
Seperti yang disarankan oleh Alexa, hari itu juga Tiara pergi menemui Eyang Netty di mansion nya.
"Mimpi apa kau datang berkunjung kemari?" tanya Eyang Netty dengan ketus. Masih lekat di dalam ingatannya tentang kelicikan yang telah dilakukan oleh Tiara dan Ibunya untuk menjebak Saga agar mau menikahi Tiara yang saat itu sedang mengandung benih dari pria lain.
"Eyang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kesalahan yang telah dilakukan oleh kedua orang tuaku?" tanya Tiara to the poin berharap akan mendapat jawaban dari Eyang Netty.
"Mengapa kau bertanya padaku? Tanyakan saja kepada papa dan mamamu," jawab Eyang Netty masih dengan nada ketus.
"Aku rasa mereka tidak akan jujur padaku, oleh karena itu aku lebih memilih untuk bertanya pada Eyang."
"Baiklah, dengarkan baik-baik dan siapkan dirimu. Buatlah hatimu setabah Alexa." Eyang Netty menatap intens kepada cucunya.
Tiara pun mengangguk.
Eyang Netty bercerita tentang apa yang ia ketahui dari A sampai Z, tanpa ada yang dikurangi atau ditambahkan.
"Hiks… hiks… hiks…," Tiara terisak mendengar cerita Eyang netty tentang masa lalu kedua orang tuanya.
"Ternyata aku ini adalah hasil dari sebuah perselingkuhan," ratap Tiara diantara isak tangisnya.
"Ya, itu benar. Kebahagiaan yang kau rasakan selama ini, adalah hasil rampasan. Dan kalian bahagia di atas penderitaan Alexa dan ibunya."
"Pantas saja kak Alexa tidak ingin menjawab pertanyaan ku."
"Karena dia tidak mau kau malu di depannya," tukas Eyang Netty.
"Ya, yang Eyang katakan itu benar, aku memang pantas untuk malu," sahut Tiara dengan menundukkan wajahnya.
Terlihat disana sebuah penyesalan karena telah bersikap tidak etis kepada Alexa selama ini. Sungguh di dalam hati Tiara mulai mengagumi sosok Alexa yang seakan tidak memiliki dendam kepada nya dan juga Ayah dan Ibunya.
Alexa terlihat tetap ramah meskipun sebenarnya ia memiliki banyak alasan untuk membenci dan menyimpan dendam kepada keluarga nya.
Justru selama ini bahkan sampai tadi, Tiara lah yang selalu mencari masalah terhadap Alexa.
"Eyang senang jika kau menyadari semua kesalahan yang telah dilakukan oleh kedua orang tuamu, Eyang harap mulai saat ini kau bisa berubah menjadi lebih baik," harap Eyang Netty seraya mengelus rambut Tiara yang tergerai panjang.
Tiara masih terisak di samping kaki Eyang Netty, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.
"Sakti, maafkan mama sayang, mama telah mengabaikan dirimu," rintih Tiara.
"Oma, maaf aku harus pergi menemui Sakti, karena aku tidak mau suatu saat nanti dia merasakan hal yang sama dengan ku." lanjut Tiara seraya beranjak dari tempat nya.
Mendengar ucapan cucunya, membuat Oma berkata, "Sakti berada disini, dia sedang bermain di atas!"
"Apa? Siapa yang membawanya kemari?" tanya Tiara dalam kebingungan, karena Pak Hendra memang tidak menceritakan kalau Sakti ikut bersama dengan Alexa dan Saga.
"Kakakmu, Alexa!" jawab Eyang Netty segera.
Tanpa menunggu apapun lagi, Tiara segera naik ke lantai atas, ia menyusuri tangga dengan secepat-cepatnya. Didalam hatinya yang telah mendapatkan hidayah, ia ingin segera bertemu dengan putranya yang sengaja ia sia-siakan tempo hari.
Benar saja, disaat Tiara telah sampai di lantai atas, ia melihat putranya sedang melakukan panggilan video dengan seseorang.
"Mama, kapan pulang?" Sakti menopang dagunya dengan kedua tangannya, seraya menatap ke layar ponsel yang disandarkan pada bantal di depannya.
"Sebentar lagi Sayang, ini mama sedang bekerja keras agar cepat selesai dan secepatnya bisa pulang bertemu kamu, memangnya kenapa? Kangen sama mama?" jawab Alexa dan langsung bertanya kepada bocah kecil itu.
"Iya, kangen ma," jawab Sakti.
"Nanti pulangnya Sakti mau dibawain apa nih, sama mama?" tanya Alexa lagi.
"Mmm baiklah, tunggu saja disana, tapi ingat! Jangan nakal, oke!" kata Alexa menyanggupi.
Tiara yang menyaksikan itu semua, menitikkan air mata. Ia merasa terharu dengan seluruh perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Alexa kepada putranya. Walaupun Sakti bukanlah darah daging nya, tetapi Alexa telah memperlakukannya seperti anaknya sendiri.
"Oke, ma," jawab Sakti seraya mengacungkan jempolnya, lalu tersenyum manis.
Belum sempat Alexa mengakhiri panggilannya, tiba-tiba Tiara datang dan memeluk Sakti dari belakang.
"Mama, kangen sayang," ucapnya.
Sontak membuat Sakti terkejut dan Alexa pun yang masih memperhatikan Sakti di layar ponselnya ikut terkejut.
"Untuk apa dia kesana? Bukankah dia tidak lagi menginginkan Sakti? Atau jangan-jangan dia ingin membawa Sakti," gumam Alexa seraya terus menatap layar ponselnya, masih terlihat dengan jelas Tiara memaksa Sakti untuk memeluknya.
Alexa Khawatir Tiara akan melakukan hal-hal yang aneh kepada Sakti, walau bagaimanapun, ia sangat mengenal Tiara dan orang macam apa dia.
"Oh, tidak! Aku harus cepat pulang!" Alexa merapikan kembali berkas-berkas yang berserakan di depannya.
"Mau kemana?" tanya Septi ketika mereka berpapasan di luar ruangan Alexa.
"Pulang, Mbak nanti kalau ada yang mencariku, bilang saja aku pulang," pinta Alexa.
"Ya, baiklah!" Sahut Septi.
"Dasar, pengantin baru maunya manja-manja terus." gumam Septi setelah Alexa pergi dari tempat nya. Dikarenakan ia tidak mengetahui alasan sahabatnya itu pulang.
Sesampainya di mansion, Alexa segera menaiki tangga menuju ke lantai atas dimana Sakti dan Tiara berada.
"Tidak! Kamu bukan mama ku, mamaku Alexa!" teriak Sakti dengan keras.
Sakti menepis kedua tangan Tiara yang terjulur hendak meraih dirinya. Secepat mungkin Sakti melompat untuk menghindari Tiara, seraya melemparkan mainan dan apa saja yang bisa diraihnya.
"Sakti, sayang ini mama, mama kangen kamu nak," ucap Tiara mengiba.
"Tidak! Pergi! Eyang…!" Sakti melemparkan mainannya ke arah Tiara seraya memanggil Eyang Netty.
Namun bertepatan dengan saat itu, Alexa telah tiba dan segera menaiki tangga menuju ke lantai atas melewati Eyang Netty yang juga akan kesana.
"Mama!" teriak Sakti seraya berlari ke arah Alexa yang baru saja memasuki kamar bocah itu.
"Sakti anak mama, tenang, ambil nafas, hembuskan." Alexa mencoba menenangkan bocah kecil itu.
"Sakti, sini sayang peluk mama," ucap Tiara seakan tidak ingin berhenti mendesak Sakti.
"Tiara, cukup! Jangan lagi kau mengganggunya!" sentak Alexa menatap Tiara, ia tidak suka dengan tingkah nya yang terlalu memaksakan keinginannya.
"Kak!" panggil Tiara yang kembali memanggil Alexa dengan sebutan kakak.
"Aku ibunya, aku yang melahirkannya." lanjut nya lagi.
"Sakti, sekarang ikut Eyang, ya," ucap Alexa kepada bocah itu tanpa menjawab pertanyaan dari Tiara.
Sakti mengangguk lalu menggandeng tangan Eyang Netty menuruni tangga.
"Bawa Sakti main di luar Eyang," kata Alexa yang langsung diangguki oleh Eyang Netty.
Bukan tanpa alasan Alexa melakukan hal itu, hanya saja ia tidak ingin bocah kecil itu mendengar semua perdebatannya dengan Tiara yang pastinya akan berakhir dengan emosi.