Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 39


Setelah selesai proses pemakaman Oma Hmenun, semua keluarga kembali ke mansion, begitu pula dengan Alexa, saat ia hendak memasuki kamarnya, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh Saga yang melemparkan koper yang berisi pakaian Alexa keluar kamar.


"Pergi kau dari sini! Aku tidak ingin lagi melihatmu disini, aku tidak ingin pembunuh Oma berkeliaran di mansion ini!" teriak Saga dengan wajah memerah karena marah. Otot-otot menonjol di sekitar wajahnya.


Rupanya Saga telah termakan hasutan Raisya yang sengaja memperlihatkan foto yang ia ambil tadi. Foto yang memperlihatkan seolah Alexa lah yang telah membunuh Oma.


"Saga, dengarkan aku, aku sama sekali tidak bersalah,"


"Seharusnya aku membawa mu ke kantor polisi, tapi… Aku masih berbaik hati padamu," Saga menyeret Alexa, lalu menghempaskan nya keluar pintu mansion.


"Mulai sekarang, detik ini juga kau bukan lagi istriku! kau aku talak! Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!!" bentak Saga dengan kemarahan yang berapi-api.


Alexa yang di dorong oleh Saga, terjatuh tepat di depan kaki Eyang Netty yang sengaja datang kemansion itu untuk mengucapkan belasungkawa.


Namun, apa yang ia dapatkan sebuah peristiwa yang sama sekali tidak pernah terpikirkan, cucunya ditalak dan diusir didepan mata kepalanya sendiri.


"Saga!" bentak Eyang Netty.


"Tidak kusangka kau memperlakukan cucuku seperti ini, ingat Saga, mulai hari ini kau tidak akan lagi pernah bertemu dengan cucuku, hingga pada suatu saat nanti kau yang datang sendiri Memohon-mohon untuk bertemu dengannya, ingat itu Saga!" kecam Eyang Netty, lalu meraih tubuh Alexa kemudian memeluknya.


Sedangkan Saga tanpa berbasa basi menutup pintu mansion dengan penuh amarah.


"Eyang…, aku sama sekali tidak melakukan nya, hiks… hiks… hiks…" lirih Alexa masih memeluk Eyang Netty.


"Iya, Eyang percaya, mana mungkin cucu Eyang yang cantik ini akan melakukan perbuatan senista itu." Eyang Netty berusaha menenangkan Alexa.


"Sekarang ikut Eyang, kita jalani hidup dengan kebahagiaan, jangan pernah lagi kau ingat detik-detik ini!" ajak Eyang Netty dengan bersungguh-sungguh.


Alexa mengangguk, Eyang Netty merasa sangat bahagia. Walaupun ia tidak bisa membahagiakan Rianti ketika dulu, setidaknya kini Eyang Netty tidak akan pernah membiarkan Alexa hidup menderita dan terus tersakiti.


Beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara Mbok Mirah memanggil Alexa.


"Lexa! Tunggu!"


Eyang Netty dan Alexa menoleh.


Tampaklah seorang wanita tua sedang berlari mengejar mereka, dengan menjinjing tas kecil ditangannya.


"Lexa, mbok ikut kamu ya? Boleh ya?" pinta Mbok Mirah.


Alexa melirik ke arah Eyang nya, seakan meminta persetujuan.


"Boleh!" ucap Alexa setelah Eyang menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Terimakasih Alexa, terima kasih Nyonya!" ucap Mbok Mirah penuh harus dan bahagia.


Sedangkan dari arah jendela tampak Saga sedang berdiri memandang ke arah Alexa, sebenarnya ia merasa iba. Namun, kekecewaan serta kesedihan lebih menguasai hatinya.


Dan, dari jendela yang berbeda, Tiara sedang melihat Alexa yang semakin jauh meninggalkan mansion, tentunya dengan mengendarai mobil milik Eyang Netty. Tiara tersenyum puas menyaksikan kepergian Alexa.


"Sekarang aku tidak perlu khawatir lagi, lawanku telah pergi, hanya tinggal memenangkan hati Saga!" gumam Tiara penuh kemenangan.


Sepanjang perjalanan Alexa hanya terdiam, merenungi nasibnya. Ia melemparkan pandangannya keluar kaca mobil. Teringat semua kenangan manis dan pahit yang telah ia alami selama tinggal di mansion milik Saga.


'Sebenarnya aku dah capek banget, banyak beban pikiran yang aku pendam sendirian. Banyak keluh kesah yang sulit ku ceritakan, jujur……


Saat ini aku sangat terjatuh, dan ingin sekali menyerah. Aku gak bisa terus pura-pura kuat, padahal hatiku sangatlah hancur. Aku gak sanggup terus pura-pura tersenyum, padahal batinku selalu menjerit.


Aku dah capek banget, harus pura-pura tertawa, hanya untuk menyembunyikan air mata.


Aku juga ingin bahagia, aku capek kayak gini terus.


Tolong, beri aku jeda, agar mentalku tetap baik-baik saja.'


Tak terasa air mata telah terjatuh bergulir-gulir di pipinya.


***********************************************


Sesampainya di mansion Eyang Netty, Alexa berdecak kagum melihat keindahan serta kemewahan yang dimiliki mansion itu. Alexa tidak pernah menyangka ternyata Eyang Netty bukanlah orang sembarangan, ia sangat disegani di berbagai kalangan masyarakat.


Namun, Eyang Netty bukan lah orang yang sombong. Ia selalu bersikap rendah hati dan selalu menghargai sesama.


"Ini namanya istana Lexa, ku pikir mansion Saga itu sangat mewah, ternyata masih ada lagi mansion yang jauh lebih mewah dari itu, sungguh kamu Benar- benar beruntung!" kagum Mbok Mirah seraya tidak henti-hentinya memuji keindahan mansion milik Eyang Netty.


Kemudian mereka duduk di sebuah sofa yang sangat empuk.


Ya, Eyang Netty adalah keturunan konglomerat, hartanya sangat melimpah. Dan, itu tidak akan habis dimakan selama tujuh turunan.


"Alexa, dari dulu Eyang telah memutuskan bahwa semua harta benda yang ku miliki, akan aku wariskan kepada ibumu, dan karena putriku itu telah tiada, maka kaulah satu-satunya ahli waris itu sekarang," tutur Eyang seraya meraih sebuah map dari seorang pelayan yang setia melayaninya.


"Eyang, ini terlalu berlebihan, aku rasa aku tidak pantas menerimanya," ucap Alexa menolak, karena ia bingung apa yang harus dilakukannya dengan harta sebanyak itu.


"Alexa, sekarang saatnya kau tunjukkan kepada dunia, kalau seorang Alexa bukanlah wanita sembarangan, bukanlah wanita yang bisa diinjak-injak harkat dan martabatnya. Tetapi, Alexa adalah wanita terhormat yang disegani di seluruh lapisan masyarakat." nasehat Eyang kepada Alexa.


"Kalau boleh tahu, harkat dan martabat itu apa ya Eyang?" Alexa yang masih polos dan belum mengetahui tentang kata-kata istilah, merasa bingung mengartikan kata-kata itu.


Mendengar pertanyaan dari cucunya, Eyang Netty tersenyum. Tergambar di dalam pikirannya, kehidupan seperti apa yang telah dijalani oleh cucunya selama ini.


"Harkat manusia adalah, nilai manusia sebagai makhluk tuhan yang dibekali cipta, rasa, karsa. Dan, hak-hak serta kewajiban Azasi manusia." jelas Eyang Netty dengan mengelus kepala Alexa.


Kemudian Eyang Netty berkata lagi.


"Sedangkan Martabat adalah, Tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang terhormat, sekarang paham?"


Alexa mengangguk senang telah dijelaskan oleh Eyangnya.


"Ini, tanda tangan disin!" Eyang Netty menunjuk kearah kertas yang berada didalam map tersebut.


"Apa ini Eyang?"


"Bukti penyerahan harta warisan kepada Alexa Setiawan." jawab Eyang dengan yakin.


"Ingat, tidak ada penolakan disini!" ucap Eyang Netty dengan tegas.


Akhirnya Alexa menurut saja, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Walaupun pendidikannya hanya sampai di Sekolah Dasar, setidaknya Alexa bisa kalau hanya untuk memberikan tanda tangan.