
"Perkenalkan Kek ini Sakti, Anakku," ucap Saga menunjuk ke arah Sakti yang langsung bersembunyi dibelakangnya.
"Sakti, jangan takut sini sama Mbah Kung!" Kakek Syarifuddin memanggil Sakti dengan lembut.
Bukannya menghampiri Kakek Syarifuddin, Sakti malah semakin bersembunyi di belakang Saga. Tangannya yang memegang ujung kemeja Ayahnya, terlihat gemetar.
"Sakti tidak perlu takut, ini Kakek Syarifuddin pengasuh pondok pesantren ini sekaligus Kakeknya Papa, mulai hari ini kita akan tinggal bersama Mbah Kung." jelas Saga kepada Sakti.
Mendengar penjelasan dari Ayahnya membuat Sakti sedikit menghalau ketakutannya. Perlahan ia mulai berani memandang wajah Kakek Syarifuddin, lalu melangkah ke arahnya untuk mencium tangan Kakek Syarifuddin seperti yang telah dilakukan oleh Ayahnya.
"Pinter, Anak Sholeh." ucap Kakek Syarifuddin seraya mengelus kepala Sakti dengan penuh kasih sayang.
"Mbah Kung benar Kakeknya Papa?" tanya Sakti setelah melepas tangan Kakek Syarifuddin.
"Iya Nak," jawabnya.
"Lalu mengapa selama ini Kakek tidak pernah bertemu kami, mengapa Papa tidak pernah datang mengunjungi Kakek?" Sakti bertanya, kini ia telah berani berbicara kepada Kakek Syarifuddin. Rupanya rasa takut nya hanya sebentar saja.
"Mungkin Papamu sedang sibuk, sedangkan Kakek sudah tua begini mana bisa jalan jauh-jauh." jawab Kakek Syarifuddin seraya semakin membungkukkan badannya hingga membuat Sakti tertawa dengan keras melihat Kakek Syarifuddin yang sangat lucu baginya.
Dan Suara tawa Sakti rupanya terdengar sampai kedapur ndalem, dimana terdapat Ibu Lalika sedang memasak. Cepat-cepat Ibu Lalika meninggalkan dapur dan berjalan menuju ke arah ruang tamu.
"Saga! Kau sudah pulang Nak?" tanya Bu Lalika yang merasa bahagia melihat putra nya telah pulang kembali, ya walaupun Saga hanyalah Anak Tirinya tetapi Bu Lalika telah menganggapnya seperti Anak kandungnya sendiri. Dan karena itulah Saga sangat menyayangi Bu Lalika.
"Iya Ma," jawab Saga yang segera menghambur kedalam pelukan Bu Lalika yang telah merentangkan kedua tangannya terlebih dahulu.
Kemudian Bu Lalika melerai pelukannya namun, tatapannya tertuju ke arah Sakti yang sedang duduk bersama Kakek Syarifuddin di sofa. Kini mereka mulai akrab.
"Saga, siapa anak kecil itu, ataukah dia putranya Rian? Dia cucu Mama?" tanya Bu Lalika dengan penuh harap namun, dengan suara yang berbisik ketika ia melihat Saga meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Iya, tapi untuk sementara ini jangan katakan apapun kepadanya Ma, aku hanya tidak ingin Sakti merasa risih ketika bersamaku, kita tunggu sampai Rian kembali ke negri ini." jawab Saga dengan berbisik pula.
"Baiklah, kalau begitu Mama ingin memeluknya dulu." ucap Bu Lalika seraya melangkahkan kakinya ke arah Sakti.
Benar saja, keberadaan Bu Lalika yang secara tiba-tiba membuat Sakti terkejut dan hampir menangis.
"Jangan takut sayang, ini Oma," ucap Bu Lalika memperkenalkan dirinya agar bocah itu tidak takut lagi.
"Oma? Apa ini Oma yang Papa maksud?" Sakti bertanya kepada Saga yang berdiri di belakang Bu Lalika.
"Iya, benar Sakti ini Oma Lalika yang Papa maksud, Ayo salim!" Saga memberikan arahan kepada bocah kecil itu agar menyalami Bu Lalika.
Sakti pun menurut walau didalam hatinya penuh tanda tanya. tangannya yang lembut mulai menyentuh tangan Bu Lalika lalu menciumnya dengan penuh rasa hormat, membuat Bu Lalika meneteskan air mata. Ia merasa sangat terharu melihat cucunya kini berada di depan matanya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau Bu Lalika akan memiliki cucu dari Rian secepat ini.
"Sakti, cucuku!" seru Bu Lalika seraya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sakti lalu memeluknya dengan erat. Bu Lalika merasa seperti sedang memeluk Rian.
"Ternyata anggota keluarga , kita lengkap ya Pa! Ada Mbah Kung, ada Oma, andai ada Mama juga pasti keluarga kita lebih lengkap!" seru Sakti dengan kepolosannya.
Mendengar perkataan Sakti, sontak membuat Saga dan Bu Lalika merasa terkejut, kini kedua mata Bu Lalika dan Saga mulai mengembun. Mereka merasa iba dengan kondisi Sakti yang harus terpisah dari kedua orangtuanya.
Dimasa kecil yang seharusnya ia merasakan kebahagiaan ditengah-tengah orangtuanya, namun tidak dengan Sakti. Ia bahkan seperti tidak diinginkan oleh Ibunya sendiri. Padahal sebelumnya Tiara sangatlah menyayangi putra nya, tetapi setelah mengetahui bahwa Saga telah kehilangan seluruh aset perusahaan karena perbuatan Raisya, Tiara lebih memilih meninggalkan Sakti dan Saga. Karena menurutnya percuma mempertahankan mereka hanya akan menambah beban didalam hidupnya.
"Kenapa Mama lebih memilih tinggal di rumah orangtuanya Pa, mengapa Mama tidak ikut dengan kita?" Sakti kembali bertanya sebelum Saga mampu menjawabnya.
"Mama masih ada urusan penting yang harus segera ia selesaikan sayang," jawab Saga sekenanya saja.
"Sekarang Sakti mandi dengan Oma ya, itu badannya kotor." ucap Bu Lalika menunjuk ke tubuh Sakti yang tampak kotor oleh debu yang bercampur darah dari baju Saga.
Sakti mengangguk lalu mengekor di belakang Oma nya dengan patuh. Saga pun melakukan hal yang sama, ia juga ingin membersihkan dirinya yang berlumuran darah yang telah mengering.
Sedangkan Kakek Syarifuddin menatap cucu dan cicitnya dengan penuh rasa syukur, karena yang MAHA KUASA telah menuntun mereka ke tempatnya.
Sementara itu Saga yang telah berada di dalam kamarnya merasa sangat kesakitan di bagian tubuhnya yang penuh luka-luka. Sebenarnya rasa sakit itu telah ia rasakan sejak tadi tetapi, Saga berusaha menahannya agar tidak membuat Ibu Lalika dan Kakek Syarifuddin merasa cemas.
"Rasa sakit ini adalah bukti cinta dan kasih sayangku kepadamu Alexa, aku merasa bahagia walau kita tidak lagi bersama karena kebahagiaan mu adalah kebahagiaanku," gumam Saga dengan pelan, namun masih bisa didengar oleh Bu Lalika yang berniat mengantarkan baju yang diberikan oleh Kakek Syarifuddin kepadanya.
"Saga, jika memang kau masih sangat mencintai Alexa, perjuangkan cintamu Nak, jangan biarkan dia dimiliki oleh pria lain, Mama hanya tidak ingin kau menyesal nantinya," ujar Bu Lalika yang masuk begitu saja ke kamar Saga, hingga membuat pria itu cukup terkejut.
Bu Lalika meletakkan pakaian yang ia bawa di atas nakas di samping Saga yang sedang berdiri menatap dirinya di cermin.
Saga berusaha mengobati sendiri luka di tubuhnya.
"Sini, biar Mama yang obati," Bu Lalika meraih obat yang dipegang oleh Saga lalu mulai mengoleskan obat itu di punggung Saga.
"Aw, pelan-pelan Ma, perih sekali," desis Saga menahan rasa sakit bercampur perih di beberapa bagian lukanya.
"Mama rasa kalian memang berjodoh, aku pernah melihat tatapannya waktu itu." ucap Bu Lalika dengan yakin.
"Maksud Mama?" Saga mengernyitkan dahi mendengar perkataan Ibu tirinya.
"Saat di Dubai, saat kami sama-sama disekap, Alexa pernah bercerita tentang dirimu dan pernikahan kalian yang kandas di tengah jalan, Alexa menangis dengan air mata yang sengaja ia sembunyikan, namun suaranya terdengar parau dan itu menunjukkan betapa dia merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya." Bu Lalika menghela nafas panjang.
"Aku menatap ke dalam kedua bola matanya, dan aku merasakan ada harapan di dalam hatinya untuk kalian bersatu kembali." lanjut Bu Lalika.
"Tapi Alexa telah bertunangan Ma, dan tunangannya adalah Ricard sahabatku sendiri, tidak mungkin bagiku untuk meraih cintanya kembali," Saga menundukkan kepalanya, dengan raut wajah yang berubah sedih.
"Mereka hanya bertunangan bukan menikah Saga, sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan untukmu mendapatkan cinta Alexa kembali dan Mama rasa itu tidak terlalu sulit karena Alexa juga mencintaimu," nasehat Bu Lalika yang justru mendukung Saga.
Saga terdiam, ia mulai meresapi setiap perkataan dari Bu Lalika.
'Apakah mungkin kami bisa bersatu kembali? Ataukah ini hanya sebuah penyesalan di dalam hatiku yang telah menyia-nyiakan dirinya?' tanya Saga didalam hatinya.
"Sudah lah Ma, saga ingin mandi dulu, Oh iya bagaimana dengan Sakti? Dimana dia sekarang?" Saga mengalihkan pembicaraan.
"Dia ada dikamar Mama, sedang bermain," jawab Bu Lalika lalu melangkah keluar dari kamar Saga yang sedang mematung memikirkan ucapannya.
Bu Lalika berseru sebelum benar-benar meninggalkan Saga, "Pikirkan baik-baik ucapan Mama, dan bertindaklah dengan menggunakan hatimu bukan pikiranmu,"
Saga masih terdiam tanpa berkeinginan menjawab ucapan Ibu tirinya. Pikirannya kembali berkecamuk memikirkan tentang hubungannya dan Alexa.
"Apa benar kau masih mencintaiku, apa benar rasa itu masih tetap seperti yang dulu?" lirih Saga.
Kembali bayang-bayang Alexa menari-nari di benaknya, Saga mengucek kedua matanya ketika ia melihat bayangan Alexa berada di depannya. Sontak membuat Saga tersenyum manis melihat wanita yang ia cintai berada di hadapannya.
"Alexa kau kah itu?" tangan saga hendak meraih Wajah Alexa yang tersenyum menggoda di depannya.
"Ya, ini aku, Alexa yang selalu mengisi ruang didalam hatimu," jawab Alexa masih dengan senyuman nya yang menggoda.
"Sungguh, aku tidak percaya kalau kau ada disini bersamaku,"
"Percayalah walau raga kita terpisah, tetapi hatiku masih bersama denganmu," tangan Alexa meraba dada bidang Saga dengan sentuhan sensual membuat Pria itu merasakan kenikmatan sejenak.
Namun semua itu berakhir ketika Saga hendak menyentuh Alexa yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya. Dan hal itu membuat Saga cukup terkejut dan menyadari bahwa dirinya hanyalah berkhayal tentang Alexa.
"Ya Tuhan, ternyata hanya sebuah khayalan, kuatkan aku ya Tuhan," lirih Saga.
Dengan segera Saga bergegas kedalam kamar mandi yang cukup sederhana jauh berbeda dengan bathroom yang selama ini berada di mansion nya.
Saga membersihkan dirinya dengan hati-hati, perlahan ia mulai menggosok bekas darah yang telah mengering di tubuhnya, sambil mendesis menahan rasa sakit Saga menyiramkan air dingin ke seluruh tubuhnya dengan berlinang air mata, karena menahan rasa sakit.
Beberapa menit kemudian ia telah selesai membenahi dirinya, saga terlihat lebih tampan dengan pakaian koko dan kain sarung yang menutupi sebagian tubuhnya, ia terlihat lebih berwibawa dengan pakaian muslim itu.
"Selamat datang Saga yang baru, selamat tinggal Saga yang lama," gumam Saga dengan sebuah senyum yang menghiasi bibirnya, menambah ketampanan dirinya.