
Tiara tersenyum melihat Putra kesayangannya tidak lagi menangis karena kelaparan, mungkin rasa lapar di dalam perutnya sendiri bisa Tiara tahan, akan tetapi tidak untuk putranya, ia akan merasa sangat menderita jika melihat putranya menangis karena rasa lapar.
"Sakti udah kenyang Ma, sekarang Sakti Mau tidur dulu nanti kalau Papa pulang bangunin Sakti ya Ma" ucap Sakti setelah merasakan lapar di dalam perutnya telah hilang dan kini ia pun merasa kenyang.
"Iya, sekarang Sakti tidur dulu nanti mama bangunin kalau Papa sudah pulang," sahut Tiara mengiakan permintaan putranya.
Walaupun dirinya merasa sangat gelisah. Namun, Tiara tetap berusaha untuk tegar karena ia tidak ingin Sakti melihat kegelisahan di dalam dirinya.
Tiara mengelus rambut putranya yang telah tertidur pulas di pangkuannya, Tiara berusaha memahami situasi saat itu akan tetapi seberapapun ia berusaha Tiara tidak pernah bisa mengerti akan rencana Raisya.
"Rian, kapan kau pulang? Kak Raisya menyandera kami cepatlah pulang selamatkan kami," gumam Tiara mengingat kekasihnya yang jauh di Dubai.
Ingin sekali Tiara menghubungi Rian untuk berkeluh kesah tentang situasinya saat itu akan tetapi, Raisya telah mengambil ponselnya sebelum mereka tiba di tempat itu. Tempat yang sangat terpencil dan tersembunyi jauh dari pemukiman para penduduk.
Hal itu sengaja dilakukan oleh Raisya untuk menghindari Saga, karena walau bagaimanapun Saga akan terus berusaha mencari dirinya hingga berhasil menangkapnya.
Saat ini Tiara memang tidak mengetahui apapun yang telah dilakukan oleh Raisya, karena ia tidak ingin siapapun mengetahui semua rencananya, apalagi Tiara termasuk orang yang tidak bisa dipercaya sama sekali ia juga licik sama seperti dirinya.
Raisya juga sempat saling adu mulut dengan Tiara ketika ia memaksa Tiara dan Sakti untuk ikut bersamanya. Hingga membuat kamar di dalam Mansion yang ditempati Tiara dan Sakti berantakan.
Tiara terduduk lesu di dalam ruangan itu, jari-jarinya dengan lembut mengelus kepala Sakti yang sedang tertidur pulas Di pangkuannya. Tiara menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Jika saja ia tidak memikirkan nasib Sakti maka saat itu juga ia pasti telah menyerang balik Raisya, hingga dirinya tidak perlu disekap di ruangan itu.
Karena memikirkan keselamatan Sakti membuat Tiara tidak bisa berkutik, Ia hanya pasrah dengan keadaan dan hanya bisa berharap bantuan akan segera datang menyelamatkan dirinya.
Sementara itu, Raisa yang duduk kembali di tempatnya di sebuah kursi panjang berusaha mencari jalan keluar agar secepatnya ia bisa mengatasi keadaan itu. Berkali-kali Raisya meneguk alkohol dengan rakusnya, pikirannya telah menjadi kacau apalagi Saat ia mengingat suaminya yang telah tertangkap oleh geng mafia The Red rooster.
Raisya yang dulunya adalah seorang wanita cantik berpenampilan menarik serta pintar, kini telah jauh berubah. Walaupun saat ini ia telah mengantongi begitu banyak uang hingga jumlahnya mencapai triliunan rupiah akan tetapi itu semua tidak bisa membuat dirinya bahagia. Hanya sebotol minuman beralkohol yang selalu menemani di sisinya.
"Tunggu saja pembalasanku Saga, mungkin aku akan melupakan kalau kita adalah saudara kandung!" Geram Raisya Seraya terus meneguk minuman alkohol itu.
Saat ini ia sedang menempati sebuah gedung milik suaminya yang berada di tengah hutan di kawasan terpencil, gedung itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang milik Irwan dari hasil penipuannya.
Sedangkan di luar gedung itu beberapa anak buah Irwan sedang berjaga-jaga, mereka mendapatkan informasi dari Irwan sebelum ia berhasil ditangkap oleh geng mafia, mereka ditugaskan untuk menjaga keselamatan Raisya dari ancaman geng mafia.
"Tunggulah suamiku, aku pasti akan membalaskan dendammu kepada Saga kau tidak perlu khawatir semua akan ku atur dengan seksama." Gumam Raisya hampir tidak terdengar.
Tak lama kemudian seorang anak buah Irwan yang sedang menjaga di luar gedung itu mengetuk pintu.
"Masuk!" Teriak Raisya masih dari tempat duduknya.
Pintu yang memang tidak dikunci itu pun terbuka dan menampilkan sosok seorang pria bertubuh tegap melangkah ke arahnya, dengan membawa sebuah kotak berukuran kecil di tangannya.
Dengan senyum sumringah Raisya meraih benda itu kemudian membukanya dan dari yang menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang aneh.
"Bagus! Ini sesuai dengan yang ku inginkan," gumam Raisya merasa senang karena barang pesanannya telah sampai di tangannya.
Kemudian ia berkata lagi" sekarang kau boleh pergi!" Perintah Raisya kepada anak buahnya Bukankah anak buah Irwan sama saja dengan anak buahnya Raisya, Karena Mereka adalah pasangan suami istri.
"Baik nyonya!" Sahut pria itu Seraya keluar dari tempat itu.
Kemudian pria itu pun melangkah keluar meninggal kan Raisya di dalam ruangan itu. Tanpa menunggu apapun lagi Raisya langsung menemui Tiara.
"Pakailah! Aku membelinya khusus untukmu!" Perintah Raisya dengan sungguh-sungguh tanpa senyum di wajahnya.
"Apa ini Kak?" Tanya Tiara ketika melihat sebuah kalung permata yang indah disodorkan oleh Raisya kepadanya.
"Apa kau tak melihat itu sebuah kalung?" Raisya menjawabnya dengan pertanyaan pula.
"Maksudku mengapa Kakak memberikan kalung ini kepadaku untuk apa? Cukup lepaskan kami saja itu sudah cukup bagiku kakak tidak perlu memberiku hadiah apapun." Ucap Tiara menatap kedua mata Raisha tanpa berkedip.
"Sudah jangan banyak tanya pakai saja, " sahut sahut Raisya.
Kemudian tanpa menunggu persetujuan dari Tiara, Raisya terlebih dahulu memakaikan kalung itu di leher Tiara. Lalu Raisya meraih sesuatu dari dalam kotak tempat kalung itu, sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang kecil berwarna hitam telah Ia pegang. Raisya menekan salah satu dari dua tombol yang berada pada benda tersebut.
Sontak membuat Tiara menjerit-jerit dengan keras karena merasakan aliran listrik di kalung itu yang seolah mencekik lehernya dengan kuat. Dengan wajah merah padam Tiara menjerit-jerit sekuat-kuatnya kedua matanya melotot menahan rasa sakit pada lehernya.
"Aku mohon lepaskan aku, Apa yang kau lakukan padaku? Benda apa ini?" Tanya Tiara di antara teriakan menahan rasa sakitnya.
"Maaf, aku hanya mencobanya saja takutnya benda itu tidak berfungsi" jawab Raisya datar saja.
Kemudian Raisya menekan tombol yang lain yang ada pada benda tersebut dan membuat aliran listrik yang ada pada kalung itu lenyap seketika. Dengan nafas tersengal-sengal Tiara menyandarkan dirinya pada dinding setelah meronta-ronta karena kesakitan.
"Aku mohon Kak jangan lakukan hal itu lagi aku bisa mati karenanya," ujar Tiara masih dengan nafas yang memburu.
"Selagi kau masih bisa bekerja dengan baik untukku maka kalung itu tidak akan berfungsi, dan jika kau berani menghianatiku maka kalung itu akan membunuhmu saat itu juga! " ancam Raisya dengan menatap tajam ke arah Tiara.
"Baik kak, aku akan menurut padamu dan aku akan mematuhi semua perintahmu," ujar Tiara bersungguh-sungguh.
Sedangkan di sudut ruangan itu tampak Sakti sedang duduk dengan mengucek kedua matanya menggunakan kedua tangannya, rupanya bocah itu baru saja terbangun karena mendengar suara ibunya yang menjerit-jerit.