Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 44


Hari pertama masuk kuliah, membuat Alexa sedikit grogi. Para mahasiswa di perguruan tinggi itu, hampir tujuh puluh persen berasal dari keluarga kaya raya. Selebihnya berasal dari kalangan menengah ke bawah, yang memulai pendidikan di sana karena mendapatkan beasiswa. 


Seperti halnya Septi, yang mampu meneruskan pendidikan di sana karena ia termasuk pelajar yang cerdas. 


Alexa berjalan melewati para mahasiswa yang sedang duduk bergerombol di Koridor kampus, dengan sedikit canggung Alexa membalas senyuman dari mahasiswa yang lain. 


Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan seorang mahasiswa yang tidak asing lagi baginya. 


"Rian!" sapa Alexa ketika melihat pria yang pernah ia tabrak sebelumnya. Lebih tepatnya dua tahun yang lalu. 


"Alexa!" jawab Rian sedikit terkejut melihat wanita yang pernah dinikahi oleh kakak angkatnya. Ya, Saga adalah kakak angkat dari Rian, dikarenakan Rian sendiri adalah anak bawaan dari Ibu Lalika. Istri kedua dari Ayahnya Saga dan Raisya. 


"Untuk apa kau disini?" Rian melirik mengejek dengan ekor matanya ke arah Alexa.


"Tentu saja belajar!" jawab  Alexa dengan  cepat. 


Rian tersenyum sinis mendengar jawaban dari Alexa. Kemudian ia berkata dengan lebih mengejek. 


"Ku rasa kau tidak perlu repot-repot mengejar pendidikan sampai ke dubai. Karena di Indonesia kau telah mahir melakukannya,"


Rian tertawa lebar, sedangkan Alexa menatapnya dengan tenang. 


'Tenang Alexa, kau tidak boleh terpancing emosi!' batin Alexa. 


"Apa maksudmu Rian?" Suara Alexa terdengar santai. 


"Cih! Pura-pura amnesia," Rian masih mengejek Alexa, kemudian berkata lagi dengan nada menghina. 


"Untuk apa kau susah-susah kuliah di Dubai, sedangkan dirimu telah cukup mahir dalam berbagai bidang, termasuk merangkak di atas ranjang!" 


Kedua mata Alexa terbelalak, membulat sempurna. Seakan aliran darah nya naik ke ubun-ubun. Kedua mata Alexa melirik ke arah para mahasiswa yang lain, tampaknya mereka telah mendegar apa yang telah dikatakan oleh Rian. 


Terbukti mereka mulai menatap Alexa dengan pandangan mengintimidasi. 


"Kuharap, masa lalu tidak perlu di ungkit di muka umum, lagi pula kau tidak tahu apapun tentang diriku!" jawab Alexa tetap berusaha setenang mungkin, meski didalam hatinya, ingin sekali rasanya menangis dan berteriak. 


"Pandai juga kau berkilah, selama dua tahun kita tidak bertemu, sepertinya kau semakin lihai," Rian tiada hentinya mengejek dan menghina Alexa. 


Para mahasiswa yang lain pun ikut-ikutan memojokkan Alexa, hingga membuat Alexa panik. 


"Ada apa ini?" terdengar suara pria dari arah belakang Alexa. 


Rian menatap Ricard, ya pria itu adalah Ricard yang datang untuk menemui Alexa. 


Para mahasiswa yang lain, menundukkan kepala melihat kedatangan Ricard. 


"Ricard? Kau? Sudah lama?" wajah Alexa terlihat memerah, karena ia sedang panik, Alexa khawatir Ricard akan mendengar semua ucapan Rian. 


"Baru saja!" jawab Ricard seraya menatap Rian dengan intens. Membuat Alexa bernapas lega. 


"Oh, jadi ini, target selanjutnya. Setelah kau gagal…hah!" Rian menarik sebelah sudut bibirnya keatas. Ia sengaja tidak meneruskan ucapannya, karena ia ingin membuat Ricard dan mahasiswa yang lain penasaran. 


"Mengapa kalian bergerombol disini? Sebentar lagi kelas akan dimulai, cepat masuk!" perintah Ricard, mengabaikan ucapan Rian. 


Walau hanya dengan nada suara yang relatif rendah, akan tetapi, mampu membuat para mahasiswa yang lain mematuhi perintahnya. 


Rian menatap heran, kepada para mahasiswa yang telah pergi meninggalkan koridor kampus. Dikarenakan selama kuliah di Universitas itu, Rian tidak begitu memperhatikan siapa Rektor di sana. 


Mendengar Ricardo Antonio adalah Rektor di Universitas itu, membuat Rian terkejut hampir tidak percaya. 


'Sial! Bagaimana bisa Alexa mengenal seorang Rektor secepat ini, sedangkan aku saja tidak!' gerutu Rian. 


"A-aku Rian!" jawab Rian dengan sangat gugup. Baru kali ini ia berhadapan langsung dengan seseorang yang memiliki kedudukan penting di Fakultas itu. 


"Sudah semester berapa?" 


"Lima!" jawab Rian singkat dengan menyembunyikan rasa gugupnya. 


Ricard mengangguk, kemudian berkata dengan menepuk pundak Rian. 


"Belajarlah yang rajin, agar kau menjadi orang yang sukses. Bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain!" 


Darah Rian terkesiap dengan ucapan sindiran dari Ricard. 


Ya, Ricardo Antonio adalah pemimpin di Universitas OUW, Dubai. Walaupun masih muda, Ricard telah menjadi seorang pengusaha yang sukses, terbukti dari Universitas OUW yang semakin maju di bawah kepemimpinannya. Menjadikan Universitas itu, Satu-satunya Universitas paling populer di kota Dubai. 


Alexa memasuki ruang kelas dengan ditemani oleh Ricard, mereka berjalan  beriringan. 


"Saya sebagai Rektor di Universitas ini, akan mengumumkan kepada kalian semua sebagai agent of change. Mulai hari ini dan seterusnya, Alexa akan menjabat sebagai SIPEN di kelas ini. Jadi mohon kerjasamanya." ucap Ricard dengan berwibawa. 


Para mahasiswa tidak ada yang berani berbicara, semua mendengarkan dengan seksama. 


"Bagaimana kalian setuju Alexa menjadi Sipen di kelas ini?" 


"SETUJU!" jawab para mahasiswa serentak. 


Hanya seorang diantara mereka yang tidak menjawab, ia hanya menatap Alexa dengan intens. 


'Apa hebatnya wanita ini sampai-sampai si Rektor sendiri yang menjadikan dia seorang Sipen.' batin Rian merasa iri dengan jabatan yang didapatkan oleh Alexa. 


Dikarenakan ia sendiri yang telah dua tahun menggali ilmu di sana, tidak pernah dilirik menjadi anggota apapun apalagi seorang Sipen. 


Alexa hanya tersenyum bahagia, mendapat respon yang begitu baik dari para mahasiswa yang lain.


"Aku berjanji akan membantu kalian semua dengan sekuat tenagaku, mari kita bentuk penerus bangsa agar lebih berkualitas!" ucap Alexa dengan senyum manis di sudut bibirnya. 


Ricard tersenyum mendengarkan kata-kata Alexa yang sangat bermotivasi. 


Maka jadilah mulai hari itu, Alexa resmi menjadi seorang Sipen. 


Sedangkan bagi Alexa sendiri, ia sangat bersyukur karena telah mampu merubah 


hidupnya yang semula tidak dianggap oleh siapapun dimanapun ia berada.


Tetapi kini semua berbeda, ia yang semula hanyalah gadis desa yang tidak dianggap, kini menjadi orang penting. Dan, itu semua tidak lepas dari bantuan Ricard. Pria tampan yang diam-diam jatuh hati padanya. 


**********************************************


Hingga pada suatu ketika, Alexa sedang duduk di sebuah taman di kota Dubai. Alexa mengingat-ingat semua kenangan bersama Ibunya tercinta. 


Air mata mulai menetes perlahan jatuh bergulir di pipi, dan pada saat itulah Ricard datang menemui wanita impiannya. 


Ricard menatap wajah Alexa dalam-dalam, berusaha memahami apa yang sedang dirasakan oleh wanita impiannya itu.