Hati Seorang Wanita

Hati Seorang Wanita
Keluarga Baru


"Setiap manusia di lahir kan ke dunia ini semuanya bersih, dan setiap manusia yang lahir ke dunia tidak akan ada yang sempurna. Kita cuma manusia biasa yang pasti akan melakukan kesalahan, yang terpenting bukan masa lalu kita tapi bagaimana kita yang sekarang bisa kah menjadi sosok yang lebih baik"


Itulah ucapan yang di pernah di katakan ibunya saat masih masih ada di dunia ini, Rania bak mendapatkan kembali bisikan kata-kata itu di telinganya


Melihat pria paruh baya di hadapannya sudah berkaca-kaca hati Rania dalam sekejap menjadi luluh terlebih lagi dia sudah mendengarkan penjelasan dari pria tersebut, Rania pun memutuskan berdamai dengan ayahnya bagaimana pun juga dia tak dapat melimpahkan semua kesalahan terhadap ayahnya


Tetapi setelah melihat berkas yang di kirim oleh sekretaris pribadinya serta penjelasan dari ayahnya, entah mengapa hati Rania semakin tidak menyukai sosok ibu kandungnya


"Apa aku boleh panggil bapak dengan sebutan ayah?"


Sontak saja pria paruh baya itu tak dapat lagi menahan air matanya, air matanya langsung mengalir dari pelupuk matanya


Rania mengantarkan ayah kandungnya kembali ke kediamannya, di sana ayah kandungnya dengan bangga langsung mengenalkan Rania kepada keluarga besarnya. Rania merasakan kehangatan sebuah keluarga di tengah-tengah mereka, Rania bagaikan mendapatkan kembali sosok ibu dan ayahnya yang telah tiada


Rania di jamu bagaikan seorang tamu penting di rumah tersebut, hal itu terjadi karena sang istri dari pria tersebut mengetahui masa lalu dari sang ayah. Dan di saat sang ayah dalam keadaan yang sangat terpuruk istrinya selalu memberikan dia kekuatan untuk bisa melanjutkan perjalanan hidupnya


Rania benar-benar bahagia berada di tengah-tengah keluarga itu, seakan dia dapat melupakan sejenak segala masalah yang akan dia hadapi selanjutnya


"Tuhan seandainya saja aku dapat memilih, maka aku akan memilih agar waktu dapat berhenti pada saat ini, karena aku sendiri tak akan tau masalah yang akan aku hadapi selanjutnya dapatkah aku lalui sebaik hari ini" tersenyum memandangi keluarga baru ya kini dia miliki


Setelah menyelesaikan makan siang di rumah itu Rania pun berpamitan kepada keluarga barunya itu


"Apa kamu akan datang lagi nak?" memasang wajah sedih


"Aku pasti datang lagi kok yah, aku belum kenalin Caca ke kalian semua" tersenyum


"Caca?"


"Cucu pertama ayah" sambil mengangguk


Laki-laki paruh baya itu kembali berkaca-kaca "Ya Tuhan, semoga aku dapat menebus semua kesalahanku kepada anak ini di masa lalu"


"Saya minta maaf ya, terlalu banyak mungkin kesalahan saya sama kamu"


Rania langsung memeluk tubuh pria tersebut


"Nia rasa ga perlu ada kata maaf untuk sebuah ikatan yang namanya keluarga" berbisik


Pria paruh baya itu kembali tak dapat menahan air matanya


"Saya ga tau beban hidup seperti apa telah kamu lalui nak? sehingga kamu bisa menjadi wanita yang berhati kuat seperti ini. Saya hanya bisa mendoakan semoga kebahagiaan akan selalu menyertai kehidupan kamu ke depannya"


"Kamu harus ingat ya nak, mulai sekarang ga perduli apapun yang terjadi sama kamu. Kapanpun kamu bisa datang ke rumah ini karena ini rumah kamu juga, kapanpun pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu" mengelus rambut Rania dengan lembut


"Bu.. Ibu liat kan dari sana? ibu sekarang bisa tenang bu, karena sekarang aku punya keluarga baru yang tulus sayang sama aku bu" berkaca-kaca


Sedangkan di tempat lain sudah semakin gelisah, Galang tau dengan pasti bila Rania sudah membaca semua pesan yang dia kirimkan sedari malam tetapi tetap tak ada satu pun yang Rania gubris. Galang juga beberapa kali mencoba menghubungi Rania tetapi panggilan dari dirinya di abaikan juga oleh Rania


"Kamu kenapa? ada masalah apa sebenarnya? bukankah semalam semua baik-baik aja. Kamu bilang mau kasih aku kesempatan, apa ini cara kamu balas semua perbuatan aku di masa lalu?" melemparkan ponselnya ke sembarang arah


Galang bangkit dari duduknya dan mencari ponselnya dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan, Galang segera menuju ke rumah pamannya Rania. Bagaimana pun juga dia ingin mendapatkan sebuah penjelasan dari Rania


"Sayang" merentangkan kedua tangannya saat melihat Caca yang sedang bermain di halaman


"Papi.." Caca berlari menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Galang


"Papi kangen sama aku ya?"


"Kok kamu tau sih" mencubit hidung hidung Caca


"Ya dong Caca kan anak baik, pasti semua kangen sama Caca"


"Mami kamu ada sayang?"


"Mami ga ada lagi pergi"


"Kemana sayang?"


"Aku ga tau pi, mami pergi aja aku ga tau aku masih tidur"


"Sebenernya kamu di mana? masalah apa yang lagi kamu hadapi? Tolong jangan begini, jangan menghindar dari aku" menutup kedua bola matanya


"Papi kenapa?"


"Papi ga apa kok sayang, papi boleh ga main sama kamu di sini?"


"Boleh dong, aku senang kalo papi kamu mau temenin aku main" tersenyum bahagia


"Aku akan tunggu sampai kamu datang, aku butuh penjelasan apa yang terjadi sama kamu?"


"Sekarang kita mau ke mana bu?"


"Ke rumah paman aku aja dulu, saya tinggalin Caca tadi masih tidur"


"Baik bu"


Rania di antar oleh sekretaris pribadinya, sedangkan sang supir sudah terlebih dahulu di perintahkan oleh Rania untuk kembali setelah mengantar dirinya ke cafe tempat yang di tentukan untuk bertemu ayah kandungannya. Dari kejauhan Rania sudah melihat mobil Galang yang terparkir di depan rumah pamannya


"Maaf kak aku belum siap, aku ga tau apa yang harus aku lakuin sekarang? yang pasti mungkin ini semua akan menggangu hubungan kita"


Rania melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah pamannya dengan perasaan yang bercampur aduk, dia belum siap untuk bertemu dengan Galang tetapi apa mau di kata Galang sudah berada di tempat itu


"Mami.."


"Hai sayang.. Maaf ya tadi mami ada perlu" Caca menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


"Ekh.. Om ada di sini juga?" asisten pribadinya hanya sedikit mengangguk sambil tersenyum tipis


Galang yang melihat Rania langsung bangkit dari duduknya, dia berharap dapat berbicara dengan Rania tentang apa yang yang telah terjadi


"Kak.." Tersenyum getir,


Galang hanya bisa mengerutkan keningnya melihat perlakuan Rania


"Aku ke kamar dulu ya kak" dengan terpaksa Galang hanya bisa mengangguk dan Rania pun meninggalkan ruang tamu, sedangkan sekretaris pribadi Rania pergi dari tempat itu


"Aku yakin sekarang ga mungkin semuanya baik-baik aja, pasti sesuatu udah terjadi. Perubahan sikap kamu benar-benar menunjukkan dengan jelas, tapi apa salah aku?" memasang wajah muram


Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊


Terima kasih 🤗


Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗


Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak "Zahra Anak Yang Tak Berdosa"


Ceritanya sudah TAMAT kak🤭


Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉