
"Ini pemberangkatan pertama besok, nanti di sana ada orang gw yang jemput lo antar ke tempat nyokap lo"
"Gw mau berangkat malam ini aja Van"
"Ga bisa gw udah cek pemberangkatan malam ini ga ada" dengan yakin
Tanpa berpikir panjang Galang mengambil tiket yang di berikan Revan, dan segera meninggalkan tempat itu. Sedangkan Revan tersenyum puas melihat itu semua
"Langkah selanjutnya harus gw jalanin lagi sekarang"
Revan ikut meninggalkan tempat tersebut dan langsung kembali ke kediamannya
Pagi buta sekali Revan sudah bersiap-siap untuk pergi ke kota di mana Rania berada, Revan langsung menuju ke kediaman Rania saat tiba di kota itu. Ternyata Revan memberikan tiket penerbangan ke dua kepada Galang
Kini Rania dan Revan sudah berada di ruang kerja Rania, Revan memasang wajah serius sedari awal bertemu Rania
"Mau sampe kapan kamu bohong sama kak Revan?"
"Apa maksud kak Revan tentang nyonya Widya ya?"
"Kak Revan udah tau semua tentang hubungan kamu dan tante Widya" Rania hanya bisa terdiam dan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Kita berasal dari keluarga yang sama, jadi info yang kamu cari pasti kak Revan gampang untuk cari taunya" dengan tegas
"Maaf kak" menundukkan kepalanya
"Sekarang langsung ke intinya aja, keputusan apapun yang mau kamu ambil kak Revan ga akan ikut campur. Tapi sebelum itu kamu harus tau kebenaran dari sisi tante Widya"
Revan mulai menceritakan semua kejadian yang sebenarnya yang telah terjadi, Rania bak tak percaya mendengar itu semua. Cukup lama Rania berdiam diri mencoba menyambung satu persatu kejadian yang dia ketahui seakan dia menemukan sebuah jawaban yang pasti dari semua pertanyaannya
"Sekarang kamu udah tau semuanya, dan jujur aja maaf kak Revan ga bisa diam aja. Terpaksa kak Revan cari kamu dan ceritain semuanya, walaupun sebenarnya tante Widya larang kak Revan buat cerita"
Rania tetap terdiam dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Sekarang kamu mau gimana?" dengan tegas
"Aku mau cari dia kak" lirih
"Ga perlu di cari lagi, kak Revan tau tante Widya di mana"
"Tolong kak Revan kasih tau aku di mana?"
"Ayo kak Revan antar kamu ke sana"
Sedangkan Revan terus berkomunikasi dengan orang yang telah dia perintahkan untuk menjemput Galang, dia ingin lihat sekali lagi kebodohan Galang di hadapan mereka semua
Rania dan Revan pun segera pergi ke suatu tempat yang ternyata tak terlalu jauh dari tempat tinggal Rania saat ini, nyonya Widya bertekad untuk menghilang dari Galang dan Rania. Tetapi sebagai seorang ibu tetap saja hati kecilnya tak ingin berada jauh dari putrinya yang baru saja dia ketahui
"Ini rumahnya"
"Tapi kak.."
Rania sedikit ragu untuk menemui nyonya Widya
"Kamu harus tau tante Widya rela melakukan ini semua demi kamu, apa kamu bisa bahagia di atas kesedihan ibu kandung kamu sendiri?"
"Ayo turun"
Rania hanya membalas dengan anggukan kepalanya
Revan memimpin berjalan di hadapan sedangkan Rania mengekor dari belakang, hingga Revan pun mulai membunyikan bel rumah mewah tersebut. Dan pintu rumah pun di buka oleh nyonya Widya langsung
"Kok kamu bisa di sini Van?"
"Ada yang mau ketemu sama tante" tersenyum, Rania pun muncul dari belakang tubuh Revan
"Putri kecil mama, kamu ga tau bahagia nya perasaan mama saat ini bisa melihat kamu lagi sayang" mulai berkaca-kaca
"Apa kita bisa ngobrol dulu di dalam tante?"
Mereka bertiga pun berjalan ke arah ruang tamu rumah mewah tersebut, Rania seperti kehabisan kata-kata sedangkan nyonya Widya terus memandangi Rania dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Sebelumnya Revan minta maaf ke tante, karena Revan ga ikutin kemauan tante. Revan rasa kalo kita ambil jalan kayak kemarin ini ga adil untuk tante"
"Tapi Van..."
"Revan udah cerita semuanya ke Rania"
"Apa bener yang kak Revan bilang ke aku?"
Nyonya Widya meninggalkan mereka sejenak dan segera kembali lagi membawa surat yang di tinggalkan mamanya di atas meja, Rania pun mengambil surat itu dan mulai membacanya
"Bagaimana pun juga saya tetap memohon maaf ke kamu, karena saya ga pernah memberikan masa kecil yang sempurna untuk kamu. Saya juga pernah bersikap tidak baik terhadap kamu" lirih
"Jadi kamu ga pernah sekali pun berpikir untuk menggugurkan saya? kamu sendiri ga tau tentang saya" Rania langsung bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh nyonya Widya. Sedangkan nyonya Widya hanya bisa menjatuhkan air matanya di dalam pelukan Rania
"Nia minta maaf ya mah"
"Kamu panggil saya apa?" Rania melepaskan pelukannya dengan mata yang sudah mulai banjir oleh air mata
"Aku boleh kan panggil nyonya Widya yang terhormat ini mama?" tersenyum, nyonya Widya pun langsung menarik kembali tubuh Rania ke dalam pelukannya
"Kamu ga tau sayang, bagaimana sakit nya saya saat tau kamu sudah tiada di dunia ini? terima kasih Tuhan kebahagiaan yang kau berikan ini sungguh berlimpah"
Mereka saling melepaskan rindu yang lama terpendam di dalam hati mereka, setelah puas mereka pun saling melepaskan pelukannya dan kini Rania duduk di hadapan nyonya Widya. Sedangkan nyonya Widya masih setia dengan mata yang sesekali mengalirkan air mata
Dengan suasana yang sedang haru itu tiba-tiba saja
"Enggak mah..!! Apapun yang mama mau lakuin aku ga setuju..!!" Dengan volume suara yang tinggi
Sontak saja semua mata langsung menoleh ke arah suara tersebut dengan perasaan bingung, hanya Revan yang sedikit tersenyum
"Galang.. Kok kamu ada di sini?"
Galang mulai melangkahkan kakinya mendekati mereka
"Kalo Galang ga datang apa mama akan pergi? mah aku mungkin akan kuat kehilangan dia, tapi aku mungkin ga akan kuat kehilangan mama" bersimpuh di kaki mamanya
"Ga masalah dong sesekali gw ngerjain mereka, mereka juga selama ini udah ngerjain gw terus"
"Kamu ngomong apa sih Lang?"
"Mah Galang udah tau semuanya, kalo dia yang anak kandung mama ga mau terima mama. Galang bersedia terima mama sampai kapan pun mah, kita bisa bahagia kok mah hidup berdua" menjatuhkan kepalanya di kaki mamanya, Rania membulatkan kedua bola matanya mendengar ucapan Galang ada perasaan kesal bercampur geli mendengar itu semua
"Tapi Lang..."
Galang kembali mengangkat wajahnya menatap sendu ke mamanya
"Kita pulang ya mah, jangan pernah berpikir sedikit pun untuk tinggalin Galang lagi. Galang janji Galang akan berusaha jaga hati mama, Galang akan berusaha melupakan dia mah" lirih
"Apa lo serius Lang mau lupain Rania?" tanya Revan sambil menahan tawanya
"Ya Van gw akan berusaha lupain dia"
Galang melihat sekilas ke arah Rania, lalu menatap Revan dengan yakin
"Walaupun mereka udah baikan?"
"Gw ga perduli gw cuma punya mama, dan gw cuma mau mama"
Galang langsung terdiam seperti tersadar akan perkataan Revan sebelumnya
"Asli Lang lo kayak orang b*doh banget saat ini, ga sia-sia gw mainin semua ini. Tapi gw benar-benar bersyukur karena semuanya terselesaikan dengan baik" Revan tertawa lepas, di sambut oleh tawa kecil oleh mamanya dan Rania
Mampir kak ke karya terbaru aku ðŸ¤