Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 81


Alexa membuka rantang makanan yang dibawanya, ia sengaja membeli makanan itu hanya untuk Saga seorang. Walaupun sebelumnya ia harus berdebat terlebih dahulu dengan Ricard yang tidak mau ia tinggalkan begitu saja. 


Namun, karena beberapa alasan hingga membuat Ricard terpaksa mengizinkannya. Sebenarnya Ricard ingin mengantarkan Alexa, tetapi Alexa segera menolak dengan mengatakan Septi akan telat kembali ke kantor, padahal ia harus menyelesaikan beberapa desain hari ini. 


Dan, itu membuat Ricard tidak bisa berkutik selain mengizinkan Alexa pergi dengan alasan ia ingin mengikuti acara lelang hari ini. 


"Mengapa kau sampai rela melakukan semua ini? Bagaimana jika Ricard tahu dan marah padamu?" tanya Saga terlihat khawatir. 


"Jawabannya karena dirimu," Alexa menjawab dengan menatap wajah Saga serta seraya memancarkan senyum manis di bibirnya. 


Mendengar jawaban dari Alexa membuat Saga merasa senang bukan main, ia tidak pernah menyangka wanita yang dulunya sangat polos kini telah jauh berubah, bahkan berani merayu dirinya. 


"Sebenarnya ada satu hal yang lebih penting yang ingin aku sampaikan kepadamu," ucap Alexa dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah lebih serius. 


"Apa?" melihat Alexa serius, maka Saga pun ikut serius. 


"Aku melihat berita di internet, mansion dan perusahaanmu akan di lelang hari ini," 


"Dilelang?" 


"Ya, ini kesempatanmu untuk mendapatkan kembali mansion dan perusahaan itu." ucap Alexa. 


"Tapi–, dari mana aku bisa mendapatkan uang?" Saga bingung karena pada saat itu ia tidak memiliki banyak uang. 


"Uang tabungan mu?" 


"Ada tapi sedikit," jawab Saga dengan jujur. 


"Tidak apa-apa kita coba dulu," ucap Alexa. 


"Nanti kalau kurang kau bisa pakai uangku dulu," lanjutnya lagi. 


"Tidak, aku tidak ingin merepotkan dirimu sudah cukup selama ini aku membuatmu resah," Saga menolak bantuan dari Alexa. 


Alexa tampak sedang berpikir. 


"Baiklah, tapi sekarang kau makan dulu, perutmu itu sudah minta diisi," Alexa melirik kearah perut Saga yang telah keroncongan. 


"Tapi, maaf makanan ini aku beli di resto," ucap Alexa lagi.


"Tidak apa-apa, lain kali masakkan makanan khusus untukku," Seloroh Saga menggoda Alexa. 


Ya, memang dalam urusan masak-memasak Alexa termasuk jagonya.


"Aaaa," Saga ingin menyuapi Alexa. 


"Tidak, aku sudah kenyang," tolak ALexa. 


"Sesuap saja, please!" Saga membujuk Alexa, dan mau tidak mau Alexa harus membuka mulutnya. 


"Bagaimana?" tanya Saga ketika Alexa telah mengunyah makanannya. 


"Hm, enak juga," jawab Alexa setelah menelan makanan itu. 


"Eh, harusnya aku suapin kamu, kan Aku beli makanan ini untukmu!" Alexa pun menyuapi Saga dan dengan senang hati Saga membuka mulutnya. 


"Sekarang giliranmu!" Saga mengambil alih sendok yang dipegang oleh Alexa, kemudian menyuapi wanita itu dengan sangat romantis. 


Dan pada akhirnya, Alexa yang sebelumnya menolak di suapi Saga, kini mereka makan berdua saling menyuapi secara bergantian. Sungguh sebuah insiden romantis yang akan membuat siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iri. 


Tidak sampai lima menit Saga telah selesai makan, Alexa merapikan kembali rantang makanan itu. 


"Lihatlah, aku ikut makan juga kan jadinya," ucap Alexa ketika suapan terakhir di habiskan oleh Saga. 


"Kalau tidak begitu kapan lagi kita akan makan bersama, jarang-jarang momen seperti ini bisa kita nikmati berdua." sahut Saga dengan senyum puas di bibirnya. 


Saga kembali menatap wajah Alexa, seakan ia ingin melukiskan sketsa wajah wanita cantik itu di dalam ingatannya. 


"Eh, apa nih?" Saga menjulurkan tangannya ke arah bibir Alexa yang terdapat sebuah butir nasi disana. 


Sedangkan Alexa hanya diam saja menikmati sentuhan lembut dari Pria itu. Saga semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alexa, tak dapat dielakkan lagi Saga merasakan sebuah hasrat yang ingin ia salurkan terhadap Alexa, entah mengapa ia tidak bisa menahan diri ketika berdekatan dengan Alexa. 


Merasa ada gelagat aneh dari Saga, membuat Alexa menyadari kalau pria itu akan melakukan sesuatu kepadanya, sontak Alexa segera berdiri untuk menghindari perbuatan Saga yang tidak mungkin bisa dihentikan. 


"A–aku akan ke toilet dulu," ucap Alexa dengan segera bergegas. 


Saga tidak menjawab perkataan Alexa, karena ia yakin kalau wanita itu sengaja ingin menghindarinya. Ia hanya menatap Alexa seraya menggelengkan kepalanya. 


'Tahu saja dia apa yang akan kulakukan." pikir Saga kemudian tersenyum menyadari tingkahnya yang selalu menginginkan Alexa. 


Di Dalam toilet Alexa hanya berdiri mematung menghadap ke cermin, air kran ia biarkan mengalir begitu saja. 


"Ya Tuhan, jangan biarkan aku terjerumus lagi ke dalam tatapan matanya yang menggairahkan." Alexa menarik nafas perlahan lalu menghembuskan nya kembali. 


"Alexa! Belum selesai?" terdengar suara Saga dari luar, dan membuat Alexa terkejut. 


"Iya, sudah kok!" jawab Alexa yang kemudian mematikan air kran lalu beranjak keluar dari dalam toilet. 


Saga berpura-pura tidak melihat ke arah Alexa, karena ia tahu wanita itu sedang merasa dirinya canggung saat ini. Saga lebih memilih memainkan ponselnya, dan menurutnya itu adalah cara yang efektif untuk mengurangi kecanggungan pada Alexa, karena ia tidak akan merasa dirinya diperhatikan. 


"Ayo! Kita harus segera pergi ke tempat pelelangan itu!" seru Alexa seraya mengambil tas kecilnya di atas meja kerja Saga. 


"Ayo!" sahut Saga kemudian melangkah mengejar Alexa yang telah pergi terlebih dahulu.


Bukan tanpa alasan Alexa melakukan hal itu, hanya saja ia tidak ingin Saga akan tetap pada keinginannya. Jadi, pergi lebih dulu lebih baik baginya daripada harus menunggu pergi bersama yang pada akhirnya akan di luluhkan oleh Saga. 


Di tempat pelelangan. 


Saga dan Alexa sedang mencari kursi untuk mereka duduk, tepat di barisan ketiga mereka menemukan dua buah kursi kosong. Mereka pun pergi menghampiri kursi itu, kemudian duduk disana. 


Suasana sangat ramai semua orang tengah membicarakan perihal barang yang akan dilelang. 


"Aku harus memenangkan pelelangan ini, bukan cuma mansion mewah yang akan aku dapat, tapi juga aset perusahaan besar, yang tentunya akan menguntungkan diriku." ujar sakh seorang dari mereka. 


"Ya, kamu benar aku juga berharap semoga nanti aku pemenangnya, nanti kita bisa bagi dua," sahut yang lain. 


"Sungguh sangat disayangkan, tuan Saga si pengusaha terkenal itu, bisa-bisanya dia menjual semua aset perusahaan dan mansion mewahnya," dengan tersenyum sinis. 


Beruntung saat itu Alexa maupun Saga sama-sama menggunakan masker untuk menutupi wajah mereka. Namun, mereka mendengar semua isi percakapan orang-orang di sekitar mereka. 


"Tapi, yang aku dengar bukan tuan Saga yang menjual semua itu, tapi kakaknya." sahut yang lainnya lagi. 


Memang benar desas-desus tentang hal itu telah mendunia, semua orang telah mengetahui tentang adanya berita itu. Saga hanya menghela nafas mendengar semua percakapan di antara orang-orang itu. 


Alexa menggenggam erat tangan Saga, berusaha menyalurkan kekuatan untuk tetap bersabar, dan tidak terbawa emosi. 


Tak lama kemudian seorang wanita berpenampilan seksi dengan kaos atasan yang ketat dan rok span setinggi paha serta dilengkapi dengan sepatu heels yang tinggi berwarna merah menyala. 


Wanita itu berjalan menaiki panggung yang telah disediakan khusus pelelangan. Kemudian seorang MC atau pemandu lelang mengumumkan melalui pengeras suara. 


"Perhatian-perhatian kepada seluruh peserta lelang harap tenang, karena acara pelelangan eksklusif akan segera dimulai." 


Seluruh peserta lelang terdiam, suasana menjadi hening seketika. Hanya suara nafas mereka yang terdengar naik turun karena memikirkan harga lelang itu. 


"Lelang pertama adalah aset perusahaan lengkap dengan mansion nya, ini adalah lelang eksklusif, harga tertinggi akan menjadi pemenangnya!" suara pemandu lelang memenuhi seluruh ruangan. 


"Lima puluh miliar!" 


"Seratus miliar!" 


Suara para peserta menawarkan harga, namun belum ada yang memuaskan. Semua masih di bawah rata-rata. 


"Ada yang lain? sangat disayangkan jika aset lelang ini tidak jatuh ke tangan Anda!" suara pemandu kembali terdengar. 


"Lima ratus Miliar!"


"Satu Triliun!"


Suasana kembali tenang, seluruh peserta lelang terdiam. Seolah tidak ada lagi yang berani memberikan harga yang pantas untuk aset pelelangan itu. 


"Alexa kita pergi saja, harganya cukup mahal, uang tabunganku tidak akan cukup membayarnya!" Saga mengajak Alexa pergi dari tempat itu dengan suaranya yang setengah berbisik. 


"Dimana Saga yang dulu kukenal? Dimana Saga yang pantang menyerah?" ucap Alexa dengan berbisik pula. 


"Saga yang dulu masih disini, tapi level dompetnya yang berbeda," jawab Saga yang membuat Alexa terkekeh. 


Memang, seseorang akan lebih berkuasa


Jika ia memiliki suatu kemampuan atau biasa disebut skill dalam suatu bidang, yang juga didukung oleh adanya peran rupiah yang juga memiliki posisi tidak kalah pentingnya. 


"Tidak ada yang sanggup lagi, hanya sampai pada satu Triliun?" suara pemandu lelang. 


Seorang wanita cantik yang bertugas memegang Aset lelang itu berjalan kesana kemari dengan membawa kotak besar berisi aset perusahaan dan sertifikat mansion, ia memamerkannya di depan para peserta lelang. 


"Baiklah, kalau memang tidak ada lagi yang bisa memberikan harga yang pantas, maka sayang sekali aset lelang ini tidak bisa Anda miliki!" seru pemandu lelang ketika melihat para peserta tetap diam tidak bergeming. 


Mendengar perkataan pemandu lelang, Alexa segera mengangkat tangannya kemudian berkata dengan tegas, "Lima ratus triliun." 


"Alexa, jangan konyol kau bisa dirugikan," bisik Saga kepada Alexa.


Sontak membuat para peserta memandang ke arahnya. Mereka berdecak kagum mendengar penawaran Alexa yang terbilang sangat tinggi. Hingga membuat yang lain merasa minder, tidak ada satupun diantara mereka yang mampu memberikan harga di atas yang Alexa sebutkan. 


"Oke, Lima ratus triliun, ada lagi?"


Suasana hening, tidak seorangpun yang berani menandingi harga yang diberikan oleh Alexa. 


"Jadi, harga terakhir adalah Lima ratus triliun, baiklah, jika tidak ada lagi yang berani memberikan harga yang lebih tinggi, maka harga Lima ratus triliun akan menjadi pemenangnya!" 


Suara tepuk tangan riuh rendah meramaikan suasana. Alexa tersenyum dengan tetap memakai makernya. Dari awal Alexa bertekad akan membantu Saga mendapatkan aset perusahaan dan mansion nya kembali. 


Walau bagaimanapun, semua itu adalah hasil dari kerja keras Saga selama ini, lagi pula di mansion mewah itu, tersimpan begitu banyak kenangan di dalamnya. Kenangan antara dirinya dan Saga, itu membuat Alexa tidak rela jika semua itu harus jatuh ke tangan orang lain. 


Alexa pun berjalan menaiki panggung setelah dipanggil oleh sang pemandu lelang. Kemudian ia mulai menandatangani beberapa berkas penyerahan setelah berhasil mentransfer sejumlah uang di rekening pemilik lelang itu. 


Sementara  Saga menatapnya dari kejauhan, ia merasa sangat bangga kepada Alexa yang telah banyak berubah menjadi wanita karir. Padahal dulu siapalah Alexa, yang hanya gadis desa tanpa memiliki kemampuan apapun. 


"Nona, biarkan kami mengenal Anda lebih jelas dengan membuka masker di wajah Anda nona," ucap Pemandu lelang. 


Alexa mengangguk seraya melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya. 


Sontak membuat para peserta terlebih pemandu lelang berdecak kagum memuji kecantikannya dan juga identitas dirinya yang telah banyak dikenal di kalangan para pebisnis. 


"Wah, pantas Anda berani membayar mahal aset lelang itu, rupanya Nona Alexa orangnya!" ucap pemandu lelang mengagumi Alexa. 


"Terimakasih untuk semuanya, Saya undur diri," ucap Alexa lalu menuruni panggung dengan membawa aset lelang ditangannya. 


Sebuah senyum puas terukir di bibirnya yang seksi. Dengan pandangan hanya tertuju kepada Saga yang juga membalas memandangnya.