
Setelah dari apotik terdekat, Ibu Lalika langsung menemui Alexa. Namun, sebelum ia membuka pintu kamar Menantunya itu, Eyang Netty telah terlebih dahulu menegurnya.
"Dari mana kau nak?" tanya Eyang Netty seraya melirik ke arah tas plastik yang dipegang oleh Bu Lalika.
"Ini test pack untuk Alexa," jawab Bu Lalika jujur.
Tidak mungkin baginya menyembunyikan kondisi Alexa dari Eyang nya sendiri.
"Test pack? Apa dia hamil?"
"Ini untuk memastikan, apakah dia hamil atau tidak," jawab Bu Lalika, kemudian mengajak Eyang Netty memasuki kamar Alexa bersamanya.
Di atas ranjang tampak Alexa sedang berbaring. Sebenarnya ia tidak tidur, hanya saja Alexa memaksakan untuk menutup matanya.
"Alexa!" panggil Eyang Netty ketika melihat cucunya.
Sontak membuat Alexa membuka kedua matanya ketika ia mendengar suara Eyang Netty.
"Eyang." Alexa mencoba untuk duduk.
Dengan masih merasakan pusing dikepalanya, Alexa duduk di tepi ranjang.
"Apa yang kau rasakan cucuku? Eyang Netty membelai lembut rambut Alexa.
"Pusing dan mual, Eyang." Alexa memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Tadi dia muntah-muntah juga," Bu Lalika menimpali.
"Apa sebulan ini kau tidak menerima tamu bulanan?" tanya Eyang Netty lagi.
"Tidak Eyang." Alexa menggelengkan kepalanya.
Eyang Netty tersenyum karena ia yakin bahwa Alexa memang sedang hamil.
"Kalau begitu, lebih baik kau tes dulu dengan ini," ucap Bu Lalika. "bacalah petunjuk penggunaan di belakang bungkusnya,"
Bu Lalika menyerahkan test pack itu ketangan Alexa yang menerimanya dengan segera, lalu berjalan ke kamar mandi dengan dipapah oleh Bu Lalika. Karena khawatir menantunya itu akan terjatuh ketika rasa pusing mulai menyerangnya lagi.
Eyang Netty dan Bu Lalika menunggu di depan kamar mandi dengan tidak sabar ingin segera mengetahui hasil dari test pack itu.
Kurang lebih dua menit, Alexa mulai membuka pintu kamar mandi dan tampak sebuah senyum di wajahnya.
"Bagaimana?" tanya Bu Lalika dengan kedua mata yang berbinar.
"Bagaimana hasilnya?" Eyang Netty pun ikut bertanya dengan tidak sabar.
"Ini." Alexa menunjukkan test pack yang telah bergaris dua di tangannya.
"ALHAMDULILLAH!" pekik Eyang Netty dan Bu Lalika bersamaan.
Keduanya sama-sama bersyukur karena sebentar lagi mereka akan dikaruniai seorang cucu.
"Mulai dari sekarang, Eyang yang akan menyiapkan makanan untukmu, agar kau dan bayimu sama-sama mendapatkan nutrisi yang baik," ucap Eyang Netty dengan penuh kebahagiaan.
"Ada apa ini? kok aku dengar selamat, memangnya ada yang ulang tahun?" tanya Tiara yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka walaupun hanya sama-samar.
"Mama ulang tahun?" tanya Sakti yang seraya turun dari gendongan Tiara. Melangkah menghampiri Alexa.
"Tidak Sakti, mamamu tidak ulang tahun, mamamu sedang hamil saat ini," jawab Eyang Netty seraya tersenyum kepada bocah kecil itu.
"Benar ma?" Sakti ikut tersenyum.
Alexa menganggukkan kepalanya, membuat Tiara tersenyum bahagia.
"Wah, selamat ya kak." Tiara langsung memeluk Alexa dengan erat.
"Terimakasih," sahut Alexa dengan wajah yang berubah murung seketika. Hatinya harap-harap cemas.
"Ada apa kak?" Tiara melepaskan pelukannya ketika merasa ada yang aneh dengan kakaknya.
Alexa terdiam, wajahnya menunduk. Tampak raut kesedihan di wajah itu, kesedihan yang selama satu bulan ini melanda hatinya.
"Mama pasti kepikiran papa, ya kan ma?" Sakti menebak.
Alexa tidak menyahut, melainkan butiran air mata telah jatuh begitu saja dari kelopak matanya. Dengan langkah gontai, Alexa berjalan menuju ke arah ranjangnya.
"Aku tahu apa yang kau rasakan kak, tapi percayalah Saga disana juga merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan saat ini." Tiara mencoba menghibur Alexa.
"Mama, tenang saja, bukankah disini ada aku yang akan selalu menjaga dan melindungi mama, itu janjiku." Sakti memeluk Alexa dan mengusap perut Alexa dengan kedua tangannya.
"Dedek bayi, baik-baik ya di dalam sana, jangan membuat mama sedih." Sakti mencium perut Alexa dengan penuh cinta.
Membuat semua orang yang melihat insiden itu sama-sama menitikkan air mata bahagia menyaksikan kasih sayang yang terjalin di antara keduanya.
**********************************************
"Alexa, kau sedang apa? Apakah sama yang kau rasakan dengan yang aku rasakan?" gumam Saga.
Saat itu ia sedang beristirahat sebentar dari misinya mencari Raisya. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda tentang keberadaan kakaknya itu.
Saga menatap foto di layar ponselnya, foto sang istri tercinta. Sebenarnya Saga sangat ingin menghubungi Alexa. Namun, karena disana tidak ada sinyal, maka Saga hanya menghabiskan waktu istirahat nya dengan memandangi wajah cantik Alexa. Terbayang kembali di benaknya kisah cinta mereka yang tidak mudah. Kisah cinta yang sangat rumit, serumit sinetron di televisi.
Saga memeluk ponselnya dengan penuh cinta, seolah ia sedang memeluk Alexa. Hingga pada akhirnya ia dikejutkan oleh seorang kawannya dari tim mafia.
"Saga, ayo cepat! target telah ditemukan!" seru orang itu lalu pergi meninggalkan Saga. Tubuhnya begitu tegap, dari caranya berjalan sepertinya ia bukanlah orang sembarangan.
"Aku pergi dulu ya, sayang." Saga mencium dan memeluk foto di ponselnya itu beberapa kali, sebelum ia kembali mengantongi ponselnya.
Saga bangkit dari duduknya, lalu melangkah mengikuti jejak pria itu, yang melangkah memasuki helikopter.
Baling-baling helikopter berputar semakin lama semakin cepat, hingga pada akhirnya helikopter itu lepas landas di udara.