
"Selamat ya, untuk kalian berdua," ucap Alexa kepada Tiara dan Rian.
Saat itu Alexa sedang bersama Saga yang mendorong kursi roda nya, senyum kebahagiaan selalu terpancar di bibir indahnya.
"Terima kasih kak, semua ini berkat kak Saga, kalau bukan karena dirinya mungkin sampai saat ini aku belum mengetahui kalau Tiara masih sangat mencintaiku," sahut Rian dengan senyum lebar yang selalu menghiasi wajahnya.
"Sebenarnya bukan aku yang menginginkan semua ini, tapi istriku yang cantik ini yang memintaku untuk membantu dirimu," tukas Saga berterus terang.
"Kakakku ini memang yang terbaik, dia selalu tahu apa yang diinginkan oleh adiknya." Tiara menghampiri Alexa lalu memeluknya.
"Tidak, tidak, ide suamiku yang hebat aku tertawa geli tadi." Alexa melerai pelukannya.
"Kakak ini, aku yang ketakutan setengah mati kakak malah tertawa," ucap Tiara dengan ekspresi lucu sehingga membuat mereka semua tertawa.
"Ngomong-ngomong apa rencana kalian kedepannya tentang hubungan kalian ini?" Saga bertanya setelah tawa mereka mereda.
"Sebenarnya aku ingin melamarnya kak," jawab Rian.
"Bagus."
"Tapi–"
"Kenapa? Hidupmu kebanyakan tapi, ada apalagi?" Saga mengerutkan dahinya karena ia merasa tidak ada lagi halangan atau rintangan di antara mereka berdua, karena mereka telah sama-sama saling mencintai.
"Ah, tidak kak. Tidak apa-apa."
Saga menatap adiknya dengan tatapan intens, karena ia tahu pasti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh Rian.
"Ini, sudah sore. Lebih baik kita pulang dulu takutnya mereka mencari kita," ucap Saga setelah beberapa lama.
Alexa dan Tiara pun mengangguk, apalagi Alexa tidak boleh terlalu lelah.
"Biar aku saja kak, yang mendorongnya." Tiara menawarkan diri ketika Saga hendak mendorong kursi roda istrinya.
"Baiklah," sahut Saga seraya menarik tangannya dari kursi roda itu dan membiarkan Tiara yang kini telah mulai mendorongnya.
Sedangkan Rian menghentikan langkah Saga, sehingga membuat mereka sedikit lebih jauh dari Alexa dan Tiara.
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Ya, tentang apa?"
"Kakak tahu kan, aku belum bekerja?" Rian membalas bertanya.
"Dari mana biaya untuk melamarnya kak," lanjut nya lagi.
Saga tersenyum mendengar penuturan adik tirinya itu.
"Kalau hanya soal biaya aku bisa bantu," ucap Saga seraya menepuk pundak Rian.
"Tapi kak, aku tidak ingin membebani hidupmu, aku tahu kau butuh banyak biaya untuk persalinan kak Alexa," tolak Rian.
"Ya, aku tahu. Tetapi masa depan hubungan kalian harus tetap berjalan dengan baik, kau bisa mengelola pabrik kita di desa ciganjur, dengan begitu kau akan mendapatkan penghasilan dari sana."
"Tapi, aku telah berjanji pada kakek untuk membantu nya mengurus pesantren."
"Siang kau bisa mengawasi pabrik dan malamnya kau bisa mengurus pesantren," ucap Saga memberikan solusi.
"Boleh juga sih, kak."
"Dan, untuk tempat tinggal kau tidak perlu khawatir, kau bisa tinggal di mansion kita setelah kau menikah. Karena kemungkinan besar aku dan Alexa akan tinggal di mansion Eyang Netty."
"Lalu bagaimana dengan kak Raisya, apakah dia akan setuju?" tanya Rian masih ragu.
"Nanti kita musyawarahkan, tunggu sampai keadaan kak Raisya benar-benar pulih."
Rian mengangguk, kemudian mereka melangkahkan kakinya mengejar Tiara dan Alexa yang telah jauh didepan.
**********************************************
Selesai shalat isya' seperti biasa para santri dan santriwati duduk di masjid di tempat yang terpisah. Mereka mendengarkan pencerahan agama yang pimpin oleh Kakek Syarifuddin sendiri.
Semua orang berkumpul disana, untuk mendengarkan pencerahan itu. Kecuali Alexa yang saat ini sedang duduk di kamarnya.
Seperti biasa, Alexa duduk di atas brankar dorong yang telah menjadi tempatnya selama berbulan-bulan. Demi keselamatan diri dan buah hatinya Alexa rela melakukan itu semua. Bahkan, semua aktivitasnya pun mulai dibatasi.
Alexa yang sedang asyik mengotak-atik ponselnya tiba-tiba saja menerima VC dari Septi, sahabatnya.
"Hai… !" sapa Septi dengan senyum manis di bibirnya.
"Hai, juga Mbak, apa kabar?" Alexa membalas menyapa kemudian menanyakan kabar sahabatnya itu.
"Wah, perutmu semakin besar saja, ya," ucap Septi lagi.
"Alhamdulillah Mbak."
Alexa mengelus perutnya semakin memperlihatkan perutnya yang semakin membesar.
"Di mobil, ini mau kesana," jawab Septi, "kamu tahu, siapa yang ikut bersamaku?"
"Pasti bareng Ricard kan?"
"Ya, dan ada seorang lagi yang ikut bersama kami,"
"Siapa?"
"Nanti juga kamu pasti tahu," Septi memutuskan panggilannya.
"Hallo, Mbak hallo…,"
Namun, panggilan telah terlanjur di putuskan. Alexa menjadi penasaran.
'Siapakah sebenarnya yang ikut?' batin Alexa.
Ditengah rasa penasarannya, tiba-tiba terdengar suara orang berbincang-bincang di luar, Alexa ingin sekali berjalan keluar dari kamarnya. Namun, ia khawatir akan kondisinya.
"Hello, shobat!" seru Septi yang tiba-tiba saja membuka pintu kamar Alexa.
"Mbak, kok sudah sampai?" Alexa mengernyitkan dahinya.
"Katanya masih di mobil?" lanjut nya.
"Iya, di mobil tapi di halaman pesantren." Septi tertawa cekikikan.
Membuat Alexa merasa gemas dan mencubit lengan sahabat nya.
"Mbak, siapa sih yang tadi mbak maksud?" tanya Alexa yang masih penasaran.
"Tuh, lihatlah!" Septi menunjuk ke arah pintu.
Tampak seorang wanita tua sedang berdiri disana.
"Mbok!" pekik Alexa.
"Alexa," balas Mbok Mirah.
Ya, wanita tua itu adalah Mbok Mirah. Wanita yang telah membesarkan Alexa selama di desa.
Mbok Mirah yang menempati Mansion milik Eyang Netty meminta Septi untuk menjemputnya saat akan pergi ke pesantren, karena Mbok Mirah merasa sangat merindukan Alexa.
"Bagaimana kabar mu Alexa?" tanya Mbok Mirah setelah mereka berpelukan.
"Alhamdulilah, baik Mbok. Mbok sendiri bagaimana?"
"Alhamdulilah, baik juga."
"Bagaimana kondisi kandungan kamu?" Mbok Mirah mengelus perut Alexa yang semakin membuncit.
"Alhamdulilah, baik juga Mbok, asal aku tidak berdiri berjalan."
"Kamu yang sabar ya, yang penting kamu dan bayimu sehat dulu," ucap Mbok Mirah memberi semangat.
"Iya, Mbok."
"Alexa, sebenarnya aku kesini ingin memberikan kabar bahagia kepada kamu," ucap Septi setelah beberapa saat terdiam.
"Kabar baik apa, Mbak?"
"Aku akan menikah seminggu lagi."
Sontak membuat Alexa tersenyum bahagia mendengar ucapan sahabatnya.
"Wah, selamat Mbak, tapi sayang aku tidak bisa datang," ucap Alexa dengan raut wajah menunjukkan kesedihan.
Melihat perubahan pada sahabatnya membuat Septi tersenyum juga.
"Tidak apa-apa, aku kesini sekalian pamit."
"Pamit–"
“Ya, karena pernikahan kami akan digelar di Dubai, mungkin kami akan menetap di sana," jelas Septi.
Tak terasa air mata berlinang membayangkan perpisahan mereka, Septi memeluk Alexa dengan erat. Berat rasanya mereka untuk berpisah.
"Semoga bahagia ya, Mbak." Alexa mengusap air matanya.
"Terimakasih, kamu juga jaga diri, semoga persalinan kamu lancar dan kalian berdua selamat tanpa ada rintangan apapun." Septi melerai pelukannya.
"Aamiin."
Setelah itu mereka berbincang-bincang saling berbagi keseruan mereka sehari-hari, seakan mereka ingin menghabiskan waktu itu hanya untuk bercerita karena mereka akan segera berpisah.