
Malam itu acara yang di adakan oleh Revan di hadiri dengan banyak tamu undangan, Revan benar-benar merencanakan itu semua untuk membuat Rania tak curiga akan rencananya. Tetapi satu hal yang Revan tak ketahui bahwa mereka sudah bertemu sebelumnya
Rania hadir di acara tersebut memakai gaun berwarna biru muda di bawah lutut, Rania benar-benar terlihat cantik dan elegan pada saat itu. Rania juga memakaikan anaknya dengan gaun yang berwarna sama hanya dengan model yang berbeda
Sesampainya di tempat yang telah di sediakan untuk acara itu Rania dan anaknya segera mencari di mana keberadaan Revan dan istrinya, Rania pun tak lupa memberikan kado yang telah dia siapkan. Mereka pun berbincang ringan di sana, Revan terus saja merasa gelisah karena sedari tadi dia belum melihat kehadiran Galang di tempat itu
Di sana juga hadir beberapa keluarga besar dari Revan yang sangat menyayangi Rania dan Caca, begitu mereka melihat Rania dan Caca mereka segera mendekat dan berbincang layaknya seperti keluarga sendiri. Rania benar-benar merasa bahagia di tengah keluarga itu, karena dia merasakan kehangatan sebuah keluarga di tengah-tengah mereka
" Mami aku mau ke toilet "
" Mbak tolong anterin Caca ke toilet ya "
" Ya bu "
Rania terpaksa meminta pengasuh untuk mengantarkan anaknya karena dia tak enak hati meninggalkan beberapa orang dari keluarga besar Adrian yang umurnya jauh lebih tua dari dirinya, setelah menyelesaikan segala urusannya di kamar mandi sang pengasuh pun kembali menuntun Caca kembali ke arah kerumunan orang-orang. Hingga tiba-tiba Caca menarik tangan sang pengasuh
" Mbak om baik "
Ternyata saat itu Caca melihat Galang yang baru saja tiba di tempat itu
" Oh.. Om yang kemarin ya "
" Samperin yuk mbak "
" Tapi kita harus cari maminya Caca, nanti maminya Caca jadi khawatir "
" Sebentar aja kok mbak " menarik paksa tangan sang pengasuh
" Ya udah deh dari pada Caca ngambek lebih baik ikutin aja dulu, orang itu juga kayaknya bukan orang jahat "
" Om baik... " Kegirangan
" Loh kamu ada di sini juga sayang ? " mengelus rambut Caca dengan lembut
" Ya aku sama mami di undang sama om Revan " dengan polosnya
" Berarti Revan kenal sama mereka berdua ya ? sebaiknya nanti aku cari tanya ke Revan siapa sebenarnya mereka ini ? "
" Terus mami kamu sekarang ada di mana sayang ? "
" Tadi lagi ngobrol sama opa Jon "
" Apa papi kamu juga ada di sana ? " Astaga apa yang aku pikirin ? apa hubungannya sama aku ? perempuan itu kan udah punya anak pasti dia juga punya suami lah "
" Ga dong om.. Papi kan sekarang udah di samping Tuhan " dengan polos
Mendengar hal itu Galang pun berjongkok mensejajarkan dirinya di hadapan Caca
" Om minta maaf ya sayang, om ga tau.. "
" Ga apa kok om, mami bilang kalo Tuhan sayang sama papi makanya papi di panggil duluan "
Galang hanya bisa tersenyum canggung karena merasa sedikit bersalah
" Caca tau ga nama om ? "
Gadis kecil itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya
" Makanya Caca panggil om dengan panggilan om baik " tersenyum
" Nama om itu Galang.. Galang Baskoro "
" Wah... Kok nama belakang kita bisa sama ya om " sumringah
" Om juga ga tau sayang, gimana kalo mulai sekarang om Galang jadi papanya Caca aja ? "
" Caca maunya papi soalnya caca punya mami " dengan polosnya
" Berarti om boleh dong jadi papi nya Caca ? "
" Apa berarti mulai sekarang Caca boleh panggil dengan panggilan papi ? " lirih, menundukkan kepalanya
" Boleh kalo Caca mau "
" Ternyata benar perasaan aku ke anak ini ga bisa di bohongin, sepertinya aku harus cari tau tentang anak ini secepatnya "
Setelah puas berada di dalam pelukan Galang mereka pun menuju ke arah kerumunan orang-orang, Galang mencari di mana keberadaan sahabatnya itu. Dan dia melihat Rania berada tak jauh dari sahabatnya itu, sedangkan gadis kecil yang sedang merasa bahagia itu langsung berlari ke arah Rania
" Mami "
" Ya sayang, kok lama ? "
" Ya tadi aku ketemu sama papi " dengan polosnya
Semua yang berada di dekat Rania langsung terdiam termasuk Revan
" Papi apa sayang ? " mengerutkan keningnya
" Van "
" Hai.. Udah sampe Lang ? "
" Selamat merayakan hari pernikahan ya " berjabat tangan dan memberikan sebuah kado yang telah Galang siapkan
" Makasih ya Lang " Galang tersenyum
Rania yang merasa canggung sudah hendak melarikan diri dari dekat Galang, hingga tiba-tiba saja sang anak menarik tangannya
" Ini yang tadi aku bilang papi "
Rania membulatkan ke dua bola matanya mendengar hal tersebut, sedangkan Revan dan istrinya hanya bisa tersenyum tipis
" Sayang kamu ga boleh gitu, om ini... "
" Nama belakang kita sama loh mami, nama kita sama-sama Baskoro jadi om ini ijinin aku panggil papi.. Aku bener kan papi ? "
Galang hanya membalas dengan senyuman
" Ya nama kalian pasti sama sayang, karena kamu memang anak dia. Tapi buat apa ? dia aja bahkan ga pernah sekali pun mencari kita, dia juga bahkan sudah melupakan kita. Jadi buat apa ? "
" Caca dengerin mami ya, kamu ga boleh sembarang panggil orang lain yang ga kenal sama kamu dengan sebutan itu " sinis
" Tapi aku pengen punya papi kayak teman-teman aku yang lain mami " lirih
" Maafin mami ya sayang mami selalu bikin kamu sedih "
" Caca sayang... "
" Kalo itu bisa bikin Caca bahagia, ga masalah kok buat saya " dengan yakin
" Caca main sama mbak dulu ya, mami mau ngobrol sama om ini "
Dengan berat hati Caca pun mengikuti permintaan Rania, sedangkan Revan membawa Rania dan Galang ke sebuah ruangan. Dan Revan hanya bisa tersenyum tipis saat meninggalkan mereka berdua
" Semoga ini awal yang baik untuk kalian berdua, udah lama gw ga liat Galang bisa senyum seperti tadi. Semoga semua usaha gw ini ga sia-sia "
Revan kembali di antara kerumunan orang-orang dan segera mencari di mana keberadaan Caca, dia ingin tau bagaimana caranya Caca bisa mengenal Galang. Sontak saja Revan menjadi sedikit cemas karena ternyata mereka sudah pernah bertemu dan Revan belum sempat menjelaskan kepada Rania tentang keadaan Galang saat ini
Begitu masuk ke dalam ruangan itu Rania sudah memasang wajah penuh amarah sedangkan Galang hanya memandangi Rania dengan perasaan bingung, mereka pun kini duduk dengan saling berhadapan dengan saling diam. Cukup lama mereka hanya berdiam diri dan hanya saling memandangi satu sama lain dan pikirannya masing-masing
" Aku bingung cewek ini kenapa sih ? masa cuma gara-gara masalah anaknya panggil gw papi aja segitu marahnya dia sama gw ? "
" Kak Galang boleh dulu sakiti aku seperti apapun, tapi aku ga akan biarin kak Galang sakiti Caca juga. Pura-pura ga kenal sama kami ? terus sekarang apa maksudnya dia bilang ke Caca dia bersedia di panggil papi sama Caca "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉