanita ini adalah tawanan yang cukup lama,kedua tangannya gemetar melepaskan ikatan ditangan dan kaki Alexa.


"Terimakasih," ucap Alexa setelah tangan dan kakinya terlepas dari jeratan tali itu.


"Siapa kau? tanya wanita itu menatap Alexa tanpa berkedip.


"Aku Alexa, aku diculik oleh teman kuliah ku sendiri, entah siapa yang membawaku kemari, karena tadinya aku disekap di sebuah gudang." Papar Alexa.


"Kau siapa? Sepertinya kau telah lama disini." Melihat dari penampilan wanita itu yang sangat lusuh, Alexa mengira wanita itu adalah tawanan lama.


"Aku Lalika, mungkin bagi keluargaku, Aku telah tiada karena telah bertahun-tahun Aku disekap disini," jawab wanita itu dengan tersenyum membuat Alexa mengingat sesuatu.


"Apa kau Ibu Lalika Ibu tirinya Saga Hawiranata Kusuma?" Alexa ingin memastikan.


"Ya, benar." Jawab Ibu Lalika. Kemudian ia bertanya, "Dari mana kau tahu?"


"Aku mantan istrinya Saga," jawab Alexa sejujurnya.


"Istrinya Saga, jadi kau itu menantuku?" Ibu Lalika kembali tersenyum. Sebuah senyuman indah di bibirnya yang pucat.


"Iya, tapi itu dulu, sekarang kami telah bercerai." Raut wajah Alexa tiba-tiba saja berubah sedih, mengingat perceraiannya dengan Saga.


"Mengapa kau sampai disekap? Apa masalahmu dengan mereka?"


"Sama sepertimu, aku juga tidak tahu mengapa aku di sekap." Jawab Ibu Lalika dengan tersenyum.


'Berarti dia ibu kandungnya Rian, dia tak pasti sedih jika tahu putranya sendiri yang telah menculikku dan membuat ku berada disini, apakah yang menculik ibu ini juga Rian?" Batin Alexa menduga-duga. Namun, ia memilih untuk merahasiakan hal itu dari Ibu Lalika, karena Alexa tahu, pastinya Ibu Lalika akan sangat sedih jika mengetahui putranya seorang kriminal.


"Bagaimana keadaan putraku Rian, apakah dia masih tetap tinggal bersama keluarga Kusuma?" Ibu Lalika bertanya karena ia ingin mengetahui tentang kabar putranya.


"Ya, Rian baik-baik saja, bahkan dia kuliah di Dubai." jawab Alexa,ia hanya ingin memberikan informasi yang menyenangkan saja, karena Alexa tahu tentunya Ibu Lalika telah banyak menderita selama ini. Mungkin dengan adanya berita tentang Rian akan membuat penderitaannya sedikit berkurang.


"Rupanya dia benar-benar menepati janjinya," gumam Ibu Lalika dengan pandangan lurus kedepan.


"Janji? Janji apa?" Alexa penasaran.


"Raisya, dia yang berjanji akan merawat dan membesarkan Rian dan memberikan sepertiga dari harta suamiku, asalkan aku bersedia pergi dari mansion itu. Tapi ternyata dia dan suaminya malah menjadikan aku tawanan di sini." Jelas Bu Lalika.


"Karena dia juga aku diceraikan oleh Saga, dia menuduhku telah membunuh Oma, padahal sama sekali aku tidak melakukan itu."


"Kisah kita sama menjadi korban dari wanita itu. Besar kemungkinan dia juga yang membuat mu sampai disini." Bu Lalika menghela nafas dalam-dalam, kemudian berkata kembali.


"Jadi, Ibu mertuaku yang baik hati telah tiada, dia juga terkena hasutan Raisya dan mengusir ku dari mansion itu, demi masa depan Rian aku rela di usir dan menuruti permintaan Raisya," tutur Bu Lalika mengenang masa lalunya yang pahit.


"Tapi, justru aku yang menemukan Rian tidak sengaja terserempet mobilku waktu itu, kemudian bertemu Saga, dan memintanya untuk tinggal bersama." Alexa merasa adanya suatu kejanggalan pada kisah yang di ceritakan oleh Bu Lalika.


Dan, itu membuat Bu Lalika terkejut karena tidak sesuai dengan perjanjiannya dengan Raisya.


"Ternyata dia menipuku, dia pendusta! Aku yakin Saga tidak pernah tahu akan hal ini." geram Bu Lalika dengan penuh amarah, wajahnya yang sejak tadi terlihat pucat dan santai, kini memerah karena kemarahan.