Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 65


Setibanya di kampus universitas UOW Dubai, Alexa segera turun dari mobil. Ia melayangkan pandangannya keseluruh arah. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kampus itu setelah berhari-hari tidak masuk kuliah, sejak ia diculik oleh Rian.


Alexa menghela nafas kemudian melangkahkan kaki setelah berbasa-basi sebentar dengan Ricard, sebenarnya pria itu ingin mengantarkannya hingga ke dalam kelas. Namun, Alexa menolaknya.


"Percayalah, aku bisa menjaga diriku sendiri Ric, jadi lebih baik kau pergi saja. Bukankah kau harus tiba di kantor lebih pagi hari ini?" Alexa berusaha menolak dengan halus.


"Baiklah, jika itu maumu, aku permisi dulu, jika dirimu baik- baik!" Ujar Ricard lalu kembali menaiki mobilnya.


Ricard pun berlalu meninggalkan Alexa di kampus itu, membuat Alexa bernafas lega. Kemudian ia melangkah memasuki area kampus menuju ke kelasnya.


Rian yang melihat Alexa dari kejauhan segera bersembunyi di antara kerumunan para mahasiswa lainnya, akan tetapi Alexa telah melihatnya terlebih dahulu. Kemudian Alexa mendekati Rian dari arah belakang, Alexa menarik kerah baju Rian dan menariknya ke belakang.


"A– Alexa!" Seru Rian dengan syok, Iya tidak pernah mengira bahwa Alexa akan bisa terlepas dari cengkeraman kakak iparnya.


"Bagaimana bisa kau terlepas Alexa?" Tanya Rian mulai panik.


"Seperti janjiku, hari ini giliranmu, aku akan membuat perhitungan dengan mu!" Seru Alexa setelah berhasil menghempaskan tubuh Rian ke dinding.


Saat itu Alexa sengaja menarik Rian ke sebuah koridor yang sepi agar tidak menarik perhatian mahasiswa yang lainnya. Sedangkan Rian hanya bisa mengusap kepalanya yang terasa sakit akibat terbentur ke dinding.


Alexa menatap Rian dengan beringas. Ingin rasanya ia mencabik-cabik seluruh tubuh pria itu jika saja dia tidak menggunakan akal sehatnya mungkin hal itu telah ia lakukan.


"Ampun! Maafkan Aku Alexa aku hanya di suruh oleh seseorang. Kumohon jangan sakiti Aku," rintih Rian dalam kepanikan.


Alexa hanya tersenyum sinis mendengar rintihan Rian yang-mengiba, kemudian ia melangkah kembali mendekati Rian yang Terhempas beberapa langkah darinya. Alexa kembali menarik ujung kerah baju Rian dengan sekuat tenaganya.


"Aku sudah tahu semuanya termasuk orang yang telah menyuruhmu! Karena pada saat ini dia telah berhasil diringkus!" Geram Alexa Seraya menatap kedua mata Rian dengan tatapan tajam.


"Kumohon Alexa Maafkan Aku! Aku siap melakukan apapun Asal jangan laporkan aku pada polisi, " Rian mengiba kembali.


"Baik, aku akan memaafkan dirimu tapi dengan satu syarat jawab pertanyaanku dengan jujur!" Sentak Alexa Seraya melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Rian.


"Katakanlah! Apa pertanyaanmu aku akan menjawabnya dengan jujur," sahut Rian sambil merapikan kembali penampilannya yang telah berantakan.


"Apa benar bayi yang dikandung oleh Tiara adalah darah dagingmu?" Dan pertanyaan ini membuat Rian terperangah.


"Da– dari mana kau tahu semua itu?" Rian terlihat kebingungan dengan apa yang ia dengar.


"Mudah Saja, bahkan aku telah mengetahui semuanya tentang semua kebusukan kakakmu, Raisya," jawab Alexa.


"Ya, benar Sakti adalah darah dagingku, kami saling mencintai sejak duduk di bangku SMA, " ucap Rian berterus terang.


"Lalu Mengapa kau tidak menikahinya saja, Mengapa harus merusak pernikahan kami dengan memfitnah Saga!" Alexa terlihat marah saat mengingat kembali peristiwa yang sangat menyakitkan baginya. Dan, ternyata hanyalah sebuah rekayasa.


"Aku tidak pernah mengetahui kalau Tiara sedang hamil anakku waktu itu karena dia sendiri tidak pernah memberitahu diriku tentang kehamilannya." Rian berusaha menjelaskan.


"Mengapa kau juga ikut-ikutan berbohong? sedangkan Saga sangat menyayangimu, Apakah ini balasanmu terhadap kasih sayang yang diberikan Saga untukmu?" beberapa pertanyaan dilontarkan Alexa dengan geram. .


"Maafkan Aku, aku berjanji padamu akan menjelaskan semuanya kepada Saga dan akan meminta maaf kepadanya," Rian kembali mengiba karena rasa takut akan dilaporkan ke polisi.


"Baiklah, aku pegang ucapanmu dan jika saja kau berani berbohong maka aku tidak akan bertoleransi lagi!" Sergah Alexa kemudian berlalu menjauh dari Rian


dikarenakan telah banyak para mahasiswa berlalu Lalang di sekitar tempat itu.


Rian bernafas lega memandang kepergian Alexa dari belakang, akhirnya ia bisa terbebas dari cengkraman wanita itu.


"Aku tidak pernah menyangka di balik kelembutan sikapnya terdapat sifat yang begitu kasar," bisik Rian yang baru pertama kalinya melihat sifat Alexa yang sangat kontras dengan sikapnya selama ini.


Alexa pun berlalu menuju ke ruang kelasnya, ia mulai mempersiapkan semua berkas skripsinya yang akan diserahkan kepada dosen.


******************************************


Sebulan kemudian.


Setelah acara wisuda dan pemberian gelar, Alexa kembali ke negara asalnya. Negara yang sangat ia rindukan setelah bertahun-tahun lamanya ia meninggalkan negara tumpah darahnya tercinta.


Dan setelah seminggu Alexa berada di Indonesia, Ricard dan keluarganya pun menyusul untuk melamarnya secara resmi.


"Kalau begitu acara pertunangannya kita gelar di sini saja, dimensionku ini" pinta Eyang Netty kepada seluruh keluarga Ricard.


"Baiklah, kami setuju yang penting mereka resmi bertunangan. " sahut Robert menyetujui permintaan Eyang Netty serta seluruh keluarganya pun ikut setuju.


Semua orang merasa bahagia hari itu, hari yang mereka nantikan selama ini akan segera tiba, terlebih lagi bagi Ricard hatinya sangat berbunga-bunga ia merasakan sebuah kebahagiaan yang sungguh luar biasa.


Baru pertama kalinya Ricard merasakan kebahagiaan seperti ini di dalam hidupnya di mana ia merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia karena berhasil meminang seorang wanita yang ia impikan selama ini.


Namun, semua itu berbalik kontras dengan Apa yang dirasakan oleh Alexa, jujur di dalam hatinya ia sama sekali tidak merasa bahagia dengan keadaan itu. Jauh di dalam lubuk hatinya Alexa menangis. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin dan mengatakan bahwa dirinya tidak ingin bertunangan atau menjalin hubungan dengan siapapun selain Saga.


"Apakah aku boleh mengundang seseorang?" Tanya Alexa kepada Ricard yang saat itu sedang duduk di sampingnya.


"Tentu saja, kau boleh mengundang siapapun yang ingin kau undang teman-teman, sahabat semua boleh kau undang, karena aku juga akan mengundang sahabatku Saga, semoga saja dia tidak sedang sibuk." Jawab Ricard.


Mendengar jawaban dari Ricard membuat Alexa terkejut ia tidak pernah menyangka orang yang akan bertunangan dengannya ingin mengundang Saga sebagai sahabatnya.


Namun, Ia juga merasa bahagia pria yang dicintainya akan hadir di dalam acara pertunangan dirinya, setidaknya ia bisa melihat sosok pria itu walau untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah pertunangan itu ia harus bisa benar-benar melupakan Saga dan seluruh kenangan bersamanya.


'Saga, selamat tinggal semoga dirimu juga menemukan wanita yang baik yang akan mencintaimu dan sepenuh hati' bisik hati Alexa.