
Suara tangisan pun mulai pecah, Rania bergegas memanggil dokter jaga di rumah sakit tersebut. Dokter dan para perawat pun melakukan pertolongan kepada pamannya Rania, hingga dokter pun mulai menghentikan semua tindakannya
" Maaf kami sudah berusaha semampu kami "
Dan tangisan pun semakin terdengar dengan jelas
Rania berusaha menguatkan hati bibinya dia langsung memeluk bibinya dengan erat " Bibi harus kuat, paman juga pasti sedih kalo liat bibi begini " berurai air mata
Sedangkan sang bibi hanya menangis dengan hebat di dalam pelukan Rania
Rania segera menyelesaikan segala urusan dengan pihak rumah sakit agar dapat segera membawa pamannya kembali untuk di kebumikan, pagi hari rumah pamannya pun sudah mulai ramai di datangi oleh para pelayat. Rania juga memerintahkan supirnya dan pengasuh anaknya agar datang ke rumah pamannya
Suasana haru pun menyelimuti rumah itu, baik bibinya maupun Mila dan keluarga kecilnya sedang di liput suasana pilu. Apalagi anak dari Mila yang masih kecil terus saja menangis melihat sang kakek yang terbujur kaku, karena selama ini pamannya Rania sangat dekat dengan cucunya tersebut
Setelah segala urusan di lakukan Rania dan buah hatinya ikut mengantarkan pamannya ke tempat peristirahatan terakhirnya, Rania menempatkan makam pamannya di samping ibunya seperti yang selalu di ucapkan oleh pamannya selama masih hidup
Hampir semua orang yang hadir di tempat itu pun meneteskan air matanya karena melihat sang cucu yang menangis dengan hebatnya saat melihat kakeknya di masukan ke dalam liang lahat, Rania pun tak dapat menahan air matanya
Rania kembali ke rumah pamannya dia ingin mengikuti acara yang akan di adakan pada malam itu, dan dia mulai merasakan tubuhnya yang lelah bagaimana pun hari sebelumnya adalah hari yang berat bagi dirinya dan dia pun belum cukup puas beristirahat
Bibinya menyiapkan sebuah kamar bagi Rania dan anaknya, Rania sudah mulai merebahkan tubuhnya untuk beristirahat hingga tiba-tiba suara pintu kamar tersebut di ketuk
Tok.. Tok..Tok..
" Ya " bangkit dari tidurnya dan membukakan pintu
" Maaf kak aku ganggu ya ? "
" Ga kok, kenapa Mil ? "
" Ini kak " menyerahkan sebuah kalung berliontin giok berwarna hijau
" Buat aku ? "
" Ya, kalung ini udah lama aku minta dari ayah, tapi ga pernah di kasih sama ayah. Karena ayah bilang ini punya kak Nia " berkaca-kaca
Rania pun mengambil kalung tersebut
" Sebenernya sebelum ayah masuk rumah sakit ayah udah minta aku buat cari tau tentang kalung ini, tapi maaf kak aku ga ngerti caranya. Itu permintaan terakhir ayah sama aku " lirih
" Kak itu permintaan terakhir ayah yang ga bisa aku jalani, apa bisa kak Nia bantu aku penuhin permintaan terakhir ayah ? "
" Apa artinya aku harus cari tau siapa keluarga aku yang sebenarnya ? keluarga yang telah membuang aku "
" Maaf kak kalo permintaan aku berlebihan, kalo kak Nia ga bisa lakukan apa boleh sementara aku pinjam dulu kalungnya ? bagaimana pun juga aku mau penuhi permintaan terakhir ayah, walaupun aku sendiri ga tau caranya " meneteskan air matanya
" Gimana pun juga paman selama ini udah baik sama aku dan ibu setelah kepergian ayah, paman sering bantu kami tanpa pihak keluarga yang lainnya tau. Aku ga bisa abaikan permintaan terakhir paman gitu aja " membuang napasnya dengan kasar
" Biar kak Nia yang cari tau tentang kalung ini "
" Beneran kak ? makasih ya kak "
Rania hanya tersenyum, setelah kepergian Mila dari kamar itu Rania pun kembali merebahkan tubuhnya di samping anaknya sambil terus memandangi kalung tersebut
" Aku harus penuhi keinginan terakhir paman, sebaiknya nanti aja setelah semua urusan paman selesai aku baru suruh orang cari info tentang kalung ini "
Sedangkan di tempat lain seharian penuh Galang gelisah menunggu hasil dari tugas yang dia serahkan kepada orang kepercayaannya, Galang benar-benar di buat tak nyaman untuk melakukan segala pekerjaan yang kini berada di hadapannya
Tok..Tok..Tok..
" Masuk "
" Permisi pak saya mau mengantarkan informasi yang bapak minta " melangkahkan kakinya mendekati meja Galang
" Sudah lengkap ? "
Orang tersebut menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat, Galang pun segera mengambil amplop tersebut dan mulai membukanya
" Kalau begitu saya permisi dulu pak "
Galang hanya menganggukkan sedikit kepalanya, dan sekretaris pribadi Galang pun keluar dari dalam ruangannya
Galang mulai melihat satu persatu kertas yang berada di dalam amplop coklat itu, dari lembar pertama Galang sudah di buat terkejut. Di lembar pertama tertulis tentang biodata lengkap dari seorang Rania dan data tentang suami pertama Rania yang tak lain adalah dirinya sendiri
" Jadi aku pernah nikah sama perempuan itu, pantes aja dia kayak kesel banget waktu aku ga kenal dia di bandara "
Galang pun melanjutkan membaca lembar berikutnya di situ dia di buat semakin terkejut
" Dia nikah lagi setelah beberapa bulan, kalo liat tanggalnya jadi anak itu anak siapa ? atau anak itu anak aku makanya dia kasih nama aku di belakang nama anak itu. Tapi kenapa dia nikah lagi sama orang lain? "
Galang kembali melanjutkan membuka lembaran data selanjutnya di situ tertulis dengan jelas bahwa belum lama ini Rania sudah menerima lamaran dari seorang pengusaha yang kaya raya
" Kenapa hati aku sakit melihat ini ? apa dia tipe perempuan yang akan lari ke pelukan laki-laki manapun asalkan dia lebih kaya ? "
Cukup lama Galang terus memikirkan banyak hal yang dia tetap tak tau jawabannya
" Tapi saat dia nangis di hadapan aku kemarin aku yakin dia perempuan baik-baik, Revan ya betul Revan pasti tau tentang semuanya "
Galang pun segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan kantornya, dia mengendarai mobilnya dengan cukup cepat dia ingin segera mengetahui kebenaran yang terjadi pada masa lalunya
Galang melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Revan, seperti biasanya sekretaris Revan hanya tersenyum menyambut kehadirannya di tempat itu. Karena itu adalah hal yang sudah sering Galang lakukan
" Van.. " Membuka pintu ruangannya
" Ngapain ni anak di sini ? " Masuk Lang " Galang melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah Revan
" Kenapa nih ? "
" Gw butuh tau semua tentang perempuan yang gw temuin di acara lo kemarin " dengan yakin
" Nanti pingsan lagi lo k*mpret " gw ga ngerti maksud lo Lang "
" Mantan istri gw yang kemarin " dengan sinis
" Galang udah inget atau cuma sekedar tau aja ? " membulatkan kedua bola matanya
" Ini liat dulu "
Galang meletakkan berkas-berkas yang baru saja dia terima, Revan pun mulai melihat semua isi di dalam amplop coklat itu
" Oh... Jadi lo penasaran dan cari tau ya ? " tersenyum
" Terus lo mau tau apa lagi dari gw ? kan lo udah tau semuanya " melemparkan berkas-berkas tersebut ke atas meja
" Gw mau tau semuanya " menatap tajam
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
Dukungan dari kalian sangat berarti bagi aku 🤗
Kakak semua yang belum baca karya pertama aku mampir ya kak " Zahra Anak Yang Tak Berdosa "
Ceritanya sudah TAMAT kakðŸ¤
Ceritanya banyak mengandung kesedihan tentang kehidupan 😉