Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Pertemuan


Pagi itu Rania dan putri kecilnya sudah bersiap-siap setelah menyelesaikan sarapan paginya mereka pun memulai perjalanan menuju ke bandara untuk pergi ke kampung halaman Rania, perjalanan mereka sangat lancar tanpa ada hambatan yang dihadapi


Sedangkan di tempat yang sama juga ada Galang yang juga baru saja turun dari pesawat sehabis melakukan perjalanan bisnis, Galang melangkahkan kakinya dengan pasti dan tiba-tiba saja ponselnya berdering


" Ya Van "


" Lo datang kan ? "


" Gimana ya Van gw masih sibuk " tersenyum


" Wah jahat lo Lang "


" Ya elah gw pasti datang lah, ini gw baru aja turun dari pesawat kok "


" Nah gitu dong.. Itu baru sahabat gw "


" Hmm.. Ya udah gw mau balik dulu ya.. Nanti malam gw pasti datang "


" Ok Lang "


" Semoga aja ini jalan untuk mereka "batin Revan sambil tersenyum penuh arti


Tepat sebelum Galang memasukkan ponselnya ke dalam sakunya tiba-tiba saja ada seorang gadis kecil yang sedang berlari dan tak sengaja menabrak dirinya, dan alhasil ponsel yang belum sempat tersimpan pun terjun bebas dari genggaman tangannya


Gadis kecil tersebut langsung pucat pasi melihat wajah Galang yang masih terdiam dan memandangi ponselnya di lantai, ternyata setelah turun dari pesawat Rania memutuskan untuk menunggu anaknya dan pengasuh anaknya di kejauhan sedangkan anaknya dan sang pengasuh pergi ke toilet


" Maaf om... " Dengan suara yang bergetar


Sang pengasuh langsung bergegas mengambil ponsel Galang yang masih tergeletak di lantai, dan mengecek keadaan ponsel Galang yang ternyata terlihat dengan jelas bila layar ponsel Galang sudah ada retakan di mana-mana


" Maaf pak anak ini tidak sengaja, bila bapak ingin meminta ganti rugi saya akan menghubungi ibu dari anak ini "


Sang pengasuh mencoba memberanikan diri memberikan ponsel tersebut ke Galang, Galang meraih ponselnya dan wajahnya semakin menjadi marah saat melihat keadaan ponselnya. Sedangkan sang gadis kecil semakin ketakutan anak itu sudah mulai berkaca-kaca.


Dengan sigap sang pengasuh langsung mengirimkan pesan singkat kepada Rania, tetapi Rania yang meletakkan ponselnya di dalam tas dalam keadaaan tidak aktif pun tidak mengetahui pesan itu


" Apa kamu ga di ajarin sama mama papa kamu untuk....!! "


Kata-kata Galang langsung tertahan di bibirnya saat melihat wajah gadis kecil yang sudah akan menangis tersebut, sedangkan sang pengasuh langsung memeluk gadis kecil tersebut


" Anak ini.. Kenapa hati aku jadi merasa bersalah melihat anak ini mau menangis ? " Galang langsung berjongkok mensejajarkan dirinya dengan anak kecil itu


" Sayang maaf papa ga bermaksud marah sama kamu " dengan lembut


Anak itu dan sang pengasuh langsung menatap Galang dengan penuh rasa heran


Galang seperti tersadar dengan kata-kata yang telah terlontar dari bibirnya " Kenapa gw bisa bilang gitu ya ? "


" Caca minta maaf ya om.. Caca bener-bener ga sengaja om "


" Om yang harusnya minta maaf sama kamu sayang, harusnya om ga pantas untuk bentak kamu cuma karena masalah ini " mengelus rambut Caca dengan lembut


" Kenapa rasanya ingin sekali aku memeluk anak ini ? bahkan bisa di bilang perasaan ini sama persis seperti perasaan saat melihat anak aku dan Anggi. Dan kalau boleh jujur bahkan perasaan aku ke anak ini lebih besar lagi "


" Makasih ya om "


Galang tersenyum dengan hangat, senyuman yang telah lama hilang dari bibirnya


" Nama kamu Caca ? "


" Iya om aku biasa di panggil Caca, nama aku Salsabila Baskoro "


Seperti ada sebuah batu besar yang menimpa dada Galang pada saat itu, dia merasakan sesak yang teramat saat mendengar nama lengkap dari gadis kecil itu. Sedang di tempat lain Rania segera bergegas menuju ke arah anaknya karena ketika dia menghidupkan ponselnya untuk menghubungi anaknya dan sang pengasuh yang tak kunjung kembali, pesan singkat yang di kirimkan pengasuh anaknya pun masuk


Dengan perasaan yang cemas Rania mencari di mana keberadaan anaknya, dari kejauhan Rania sudah melihat pengasuh anaknya yang sedang berdiri di samping anaknya, dan dia melihat ada seorang pria dewasa yang sedang berjongkok di hadapan anaknya


Dengan polosnya gadis kecil itu mengangguk


Galang pun memeluk gadis kecil itu dengan sangat lembut, bagaikan ada semilir angin yang berhembus di dalam hatinya dia rasakan. Senyuman bahagia langsung terlukis di bibirnya dengan sendirinya


" Ya Tuhan perasaan apakah ini ? mengapa ada perasaan yang aku sendiri ga tau ini perasaan apa ? "


Rania yang melihat hal itu menjadi cemas karena anaknya sedang berada di dalam pelukan orang yang tidak dia kenal, Rania pun berlari kecil dan langsung menarik tangan anaknya dari dalam pelukan orang tersebut. Sontak saja hal tersebut membuat Galang terkejut dan langsung berdiri sambil menatap ke arah Rania


" Kenapa hati aku sakit melihat perempuan ini ? kepala aku juga mulai sakit, ga aku harus bisa tahan rasa sakit ini " baik hati ataupun kepala Galang langsung sakit begitu melihat Rania


" Kak Galang.. "


" Maaf kamu kenal saya ? "


" Oh.. Ga hanya ga pernah mencari kami bahkan kakak sudah melupakan kami ya ? "


Rania menjawab dengan menggelengkan kepalanya


" Maaf saya salah orang, apa saya perlu ganti rugi ? "


" Ga perlu "


" Ok.. Kalo gitu kami permisi "


Rania pergi meninggalkan Galang begitu saja sambil memegang tangan anaknya, dan sang pengasuh pun mengikuti dari belakang


" Siapa sebenarnya mereka ? kenapa hati aku sekarang merasa lebih sakit saat melihat perempuan itu pergi ? "


Galang hanya diam dan mematung memandangi punggung Rania hingga Rania benar-benar menghilang di kerumunan orang-orang yang berada di tempat itu


Rania kembali ke kediaman di mana dulu kala Adrian menanti dirinya setelah pergi dari sisi Galang, sepanjang perjalanan Rania hanya bisa terdiam dia benar-benar tak menyangka bila di hari pertama dia menginjakkan kakinya di kota itu dia sudah kembali bertemu dengan Galang


Tak butuh waktu lama mereka pun sudah memasuki gerbang utama rumah mewah tersebut, rumah yang sudah sangat lama sekali tidak di singgahi oleh dirinya. Rania menapakkan kakinya dan berjalan ke arah pintu utama rumah tersebut, langkah Rania pun sempat terhenti


" Sekarang kamu udah ga ada kak, saat seperti ini sudah ga ada yang peluk aku beri kekuatan seperti dulu "


" Mami kenapa ? " menggenggam tangan Rania


Rania pun seperti mendapatkan kembali kesadarannya


" Kamu yang tenang di sana ya kak, walaupun kamu udah ga bisa peluk aku lagi kayak dulu, tapi sekarang ada Caca kekuatan dalam hidup aku "


" Mami ga apa kok sayang, ayo kita masuk " tersenyum


Rania berhasil melupakan pertemuannya dengan Galang


" Ayo, mami aku lapar "


" Ok.. Sekali ini mami yang akan buat makanan untuk Caca " mencubit hidung mungil anaknya


" Makasih mami " tersenyum dengan tulus


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "


Ceritanya sudah TAMAT kak🤭


Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉