Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 118


Tujuh bulan kemudian.


Semenjak kepulangan Saga, Kondisi Alexa semakin membaik. Tubuhnya yang kurus kini mulai berisi kembali, ditambah dengan usia kandungan nya yang semakin membesar membuat perutnya semakin membuncit.


Saga semakin menyayangi Alexa, sampai saat ini pun, ia masih setia menemani di setiap hari istrinya. Sehingga ia lepaskan semua urusan bisnisnya sampai Alexa melahirkan.


"Sayang, Papa berjanji akan selalu ada untukmu," ucap Saga.


Saat itu ia dan Alexa sedang berada di taman di dekat pesantren, agar istrinya tidak merasa jenuh Saga mengajaknya berkeliling taman. Tentunya dengan menggunakan kursi roda, dikarenakan Alexa dilarang keras untuk berdiri apalagi sampai berjalan.


Mengingat usia kandungannya yang semakin tua membuat Saga selalu siap siaga saat istrinya membutuhkan pertolongan.


Saga berjongkok di depan Alexa, mengelus perut istrinya dengan lembut.


"Sayang, Papa senang jika kau sehat disana, baik-baik ya sayang, hingga nanti kau dilahirkan," bisik Saga seraya mencium perut istrinya.


"Sayang, sudahlah hentikan," pinta Alexa.


"Kenapa?" Saga mengerutkan kening menatap istrinya.


"Aku malu dilihat orang." Alexa mengelilingkan pandangannya ke sekitar.


Benar saja, tampak beberapa orang sedang memperhatikan mereka dengan sesekali tersenyum.


"Kenapa harus malu? Kita kan suami-istri."


Sontak jawaban Saga membuat Alexa menitikkan air mata, perlahan bulir-bulir bening mulai menetes dari kelopak matanya.


"Kenapa menangis?" tanya Saga merasa heran.


"Apakah aku ada salah?"


Alexa menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak bersalah, sebagai suami kau telah memenuhi setiap kewajiban dan tanggung jawabmu, tapi aku–"


Alexa menundukkan kepalanya.


"Aku belum bisa menjadi istri yang baik, istri yang memenuhi setiap kewajibannya. Aku hanya bisa merepotkan dirimu saja," resah Alexa.


Alexa bisa merasakan apa sebenarnya yang diinginkan oleh suaminya. Akan tetapi, dikarenakan kondisinya yang harus benar-benar dijaga membuat Saga harus menahan segala rasa yang ingin sekali ia tuntaskan. Dan Alexa merasa tidak berdaya saat itu.


"Ingat kata Dokter Sari, kesehatanmu lebih penting dari apapun yang ada di dunia ini,


Karena di dalam dirimu yang sakit, sebenarnya kau sedang berjuang untuk mempertahankan sebuah kehidupan, dan itu lebih berarti dari segalanya, jangankan hanya menahan rasa ini, nyawaku pun aku relakan asal kau dan bayi kita sehat-sehat saja." Saga meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Aku bersyukur memiliki suami yang penyayang dan penuh kasih seperti dirimu," ucap Alexa seraya membelai lembut kepala suaminya.


Hanya itu yang bisa mereka lakukan, untuk menyalurkan rasa cinta di hati mereka.


Sementara di kejauhan tampak Sakti dan Tiara sedang bermain di taman itu juga, mereka tampak bahagia berlari kesana dan kemari sambil sesekali menangkap kupu-kupu yang hinggap di tangkai bunga.


Tanpa mereka ketahui seseorang sedang memperhatikan mereka berdua dengan sebuah senyuman yang terukir di bibirnya.


Rian, ya orang itu adalah Rian yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Seandainya saja aku bisa bersama dengan kalian, bermain dan bergurau bersama, pasti aku akan menjadi orang yang paling bahagia didunia ini," gumam Rian.


"Lihatlah mereka sayang!" seru Alexa dengan suara rendah. Telunjuknya tertuju lurus kedepan.


Sontak Saga mengangkat kepalanya dan mengikuti arah telunjuk istrinya. Tampaklah olehnya tiga orang di depan matanya agak jauh dari tempat ia duduk.


"Sepertinya Rian masih sangat mencintai Tiara," ujar Saga.


"Ya, itu benar suamiku, maukah kau menyatukan mereka kembali?" pinta Alexa penuh harap.


"Apakah Tiara masih mencintai Rian?" Saga berbalik bertanya.


"Ya, Tiara pernah bercerita kepadaku kalau sekali saja Rian menyatakan perasaannya, maka Tiara pasti akan menerimanya" jawab Alexa.


Masih teringat jelas di benaknya beberapa waktu yang lalu. Ia sedang berdua saja bersama dengan Tiara.


Air mata Tiara sempat menetes ketika ia melihat Rian sedang bersama dengan santri yang lain.


"Ada apa Tiara? Mengapa kau menangis?" tanya Alexa ketika melihat adiknya menangis.


"Tidak kakak, tidak apa-apa," jawab Alexa dengan mengusap air matanya.


"Mengapa kau memandangi Rian seperti itu, apa kau masih ada perasaan kepada nya?" Alexa bertanya mengintimidasi.


Tiara tertunduk, kemudian dengan lirih ia berkata, "Ya, aku masih sangat mencintainya, rasa ini masih sama seperti dulu, tapi… apakah dia juga memiliki rasa yang sama seperti ku?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu," sahut Alexa.


Dan kini ia menjadi sangat yakin, jika Rian masih memiliki perasaan yang sama dengan Tiara.


Lalu Saga mulai melangkahkan kakinya menghampiri Rian.


"Sedang apa kau disini?" tanya Saga membuka percakapan.


"Ini, anu… e… anu… kak," Rian yang merasa terkejut dengan kedatangan Saga menjadi gugup.


"Sudahlah, katakan saja kalau kau sedang mengintip wanita cantik itu," tukas Saga seraya melirik ke arah Tiara, bermaksud menggoda Rian.


Saat ini wajah Rian telah bersemu merah, karena Saga mampu mengetahui apa yang sedang ia lakukan sebenarnya.


"Ah, kakak bisa saja." Kini jelas terlihat wajah Rian yang memerah karena merasa malu.


"Katakan, kau masih mencintai Tiara kan?" Saga bertanya dengan lebih serius.


Sejenak Rian membalas menatap wajah Saga, kemudian ia menganggukkan kepala.


"Iya kak, aku masih sangat mencintainya, tapi–"


"Tapi apa?"


"Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan diriku? Aku takut dia telah memiliki orang lain di dalam hatinya." Rian menundukkan kepala seperti sedang berputus asa.


"Yakinlah hatinya masih untukmu!" Saga berusaha meyakinkan.


"Benarkah?"


"Butuh bukti?"


"Maksudnya?"


Saga berbisik ditelinga Rian, tak lama kemudian Rian tersenyum mendengar ide yang dikatakan kakaknya itu.


"Apa kakak yakin ini akan berhasil?" Rian merasa ragu.


"Yakin, seribu persen!"


"Baiklah, lakukan saja."


Sesuai apa yang telah dikatakan oleh Saga, saat itu juga Rian berlari dan berguling-guling dari ketinggian, dengan mencipratkan obat merah pada dada dan punggungnya. Alexa yang menyaksikan semua itu, tertawa geli melihat kelakuan suami dan adik iparnya yang konyol.


Rian berhenti berguling-guling tepat di depan kaki Tiara yang sedang asyik bermain menemani Sakti.


Sontak melihat apa yang terjadi di depan matanya membuat Tiara berteriak histeris. Ketika melihat Rian terkapar tidak berdaya dengan tubuh berlumuran darah.


"Rian…!" teriak Tiara dengan melengking keras.


Secara spontan Tiara langsung terjatuh di samping Rian, tubuhnya gemetar melihat orang yang sangat dicintai oleh nya tengah berlumuran darah saat ini.


"Rian, bangun Rian, buka matamu!" teriak Tiara seraya meraih kepala Rian kemudian memeluknya. Membuat Rian sedikit kerepotan menahan nafasnya.


"Mama, Om Rian kenapa?" tanya Sakti yang terlihat bingung.


"Sakti jangan panggil dia Om, karena dia Papamu, dia Ayah kandungmu!" tanpa terasa Tiara mengatakan hal itu dengan suaranya yang sedikit keras.


"Papa–"


"Rian, bangunlah sayang, bangunlah demi diriku yang mencintaimu." Tiara tetap memeluk kepala Rian dengan memejamkan kedua matanya. Sakti pun ikut menangis di sampingnya.


Namun, insiden itu segera berhenti ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara.


"Benarkah kau masih mencintaiku?"


Sontak membuat Tiara membuka kedua matanya, dan tampak olehnya sepasang mata juga membalas menatap kedua matanya.


"Rian, kau–"


"Benarkah yang aku dengar?" Rian bangkit dari tempatnya kemudian duduk di samping Tiara yang masih terlihat bingung.


Tiara tertunduk malu, kemudian memukul dada Rian dengan kedua tangannya. Namun, bukan dengan pukulan yang keras, melainkan pukulan yang terasa lembut dan menyenangkan bagi Rian.


"Benarkah kau masih mencintaiku? Apakah rasa itu masih sama seperti dulu?"


Perlahan dan dengan malu-malu Tiara menganggukkan kepalanya dengan sebuah senyuman manis yang terbit di bibirnya.


"Ya, aku mencintaimu."


Sontak keduanya saling berpelukan, seolah melupakan Sakti yang juga berada disana bersama mereka.


"Kalian melupakan diriku?" bocah itu berkacak pinggang menatap kedua orang tuanya yang masih saling berpelukan.


Sontak membuat Rian maupun Tiara saling melerai pelukannya.


Sakti adalah anak yang cerdas, bahkan ia meminta penjelasan saat itu juga atas apa yang telah Tiara katakan kepadanya. Dan berhasil membuat Tiara maupun Rian harus kerepotan menjawab semua pertanyaan dari bocah itu.