Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 87


Walau perasaan hatinya terluka dan sakit karena tahu tidak lama lagi Rianti dan Hendra yang diam-diam dicintainya akan bertemu dan hubungan cinta mereka akan terbina. Namun begitu, ketika Rianti meminta tolong padanya untuk menyampaikan surat balasan pada Hendra, Lusi tidak bisa menolak.


Dengan hati yang menyimpan kepedihan, Lusi menerima surat Rianti untuk disampaikan kepada Hendra, lelaki yang diam-diam dicintainya juga. Dan ketika pulang sekolah, dengan membawa hati yang dipenuhi oleh perasaan gelisah, Lusi meminta pada sopir pribadinya untuk mengantarnya ke rumah Hendra.


"Langsung pulang, Non?"


"Tidak!"


"Mau ke mana memangnya, Non?" tanya si sopir.


"Jalan saja kenapa sih, Mang?! Cerewet! Nanti juga tahu!" sungut Lusi Ketus, membuat supirnya terkejut, karena tidak biasanya Nona majikannya bersikap ketus apalagi bicara kasar seperti ini.


"Kok malah bengong! Ayo jalan!" perintah Lusi.


"Baik, Non."


Sang sopir pun menurut. Tanpa berani bertanya lagi, lelaki berumur sekitar 40 tahun itu menjalankan mobilnya, membawa pergi Nona majikannya meninggalkan lingkungan sekolah, di mana gadis itu bersekolah.


Karena takut Nona majikannya akan kembali marah, sopir pribadi yang memang ditugaskan mengantar jemput Lusi itu pun tidak lagi berani bertanya. Dia tetap menjalankan mobilnya, walau hatinya bingung harus ke arah mana. Karena Nona majikannya tidak mau langsung pulang ke rumah.


"Kita ke rumah Hendra, Mang," pinta Lusi akhirnya, setelah mobil yang membawanya melaju semakin jauh meninggalkan lingkungan sekolah


"Baik, non."


Si sopir pun mengarahkan laju mobilnya menuju ke arah wilayah di mana Hendra tinggal. Dia sudah tahu, karena memang semenjak majikannya masih duduk di bangku SMP, dia sering mengantarkan Nona majikannya ke rumah Hendra. Karena hubungan keluarga majikannya dengan keluarga lelaki itu, terutama dengan Hendra nya sangat baik. Malah tuan dan nyonya majikannya, sudah menganggap Hendra seperti keluarga mereka sendiri, layaknya anak mereka sendiri.


Memang selama ini Hendra tidak pernah bertemu dengan Rianti dikarenakan ia dibesarkan di rumah neneknya. Dan Ia baru kembali dijemput oleh kedua orang tuanya untuk tinggal di Mansion mereka ketika sang nenek telah tiada. Karena Rianti memang sudah diasuh oleh neneknya saja ia dilahirkan. Untuk menemani hari-hari neneknya yang sendirian.


Tidak lebih dari 15 menit akhirnya mereka sampai di jalan dekat rumah Hendra, si sopir pun menghentikan mobilnya


"Sebentar ya,mang?" kata Lusi Sebelum turun.


"Lama juga tidak apa-apa, Non. Kan biasanya Non Lusi kalau main ke rumah mas Hendra lama."


"Kali ini tidak, cuma sebentar."


"Baik,Non."


Meskipun bergegas turun dari mobil, kemudian melangkah meninggalkan tempat itu, masuk ke gang menuju ke arah rumah Hendra. Meskipun rumah Hendra tidak semewah mansionnya namun cukup indah dipandang mata. Karena memang Hendra bukanlah orang kaya seperti kedua orang tua Lusi, namun keluarga Hendra selalu berkecukupan tidak kurang satu apapun. Lusii yang sudah dikenal oleh warga di lingkungan itu, mau tidak mau harus membalas sapaan mereka.


"Assalamualaikum!" seru Lusi memberi salam kemudian langsung masuk ke dalam rumah. Dia memang sudah biasa, sehingga tidak merasa canggung lagi jika sudah berada di rumah Hendra.


'Sepi sekali,' gumamnya dalam hati.


'Pada kemana semua? Apa Hendra belum pulang? Dan kemana Ibu? Apa mungkin dagang? Tapi biasanya jam segini Ibu ada di rumah. tapi, kenapa sepi?' Lusi hendak melangkah ke belakang, ketika dari dalam kamar terdengar sahutan membalas salamnya.


Hati gadis itu lega, karena ternyata orang yang ingin dii temuinya sudah pulang dari sekolah dan ada di rumah. Lusi pun mengurungkan niatnya untuk memasuki dapur.


Tak lama kemudian, lelaki tampan itu pun keluar dari kamarnya masih mengenakan sarung. Sepertinya, Hendra yang memang tidak pernah meninggalkan shalat lima waktunya, baru saja menyelesaikan salat dzuhur.


"Eh, Lusi dari sekolah?" tanya Hendra.


"Ya. Kamu baru selesai shalat?" jawab Lusi Seraya bertanya.


"Begitulah. Kamu mau salat dzuhur?" Hendra menawarkan.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Belum siap."


"Kapan siapnya? Cobalah untuk shalat. Dengan shalat, Insya Allah hati kita akan tenang." tutur Hendra.


Lusi tidak menyahuti. Ia malah menanyakan hal yang lain.


"Ibu di mana?"


"Sedang pergi. ada perlu sama ibu?"


"Tidak."


"Kok tanya ibu?"


"Memangnya tidak boleh?" dengan wajah yang cemberut.


"Boleh. Siapa yang melarang? Ibuku kan sudah seperti ibumu sendiri, sebagaimana papa dan mamamu yang sudah seperti ayah dan ibuku sendiri," jawab Hendra.


"Kenapa sih wajahmu cemberut dan Murung? Tidak Biasanya. Apa ada masalah?" lanjut Hendra bertanya.


"Tidak Aku cuma capek saja."


"Kalau begitu, Sebentar aku ambilkan air minum." ucap Hendra penuh perhatian.


"Tidak usah, bisa aku ambil sendiri." tolak Lusi.


"Terserah deh kalau memang tidak mau dilayani."


"Ini rumahku juga. jadi tidak perlu aku dilayani."


"Ya, ya, terserah kamu deh. tapi ngomong-ngomong, kamu bawa balasan surat dari Rianti?" tanya Hendra dengan penuh harap. Ia berharap gadis pujaannya akan membalas suratnya dengan surat cinta pula.


"Kamu kenapa sih?" tanya Hendra lagi.


"Tidak apa-apa, kan sudah aku bilang aku cuma capek." masih saja menyangkal.


"Tapi tidak biasanya kamu bersikap begini? Kalau ada masalah, bilang saja sama aku. Apa ada laki-laki yang telah membuatmu kesal? kalau ada biar aku beri dia pelajaran agar tidak lagi-lagi mengganggumu." ujar Hendra sok perhatian.


Lusi hanya menarik nafas panjang dan berat. Namun di dalam hati, dia mengutuk kesal.


'Lelaki itu ya kamu! Kamu yang telah membuat aku kesal! Kamu tidak punya perasaan! Kamu telah membuat aku begini. Apa kamu tidak tahu kalau sudah lama aku naksir kamu? Apa kamu tidak tahu kalau aku sudah lama menyukaimu? kenapa kamu malah memberikan cintamu pada gadis lain? Kenapa tidak kamu berikan cintamu sama aku?'


Gadis itu kemudian melangkah ke dapur, mengambil air minum. Setelah itu, dengan membawa segelas air putih, Lusi kembali ke ruang tamu rumah itu, di mana Hendra berada.


"Lusi!" Hendra memanggil.


"Eh, ya?"


"Ada apa sih sama kamu?" Hendra masih saja penasaran.


"Tidak tidak ada apa-apa," jawab Lusi singkat.


"Sungguh?"


"Buat apa aku berbohong sama kamu?"


"Syukurlah kalau begitu." Hendra bernafas lega karena Lusi ternyata tidak apa-apa.


"Ya sudah, aku telah menyerahkan surat dari Kak Rianti kepadamu, Aku mau pulang."


"Kok buru-buru? Tidak nunggu Ibu pulang?" Hendra merasa heran tidak biasanya Lusi sesingkat itu ketika bermain ke rumahnya, biasanya ia sering berlama-lama bahkan seharian penuh.


"Sampaikan saja salamku untuk ibu."


"Lusi!" Hendra kembali memanggil


"Ada apa sih?" lanjut Hendra bertanya karena ia masih saja penasaran dengan perubahan sikap Lusi.


"Tidak ada apa-apa, serius deh," jawab Lu si meyakinkan.


"Aku tidak percaya. Aku mengenal kamu bukan baru kemarin Lusi. Aku mengenalmu sudah lama dan aku tahu sifatmu."


Lusi kembali terdiam. hatinya kembali mengutuk dan menjerit sakit. Di dalam hati ia berkata, 'Kalau memang kamu sudah mengenalku, Mengapa kamu seakan tidak tahu perasaanku? Kenapa kamu sepertinya tidak peduli pada apa yang aku rasakan? Seharusnya kamu tahu Hendra, kalau aku menyukaimu.'


"Sudahlah Hendra. aku tidak apa-apa, aku pulang dulu ya,"


"Biar aku antar,"


"Tidak usah."


"Tapi,"


"Sudahlah, tidak ada yang perlu dihiraukan. Aku pulang dulu, aku kemari diantar oleh mang Ucup, kok."


Selesai berkata begitu, tanpa menghiraukan bagaimana sikap Hendra yang masih belum mengerti akan sikapnya, Lusipun langsung bergegas pergi meninggalkan rumah Hendra.


"Ada apa dengannya?" risau Hendra dengan perasaan heran dan tidak mengerti.


"Tidak biasanya dia bersikap seperti itu." lanjut Hendra memikirkan sikap Lusi yang tidak pernah ia mengerti.


Hendra pun cuma bisa menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lalu setelah solusi menghilang dari pandangan matanya, Hendra pun masuk ke dalam kamarnya untuk membaca surat balasan dari Rianti.


Begitu sampai di dalam kamar, dengan hati berdebar dan berat dan tidak menentu sambil duduk di tepi ranjang tidurnya, Hendra membuka amplop warna merah jambu yang di depannya bertuliskan; ' tuk Hendra.' Kemudian mengeluarkan isinya, yang tidak adain adalah surat balasan dari Riyanti titik melembarinya, kemudian perlahan mulai membaca isinya.


Dear Hendra,


Apa kabar? Aku harap kamu juga dalam keadaan baik-baik saja, tidak kurang satu apapun sebagaimana aku dan senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa amin.


Hendra yang baik dan tampan,


Suratmu sudah kuterima dan kubaca. Sungguh, Betapa aku pun selama ini merasakan kegelisahan seperti yang kau rasakan mana aku pikir, Kaulah yang tidak merespon perasaanku. Kau tahu, beberapa hari ini sebelum menerima suratmu Aku senantiasa menunggu dan berharap kiranya kau akan datang menemuiku dan Betapa kecewanya diriku, begitu menyadari kau tidak datang sebagaimana yang aku harapkan.


Ah, Hendra, tentunya dari pertemuan kita pertama di pesta ulang tahun adikku seharusnya kau tahu perasaanku. Manalah Mungkin aku akan mau menemanimu ngobrol, kalau aku tidak suka sama dirimu? Dan jika saja kau tahu, semenjak pertemuan itu, aku senantiasa ingin kembali bertemu denganmu. Tiap malam Saat aku sedang seorang diri di dalam kamar, aku buka jendela kamar, kemudian kupandangi langit Aku berharap, kiranya kau akan muncul menemuiku. namun kembali aku harus mengalami kekecewaan karena yang kuharapkan ternyata tidak datang.


Kalau kau merasa tersiksa, aku Justru lebih tersiksa, Hendra. Karena aku adalah seorang cewek, dan perasaanku jauh lebih lemah dan lebih rapuh dibandingkan dirimu. Jika saja aku tidak ingat akan ada ketimuran, yang melarang semua cewek untuk lebih dulu mengutarakan perasaannya kepada cowok, ingin rasanya aku menemuimu dan mengungkapkan semua yang ada di dalam hatiku kepadamu.


Berhari-hari aku menunggu. Berhari-hari Aku berharap. tiap saat, tiap waktu tiap menit, Aku senantiasa didera oleh harapan dan rasa rindu. Dan betapa senang serta bahagianya hatiku, begitu Kuterima suratmu dan kubaca isinya.


Oh, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.


Hendra, Sebenarnya masih banyak kata-kata yang ingin aku sampaikan, namun kurasa lebih baik jika kita bertemu langsung. Karena itu aku berharap kiranya besok sepulang sekolah, kau bisa menemuiku di PGC.


Sekian dulu surat dariku, bila ada kata-kataku yang salah dan kurang berkenan di hatimu, kiranya kau berkenan memaafkanku.


Yang mencintaimu


Rianti Wijaya


Ingin rasanya Hendra saat itu berteriak untuk mencurahkan rasa gembira dan bahagianya, karena ternyata cintanya diterima oleh gadis yang dipuja dan dicintainya. Namun, khawatir Nanti para tetangga menyangka dirinya sudah gila, akhirnya yang bisa dilakukan oleh Hendra hanyalah mendekati surat itu ke dadanya berusaha meresapkan isi surat itu ke dalam hati sanubarinya.